<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Sudut Pandang</title>
	<atom:link href="http://nukmanluthfie.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nukmanluthfie.com</link>
	<description>Sudut pandang Nukman Luthfie mengenai entrepreneurship, manajemen, dan lifestyle</description>
	<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 06:40:16 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menipu Dengan Sentuhan Emosi</title>
		<link>http://nukmanluthfie.com/2010/09/menipu-dengan-sentuhan-emosi/</link>
		<comments>http://nukmanluthfie.com/2010/09/menipu-dengan-sentuhan-emosi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 07:10:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nukmanluthfie.com/?p=682</guid>
		<description><![CDATA[Sudah sering terima SMS yang isinya seperti ini: &#8220;Tolong isi pulsa mama Rp 100 ribu di nomor &#8230;..segera ya, mama sedang ada masalah?&#8217; Saya sudah sering. Sepekan belakangan ini malah sehari dapat tiga kali. Sudah jelas, itu SMS  tipuan, karena ibu saya sudah meninggal dan seumur hidup beliau tidak pernah memanggil dirinya sendiri dengan mama. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah sering terima SMS yang isinya seperti ini: <strong>&#8220;Tolong isi pulsa mama Rp 100 ribu di nomor &#8230;..segera ya, mama sedang ada masalah?&#8217;</strong> Saya sudah sering. Sepekan belakangan ini malah sehari dapat tiga kali. Sudah jelas, itu SMS  tipuan, karena ibu saya sudah meninggal dan seumur hidup beliau tidak pernah memanggil dirinya sendiri dengan mama. Teman-teman saya rupanya juga sering mendapat sms semacam itu. Nah, hari ini saya menerima yang lebih menyentuh emosi lagi. Sebuah surat yang ditulis tangan, sangat rapi, sampai ke meja saya.</p>
<p>Saya tidak akan mengetik ulang sepenuhnya di sini karena panjangnya dua halaman dan dilengkapi dengan fotokopi kliping. Tapi intinya dan urutannya seperti ini:</p>
<p>1. Ia (perempuan) mengaku berusia 16 tahun, kelas 3 SMA,  anak dari seorang teman saya. &#8220;Papa meninggal tahun lalu,&#8221; tulisnya.</p>
<p>2. Bapak, bolehkah (ia menulis namanya) minta bantuan bapak sebesar Rp 950 ribu untuk membayar kekurangan daftar ulang dan SPP bulan Agustus?</p>
<p>3. Mama sedang tidak punya uang, dan habis sakit demam berdarah</p>
<p>4. Ia meminta agar segera mentransfer bantuan ini seusai baac suratnya.</p>
<p>5. &#8220;Bapak, (ia menulis namanya) kan tidak punya rekening, jadi pinjam dulu rekening om (ia menulis namanya) di ..(ia sebutkan no rekening dan banknya).</p>
<p>6. Ia minta maaf tidak dapat memberikan alamat rumah karena belum memberi tahu mama soal meminta bantuan ini.</p>
<p>7. Ia mengaku tahu kantor saya, karena pernah diajak papanya ke kantor saya.</p>
<p>8. Ia menulis: &#8220;mohon maaf, bapak jangan marah, boleh tidak digenapi menjadi Rp 1 juta agar sisanya buat ongkos ke kantor bapak?&#8221;</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-685" title="surattipuan01" src="http://nukmanluthfie.com/wp-content/uploads/2010/09/surattipuan01.jpg" alt="surattipuan01" width="554" height="424" /></p>
<p>Selintas membaca surat itu saya langsung tersentuh. Namun setelah dua tiga kali membacanya saya merasa janggal.</p>
<p>1. Saya tidak memiliki teman dengan nama yang disebutkan, apalagi pernah datang ke kantor.</p>
<p>2.  Surat dikirim dari Jakarta juga, kalau memang kenal dan kebutuhan mendesak ia bisa datang ke kantor.</p>
<p>3. Ia tidak memberikan alamat rumah dan nomor telpon</p>
<p>4. Uang ditransfer ke rekening lain.</p>
<p>Saya menyimpulkan, itu surat tipuan, yang dengan sentuhan emosi (ayah meninggal, ibu sakit, harus segera membayar sekolah), secara tidak sadar membuat penerima surat tersentuh dan tanpa sadar mentranfer uang.</p>
<p>SMS mama minta pulsa sudah memakan banyak korban, yang tanpa sadar mengirim pulsa antara Rp 50-100 ribu. Diantara ribuan yang menerima SMS itu pasti ada saja yang jadi korbannya. Siapa yang tega menolak isi pulsa mamanya yang sedang bermasalah?</p>
<p>Nah, kini tipuan dengan sentuhan emosi itu meluas melalui surat dengan tulisan tangan.</p>
<p>Dengan fenomena ini, sebaiknya baca dulu informasi yang diterima, segenting apapun, dengan akal sehat, baru kemudian memberikan respon.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukmanluthfie.com/2010/09/menipu-dengan-sentuhan-emosi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Istri Ayah Blackberry Ya?</title>
		<link>http://nukmanluthfie.com/2010/08/istri-ayah-blackberry-ya/</link>
		<comments>http://nukmanluthfie.com/2010/08/istri-ayah-blackberry-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 03:34:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Life Style]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nukmanluthfie.com/?p=661</guid>
		<description><![CDATA[Melihat kartun  di bawah ini, saya langsung teringat dengan celetukan Lala (6 tahun) beberapa waktu lalu. &#8220;Istri ayah Blackberry ya?&#8221;
Saya hanya bisa tersenyum kecut mendapat teguran seperti itu. Tak bisa menjawab apapun. Yang ditanyakan Lala sungguh benar. Boleh dibilang, saya tidak bisa lepas dari mobile gadget.  Setiap saat mengecek dan mengupdate Twitter, Facebook, Koprol, Plurk. Membaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melihat <a href="http://www.geekculture.com/joyoftech/joyarchives/1413.html" target="_blank">kartun </a> di bawah ini, saya langsung teringat dengan celetukan Lala (6 tahun) beberapa waktu lalu.<strong> &#8220;Istri ayah Blackberry ya?&#8221;</strong></p>
<p>Saya hanya bisa tersenyum kecut mendapat teguran seperti itu. Tak bisa menjawab apapun. Yang ditanyakan Lala sungguh benar. Boleh dibilang, saya tidak bisa lepas dari mobile gadget.  Setiap saat mengecek dan mengupdate Twitter, Facebook, Koprol, Plurk. Membaca dan menjawab  email, baik itu urusan kantor maupun pribadi, lebih sering via smartphone  ketimbang laptop.</p>
<div><img class="size-full wp-image-662 alignnone" title="twitteraddict" src="http://nukmanluthfie.com/wp-content/uploads/2010/08/1413.gif" alt="twitteraddict" width="481" height="382" /></div>
<p>Bangun tidur, yang dicari pertama kali adalah smartphone. Buang hajat, tenteng telpon cerdas juga dan berlama-lama di kamar kecil. Perjalanan menuju kantor tak bisa lepas dari alat komunikasi tersebut. Di kantor, fungsi telponnya saja saja yang saya pakai, fungsi bermedia-sosial diambil-alih oleh laptop. Celakanya, perjalanan pulang ke rumah, bahkan sampai di rumah, saya tidak bisa lepas dari alat satu ini.</p>
