<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Sudut Pandang</title>
	<atom:link href="http://sudutpandang.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sudutpandang.com</link>
	<description>Sudut pandang Nukman Luthfie mengenai entrepreneurship, manajemen, dan lifestyle</description>
	<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 10:25:01 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bercinta Setiap Hari</title>
		<link>http://sudutpandang.com/2009/06/bercinta-setiap-hari/</link>
		<comments>http://sudutpandang.com/2009/06/bercinta-setiap-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 10:25:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudutpandang.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Jika saya sudah memilih menjadi pengusaha, dan saya memang betul-betul punya passion di situ, apa yang harus saya lakukan jika suatu suatu ketika saya patah semangat?&#8221; tanya salah satu peserta pada sebuah talkshow bertema &#8220;Entrepreneur vs. Public Relations&#8221; di STIKOM London School of Public Relations di Jakarta, Kamis 25 Juli 2009. Talkshow ini menjadi menarik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Jika saya sudah memilih menjadi pengusaha, dan saya memang betul-betul punya <em>passion</em> di situ, apa yang harus saya lakukan jika suatu suatu ketika saya patah semangat?&#8221; tanya salah satu peserta pada sebuah <em>talkshow</em> bertema <em>&#8220;Entrepreneur vs. Public Relations&#8221; </em>di STIKOM London School of Public Relations di Jakarta, Kamis 25 Juli 2009. <em>Talkshow</em> ini menjadi menarik bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi tersebut karena bukan hanya membahas bagaimana posisi enterpreneur terhadap Public Relations dan sebaliknya, namun juga mengupas masa depan mereka kelak, apakah lebih memilih menjadi pengusaha atau praktisi PR.</p>
<p>Buat saya, pertanyaan itu mengandung kontradiksi. Jika sudah memiliki hasrat menggebu-nggebu alias <em>passion</em>, semestinya tidak akan pernah patah semangat. &#8220;Orang yang memiliki <em>passion </em>terhadap sesuatu itu ibarat bercinta setiap hari,&#8221; jawab saya yang saat itu menjadi salah satu pembicara, bersama narasumber lain termasuk Donny Pramono, <em>founder </em>dan CEO Sour Sally, merek yogurt yang lagi naik daun saat ini. &#8220;Orang yang punya <em>passion </em>tidak akan ada waktu untuk patah semangat karena setiap hari selalu bercinta dengan apapun yang ia hasrati,&#8221; lanjut saya. Bahkan jika tidak bergelut dengan yang dihasrati, ia akan &#8220;sakit kepala&#8221;.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-265" title="kinjengsex" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/06/kinjengsex.jpg" alt="kinjengsex" width="441" height="300" /></p>
<p>Saya mencontohkan diri saya sendiri. Begitu membangun <a title="Virtual Consulting" href="http://www.virtual.co.id" target="_blank">Virtual Consulting</a> awal Januari 2003 lalu, nyaris tidak pernah patah semangat, bosan, jenuh atau patah arang terhadap apa yang saya jalani. Bahkan di saat-saat sulit pun, tatkala perusahaan menghadapi tantangan berat di tengah jalan, semangat untuk membangunn bisnis di bidang Internet ini nyaris tak pernah pudar.</p>
<p>Saya betul-betul merasa jatuh cinta dengan perusahaan yang saya bangun ini. Saya merasa &#8220;bercinta&#8221; setiap saat, baik di saat perusahaan dalam posisi bagus maupun kurang bagus. Saya jadi ingat moto <a href="http://maylaffayza.multiply.com" target="_blank">Maylaffayza</a>, pemain biola yang sudah menelorkan dua album. <em>&#8220;I play my violin like I make love,&#8221;</em> katanya. Ia menggesek biolanya sedemikian menghayatinya sehingga serasa sedang bercinta. Kini wanita cantik itu menjadi salah satu ikon violis di Indonesia.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-269" title="maylaffayza1" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/06/maylaffayza1.jpg" alt="maylaffayza1" width="440" height="272" /></p>
<p>Mereka yang punya <em>passion</em> akan jauh dari bosan, jenuh, atau patah semangat.&#8221; Punya <em>passion </em>itu, ibaratnya, punya hasrat bercinta yang tak pernah padam, alias keranjingan bercinta,&#8221; kata saya lagi.  Atau, kalau pun sempat patah semangat, itu hanya sesaat, dan dengan mudahnya pulih seketika.</p>
<p>Maka menjawab pertanyaan peserta tadi, saya mengatakan: &#8220;Jika kita mengaku punya <em>passion</em>, namun masih ada kesempatan untuk patah semangat, maka ada kemungkinan yang kita sebut sebagai <em>passion</em> itu sesungguhnya bukan <em>passion</em> kita.&#8221; Bisa jadi kita punya <em>passion </em>yang lain.</p>
<p>Namun memang tidak mudah menemukan <em>passion </em>kita dan menjaga api semangat terus menyala. Kenyataan hidup sering memaksa nyala semangat kita meredup. Nah jika itu yang terjadi, dekat-dekatlah dengan mereka yang memiliki nyala semangat tinggi. Jangan terpuruk dalam kesendirian, karena nyala yang tinggal sedikit itu bisa padam. Mendekatlah kepada mereka yang bernyala terang agar lilin semangat kita hidup semakin terang. Semangat dan<em> passion </em>orang akan menyebar ke mereka yang berada di dekatnya.</p>
<p>Itu sebabnya, dalam perjalanan membangun usaha, saya seringkali mendekat kepada mereka yang jauh lebih sukses baik secara fisik (bertemu muka, mendengarkan langsung, berdiskusi) atau secara tidak langsung dengan membaca kisah-kisah mereka, mendengarkan melalui media  tv dan radio. Saya serap semangat mereka sebanyak mungkin sehingga nyala api semangat saya pun tak pernah memudar.</p>
<p>Selamat menemukan <em>passion</em> anda dan berharap anda bisa bercinta setiap hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudutpandang.com/2009/06/bercinta-setiap-hari/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berpikir Strategis</title>
		<link>http://sudutpandang.com/2009/06/berpikir-strategis/</link>
		<comments>http://sudutpandang.com/2009/06/berpikir-strategis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 11:54:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudutpandang.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Saya sering mendapat pertanyaan, bagaimana bisa sukses membuat situs web yang banyak dikunjungi dan bisa berjualan di online, baik oleh pebisnis online maupun para pelaku bisnis offline yang ingin ekspansi pasar melalui  dunia maya. Bahkan beberapa diantaranya berharap dapat sukses dengan biaya seminim mungkin, kalau perlu gratis. Belakangan ini, seiring dengan maraknya social media, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sering mendapat pertanyaan, bagaimana bisa sukses membuat situs web yang banyak dikunjungi dan bisa berjualan di online, baik oleh pebisnis online maupun para pelaku bisnis offline yang ingin ekspansi pasar melalui  dunia maya. Bahkan beberapa diantaranya berharap dapat sukses dengan biaya seminim mungkin, kalau perlu gratis. Belakangan ini, seiring dengan maraknya social media, saya juga sering mendapat pertanyaan, bagaimana cara cepat agar bisa berjualan lewat jejaring sosial seperti Facebook. Tentu saja tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu.</p>
<p>Kenapa sulit? Karena yang ditanyakan adalah sesuatu yang taktis. Bagaimana membuat web yang bakal banyak dikunjungi pengguna Internet , itu taktis. Bagaimana menggunakan Facebook sebagai ajang jualan, itu taktis. Kita seringkali lupa, online itu hanya medium. Website perusahaan,  web site jualan barang, toko online, e-commerce, Facebook, Twitter dan lain sebagainya itu hanyalah sebuah media.</p>