<p>Tanpa sadar, saya seperi memiliki anak baru di rumah. Celakanya, anak baru ini jauh lebih saya manjakan dibanding anak yang sesungguhnya. Celetukan Lala bahkan membuktikan bahwa saya lebih sayang Blackberry ketimbang istri.</p>
<p>Saya tahu, ini bukan hanya terjadi pada saya sendiri, tetapi juga banyak orang, yang menggunakan telpon cerdas (apapun jenisnya &#8212; iPhone, Blackberry, Nexia, Nokia dan lainnya) dipadukan dengan media sosial, entah Twitter, Facebook, maupun lainnya. Coba perhatikan di mal-mal, dengan mudah kita menemukan orang yang sambil jalan atau naik elevator pun masih beraktivitas dengan telpon cerdasnya.</p>
<p>Tak bisa disangkal, telpon cerdas plus media sosial memang mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Dalam beberapa kasus, ini bisa menimbulkan keretakan rumah tangga karena kurangnya perhatian terhadap pasangan, atau peluang munculnya teman dekat baru.</p>
<p>Gabungan telepon cerdas dengan media sosial menghadirkan banyak peluang baru untuk bersosialisasi dan berbisnis, yang dapat meningkatkan taraf hidup kita. Namun pada sisi lain, bisa menurunkan taraf hidup berkeluarga. Kemesraan berkomunikasi dengan anak-anak, terutama yang di bawah umur dan belum memegang telpon cerdas, sudah pasti tergerus. Demikian pula dengan pasangan hidup kita di rumah.</p>
<p>Akal sehat mengatakan, batasi penggunaan media sosial di rumah. Tumpahkan waktu keluarga sebesar-besarnya untuk keluarga.</p>
<p>Hmm.. mudah diucapkan.</p>
<p>Sangat menantang untuk dipraktekkan.</p>
<p>Ada gagasan lain teman?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukmanluthfie.com/2010/08/istri-ayah-blackberry-ya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi untuk Sang Almarhum Istri</title>
		<link>http://nukmanluthfie.com/2010/05/puisi-untuk-sang-almarhum-istri/</link>
		<comments>http://nukmanluthfie.com/2010/05/puisi-untuk-sang-almarhum-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 04:44:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudutpandang.com/?p=650</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu
Bukan itu
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya
Dan kematian adalah sesuatu yang pasti
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi
Aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja,
lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu</p>
<p>Bukan itu</p>
<p>Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya</p>
<p>Dan kematian adalah sesuatu yang pasti</p>
<p>Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi</p>
<p>Aku sangat tahu itu.</p>
<p>Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,</p>
<p>adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,</p>
<p>sekejap saja,</p>
<p>lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,</p>
<p>hatiku seperti tak di tempatnya,</p>
<p>dan tubuhku serasa kosong melompong,</p>
<p>hilang isi.</p>
<p>Kau tahu sayang</p>
<p>Rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.</p>
<p>Pada airmata yang jatuh kali ini</p>
<p>aku selipkan salam perpisahan panjang</p>
<p>pada kesetiaan yang telah kau ukir</p>
<p>pada kenangan pahit manis selama kau ada.</p>
<p>Aku bukan hendak megeluh</p>
<p>Tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.</p>
<p>Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang</p>
<p>Tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik</p>
<p>Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua</p>
<p>Tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia.</p>
<p>Kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.</p>
<p>Selamat jalan</p>
<p>Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya</p>
<p>Kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.</p>
<p>Selamat jalan sayang</p>
<p>Cahaya mataku</p>
<p>Penyejuk jiwaku</p>
<p>Selamat jalan</p>
<p>Calon bidadari surgaku &#8230;.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-653" title="gone" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2010/05/gone.jpg" alt="gone" width="484" height="353" /></p>
<p><strong>Catatan: </strong></p>
<p><em>Saya mendapatkan puisi ini dari pesan-pesan di Blackberry Massenger. Di situ disebutkan, inilah puisi BJ Habibie untuk almarhum istrinya,  Ainun Habibie, yang berpulang pada Sabtu, 22 Mei 2010. Habibie Center sudah menjelaskan bahwa ini bukan puisi pak Habibie. </em></p>
<p><em>Apapun, yang saya tangkap adalah isinya. Sangat menyentuh.</em></p>
<p><em>Mohon izin saya taruh di blog ini. Kepada pembuat puisi ini, jika keberatan, akan saya hapus dari blog ini.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukmanluthfie.com/2010/05/puisi-untuk-sang-almarhum-istri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Facebook di Tangan Para Pendekar</title>
		<link>http://nukmanluthfie.com/2010/02/facebook-di-tangan-para-pendekar/</link>
		<comments>http://nukmanluthfie.com/2010/02/facebook-di-tangan-para-pendekar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 02:42:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<category><![CDATA[Life Style]]></category>

		<category><![CDATA[Manajemen Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudutpandang.com/?p=611</guid>
		<description><![CDATA[Sebulan terakhir ini media massa lumayan gencar memberitakan Facebook dari sisi negatif, dengan judul yang kadangkala bombastis, seperti &#8220;ABG Korban Facebook Ngaku Bersebadan 3 Kali&#8221;, &#8220;Korban Facebook Makin Banyak&#8221;, &#8220;Remaja Korban Penculikan via Facebook&#8221;, dan sejenisnya. Judul-judul yang menyudutkan Facebook itu bukan hanya mendominasi media cetak, tetapi juga teve. Bahkan Kompas.com pun, yang terkenal dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebulan terakhir ini media massa lumayan gencar memberitakan Facebook dari sisi negatif, dengan judul yang kadangkala bombastis, seperti &#8220;ABG Korban Facebook Ngaku Bersebadan 3 Kali&#8221;, &#8220;Korban Facebook Makin Banyak&#8221;, &#8220;Remaja Korban Penculikan via Facebook&#8221;, dan sejenisnya. Judul-judul yang menyudutkan Facebook itu bukan hanya mendominasi media cetak, tetapi juga teve. Bahkan Kompas.com pun, yang terkenal dengan kehati-hatiannya, juga terjebak pada judul yang sejenis, seperti <a href="http://megapolitan.kompas.com/read/2010/02/11/17080896/Lagi..Remaja.Jadi.Korban.Facebook" target="_blank">Lagi, Remaja Jadi Korban Facebook</a>.   Facebook tiba-tiba menjadi biang masalah. Media Social ini dituduh sebagai penyebab celaka.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal Facebook hanyalah medium. Tanpa ada yang menyalahgunakan, medium itu bersifat netral.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-615" title="fbimage" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2010/02/fbimage.jpg" alt="fbimage" width="500" height="375" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibarat pisau, Facebook dapat digunakan untuk hal-hal yang negatif.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mereka yang biasa menipu dengan medium lain, misalnya lewat SMS dgn mengirim SMS berhadiah jutaan rupiah tapi sesungguhnya menggerogoti uang korbannya, akan menggunakan medium apapun untuk mencari korbannya. Demikian juga para penjaja prostitusi, penjaja mimpi kaya mendadak, penyuka seks anak-anak dan lainnya. Facebook yang sedang digandrungi merupakan medium baru ampuh untuk menjerat calon korban. Maka para korban ini bukanlah korban Facebook, tetapi korban penjahat via Facebook.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibarat pisau, meski berniat positif jika tidak tahu cara menggunakannya, maka juga bisa berakibat negatif.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Orang tua sering melarang anak-anak di bawah umur atau balita bermain pisau karena bisa melukai anak tersebut. Pisau hanya boleh digunakan oleh mereka yang berhak. Sama juga dengan Facebook. Aturan Facebook sudah jelas dan terang benderang. Hanya mereka yang sudah berusia 13 tahunlah yang boleh menggunakannya. <a href="http://sudutpandang.com/2010/02/jejaring-sosial-bukan-untuk-anak-anak/" target="_self">Anak-anak tidak berhak menggunakan Facebook!</a></p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan orang dewasa pun, ketika menggunakan Facebook, harus mau belajar bagaimana cara menggunakannya. Sebagai contoh, dalam hal <em>social networking</em>, Facebook lebih tepat digunakan untuk berkomunikasi dengan teman-teman lama yang sudah kita kenal ketimbang mencari teman sebanyak-banyaknya yang sesungguhnya tidak kita kenali sama sekali. Teman-teman baru inilah yang dalam banyak kasus terbukti merugikan. Maka saran saya, jika belum pernah bertemu darat, janganlah menerimanya sebagai teman di FB. Contoh lain, karena tidak paham etika, kita seringkali menyampahi halaman FB orang lain dengan iklan, tag foto, dan sejenisnya yang tidak ada hubungannya dengan orang tersebut sehingga menjengkelkan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin paham kita menggunakan FB, semakin banyak dampak positifnya. Semakin sering kita berlatih menggunakan pisau, semakin ahli kita menggunakannya, dan semakin hebat pula dampak positifnya. Pisau di tangan pendekar, akan jauh berbeda hasilnya dengan pisau di tangan amatir.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Facebook di Tangan Para Pendekar</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selain untuk memperkuat tali silaturahim yang terputus karena jarak dan waktu, di tangan para pendekar, FB dapat dimanfaatkan secara positif. Ini beberapa contohnya:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Seorang eksportir mebel asal Jepara misalnya, menyediakan rumah besarnya secara cuma-cuma sebagai kantor &#8220;Facebook Jepara&#8221;, sebagai tempat belajar bagi para pengusaha Jepara agar bisa meningkatkan ekspor mebel via online, sekaligus memanfaatkannya sebagai forum untuk mendidik anggotanya untuk meningkatkan bisnis mereka. Dari kantor inilah lahir banyak pengusaha mebel online yang menembus pasar Eropa dan belahan dunia lain, menyumbang devisa yang cukup besar ke negeri ini.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Para produsen, terutama kerajinan tangan seperti batik, tas, sepatu, baik terbuat dari kulit maupun non kulit, banyak yang memanfaatkannya untuk menjual produknya. FB digunakan sebagai kanal baru penjualan. Ada yang mengaku bisa membeli mobil baru hanya menjual batik via FB. Bahkan seorang produsen herbal bisa meraih omset sangat tinggi di jejaring sosial ini.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Bagi yang haus ilmu, FB adalah tempat istimewa mendulang ilmu. Dengan mengikuti grup-grup yang kita minati, kita bisa belajar banyak dari anggota grup tersebut. Atau, dengan berteman dengan orang-orang yang istimewa dan bernilai plus, kita dapat menyerap ilmu dan kebijakannya yang sering dibagikan melalui status maupun notes-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Bagi para simpatisan gerakan tertentu, dapat memanfaatkan FB untuk menggerakkan simpati. Gerakan mengumpulkan koin untuk membela Prita yang diancam penjara karena dituduh mencemarkan nama baik dalam kasus melawan RS OMNI dengan mudah digerakkan lewat FB. Demikian juga gerakan mengumpulkan koin untuk membantu operasi Bilqis, balita yang mederita kelainan hati, gerakan mengumpulkan beasiswa, gerakan mengumpulkan dana untuk Dompet Dhuafa , Dompet Umat dan sejenisnya berjalan bagus di medium ini.</p>
<p style="text-align: justify;">5.  Bagi yang sadar citra diri, FB dapat dimanfaatkan sebagai medium untuk personal branding. Kita ingin dikenal sebagai apa, dapat dibangun secara konsisten di medium ini.</p>
<div style="width: 550px; height: 670px;">
<p style="text-align: justify;"><img class="size-full wp-image-617 aligncenter" title="fbplus" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2010/02/fbplus.png" alt="fbplus" width="439" height="668" /></p>
</div>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Hal-hal positif itulah yang antara lain saya sampaikan ketika menjadi bintang tamu di acara eLife Style di MetroTV, Minggu 28 Februari 2010 kemarin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sudutpandang inilah saya menyarankan para pengguna FB untuk memahami FB lebih baik lagi agar tidak salah menggunakannya. Syukur-syukur bisa menjadi pendekar-pendekar FB yang bisa memanfaatkan FB seoptimal mungkin untuk hal-hal positif. Atau bahkan kalau  bisa menciptakan jurus baru yang bisa dibagi ke pengguna FB lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukmanluthfie.com/2010/02/facebook-di-tangan-para-pendekar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perbanyak Pilihan Positif</title>
		<link>http://nukmanluthfie.com/2010/02/perbanyak-pilihan-positif/</link>