<p>Banyak pengusaha baik kecil menengah maupun yang enterprise, terjebak pada pendekatan taktis. Mereka seolah lupa bahwa untuk sukses itu wajib melakukan pendekatan strategis, dengan cara berfikir strategis.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-237" title="strategic-thinking" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/06/strategic-thinking.jpg" alt="strategic-thinking" width="440" height="340" /></p>
<p>Apa bedanya taktis dan strategis? Yang taktis sudah saya contohkan di atas. Sedangkan yang strategis lebih esensial.  Saya berikan contoh yang menarik ketika berdiskusi dengan salah satu pengusaha kecil yang memproduksi sebuah produk yang tidak saya sebut di sini.  Ia sudah mendistribusikan produknya ke berbagai kota besar dan lumayan laku. Ia sudah membuat sebuah situs web dengan harga yang dianggapnya cukup mahal. Ia berharap akan banyak order dari pengguna Internet di berbagai belahan Nusantara. Ia berharap ada pembeli retail atau perorangan. Ia juga berusaha memanfaatkan Facebook untuk mempromosikan barangnya.</p>
<p>Ia mengeluhkan betapa kecilnya trafik ke situs webnya, yang otomatis juga memperkecil peluang mendapatkan pembeli perorangan di situsnya.</p>
<p>Untuk menggali di mana masalahnya, saya ajak ia diskusi, yang saya petikkan sebagian diantaranya di bawah ini.</p>
<p><strong>Nukman</strong>: Apakah anda memproduksi sendiri produk itu?</p>
<p><strong>Pengusaha</strong>: iya, betul, saya memang produsennya.</p>
<p><strong>Nukman:</strong> Anda jual/distribusikan sendiri?</p>
<p><strong>Pengusaha:</strong> Saya titipkan ke berbagai toko di kota-kota besar</p>
<p><strong>Nukman:</strong> Laku?</p>
<p><strong>Pengusaha: </strong>Alhamdulillah laku dan berkembang, sehingga karyawan saya lumayan banyak, tapi saya ingin lebih laku lagi, terutama lewat Internet.</p>
<p><strong>Nukman: </strong>Barapa harga per item produknya?</p>
<p><strong>Pengusaha:</strong> Rp 40 ribuan</p>
<p><em>Saya langsung terbayang, betapa repotnya mengurusi penjualan retail untuk produk yang semurah itu. Untuk mendapat omset Rp 4.000.000 sehari paling tidak ia harus menjual 100 item ke 100 pembeli, yang sepertinya agak sulit jika melalui Internet.</em></p>
<p><strong>Nukman: </strong>Jadi anda berharap banyak orang membeli produk itu lewat Internet?</p>
<p><strong>Pengusaha</strong>: Iya, betul. Bukankah sekarang eranya berjualan lewat Internet? Saya tidak mau ketinggalan tren ini.</p>
<p><strong>Nukman:</strong> Baiklah. Seandainya ada pembeli online yang berasal dari sebuah kota, katakanlah Jogjakarta, dan di kota itu sebenarnya ada  toko yang menjual produk Anda, apakah pemilik toko itu tidak marah?</p>
<p><em>Pengusaha itu diam sejenak dan tidak menjawab.</em></p>
<p><strong>Nukman:</strong> Bagaimana jika situs webnya bukan untuk jualan retail, tapi untuk memperluas jaringan, untuk mencari distributor baru? Dengan menjaring sebanyak mungkin distributor baru melalui online, diharapkan produk Anda semakin banyak tersebar ke berbagai wilayah.</p>
<p><em>Saya membayangkan, akan lebih mudah mencari pembeli grosir dalam jumlah banyak sekali beli, sehingga omset onlinenya bisa lumayan besar</em>.</p>
<p><strong>Pengusaha:</strong> ahaaaaa, jadi melalui web saya lebih banyak melayani distributor ya? Tidak perlu jualan ke retail ya?</p>
<p><em>Pengusaha itu bertanya sambil tersenyum cerah.</em></p>
<p><strong>Pengusaha:</strong> dan selanjutnya saya tinggal melakukan promosi agar kosnumen paham produk saya dan akhirnya berniat beli ke distributor atau toko-toko yang menjual produk saya tadi?</p>
<p><em>Saya mengangguk saja.</em></p>
<p>Dengan diskusi sederhana itu, pekerjaan rumahnya bukan bagaimana meningkatkan penjualan retail di Internet, tetapi bagaimana membangun jaringan yang lebih luas agar produknya tersebar di berbagai wilayah, sekaligus melakukan promosi online agar target audiencenya memahami produknya, kemudian mencari dan membelinya.</p>
<p>Itulah salah satu contoh berpikir secara strategis, yang selalu dimulai dengan pertanyaan sederhana:</p>
<p>1. Apa sih tujuan/objektif  (misalnya) masuk ke Internet?</p>
<p>2. Siapa target pasarnya?</p>
<p>3. Bagaimana perilaku online target pasarnya?</p>
<p>4. Bagaimana menjangkau target pasarnya?</p>
<p>5. Dan seterusnya.</p>
<p>Dengan berpikir strategis, langkah-langkah taktis dapat dilakukan dengan lebih terarah dan terukur, dan efisien.  Yang tadinya ingin berjualan retail, kini berubah menjadi berjualan grosir atau memperluas distribusi dengan skala penjualan yang lebih besar.</p>
<p>Diskusi strategis di atas hanyalah contoh. Kita bisa membuat contoh-contoh lain, yang selalu dimulai dengan apa TUJUANNYA.</p>
<p>Kalau sudah runtut seperti di atas, baru masuk ke langkah taktis. Misalnya, untuk contoh di atas, bagaimana membangun webnya, bagaimana mempromosikannya, bagaimana menggunakan Facebooknya atau social media lain, bagaimana menggunakan email marketingnya, dan seterusnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudutpandang.com/2009/06/berpikir-strategis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Wacana Neoliberal Hanya Menjadi Diskursus Antara Para Ekonom?</title>
		<link>http://sudutpandang.com/2009/06/mengapa-wacana-neoliberal-hanya-menjadi-diskursus-antara-para-ekonom/</link>
		<comments>http://sudutpandang.com/2009/06/mengapa-wacana-neoliberal-hanya-menjadi-diskursus-antara-para-ekonom/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 07:20:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudutpandang.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Rabu, 27 Mei 2009, pagi saya menghadap Dr. Mohammad Tasrif, dosen sistem dinamik untuk melakukan ujian akhir semester secara lisan. Di awal, beliau meminta saya menerangkan makalah yang saya ulas,  An Attempt to Operationalize The Recommendation of The &#8216;Limits to Growth&#8217;  Study to Sustain The Future of Mankind oleh Surya Raj Acharya dan Khalid Saeed. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rabu, 27 Mei 2009, pagi saya menghadap Dr. Mohammad Tasrif, dosen sistem dinamik untuk melakukan ujian akhir semester secara lisan. Di awal, beliau meminta saya menerangkan makalah yang saya ulas,  <em>An Attempt to Operationalize The Recommendation of The &#8216;Limits to Growth&#8217;  Study to Sustain The Future of Mankind</em> oleh Surya Raj Acharya dan Khalid Saeed. Singkatnya, makalah tersebut berupaya mengupas kebijakan yang memungkinkan untuk menunjang kesinambungan <em>(sustainability)</em> bumi dalam jangka panjang.</p>
<p>Makalah tersebut merupakan upaya koreksi Khalid Saeed terhadap tulisan Meadows, <em>Limits to Growth,</em> yang memprediksikan kehancuran bumi akibat eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Saeed menganggap rekomendasi yang dibuat Meadows untuk mencegah kehancuran tidak dapat diterapkan dalam kondisi riil.</p>