		<comments>http://nukmanluthfie.com/2010/02/perbanyak-pilihan-positif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 11:55:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudutpandang.com/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[Sudah setahun lebih saya membeli buku &#8220;Click: What Millions of People are Doing Online  and Why It Matters&#8221;. Meski sampai sekarang belum tamat saya baca, namun saya sudah dapat gambaran besarnya. Tiba-tiba, di tengah riuhnya pro-kontra Rancangan Peraturan Menteri (RPM)  Konten Multimedia yang dikeluarkan Departemen Komunikasi dan Informasi pertengahan Februari 2010 ini, saya teringat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah setahun lebih saya membeli buku <span id="articleText"><em>&#8220;Click: What Millions of People are Doing Online  and Why It Matters&#8221;</em>. Meski sampai sekarang belum tamat saya baca, namun saya sudah dapat gambaran besarnya. Tiba-tiba, di tengah riuhnya pro-kontra Rancangan Peraturan Menteri (RPM)  Konten Multimedia yang dikeluarkan Departemen Komunikasi dan Informasi pertengahan Februari 2010 ini, saya teringat buku </span> <span id="articleText">Bill Tancer tersebut. </span></p>
<p><span>Tancer adalah seorang penggelut data tulen. Bertahun-tahun ia bergelut dengan miliaran data di Google dan situs pencarian lainnya. Dari pengamatannya tergadap 10 juta lebih pengguna Internet di seluruh dunia, ia menyimpulkan, bahwa apa yang kita cari di search engine dan kemudian kita klik, mencerminkan perubahan yang sangat <em>up to date</em> perilaku sosial kita berubah. Apa yang kita cari di search engine bukan hanya menunjukkan tren saat ini, tetapi juga cerminan perilaku sosial. </span></p>
<p><span>Tancer mengungkapkan, bahwa pola pencarian pengguna Internet sesungguhnya terpola, secara spesifik diulang-ulang, dan mudah ditebak, seperti pencarian baju pengantin, diet, pornografi hingga soal wisata.</span></p>
<p><span>Salah satu temuannya yang saya kaitkan dengan RPM Konten Multimedia adalah soal tren pornografi dan social media. Sebelum social media seperti MySpace, Friendster, Facebook dan sejenisnya lahir,  pencarian kata-kata yang berkonotasi pornografi masih mendominasi kata kunci di Internet. Sebesar 20 persen pencarian berkatitan dengan pornografi. Namun, sejak social media hadir, porsi pencarian pornografi turun drastis, hanya tinggal 10 persen dari total. </span></p>
<p><span>Ketika tidak ada alternatif konten yang bagus, minat pengguna Intetrnet terhadap pornografi merajalela. Namun begitu disuguhi berbagai pilihan konten yang bagus-bagus seperti Facebook, Twitter dan lainnya, minat mencari hal-hal yang porno meredup. Hal ini juga terjadi di Indonesia. Data dari Google menunjukkan, kata kunci yang paling banyak dicari pengguna Internet Indonesia sepanjang tahun 2009 adalah Facebook. Kata-kata mesum sama sekali tidak ada di 10 besar paling banyak dicari. Waktu mereka praktis lebih banyak dipakai untuk bersocialmedia.</span></p>
<p><span><img class="alignnone size-full wp-image-607" title="600-01955438" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2010/02/browsingweb.jpg" alt="600-01955438" width="506" height="337" /></span></p>
<p><span>Apa hubungannya cerita saya di atas dengan <a href="http://www.postel.go.id/content/ID/regulasi/telekomunikasi/kepmen/rpm%20konten%20multimedia.doc">RPM Konten Multimedia</a>? </span></p>
<p><span>RPM Konten Multimedia intinya melarang pengguna Internet untuk menyebarluaskan (a) pornografi dan (b) hal-hal yang melanggar hukum dan bersifat sara. Sekali lagi: melarang. Namun, jalan yang ditempuh adalah dengan mengatur para penyedia jasa Internet agar mereka mematuhi perintah sebuah tim Konten Multimedia untuk menutup situs-situs yang dianggap memenuhi syarat (a) atau (b). Artinya apa? tim tersebut dapat memaksa penyelenggara jasa Internet memblokir situs web, menghapus isi web, tanpa keputusan pengadilan.</span></p>
<p><span>Dengan pemblokiran ini, Depkominfo seperti melindungi orang dengan cara yang salah. Konten Internet memang seperti pisau, bisa bermanfaat banyak, namun bisa juga merugikan jika dipakai untuk membunuh misalnya. Namun hanya karena ada yang terbunuh dengan pisau, melalui RPM ini Depkominfo ibaratnya membuat aturan melarang penggunaan pisau.<br />
</span></p>
<p><span>Terinspirasi temuan Tancer, saya malah berpikir sebaliknya: mengapa energi Depkominfo tidak diarahkan untuk memperkaya pilihan konten positif bagi pengguna Internet di Indonesia agar perhatian mereka ke pornografi meluruh dengan sendirinya? Saat ini Depkominfo rajin membuka akses Internet ke desa-desa, namun kurang bersemangat membangun konten lokal. Seandainya dana dan energi Depkominfo untuk RPM konten multimedia, dan untuk membiayai tim multimedia, dialihkan ke upaya membangun konten-konten baru, akan lahir netpreneur-netpreneur baru yang memperkaya konten lokal. Biar konten lokal yang besar bukan hanya Detik.com dan Kaskus.us saja tetapi banyak lagi yang lainnya.</span></p>
<p><span>Dengan banyaknya pilihan konten lokal, perilaku pengguna Internet dengan sendirinya akan membaik, tanpa harus membuat larangan-larangan yang tidak bermanfaat buat mereka namun malah merepotkan penyedia jasa Internet.</span></p>
<p><span>Memberikan banyak pilihan positif lebih mendewasakan pengguna Internet ketimbang memberi larangan legal formal.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukmanluthfie.com/2010/02/perbanyak-pilihan-positif/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jejaring Sosial Bukan Untuk Anak-anak!</title>
		<link>http://nukmanluthfie.com/2010/02/jejaring-sosial-bukan-untuk-anak-anak/</link>
		<comments>http://nukmanluthfie.com/2010/02/jejaring-sosial-bukan-untuk-anak-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 10:03:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Life Style]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudutpandang.com/?p=573</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini saya membaca berita menyedihkan di Detik.com mengenai gadis cantik yang hilang dan orang tuanya menduga anaknya diculik setelah janjian di Facebook. Hari ini juga, koran Kompas menulis sebuah artikel betapa rentannya anak-anak menjadi korban pelecehan seksual di dunia maya. Sepekan lalu, pelacuran ABG Indonesia melalui Facebook terbongkar. Setahun lalu, saya menonton Oprah Show [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini saya membaca berita menyedihkan di <a href="http://www.detiknews.com/read/2010/02/08/133330/1295129/10/keluarga-duga-nova-diculik-kenalan-di-facebook?991101605" target="_blank">Detik.com</a> mengenai gadis cantik yang hilang dan orang tuanya menduga anaknya diculik setelah janjian di Facebook. Hari ini juga, koran <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/08/0233028/predator..incar.anak.kita." target="_blank">Kompas </a>menulis sebuah artikel betapa rentannya anak-anak menjadi korban pelecehan seksual di dunia maya. Sepekan lalu, pelacuran ABG Indonesia melalui Facebook terbongkar. Setahun lalu, saya menonton Oprah Show yang membahas khusus betapa para pedofili memanfaatkan Facebook untuk mencari korbannya yang masih anak-anak. Melihat perkembangan akhir-akhir, tren negatif jejaring sosial itu kian menyeruak. Memang manfaat positif media sosial ini sangat banyak. Namun kita tidak dapat menutup mata terhadap dampak negatifnya.</p>
<p>Facebook menyediakan data yang berlimpah bagi orang yang berniat tidak baik. Data itu antara lain nama, alamat, pendidikan, pekerjaan dan data demografis lainnya, serta hobi dan kecenderungan lainnya. Dengan mempelajari profil di Facebook, kita akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas terhadap seseorang.</p>
<p>Kecuali data, Facebook dilengkapi dengan banyak fasilitas untuk berinteraksi, mulai dari email, berbagi foto, bahkan hingga chat.</p>
<p>Perpaduan kelimpahan data dan fasilitas interaktif itu sangat mempermudah orang  menjalin hubungan dengan orang lain (yang bahkan sebelumnya dianggap sebagai orang asing sekali pun).</p>
<p>Anak-anak yang masih polos, akan lebih mudah tertipu oleh kalimat-kalimat manis dibanding mereka yang sudah dewasa. Anak-anak yang biasanya tanpa prasangka buruk, lebih mudah terjebak untuk berkomunikasi dan menjalin keakraban jika terus menerus diajak berkomunikasi dengan berbagai fasilitas di Facebook. Tidak mengherankan jika para penggemar sex dengan anak-anak di Amerika Serikat mencari korban via Facebook. Jangan-jangan, fenomena ini juga sudah merambah ke Indonesia.</p>
<p>Dengan fiturnya yang memberi dampak luar biasa itulah Facebook jelas-jelas mengharamkan Facebook bagi anak-anak. Saya kutipkan <a href="http://www.facebook.com/policy.php" target="_blank">aturan Facebook</a> tersebut di sini:</p>
<blockquote><p>No information from children under age 13. If you are under age 13, please do not attempt to register for Facebook or provide any personal information about yourself to us. If we learn that we have collected personal information from a child under age 13, we will delete that information as quickly as possible.</p></blockquote>
<p>Aturan tersebut jelas-jelas menunjukkan bahwa Facebook bukan untuk anak-anak. Demikian pula jejaring sosial lain yang sejenis seperti Friendster atau MySpace.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-579" title="no facebook" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2010/02/facebook.jpg" alt="no facebook" width="506" height="337" /></p>
<p>Namun, banyak anak-anak Indonesia di bawah 13 tahun yang menjadi anggota Facebook, bahkan dengan sepengatahuan orang tuanya. Sebagian orang tua tersebut malah bangga anaknya punya akun di Facebook.  Hari ini saya mengecek Facebook dan mendapatkan fakta bahwa dari 17,6 juta pemilik akun asal Indonesia, 360 ribu diantaranya berumur 13 tahun. Saya yakin, yang kurang dari 13 tahun mengaku berumur 13 saat membuat akun tersebut.</p>
<p>Bagi orang tua, saya sarankan untuk segera menghindarkan anak-anaknya yang belum berumur 13 tahun dari Facebook dan jejaring sosial sejenis. Memang banyak game-game menarik di Facebook yang bisa menggoda anak-anak. Namun tetap saja hindari. Masih banyak game lain yang menarik dan bisa dimainkan tanpa harus jadi anggota Facebook.</p>
<p>Bahkan untuk remaja yang sudah berhak membuka akun di Facebook pun, perlu mendapat perhatian dari orang tuanya. Bertemanlah dengan mereka di Facebook dan jejaring sosial lain, kenali teman-temannya, jadi sahabatnya di dunia maya, sehingga orang tua mengenal betul dengan siapa anaknya berteman di jagad maya ini.</p>
<p>Para orang tua, waspadalah, dan pelajarilah secara mendalam soal media sosial ini demi masa depan anak-anak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukmanluthfie.com/2010/02/jejaring-sosial-bukan-untuk-anak-anak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Biasa atau Home Schooling?</title>
		<link>http://nukmanluthfie.com/2010/01/sekolah-biasa-atau-home-schooling/</link>
		<comments>http://nukmanluthfie.com/2010/01/sekolah-biasa-atau-home-schooling/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 04:10:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudutpandang.com/?p=557</guid>
		<description><![CDATA[Anak kedua saya, Lala, sekarang berusia lima tahun, sudah berharap masuk kelas 1 Sekolah Dasar pertengahan tahun 2010 ini. Tidak sulit bagi saya dan istri menentukan sekolah formal mana yang harus dipilih. Di sekitar rumah kami di Depok, Jawa Barat, banyak sekolah bagus,  seperti Sekolah Alam, Avicena, maupun sekolah negeri. Namun, kini muncul pilihan home [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anak kedua saya, Lala, sekarang berusia lima tahun, sudah berharap masuk kelas 1 Sekolah Dasar pertengahan tahun 2010 ini. Tidak sulit bagi saya dan istri menentukan sekolah formal mana yang harus dipilih. Di sekitar rumah kami di Depok, Jawa Barat, banyak sekolah bagus,  seperti Sekolah Alam, Avicena, maupun sekolah negeri. Namun, kini muncul pilihan <em>home schooling</em>.</p>
<p>Setidaknya ada tiga alasan yang mendasarinya.</p>
<p>Pertama, selama 6 bulan terakhir lala sudah mengikuti beberapa les tambahan atas  kemauan sendiri yang telah diikutinya secara konsisten dan kemajuannya terlihat sangat jelas.</p>
<p>Kedua, motivasi belajar Lala cukup besar. Kemampuan membaca, menulis dan berhitung pada awalnya dipelajarinya sambil bermain atas permintaannya sendiri.</p>
<p>Ketiga, berdasarkan pengalaman dari anak pertama yang belajar di sekolah formal, waktu dan kapasitas anak menjadi kurang optimal untuk dimanfaatkan sesuai dengan minat dan bakat anak.</p>
<p>Dengan tiga  alasan  itu, saya dan istri dengan serius mempertimbangkan <em>home schooling</em> sebagai pilihan yang lebih bagus buat Lala.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-565" title="lala1" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2010/01/lala1.jpg" alt="lala1" width="704" height="528" /></p>
<p>Hambatannya hanya satu saat ini: saya belum sepakat 100 persen karena masih meragukan beberapa hal.</p>
<p>Pertama, berhasil atau tidaknya <em>home schooling</em> tergantung pada kedua orang tua sementara  dari segi waktu kami berdua harus membagi waktu untuk bekerja di luar rumah. Selain itu, masih amat sulit bagi saya sekarang ini untuk terlibat alam pendidikan anak. Saya lebih cenderung berpendapat, serahkan hal-hal tersebut kepada yang profesional.</p>
<p>Kedua, masih ada pendapat bahwa <em>home schooling</em> akan membuat anak kita kurang berinteraksi dengan dunia luar, kehilangan kesempatan bercengkerama dengan teman sekolah, dan cenderung anti sosial.</p>