<p>Setelah itu, beliau menanyakan apakah saya bisa menirukan model yang dibangun dalam makalah tersebut. Saya katakan sejujurnya, bahwa saya tidak sanggup menirukan persis simulasi model tersebut. Kemudian beliau menanyakan lagi, apakah saya membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelesaikan model tersebut, saya pun mengiyakan. Beliau kemudian kembali bertanya, jika saya diminta menyusun rekomendasi kebijakan baru di luar yang telah dibuat modelnya oleh Saeed, apakah saya sanggup melakukannya sendiri. Saya katakan bahwa saya tidak akan sanggup.</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya cukup mengagetkan saya, karena apa yang beliau tanyakan tidak langsung terkait dengan makalah yang saya bahas.</p>
<p>&#8220;Menurut anda, mengapa wacana neoliberal hanya menjadi diskursus antara para ekonom?&#8221; Saya katakan bahwa selama ini muncul fenomena yang mengkotakkan isu neoliberal sebagai wacana ekonomi.</p>
<p>Beliau balik mengatakan kepada saya keheranannya, &#8221;Bagaimana bisa ekonom mengatakan pentingnya neoliberal tanpa melihat sektor lain? Padahal inti neoliberal kan pengurangan peran pemerintah. Yang jadi pertanyaan, sektor mana yang akan dikurangi peranannya dan apakah sektor tersebut siap jika diserahkan ke non pemerintah. Apakah pertanyaan-pertanyaan ini bisa dijawab hanya oleh ekonom?&#8221;</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-201" title="brokenchain" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/06/brokenchain.jpg" alt="brokenchain" width="440" height="293" /></p>
<p>Dalam berpikir sistem, kita dihadapkan pada sebuah paradigma bahwa antara satu dan lain hal di dunia ini selalu mempunyai hubungan, baik langsung maupun tidak langsung. Hubungan-hubungan inilah yang selalu diteliti, baik perilaku maupun strukturnya agar kita bisa merumuskan sebuah sistem yang baru.</p>
<p>Ekonomi sendiri merupakan sebuah sistem yang rumit. Ekonomi juga menyangkut masalah populasi, kualitas hidup, daya dukung lingkungan dan lain sebagainya. Untuk menjelaskan ekonomi, kita sesungguhnya membutuhkan dokter, para pakar lingkungan, insyinyur, pengusaha, bahkan pakar pertahanan.</p>
<p>Ironis, terkadang saya mendapati banyak yang mengagungkan pandangan ahli ekonomi dan merendahkan pandangan pihak lain. Ah, si anu kan tidak bergelar doktor ekonomi, si anu hanya pengusaha, si anu seorang teknolog, si anu cuma mantan jenderal, dan sebagai dan sebagainya. Apakah para ahli ekonomi memang memiliki keahlian yang memadai untuk menyelesaikan sebuah masalah ekonomi? Kalau benar, berarti yang kita butuhkan adalah sekolah jurusan ekonomi sebanyak-banyaknya, dan tidak perlu jurusan lain. Karena masalah ekonomi sendiri sebenarnya masalah mendasar dalam seluruh aspek kehidupan kita. Dan hanya satu tempat yang tidak memiliki masalah ekonomi, yaitu di Surga :-).</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-203" title="dscn9557" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/06/dscn9557-150x150.jpg" alt="dscn9557" width="150" height="150" /></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Ditulis oleh <strong>Jalu P. Priambodo</strong>, Direktur SAKLIK! Solution, Bandung, yang saat ini sedang mengikuti program S2,  Magister Studi Pembangunan di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung.</p>
<p>Pandangan ini dipersembahkan khusus kepada Sudutpandang.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudutpandang.com/2009/06/mengapa-wacana-neoliberal-hanya-menjadi-diskursus-antara-para-ekonom/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Strategi Gaul di Situs Social Media</title>
		<link>http://sudutpandang.com/2009/05/strategi-gaul-di-situs-social-media/</link>
		<comments>http://sudutpandang.com/2009/05/strategi-gaul-di-situs-social-media/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 07:39:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Life Style]]></category>

		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<category><![CDATA[facebook]]></category>

		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudutpandang.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan lalu  Merry Magdalena, menghubungi saya untuk wawancara penulisan bukunya mengenai situs gaul seperti Facebook, Twitter, Plurk, Multiply, Friendster, dan sejenisnya. Akhirnya saya bertemu juga di sebuah kedai kopi di Citos, Jakarta Selatan untuk berbincang lebih dalam dengan pendiri portal edukasi Netsains tersebut. Akhir Mei 2009 ini, bukunya diterbitkan oleh Gramedia, dengan judul  Situs Gaul, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa bulan lalu  <a href="http://merry.netsains.com/" target="_blank">Merry Magdalena</a>, menghubungi saya untuk wawancara penulisan bukunya mengenai situs gaul seperti Facebook, Twitter, Plurk, Multiply, Friendster, dan sejenisnya. Akhirnya saya bertemu juga di sebuah kedai kopi di Citos, Jakarta Selatan untuk berbincang lebih dalam dengan pendiri portal edukasi <a href="http://netsains.com/" target="_blank">Netsains</a> tersebut. Akhir Mei 2009 ini, bukunya diterbitkan oleh Gramedia, dengan judul  <a href="http://merry.netsains.com/?p=75" target="_blank">Situs Gaul, Gak Cuma buat Ngibul.</a></p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-183" title="gaul1" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/05/gaul1-150x150.jpg" alt="gaul1" width="150" height="150" />Buku itu ditulis dengan gaya bahasa yang enak dibaca dan mengalir. Berbeda dengan buku-buku lain yang hanya berisi &#8220;How To&#8221;,  buku ini dilengkapi dengan strategi dan praktik dari beberapa orang yang dianggap menggunakan situs gaul itu dengan baik. Mewkili sosok pengusaha, saya termasuk salah satu yang ditulis tersendiri di situ, di samping tokoh-tokoh lain seperti  <a href="http://www.perspektif.net" target="_blank">Wimar Witoelar</a>, penulis novel  Zara Zettira, politikus Fadjroel Rachman, jurnalis <a href="http://deriz.wordpress.com/" target="_blank">Deriz Syarief</a>, dan mantan Direktur Cisco Indonesia, <a href="http://irfansetiaputra.com/" target="_blank">Irfan Setiaputra</a>, yang kini menjadi Direktur Utama PT Inti.</p>
<p>Atas ijin penulisnya, bagian mengenai saya, ditampilkan di Sudutpandang.com ini.<img class="alignnone size-full wp-image-179" title="social-networking" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/05/social-networking.jpg" alt="social-networking" width="440" height="330" /></p>
<p><em>Nukman Luthfie, CEO Virtual.co.id</em></p>
<p><strong>“Tiap Situs Gaul, Beda Karakter, Dong”</strong></p>
<p>Ini dia pengusaha Indonesia yang bisa dibilang paling tidak gaptek. Bukan melarang karyawannya bermain situs jejaring sosial, Nukman justru menyuruh semua anakbuahnya bergaul di Internet selama jam kerja. Apa pasal?</p>
<p>“Beda lho, antara mengakses Facebook di kantor dengan di rumah. Kalau di kantor, atmosfernya atmosfer kerja, jadi mereka akan memosting hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, termotivasi untuk membicarakan masalah kerja. Akhirnya situs jejaring sosial itu bisa memberi efek yang bagus bagi pekerjaan mereka,” jelas lelaki yang memiliki akun di nyaris semua situs jejaring sosial ini. “Sedangkan kalau mengakses Facebook di rumah, isu yang dibahas pasti seputar hal-hal santai, becanda, tebar pesona, dan akhirnya tidak berguna banyak,” imbuhnya. Maka Nukman sangat menyayangkan jika ada perusahaan yang melarang penggunaan Facebook atau situs jejaring sosial di kantornya. Itu sama saja dengan membuat perusahaan itu sendiri tidak memanfaatkan semua potensi yang ada pada diri karyawan dalam mendukung kelangsungan usahanya di dunia maya.</p>