<p>Ketiga, secara psikologis apakah ada dampak terhadap anak  karena merasa telah melakukan proses belajar yang tidak sama dengan teman-teman sebayanya yang di sekolah formal.</p>
<p>Dengan ketiga hal itu, saya belum mantap 100 persen untuk memilih <em>home schooling</em> untuk Lala.</p>
<p>Sahabat blog Sudutpandang, adakah masukan bagi saya dan istri?</p>
<p>Adakah orang tua yang memiliki pengalaman <em>home schooling</em> buat anaknya mau berbagi di sini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukmanluthfie.com/2010/01/sekolah-biasa-atau-home-schooling/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Twitter Luna Maya, Jarak Antara Teks dan Konteks</title>
		<link>http://nukmanluthfie.com/2009/12/twitter-luna-maya-jarak-antara-teks-dan-konteks/</link>
		<comments>http://nukmanluthfie.com/2009/12/twitter-luna-maya-jarak-antara-teks-dan-konteks/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 09:33:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Life Style]]></category>

		<category><![CDATA[Menulis Itu Gampang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudutpandang.com/?p=523</guid>
		<description><![CDATA[Dua hari terakhir ini, yang sedang marak dibahas oleh social media, media online, dan infotainment adalah teks Luna Maya di Twitter. Bunyinya sebenarnya biasa saja, setidaknya buat saya. “Infoteinment derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!…” Namun tanggapan publik sangat beragam, dari yang biasa saja hingga yang ekstrem. Detik.com [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua hari terakhir ini, yang sedang marak dibahas oleh social media, media online, dan infotainment adalah teks Luna Maya di Twitter. Bunyinya sebenarnya biasa saja, setidaknya buat saya. <strong>“Infoteinment derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!…” </strong>Namun tanggapan publik sangat beragam, dari yang biasa saja hingga yang ekstrem. Detik.com misalnya, membuat berita berjudul &#8220;<a href="http://www.detikhot.com/read/2009/12/16/113338/1261034/230/luna-maya-ngamuk-di-twitter" target="_blank">Luna Maya Ngamuk di Twitter</a>&#8220;. Masyarakat pun <a href="http://www.detikhot.com/read/2009/12/17/074545/1261635/230/luna-maya-dicinta-dan-dihina" target="_blank">mencerca</a> Luna, mengapa seorang seleb semacam dia berkata kotor di ruang publik. Ya, Twitter dianggap <a href="http://ndorokakung.com/2009/12/17/luna-maya-pecas-ndahe/" target="_blank">ruang publik</a>. Bahkan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang juga menaungi para wartawan infotainment, mungkin saja bakal <a href="http://entertainment.kompas.com/read/xml/2009/12/16/e154545/bukti.dikumpulkan.luna.maya.akan.dilaporkan" target="_blank">menuntut</a> seleb cantik ini. Namun, ada juga yang membelanya, dengan alasan bahwa Luna Maya sedang dalam kondisi emosional karena ruang privasinya diganggu oleh wartawan infotainment dengan cara yang arogan.</p>
<p>Dari sudut pandang saya, semua ini terjadi semata-mata karena ada jarak yang sangat panjang antara teks dengan konteks di dunia social media yang maya. Mengapa seperti itu?</p>
<p>Akan saya mulai dulu dengan menjelaskan seperti apa sih makluk yang disebut sebagai Twitter memusingkan Luna Maya ini. Twitter memang sedang fenomenal saat ini, digandrungi insan seleb dan non seleb di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Twitter adalah sebuah medium online berjejaring, yang hanya mengijinkan pemilik akunnya menulis apapun maksimal 140 karakter.  Apapun yang ditulis oleh pemilik akun Twitter, seketika itu juga berpotensi dibaca oleh seluruh <em>follower</em>-nya. Ibaratnya, kita mengetik 160 karakter SMS dan seketika tersebar ke semua orang yang menjadi fans kita.</p>
<p>140 karakter adalah jebakan konteks. Sangat sulit menyelipkan konteks di dalam teks yang dibatasi oleh 140 karakter itu. Celakanya, teks Luna Maya yang berbunyi<em> “Infotemnt derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!…”</em><em> </em>adalah teks tanpa konteks. Tanpa ada pengantar apapun, teks itu muncul begitu saja di halaman Twitter follower Luna Maya.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-535" title="lunamaya_sudutpandang" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/12/lunamaya_sudutpandang.jpg" alt="lunamaya_sudutpandang" width="520" height="280" /></p>
<p>Mereka yang tidak faham konteks dari teks Luna Maya tersebut berhak  membangun konteks di kepala masing-masing sesuai dengan latar belakang, kehendak dan kedewasaan mereka sendiri.</p>
<p>Maka, terjadilah potensi keliaran konteks di mana-mana. Para pelacur dan pembunuh bisa jadi merasa bangga, karena di mata Luna Maya, status mereka kini lebih tinggi ketimbang wartawan infotainment. Atau bisa jadi juga sebaliknya, para pelacur dan pembunuh justru marah karena stratanya dianggap rendah, dan menjadi benchmark untuk tingkat kehinadinaan.</p>
<p>Sebagai pihak yang tersengat, sebagian dari insan media merespon dengan sengatan balik, yang tidak kalah pedasnya, dengan menuduh Luna lupa kepada media yang membesarkannya dengan bertindak arogan. Namun, sebagian insan media juga ada yang mengkritisi rekan infotainmentnya dan menyarankan sebaiknya para wartawan infotainment ini segera melakukan introspeksi diri.</p>
<p>Teks tanpa konteks itu berbahaya. Semakin jauh jarak antara teks dengan konteks, semakin liar konteks yang dibangun oleh setiap kepala, yang belum tentu benar. Yang kemudian terjadi adalah penghakiman terhadap teks secara semena-mena.</p>
<p>Saya tidak akan memojokkan atau mendukung Luna Maya maupun PWI serta para para pendukung/penghujatnya. Tulisan ini hanya untuk mengingatkan, ketika kita hidup di social media yang bergemuruh dan ceriwis ini, kita sedang hidup di dunia teks yang serba terbatas. Kita hidup di dunia yang komunikasinya hanya dengan huruf, kata, kalimat yang amat pendek.</p>
<p>Di dunia yang pendek itu, hanya mereka yang cerdas memuat konteks dalam tekslah yang berpontensi terbebas dari keliaran konteks yang dibangun oleh masing-masing kepala pengguna social media.</p>
<p>Maka, tip sederhana hidup di dunia teks social media ini cukup satu: sisipkan konteks dalam teks. Contohnya, kalimat Luna Maya yang menghebohkan tanpa konteks itu dapat berkonteks bila ditulis menjadi seperti ini:</p>
<p><em><strong>&#8220;Dasar infotainment bedebah, mengapa memaksa interview di saat nonton film sampai melukai anak pacarku? dasar turunan setan!&#8221;</strong></em></p>
<p>Pembaca akan mendapat konteks: Luna Maya ngamuk karena privasinya diganggu insan infotainment bahkan sampai calon anaknya terluka.</p>
<p>Kalimat itu sekaligus tidak melukai pihak lain yang tak berkepentingan, seperti pelacur dan pembunuh. Pihak lain itu diganti dengan sesuatu yang imaginer seperti setan.</p>
<p>Selamat datang di dunia teks kawan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukmanluthfie.com/2009/12/twitter-luna-maya-jarak-antara-teks-dan-konteks/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Facebook dan Twitter Menjadi Pencatat Amal Baik dan Buruk</title>
		<link>http://nukmanluthfie.com/2009/11/facebook-dan-twitter-menjadi-pencatat-amal-baik-dan-buruk/</link>
		<comments>http://nukmanluthfie.com/2009/11/facebook-dan-twitter-menjadi-pencatat-amal-baik-dan-buruk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 08:23:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Life Style]]></category>

		<category><![CDATA[Manajemen Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudutpandang.com/?p=491</guid>
		<description><![CDATA[Dulu saya sering mengatakan bahwa Google ibarat malaikat pencatat amal baik dan buruk perusahaan. Reaksi konsumen, baik yang suka maupun tidak, jika diungkapkan di blog, forum, maupun surat media online, akan tertangkap oleh mesin penca`rian terbesar di dunia tersebut. Jika &#8220;amal baik&#8221; perusahaan banyak, maka akan banyaklah tulisan positif yang terindeks oleh Google. Sebaliknya, begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu saya sering mengatakan bahwa Google ibarat malaikat pencatat amal baik dan buruk perusahaan. Reaksi konsumen, baik yang suka maupun tidak, jika diungkapkan di blog, forum, maupun surat media online, akan tertangkap oleh mesin penca`rian terbesar di dunia tersebut. Jika &#8220;amal baik&#8221; perusahaan banyak, maka akan banyaklah tulisan positif yang terindeks oleh Google. Sebaliknya, begitu sebuah perusahaan berbuat &#8220;dosa&#8221;, maka tulisan negatif akan bertebaran di hasil pencarian Google. Nah, di era social media ini, malaikat pencatat amal baik dan buruk ini bertambah dua, yakni Facebook dan Twitter. Dua malaikat baru online ini sekarang gandrung mencatat amal perorangan yang jumlahnya lebih dari 300 juta pengguna Facebook dan 45 jutaan pengguna Twitter.</p>
<p>Sekali kita menulis status di Facebook misalnya, saat itu juga seluruh teman kita berpeluang membacanya. Jika status kita bagus dan menginspirasi teman, maka teman tersebut akan merespon dengan baik, bahkan menulis status kita di halaman Facebooknya.  Status itu akan tertulis selamanya di Facebook, sepanjang kita tidak menghapusnya.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-495" title="fbtwitmalaikat" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/11/fbtwitmalaikat.jpg" alt="fbtwitmalaikat" width="440" height="293" /></p>
<p>Sebaliknya, jika status kita dianggap negatif, menimbulkan rasa marah, maka respon negatiflah yang akan kita dapatkan. Bisa saja, mereka yang tidak suka kemudian menyebarkan &#8220;kesan negatif&#8221; kita (meski belum tentu status kita negatif menurut kita sendiri) ke teman-teman yang lain. Kalau pun status itu kita hapus, karena kita merasa bersalah misalnya, tetap saja tidak terhapus secara permanen. Dan, celakanya, kita tidak dapat menghapus status teman lain yang menyebarkan &#8220;kesan negatif&#8221; tadi.</p>
<p>Hal yang sama berlaku di Twitter. Apapun yang kita tulis di Twitter, berpotensi dibaca oleh siapapun juga, bukan hanya follower kita jika status Twitter kita terbuka. Kita bisa saja menghapus apa pun yang kita tulis, namun sekali ada pihak lain yang menyebarkan status kita, maka kita tidak memiliki daya untuk menghapusnya.</p>
<p>Dengan daya catatnya yang luar biasa itulah Facebook dan Twitter kini menjadi wajah kita sesungguhnya di online. Apapun yang kita goreskan di Facebook (entah itu status update, foto, maupun notes) dan Twitter secara bertahap akan membangun sebuah bentuk sesungguhnya siapa kita. Jika banyak amal baik kita tebarkan di kedua jejaring itu, maka akan menjadi lautan catatan amal baik kita. Sebaliknya, jika amal negatif yang kita torehkan, kedua jejaring itu juga tak segan membangun sosok kita yang negatif.</p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Meski berada di wilayah online, bukan berarti itu dunia bebas berekspresi sepenuhnya dan kita dapat berbuat semau gue. Saya malah cenderung menyarankan untuk<span style="background-color: #ffffff;"> lebih hati-hati dan bijaksana. Sekali kita menyinggung perasaan teman di dunia nyata, dan kemudian kita minta maaf, maka persoalan akan selesai dengan cepat. Hanya kita, malaikat pencatat amal baik dan buruk (Raqib dan Atid) dan Tuhan yang tahu. Namun sekali kita berbuat buruk di online, dan dicatat &#8220;malaikat digital&#8221; bernama Facebook dan Twitter, catatan itu bersifat terbuka, siapa saja dapat melihatnya.</span></span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Saat ini perusahaan sudah mulai melihat Facebook untuk menilai calon karyawan dan calon mitra bisnisnya. Bukan tidak mungkin suatu ketika apapun yang akan menjadi bagian penting kehidupan kita, termasuk calon mertua misalnya, meneropong kita dari akun social media kita.</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Maka, hiduplah di Facebook dan Twitter seolah-olah kita hidup di dunia nyata. Etika-etika yang kita pegang teguh di dunia nyata, juga dipraktikkan di Facebook dan Twitter.</span></p>
<p>Twitter Nukman Luthfie: <a href="http://twitter.com/nukman">http://twitter.com/nukman</a></p>
<p>Facebook Nukman Luthfie: <a href="http://www.facebook.com/nukmanluthfie">http://www.facebook.com/nukmanluthfie</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukmanluthfie.com/2009/11/facebook-dan-twitter-menjadi-pencatat-amal-baik-dan-buruk/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jidoushi, Tadoushi, dan Cinta itu Kata Kerja</title>
		<link>http://nukmanluthfie.com/2009/11/jidoushi-tadoushi-dan-cinta-itu-kata-kerja/</link>
		<comments>http://nukmanluthfie.com/2009/11/jidoushi-tadoushi-dan-cinta-itu-kata-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 06:41:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudutpandang.com/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[Jidoushi dan tadoushi adalah istilah tata bahasa Jepang untuk kata kerja transitif dan intransitif. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal kata kerja transitf sebagai kata kerja yang membutuhkan objek, sedangkan intransitif tidak membutuhkan objek. Definisi kedua kata kerja ini dalam bahasa Jepang sedikit berbeda, dan bagi saya sangat inspiratif. Karenanya saya ingin sedikit berbagi cerita.