<p>Setelah mencoba semua situs jejaring sosial yang ada, akhirnya kini Nukman cukup puas diri dengan tiga jenis situs gaul saja, yakni <a href="http://www.facebook.com/people/Nukman-Luthfie/758277243" target="_blank">Facebook</a>, <a href="http://www.plurk.com/user/nukman" target="_blank">Plurk</a>, dan <a href="http://www.linkedin.com/in/nukman" target="_blank">LinkedIn</a>. Ia merasa paling klop dengan ketiga situs tersebut, sebab satu sama lain mewakili bagaimana ia ingin dikenal. Di Facebook, Nukman menampilkan citra dirinya sebagai orang yang serius, profesional, namun juga bisa bergaul dengan beragam kalangan, mulai dari pebisnis, jurnalis, sampai ke anak muda atau sesama profesional. Sedangkan di LinkedIn, Nukman memosisikan dirinya sebagai seorang CEO dengan branding korporat yang resmi, kompeten, siap berbisnis dengan sesama CEO mana saja di muka bumi. “Foto saya di LinkedIn resmi pakai dasi , lho. Beda dengan di Facebook yang lebih kasual namun tetap profesional,” ujarnya.  Kesan lain lagi ia ciptakan di Plurk. Di layanan mikrobloging ini, Nukman tampil sebagai profesional muda yang gaul abis, santai, penuh canda, banyak curhat dan berbagi soal  kesehariannya. Di Plurk, Nukman adalah sosok yang sangat personal, akrab, kebapakan, jauh berbeda dengan yang ia tampilkan di dua situs gaul tadi. </p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-181" title="nukmanfb" src="http://sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/05/nukmanfb.png" alt="nukmanfb" width="440" height="263" /></p>
<p>Mengapa lelaki yang berdomisili di Depok dan berkantor di Durentiga, Jakarta Selatan, ini menampilkan karakter berbeda di tiap situs gaulnya? “Sebab memang audiensnya berbeda. Tiap situs jejaring sosial memiliki ciri khasnya masing-masing, dan kita harus bisa menyesuaikannya. Ciri khas di situs tersebut juga menyebabkan penghuninya berbeda pula, jadi kita juga harus menampilkan kesan berbeda pula,” jelas Nukman. Betul juga, di situs khusus bisnis seperti LindedIn, kita tidak bisa tampil kasual dan bebas seperti layaknya di Facebook. Sebab memang situs tersebut terfokus pada dunia bisnis serta pengembangan karir. Mustahil orang dengan kepribadian kasual, terkesan tidak serius, bisa sukses gaul di dalamnya, sebab memang situs itu dirancang dengan gaya formal, penggunaan bahasa yang formal pula. Anggota di situs tersebut juga lebih tersegmen khusus kalangan pebisnis saja, bukan anak ABG gaul atau seniman cuek. </p>
<p>Mengaku sangat rajin mengakses tiga situs gaul di atas tadi, Nukman menganggap bahwa inti utama dari situs jejaring sosial adalah meningkatkan kehidupan sosial manusia. Orang di kota besar yang dianggap sibuk cenderung dianggap individualis karena tidak punya banyak waktu untuk bersosialisasi. Berkat adanya situs jejaring sosial, mereka mampu kembali bersilaturahmi dengan teman-teman lama, kerabat, saudara, rekan bisnis, dan seterusnya. Jadi inilah guna utama dari situs gaul semacam Facebook. Sedangkan mengenai penciptaan branding, ia menganggap itu akan terbentuk dengan sendirinya, bukan sebuah tujuan utama.</p>
<p>Nukman yang banyak diundang menjadi trainer dan pembicara seminar ini juga memanfaatkan situs gaul sebagai tindak lanjut perkenalan yang sudah dimula sebelumnya di dunia nyata. Misalnya saat ia menjadi pembicara di suatu seminar, tidak banyak waktu yang tersedia untuk berdiskusi dengan pesertanya. Di Facebook atau blog pribadinya, Nukman bisa menindaklanjuti diskusi yang sudah dirintis di dunia nyata tersebut. Bahkan tidak jarang juga yang berujung pada kerjasama bisnis dan sejenisnya. </p>
<p>Mengaku meninggalkan Friendster karena kelamaan situs itu sudah tidak menarik lagi dan banyak dihuni ABG, Nukman menganggap setiap situs jejaring sosial memiliki segmen dan ciri khas masing-masing. “Mereka akan sulit berkolaborasi, sebab satu sama lain mempunyai segmen pasar dan ciri khas yang berbeda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudutpandang.com/2009/05/strategi-gaul-di-situs-social-media/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Facebook: Bisnis yang Menciptakan Bisnis Baru</title>
		<link>http://sudutpandang.com/2009/05/facebook-bisnis-yang-menciptakan-bisnis-baru/</link>
		<comments>http://sudutpandang.com/2009/05/facebook-bisnis-yang-menciptakan-bisnis-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 07:06:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu fenomena online dua tahun terakhir ini adalah Facebook. Situs jejaring sosial ini mengharubirukan rakyat AS dalam kampanye Obama, kemudian mewabah di seluruh dunia. Kalau mau, Facebook bisa mendirikan negara online mengingat anggotanya mencapai 200 juta jiwa, setara sebuah negara besar. Sebentar lagi masyarakat Facebookiah akan mengalahkan jumlah rakyat Indonesia. Sungguh fenomelan. Tapi fenomena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu fenomena online dua tahun terakhir ini adalah <a href="http://www.facebook.com" target="_blank">Facebook</a>. Situs jejaring sosial ini mengharubirukan rakyat AS dalam kampanye Obama, kemudian mewabah di seluruh dunia. Kalau mau, Facebook bisa mendirikan negara online mengingat anggotanya mencapai 200 juta jiwa, setara sebuah negara besar. Sebentar lagi masyarakat Facebookiah akan mengalahkan jumlah rakyat Indonesia. Sungguh fenomelan. Tapi fenomena Facebook kini merambah ke bidang lain: bisnis.</p>
<p>Soal sang pencipta Facebook, Mark Zuckerberg, yang tahun lalu menjadi pengusaha terkaya di dunia paling muda versi <a href="http://www.usatoday.com/money/2008-03-05-forbes-billionaires_N.htm" target="_blank">Forbes</a>, sudah banyak yang tahu. Pada saat yang sama, barangkali juga banyak yang sudah tahu, meski jumlah penggunanya melesat tajam, Facebook kesulitan menemukan model bisnis untuk meningkatkan income perusahaan. Namun, di kala krisis finansial melanda seluruh dunia tahun lalu, dan berdampak buruk ke hampir semua perusahaan, Facebook justru tumbuh. Perusahaan yang menaungi 800 karyawana tersebut membukukan nilai penjualan sekitar US$ 300 juta tahun lalu.  &#8221;Kami sedikit dari perusahaan dunia yang masih bisa <a href="http://www.businessinsider.com/2009/1/zuckerberg-facebook-revenue" target="_blank">tumbuh di tengah resesi</a>,&#8221; kata Mark Zuckerberg.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-169" title="facebook" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/05/facebook.jpg" alt="" width="440" height="301" /></p>
<p>Tahun ini, pertumbuhan akan semakin tinggi. Jumlah karyawan Facebook akan mencapai angka seribu orang tahun ini. Pada saat yang sama, nilai penjualan Facebook pada tutup tahun 2009 nanti diperkirakan mencapai US$ 500 juta alias lima triliun rupiah dengan kurs 1 USD = Rp 10 ribu. Kenaikan 40% di tengah resesi jelas prestasi yang fenomenal.</p>
<p>Namun, ada yang tidak kalah fenomenalnya. Facebook berhasil menciptakan sebuah lingkungan bisnis bagi pihak lain dengan nilai yang juga luar biasa besar. Facebook mempersilahkan siapa saja untuk membangun aplikasi dan game di Facebookasal memenuhi standarnya. Tahukah anda berapa nilai bisnis yang berhasil diraup oleh para pembuat aplikasi di Facebook? <a href="http://www.venturebeat.com/" target="_blank">Venturebeat</a> memperkirakan, uang senilai USD 500 juta akan masuk ke kantong para pembuat aplikasi Facebook tahun ini. USD 500 juta? Ya, betul. Itu artinya sama dengan income yang diraih Facebook pada tahun yang sama.</p>