Doushi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Jidoushi</em> dan<em> tadoush</em>i adalah istilah tata bahasa Jepang untuk kata kerja transitif dan intransitif. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal kata kerja transitf sebagai kata kerja yang membutuhkan objek, sedangkan intransitif tidak membutuhkan objek. Definisi kedua kata kerja ini dalam bahasa Jepang sedikit berbeda, dan bagi saya sangat inspiratif. Karenanya saya ingin sedikit berbagi cerita.</p>
<p><em>Doushi</em> berarti kata kerja. <em>Ji</em> berarti sendiri atau dengan sendirinya, sedangkan ta berarti (pihak) lain. <em>Jidoushi</em> artinya kata kerja yang menggambarkan kejadian/kerja yang terjadi dengan sendirinya, atau dilakukan sendiri oleh subjek. Sedangkan <em>tadoushi</em> adalah kejadian/kerja oleh subjek kepada suatu objek.</p>
<p>Salah satu contoh pasangan kata kerja intransitif-transitif dalam bahasa Jepang adalah <em>deru</em> (keluar, intransitif) dan <em>dasu</em> (mengeluarkan, transitif). Saya punya sedikit cerita tentang dua kata kerja ini.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-481" title="jidoushi" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/11/jidoushi.jpg" alt="jidoushi" width="442" height="319" /></p>
<p>Saat ini saya diberi amanah untuk memimpin sebuah perusahaan Jepang di bidang plastic molding injection yang baru beroperasi sekitar 3 tahun. Selama ini kami membuat barang-barang pesanan dari perusahaan induk di Jepang, untuk dipasarkan di Jepang dan beberapa negara lain. Namun tahun ini pesanan dari Jepang menurun drastis, sehingga kami dihadapkan pada kemungkinan kami akan merugi.</p>
<p>Untuk menutupi kerugian, kami menerima pekerjaan maklun (subkontrak). Nilai pekerjaan yang kami terima cukup rendah, karena perusahaan mitra kami yang memberi pekerjaan itu juga sedang melakukan cost down secara ketat. Kami yang selama ini terbiasa mendapat order dengan margin keuntungan besar dari Jepang merasa berat melakukan pekerjaan ini.</p>
<p>Namun dengan pertimbangan bahwa ada sedikit pekerjaan lebih baik dari tidak sama sekali, kami putuskan untuk menerima pekerjaan ini. Minimal mesin tidak menganggur dan biaya-biaya rutin <em>(overhead)</em> bisa tertutupi.</p>
<p>Dengan kesadaran sejak awal bahwa pekerjaan ini murah nilainya, kami sangat berhati-hati. Segala macam biaya yang bisa dipotong kami potong. Berbagai cara kami lakukan untuk berhemat. Yang terpenting, tingkat apkiran <em>(reject)</em> kami tekan sekecil mungkin.</p>
<p>Setelah beberapa lama berjalan, kami menyadari bahwa pekerjaan ini ternyata bisa memberikan laba. Tidak besar memang. Tapi ada. Dan itu lebih dari sekedar menutup pengeluaran rutin. Saat menyadari hal itu saya berkata kepada teman saya: &#8220;<em>Rieki wa deru mono dewa naku, dasu mono da.</em>&#8221; Secara harfiah kalimat itu berarti: &#8220;Laba itu tidak keluar, tapi (kita) keluarkan&#8221;.  Maksudnya adalah laba itu tidak dihasilkan dari harga yang dihasilkan dari negosiasi dengan pembeli, tapi dari berbagai efisiensi yang kita lakukan dalam proses produksi.</p>
<p>Ilustrasi kecil di bawah ini mungkin bisa lebih memperjelas. Secara umum hubungan antara biaya produksi (P), harga jual (J), dan laba (L) adalah sebagai berikut:</p>
<p>P + L = J</p>
<p>Artinya kita menentukan harga jual produk kita dengan mempertimbangkan biaya produksi dan laba yang ingin kita peroleh. Namun dalam banyak kasus kita tidak bebas menentukan harga jual. Harga jual seringkali sudah ditentukan oleh pasar. Dalam situasi itu rumusnya berubah menjadi:</p>
<p><span> </span>J – P = L</p>
<p>Dari harga jual yang sudah tertentu itu yang bisa kita lakukan untuk memperoleh dan memperbesar laba adalah dengan menekan ongkos produksi.</p>
<p>Kata <em>deru</em> dan <em>dasu</em>, sama-sama bisa digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan, yaitu sesuatu yang keluar. Tapi pilihan atas kata transitif atau intransitif memberi semangat yang berbeda. Kata kerja transitif mewakili semangat kita untuk melakukan sesuatu, bukan menerima atau menyerah begitu saja pada keadaan.</p>
<p>Ada satu lagi pasangan kata kerja yang bagi saya juga memberi inspirasi, yaitu <em>kowareru</em> (rusak) dan <em>kowasu</em> (merusak). Bentuk lampau kedua kata kerja ini masing-masing <em>kowareta</em> dan <em>kowashita</em>. Saat melakukan eksperimen keteledoran saya menyebabkan sebuah alat laboratorium rusak.</p>
<p>Saya melaporkan kejadian itu kepada Sensei (profesor) saya. Dalam logika bahasa Indonesia otak saya berkata, &#8220;Alat itu rusak&#8221;. Logika itu saya terjemahkan dalam bahasa Jepang, sehingga dari mulut saya keluar kalimat &#8220;<em>Souchi (alat) ga kowareta</em>&#8220;.  Setelah mendengar penjelasan saya, Sensei menjawab, &#8220;<em>Kore wa kowareta janaku, kowashita desho</em>.&#8221; (Ini sih bukan rusak, tapi kamu rusakkan).</p>
<p>Ada perbedaan mendasar pada dua kata kerja di atas. <em>Kowareru</em> berarti alat itu rusak dengan sendirinya. Sedangkan <em>kowasu</em> berarti ada sesuatu yang menyebabkan kerusakan, dan sesuatu itulah yang (harus) bertanggung jawab. Dalam hal ini saya. Mengungkapkan kejadian di atas dengan kata <em>kowareru</em> adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab tersebut.</p>
<p>Di akhir tulisan ini saya akan kutipkan sebuah ilustrasi dari buku &#8220;Seven Habits&#8221; tulisan Stephen Covey. Kali ini bukan tentang pasangan kata kerja transitif dan intransitif. Tapi tentang kata benda dan kata kerja transitif.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-487" title="jidoushi01" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/11/jidoushi01.jpg" alt="jidoushi01" width="441" height="300" /><br />
Ada seseorang yang berada di ambang perceraian. Dia merasa sudah tidak ada lagi cinta antara dia dengan istrinya. Dia meminta nasihat pada Stephen Covey.</p>
<p>“Cintai dia.” Nasihat Stephen.</p>
<p>“Itu tidak mungkin.”</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Cinta itu sudah tidak ada antara aku dan dia. Bagaimana aku bisa mencintai dia?”</p>
<p>“Bisa. Cintai dia.”</p>
<p>“Tidak mungkin.”</p>
<p>“Ingat. Cinta itu kata kerja. Kata kerja transitif. Cintai dia. Lakukan usaha untuk mencintai dia. Maka cinta itu akan tumbuh di hatimu dan di hatinya.”</p>
<p>&#8212;</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/10/hasanjepang-150x150.jpg" alt="Hasanudin Abdurakhman" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Hasanudin Abdurakhman</p></div>
<p>Ditulis untuk Sudutpandang.com oleh: <a href="http://berbual.com" target="_blank">Hasanudin Abdurakhman</a>, Direktur PT Osimo Indonesia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukmanluthfie.com/2009/11/jidoushi-tadoushi-dan-cinta-itu-kata-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