<p>Bahkan ada yang berani meramalkan pasar aplikasi Facebook itu akan melampai angka tersebut. &#8220;Saya tidak akan heran jika pendapatan para pembuat aplikasi Facebook akan lebih besar ketimbang pendapatan Facebook tahun ini,&#8221; kata Tim O&#8217;Shaughnessy, CEO LivingSocial, salah satu pembangun aplikasi terpopuler di Facebook. </p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-170" title="3-facebookapps-051809" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/05/3-facebookapps-051809.jpg" alt="" width="255" height="330" /></p>
<p><strong>Apa artinya?</strong></p>
<p>Facebook berhasil membuat penciptanya kaya raya &#8230;</p>
<p>Facebook berhasil menentramkan para investornya dengan pertumbuhan salesnya &#8230;.</p>
<p>Facebook telah membuka lapangan kerja begitu banyak dengan prospek karir yang cerah &#8230;.</p>
<p>Bahkan Facebook membuka bisnis baru untuk pihak lain &#8212; para pembuat aplikasi, pembuat game, dan sejenisnya yang memanfaafkan platfrom Facebook &#8212; dengan skala bisnis yang lebih besar dari Facebook sendiri&#8230;.</p>
<p><strong>Facebook bukan kaya untuk diri sendiri. Facebook bahkan lebih mengkayakan pihak-pihak lain.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudutpandang.com/2009/05/facebook-bisnis-yang-menciptakan-bisnis-baru/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berwirausaha Sejak Dini</title>
		<link>http://sudutpandang.com/2009/05/berwirausaha-sejak-dini/</link>
		<comments>http://sudutpandang.com/2009/05/berwirausaha-sejak-dini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 09:29:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ayah saya dulu (akhir 60an - awal 70an) sebagai Kepala Sekolah SD di kampung meminta semua siswa setiap berangkat sekolah memungut sebuah cumplung &#8212; kelapa berlubang dimakan tupai. Setelah cukup terkumpul dijual untuk bahan bakar pembuatan genteng,&#8221; kenang Rahmat Samsurizal, mengenai bagaimana inisiatif guru mendidik muridnya agar bisa bermental pengusaha.  Inisiatif-inisiatif lain yang mudah dikerjakan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Ayah saya dulu (akhir 60an - awal 70an) sebagai Kepala Sekolah SD di kampung meminta semua siswa setiap berangkat sekolah memungut sebuah cumplung &#8212; kelapa berlubang dimakan tupai. Setelah cukup terkumpul dijual untuk bahan bakar pembuatan genteng,&#8221; kenang Rahmat Samsurizal, mengenai bagaimana inisiatif guru mendidik muridnya agar bisa bermental pengusaha.  Inisiatif-inisiatif lain yang mudah dikerjakan, yang nyaris tanpa modal uang, juga dilakukan. &#8220;Tidak heran jika SD kami kemudian punya kolam ikan, ternak kambing, ternak ayam, kebun bengkoang dan kebun sayuran,&#8221; kata jebolan Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada. &#8220;SD kami pun akhirnya menjadi percontohan untuk daerah Kedu Selatan,&#8221; lanjutnya.  Tidak heran pula jika teman kuliah saya dulu itu kini juga memilih jalan hidup sebabagai pengusaha. </p>
<p>Ini adalah salah contoh pendidikan wirausaha sejak dini.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-165" title="kelapa" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/05/wirausahadini03.jpg" alt="" width="440" height="291" /></p>
<p>Saya pun jadi teringat jaman kecil dulu. Sejak SD saya dan adik-adik sudah biasa mendapat tugas untuk belanja kebutuhan keluarga. Mereka yang sekolah siang mendapat tugas belanja ke pasar, membeli kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli sayur, beras, ikan dan tetek bengeknya. Tanpa sadar, dari situlah kami mengenal namanya pasar dan dunia tawar menawar. Kami bisa pula belajar bagaimana memahami produk yang bagus atau jelek. Cara memilih ikan bandeng misalnya, dengan membuka insangnya, jika masih merah menyala itu tandanya masih segar. Dan jangan lupa dibaui dulu, apakah tercium aroma lumpur atau tidak.</p>
<p>Kami juga dibiasakan untuk membuka etalase toko &#8220;taylor&#8221; &#8212; penjahit &#8212; di pagi hari sebelum penjahit khusus kami berdatangan. Ayah memang dulu pengusaha &#8220;taylor&#8221; yang punya spesialisasi di jas. Upacara pagi kami selanjutnya adalah membersihkan kaca etalase, menyapu lantai agar sisa-sisa potongan kain tidak berserakan di lantai. Ketika SMP kebetulan saya masuk siang, sehingga paginya betul-betul dimanfaatkan untuk bekerja (yang buat saya sesungguhnya bersenang-senang). Saya belajar mulai dari yang paling sederhana: menyeterika baju. Kemudian naik pangkat memasang kancing. Saya ingat betul bagaiman jari manis saya mesti dibungkus kain atau dikubahi logam untuk mendorong jarum ke sela-sela kancing baju. Dari situlah kemudian meningkat menjadi pengukur baju.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-166" title="wirausaha dini" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/05/wirausahadini02.jpg" alt="" width="440" height="294" /></p>
<p>Salah satu yang tidak akan saya lupakan adalah hari Jumat. Itulah hari gajian para penjahit kami. Gaji mereka memang mingguan, dan dihitung berdasarkan kemampuan produksi masing-masing. Yang rajin dan pintar dapat banyak. Yang biasa saja ya dapat sesuai dengan kemampuannya. Saya pun begitu, dapat honor dari berapa baju yang saya seterika dan saya pasangi kancing. Dari honor itulah saya bisa bermain ke sana kemari dan mentraktir teman-teman SMP nonton bioskop. </p>
<p>Dari hal-hal sederhana seperti itulah orang tua saya mendidik anaknya. Ibu &#8220;memaksa&#8221; anak-anaknya belanja ke pasar, tidak peduli lelaki maupun perempuan. Sementara ayah &#8220;memaksa&#8221; anaknya membantu bisnisnya.  Tidak mengherankan kalau hampir semua anak-anak tersebut memiliki jiwa kewirausahaan yang lumayan tinggi.</p>
<p>Pengalaman masa kecil saya jelas beda dengan Rahmat Samsurizal. Saya mendapat pendidikan kewirausahaan sejak kecil di keluarga. Sementara Rahmat menyaksikan bagaimana ayahnya yang seorang pendidik menerapkan gagasan-gagasan wirausaha di sekolah.</p>
<p>Namun keduanya memiliki ciri yang sama: memulai dari yang sederhana. Hanya memungut cemplung, hanya belanja di pasar, hanya menyeterika baju, dan hanya hanya lainnya.</p>
<p>Persamaan lainnya adalah: memulai sejak dini. Kami berdua sudah mendapatkannya sejak SD.</p>
<p>Saya yakin, banyak pengusaha yang memiliki latarbelakang dua hal tersebut: memulai dari yang sederhana dan sejak dini.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-167" title="wirausaha dini" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/05/wirausahadini04.jpg" alt="" width="440" height="294" /></p>
<p>Tadi pagi, Senin, 18 Mei 2009, saya membaca koran Kompas yang menulis bahwa di dalam UU Badan Hukum Pendidikan disebutkan, Universitas harus mendorong kewirausahaan.  Lalu saya membuat diskusi melalui status di Facebook saya dengan mempertanyakan bagaimana cara Universitas memenuhi amanat Undang-Undang tersebut. Terjadi diskusi yang menarik. Namun, setelah  Rahmat Samsurizal menceritakan masa kecil di sekolahnya dalam diskusi di Facebook tersebut, saya mengambil kesimpulan, berwirausaha sejak dini jauh lebih manjur ketimbang mulai dari Universitas. Sementara Universitas mencari jalan mendorong kewirausahaan, para orang tua (juga guru sekolah) sebaiknya memberikan suasana kewirausahaan sejak dini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudutpandang.com/2009/05/berwirausaha-sejak-dini/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nukman Luthfie, Online Strategist: Trend Online Marketing</title>
		<link>http://sudutpandang.com/2009/05/nukman-luthfie-online-strategist-trend-online-marketing/</link>
		<comments>http://sudutpandang.com/2009/05/nukman-luthfie-online-strategist-trend-online-marketing/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 07:51:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Kehadiran teknologi bernama Internet tidak bisa dipungkiri telah banyak mengubah cara pandang manusia dalam berkomunikasi dan mengakses informasi. Internet sebagai jaringan komputer dunia tidak mengenal batas antar negara. Kita bisa terhubung dengan siapa saja dibelahan dunia lain melalui internet dengan begitu mudahnya. Internet berkembang menyesuaikan dengan perilaku penggunanya. Misalnya pengguna butuh bersosialisasi dan membangun jaringan. Maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kehadiran teknologi bernama Internet tidak bisa dipungkiri telah banyak mengubah cara pandang manusia dalam berkomunikasi dan mengakses informasi. Internet sebagai jaringan komputer dunia tidak mengenal batas antar negara. Kita bisa terhubung dengan siapa saja dibelahan dunia lain melalui internet dengan begitu mudahnya. Internet berkembang menyesuaikan dengan perilaku penggunanya. Misalnya pengguna butuh bersosialisasi dan membangun jaringan. Maka lahirlah <em>social media</em> seperti Facebook, Friendster, Myspace dan sebagainya. Masyarakat Internet juga bisa saling berbagi informasi melalui blog, forum, milis, media online dan sebagainya. Inilah yang kemudian dinamakan era Web 2.0.</p>
<p><span> </span></p>
<p>Mayoritas pengakses Internet adalah orang terpelajar. Semakin banyaknya pengakses inilah yang membuat Internet menjadi pasar yang sangat menjanjikan saat ini. Dan seperti halnya di dunia nyata, perlu ada strategi-strategi agar perusahaan bisa menarik hati konsumen pengguna internet.</p>
<p><span> </span></p>
<p>Berbagai strategi pemasaran di dunia maya inilah yang sering diungkapkan oleh <em>Online Strategist</em> Nukman Luthfie dalam berbagai seminarnya. Pria lulusan Teknik Nuklir UGM tahun 1990 ini memulai karirnya sebagai wartawan Bisnis Indonesia kemudian menjadi editor senior di majalah SWA Sembada. Banyak wartawan yang alih profesi sebagai <em>Public Relations</em>  (PR), begitu halnya juga dengan Nukman Luthfie yang menjadi co-founder PT. Agrakom Para Relatika dan menjabat sebagai direktur. Saat itu, beberapa klien pernah ditanganinya seperti Intel Indonesia, Microsoft Indonesia, Compaq Indonesia, Astra Graphia, hingga Bank HSBC. Karir berikutnya diteruskan masih di group Agrakom yaitu sebagai <em>Marketing and IT Director</em> portal berita <a href="http://www.detik.com" target="_blank">Detik.com</a> sampai Desember 2002.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-160" title="Nukman Luthfie @ Sudutpandang.com" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/05/nlsudutpandang01.jpg" alt="" width="440" height="317" /></p>
<p><span> </span></p>
<p><em>Foto: Nukman Luthfie pada salah satu rangkaian seminarnya yang bertajuk Sharpening Your Online Strategy, Learning from Indonesian Cases, with Nukman Luthfie di Jakarta</em></p>
<p>Januari 2003, Nukman Luthfie mulai pindah kuadran menjadi entrepreneur dengan mendirikan <a href="http://www.virtual.co.id" target="_blank">Virtual Consulting</a>. Bisnis Internetnya terus berkembang dan sekarang selain CEO Virtual Consulting juga menjadi CEO dari <a href="http://www. Niriah.com" target="_blank">Niriah.com</a>, <a href="http://www. Niriah.com" target="_blank">PortalHR.com</a> dan Virus Communications. Portal media cetak terkemuka juga ditangani timnya seperti <a href="http://www.Selular.co.id" target="_blank">Selular.co.id</a>, <a href="http://www.Bisnis.com" target="_blank">Bisnis.com</a>, dan <a href="http://www.swa.co.id" target="_blank">Swa.co.id</a>. Selain portal Internet, Nukman Luthfie juga aktif mengisi blog korporatnya di <a href="http://www.virtual.co.id/blog" target="_blank">Virtual.co.id/blog</a> dan juga di <a href="http://www.sudutpandang.com">Sudutpandang.com</a>. Pengalaman panjang lebih dari 10 tahun berkecimpung dalam <em>online marketing communications</em> dengan mengelola beberapa brand tersebut membuatnya memiliki “nilai jual” dan setiap materi presentasinya sangat menarik  untuk disimak.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-161" title="Nukman Luthfie + Founder Wordpress Matt Mullenweg @ Sudutpandang.com" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/05/nlsudutpandang02.jpg" alt="" width="440" height="337" /></p>
<p><span> </span></p>
<p><em>Foto: Nukman Luthfie + Founder Wordpress Matt Mullenweg saat live interview di TV-One dalam rangka acara WordCamp di Indonesia</em></p>
<p>Mengenai keberhasilan <em>online campaign</em> atau<em> online marketing</em>, menurut Nukman Luthfie ada banyak elemen yang ikut menentukan seperti pemahaman terhadap <em>online marketing ecosystem</em>, <em>online behavior, online communication strategy</em> hingga cara <em>seending</em> atau penyebaran <em>campaign</em>. “Namun sampai saat ini, masih banyak marketer ataupun advertiser yang terjebak dalam pola piker tradisional yang menganggap kunci kesuksesan utama sebuah <em>online campaign</em> terkait erat dengan jumlah <em>media placement</em>. Semakin besar budget <em>placement</em> pasti semakin sukses juga <em>online campaign-</em>nya,” ungkapnya.</p>
<p><span> </span></p>
<p>Walaupun tidak sepenuhnya salah, tapi menurutnya sebelum <em>seeding</em>, hal utama yang menentukan keberhasilan <em>online campaign</em> adalah <em>landing page strategy</em>. Misalnya, bisa berupa microsite sederhana. “Tapi <em>landing page</em> dengan tujuan <em>attract direct sales</em>, berbeda dengan tujuan <em>awareness</em>, begitu juga untuk stage <em>loyalty</em> (CRM). Bahkan, untuk mengumumkan sebuah seminar pun, <em>landing page</em> memiliki strategi khusus: seminar yang diperkenalkan via online dan mengundang user untuk register, bisa gagal total ketika pembuatannya tidak paham strategi <em>landing page</em> seminar,” jelasnya.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-163" title="Nukman Luthfie + Wimar Witoelar + Meutya Hafid + Budiputra" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/05/nlsudutpandang05.jpg" alt="" width="440" height="330" /></p>
<p><span> </span></p>
<p><em>Foto: Nukman Luthfie bersama  <a href="http://www.perspektif.net/" target="_blank">Wimar Witoelar </a>dan <a href="http://www.budiputra.com/" target="_blank">Budiputra </a>seusai live di eLife Style MetroTV dengan host <a href="http://www.meutyahafid.com/" target="_blank">Meutya Hafid</a></em></p>
<p>Sementara itu bagi para pengusaha yang ingin memperluas penjualan hingga ke luar negeri, Nukman Luthfie memberikan strategi seperti memiliki situs web yang sesuai pasar, memanfaatkan semaksimal mungkin mesin pencari atau situs yang dimiliki <em>search engine friendly</em> dengan menguasai keyword yang tepat. Setelah itu, tidak lupa juga melakukan promosi online dengan bergabung di <em>e-marketplace</em> dunia, bergabung dengan <em>social networking</em> dunia dan beriklan di Google Adwords. Yang tidak kalah penting tentunya adalah pengusaha harus paham seluk beluk ekspor.</p>
<p><span> </span></p>
<p>Marketing memanfaatkan Internet memang terus berkembang. Anderson Analytic melakukan riset terhadap 600 anggota Marketing Executive Networking Group (MENG) untuk mengindetifikasi “Top Marketing Trends Tahun 2008”. Riset ini menghasilkan bahwa <em>marketing basic</em> menduduki peringkat peringkat pertama dengan persentase sebesar 60 persen, berikutnya <em>Search Engine Optimizations</em> (SEO) menduduki peringkat kedua, <em>tech strategy, viral or word of mouth</em> dan <em>new media</em> juga menduduki peringkat penting. Hal ini menurut Nukman Luthfie menunjukkan bahwa para pemasar di Amerika Serikat paham betul betapa pentingnya Internet sebagai media pemasaran tahun depan. Semoga para marketing di Indonesia juga menyadari pentingnya pemanfaatan internet ini untuk memasarkan produknya.</p>
<div><strong>Sumber: majalah PremiumCONNECTION, edisi 17 halaman 29, terbit pada April 2009.</strong></div>
<div>PremiumCONNECTION adalah majalah internal <a href="http://www.lintasarta.co.id" target="_blank">PT Aplikanusa Lintasarta</a>, anak perusahaan Indosat yang sudah lebih dari 20 tahun memberikan solusi terpadu komunikasi data di 72 kota di Indonesia. </div>
<p> </p>
<div><strong>Foto dan tulisan terkait:</strong></div>
<div>Matt Mullenweg, CEO &amp; Founder Wordpress: <a href="http://ma.tt/person/nukman-luthfie/" target="_blank">Matt Mullenweg + Nukman Luthfie</a></div>
<div>Budiono Darsono: <a href="http://budiono.blogdetik.com/2008/12/03/belajar-lagi-dengerin-nukman-luthfie/" target="_blank">Belajar Lagi, Dengerin Nukman Luthfie</a></div>
<div>Amalia Maulana: <a href="http://amaliamaulana.com/2009/03/25/online-pr-strategy-dari-sang-pakar/" target="_blank">Online PR Strategy dari Sang Pakar</a></div>
<div>MetroTV on Youtube: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=RHqMho8HQ94" target="_blank">Bagian 1</a>, <a href="http://www.youtube.com/watch?v=rCiBkDsOtrA" target="_blank">Bagian 2</a>, <a href="http://www.youtube.com/watch?v=KO7RnPaDZAc" target="_blank">Bagian 3</a>.</div>
<div>Flickr: <a href="http://www.flickr.com/photos/wimar/433589652/" target="_blank">three bloggers and a host</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudutpandang.com/2009/05/nukman-luthfie-online-strategist-trend-online-marketing/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Iim Fahima: Berjaya di Dunia Online</title>
		<link>http://sudutpandang.com/2009/04/iim-fahima-berjaya-di-dunia-online/</link>
		<comments>http://sudutpandang.com/2009/04/iim-fahima-berjaya-di-dunia-online/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 14:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<category><![CDATA[Inspiring Person]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[ 
Iim Fahima,  Direktur Virtual Consulting, muncul dua halaman di majalah Femina. Majalah wanita ternama di Indonesia itu juga mengajak mantan mantan senior copy writer di sebuah perusahaan iklan yang berani pindah ke kuadran pengusaha itu untuk keliling di sembilan kota untuk berbagi ilmu mengenai dunia maya kepada pelanggan Femina.
Sebagai CEO Virtual Consulting, saya sangat senang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p>Iim Fahima,  Direktur Virtual Consulting, muncul dua halaman di majalah Femina. Majalah wanita ternama di Indonesia itu juga mengajak mantan mantan senior copy writer di sebuah perusahaan iklan yang berani pindah ke kuadran pengusaha itu untuk keliling di sembilan kota untuk berbagi ilmu mengenai dunia maya kepada pelanggan Femina.</p>
<p>Sebagai CEO Virtual Consulting, saya sangat senang dan bangga dengan tampilnya salah satu pemimpin perusahaan kami di majalah sekelas Femina. Oleh karena itu, saya tampilkan tulisan Femina mengenai Iim Fahima di blog Sudutpandang ini. Selamat membaca.</p>
<p style="text-align: center;">***** </p>
<p style="text-align: center;"><em>Ia menerobos pakem cara beriklan konvensional. Berkat jasanya, produsen makin ‘mesra’ dengan konsumen</em>.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-156" title="iim" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/04/iim.jpg" alt="" width="401" height="300" /></p>
<p style="text-align: left;">Kehadirannya membius lawan bicara. Semangatnya menular sehingga siapapun di dekatnya ikut optimis. Sosok wanita muda cantik, elegan, percaya diri, dan berwawasan luas, seolah tak cukup menggambarkan pribadi Iim Fahima Jachja (31). Dialah konsultan online advertising yang melejit namanya diantara pegiat jasa virtal tanah air. Maka, sangat layak jika finalis International Young Creative Entrepreneur of The Year (IYCE) 2008 – British Council ini menjadi salah satu pembicara paling ditunggu di Seminar Kartini femina, 18 April 2009 mendatang. Sejumlah wirausaha sukses lain juga akan membeberkan rahasia bisnis mereka, dua diantaranya, pemilik distro Bloop dan tas Mimsy (Lihat boks: Ini Juga Bintang!).</p>
<p><strong>Siap Tak Gajian Setahun</strong></p>
<p>Pada tahun 2006, karier Iim di salah satu perusahaan periklanan terbesar di Indonesia, terbilang mapan. Karier suaminya, Adhitia Sofyan, saat itu pun cukup bagus, yakni sebagai art director disebuah agen periklanan asing. Tapi ditengah kemapanan yang bisa membuai itu, mereka justru mantap membuka lembaran baru dengan menjadi wirausaha. This is the time. Begitu tekad mereka kala itu. Padahal, untuk mewujudkan usaha impian tersebut, mereka harus memulai dari nol.</p>
<p>Mereka mengambil keputusan yang berani. Apalagi jika mengingat pada waktu itu, kondisi perekonomian Indonseia sedang tak menentu dan penuh ujian. Toh, Iim tak hanya berbekal nekat dalam membentuk bisnis jasa konsultasi maketing dan komunikasi onlie, yang ia beri nama Virus Communications, dibawah bendera PT Virtual Media Nusantara.</p>
<p>Sebelumnya, ia menyiapkan sederet rencana matang. ”Semua resiko usaha saya perhitungkan, termasuk dari sisi finance. Demi bisnis baru ini, saya bahkan sudah siap-siap andai tidak bisa gajian setahun,” kenangnya, sambil tersenyum. ”Tapi, Ahamdulillah, baru sebulan bisnis berjalan, saya sudah mendapat klien penting,” sambungnya.</p>
<p>Ternyata, berwirausaha bukan ’mainan’ baru bagi Iim. Meski ilmu marketing bukan latar belakang pendidikannya, bagi lulusan Program Studi Manajemen Penyiaran (Broadcasting), Akademi Media Radio dan Televisi, Jakarta, ini berwirausaha merupakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya. ”Eyang saya seorang pedagang. Beliau eksportir gula dan kayu. Kakak saya pun banyak yang jadi entrepreneur,” ujar bungsu dari 9 bersaudara ini.</p>
<p>”Saat masih bekerja menjadi staf di perusahaan periklanan, saya sadar betul, suatu saat nanti saya akan menjadi seorang wanita wirausaha.” tuturnya. Lantas, Virus Communications berkolaborasi sebagai sister company dengan <a href="http://www.virtual.co.id" target="_blank">Virtual Consulting</a> (perusahaan konsultan Online marketing yang digawangi <a href="http://www.sudutpandang.com" target="_blank">Nukman Luthfie</a>, pakar online marketing). Virus unggul dalam hal digital advertising, sedangkan Virtual unggul dalam hal online business development (melahirkan portal-portal besar, seperti <a href="http://www. bisnis.com" target="_blank">bisnis.com</a>, <a href="http://www. swa.co.id" target="_blank">swa.co.id</a>, <a href="http://www.tangandiatas.com" target="_blank">tangandiatas.com</a>). Baru-baru ini, Virus melakukan merger dengan Virtual untuk memperkokoh diri sebagai perusahaan konsultan online marketing papan atas di Indonesia.</p>
<p>Pengalaman bekerja di bidang advertising yang mengandalkan media televisi, radio atau print ad (metode konvensional, begitu ia menamakannya) diakui Iim memberi banyak pelajaran berharga. Meski kini ia fokus pada dunia pemasaran bisnis secara online, ilmu komunikasi marketing yang ia dapat dari pekerjaannya dulu itu tetap menjadi landasan dalam mengaplikasikan usaha barunya. ”Kesibukan pekerjaan saya yang sekarang tak jauh berbeda dari pekerjaan sebelumnya. Namun, karena terbiasa bekerja di perusahaan besar, dengan struktur dan sistem kerja yang sudah rapi, saya harus mencurahkan perhatian ekstra dalam membangun bisnis sendiri,” katanya.</p>
<p>Ia harus banyak belajar lagi. ”Misalnya, dalam hal membuat laporan produksi, catatan keuangan, berhubungan dengan rekanan bisnis, membangun sistem layanan pelanggan (client service), hingga menyusun sistem keuangan,” jelasnya. Meski cukup rumit, toh, Iim menjalani semua itu dengan antusiasme tinggi. ”Tak hanya dalam hal berbisnis, di setiap aspek kehidupan pun saya berusaha selalu memberikan yang terbaik,” kata wanita kelahiran 7 Febuari 1978 ini, bijak.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-157" title="cover-iim001" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/04/cover-iim001.jpg" alt="" width="440" height="610" /></p>
<p><strong>Tantangan Bisnis Online</strong></p>
<p>Yang membedakan cara bisnis Iim dengan advertising konvensional adalah hal perantara (medium) komunikasi. ”Tantangan pemsaran via online seperti yang saya jalani, lebih besar. Bandingkan saja dengan sebuah iklan televisi, yang besarnya memenuhi satu layar. Di satu layar situs internet bisa terdapat banyak sekali iklan online. Nah disinilah seninya iklan online. Setiap konsultan iklan online butuh strategi khusus agar iklannya dilirik konsumen, dan menang bersaing dengan jejeran iklan lain, jika tidak paham betul ilmunya, iklan yang dibuat bisa jadi malah tidak efektif menjaring konsumen,” ungkap Iim, panjang lebar.</p>
<p>Seorang konsultan iklan online yang baik, selain harus mengerti ilmu komunikasi marketing secara umum, juga harus memahami sejumlah hal lain. Mulai dari konsep komunikasi online marketing, perilaku konsumen online, sampai ilmu teknologi informasi, plus kreativitas yang tinggi.</p>
<p>Menurut Iim, era pemasaran sekarang sudah bergeser. Dulu, produsen ingin produknya selalu tampil sempurna di mata konsumennya. ”Padahal, bukankah tidak ada satupun di dunia ini yang sempurna?” kata Iim. Untunglah, konsumen sekarang sudah dapat melihat kekurangan suatu produk, bahkan bisa menyampaikan kritik.</p>
<p>”Produsen pun akhirnya sadar, lebih baik memperlakukan konsumen sebagai teman, dan menempatkan diri mereka sejajar dengan konsumen. Sekarang ini sudah tidak zaman-nya lagi memberlakukan model komunikasi atau pemasaran yang ’berjarak’ dengan konsumen. Jika tetap menerapkannya, bukan tak mungkin, produk justru makin ditinggalkan,” Papar Iim.</p>
<p>Ia lantas mencontohkan apa yang telah dilakukan sebuah perusahaan minuman ringan dalam website-nya. Karena tak mau dikritik, mereka sengaja menghapus emua komentar konsumen yang bersifat kritik. ”Akibatnya, konsumen malah menyebarkan sikap buruk perusahaan itu kepada khalayak luas sehingga berdampak kurang baik pada citra produk tersebut,” jelasnya.</p>
<p>Percaya atau tidak, alasan utama yang menarik Iim untuk terjun berbisnis di dunia online dulu adalah krisis ekonomi. Di tengah krisis ekonomi sejak 2005, ia belum banyak melihat pebisnis dengan  minat yang serupa dengannya. Dengan sedikitnya kompetitor, Iim percaya diri menangkap peluang bisnis yang bermasa depan sangat menjanjikan ini. Apalagi, teknologi informasi, khususnya layanan internet, makin digandrungi masyarakat.</p>
<p>”Dari waktu ke waktu, pengguna internet di Indonesia makin besar. Berdasarkan riset yang dibuat search engine ternama Google, saat ini di Indonesia ada sekitar 30 juta pengguna jaringan internet. Angka ini merupakan angka tertinggi di Asia Tenggara,” kata Iim, senang. Fakta ini pula yang membuat para produsen atau pengusaha mengakui internet sebagai media pemasaran dan iklan yang efektif. Meski demikian Iim tidak anti pada iklan konvensional. Cara ini tetap dilakukannya, namun hanya sesuai kebutuhan.</p>
<p>Mengikuti dinamika dunia virtual membutuhkan kemampuan adaptasi yang tinggi.”Ada yang bilang, gaya hidup konsultan online marketing juga harus online (dinamis dan mampu belajar cepat.). Makanya, saya membiasakan diri meluangkan waktu sejam dalam sehari untuk meng-up date pengetahuan saya di bidang ini,” ujar ibu satu anak ini.</p>
<p>Tak sulit menelusuri jejak keberhasilan Iim. Sederet nama perusahaan besar menjadi kliennya. Sebut saja di antaranya Hewlett Packard, PT Telkom, Toyota, Auto2000, XL, Smart.</p>
<p> </p>
<p><strong>Cinta Keluarga</strong></p>
<p>Meski selalu aktif dan produktif, Iim enggan disebut sebagai workaholic. ”Akan lebih cocok, kalau saya disebut seorang shopaholic,” ujar wanita yang memang hobi berbelanja pakaian dan sepatu ini, sambil tertawa. Menurutnya, workaholic bukanlah hal positif, sekalipun bagi wanita bekerja seperti dirinya. Tampaknya, ia tak mau kehilangan indahnya kehidupan di luar pekerjaan.</p>
<p>Nyatanya, meski kesibukannya menggunung, Iim tak pernah kekurangan waktu untuk menikmati saat-saat pribadi. Agak aneh memang, mengingat jam kerjanya saja bisa lebih dari 18 jam sehari. Bahkan, ia harus merelakan sejumlah akhir pekan untuk bekerja. ”Lagi pula, ditengah sengitnya persaingan usaha sekarang ini, mana ada entrepreneur yang bisa bebas berlibur?” ujarnya.</p>
<p>Keseharian Iim, bisa membuat kita iri. Soalnya, meski sibuk bekerja, ia tak terpisahkan dari buah hatinya, Maleeka Kendra Adhitia (16 bulan). Setiap hari Ken Ken, begitu panggilan sayang putrinya itu, ikut kemanapun Iim pergi. ”Sampai sekarang saya masih memberikan ASI untuk Ken Ken. Itu sebabnya, saya membawanya kemana-mana,” ungkapnya, bahagia.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-158" title="adhit-kenken-iim" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/04/adhit-kenken-iim.jpg" alt="" width="440" height="459" /></p>
<p>”Me time saya berarti bersantai dengan suami dan anak,” katanya. Hobi masak sang suami pun jadi bumbu  yang indah dalam rumah tangganya. ”Saya tidak bisa masak, justru Mo Mo (panggilan untuk Adhitia, suaminya) yang sering masak untuk saya,” tutur pencinta hidangan steik dan pasta ini. Kata ’Alhamdulillah’ berkali-kali ia ucapkan sebagai ungkapan syukur atas semua yang dimilikinya saat ini.</p>
<p>Mengenai busana muslim yang dikenakannya, sehari-hari, juga suatu anugerah yang disyukurinya. Sejak kembali dari Tanah Suci pada tahun 2006, ia mengubah penampilannya 180 derajat. “Dulu saya senang memakai pakaian terbuka. Namun, sejak menikah dan naik haji, saya berusaha membenahi diri. Apalagi, kata Mo Mo, saya terlihat paling cantik dengan pakaian seperti ini,” sambung wanita yang punya panggilan sayang Mi Mi ini, seraya tertawa.</p>
<p>“Mudah-mudahan, 5 tahun lagi saya bisa menujadi konsultan online ternama,” harapnya. Meski luar biasa sibuk, Iim tampaknya tak kenal kata lelah. ”Saya amat menikmati apa yang saya lakukan sekarang,” katanya. Kegagalan pun tak membuatnya kecewa. ”Suka maupun duka selalu saya anggap bagian dari proses yang harus saya lalui.”. Karena alasan ini juga, Iim tak tahu harus menjawab apa ketika ditanya kapan ia berencana ’pensiun’ dari pekerjaannya.</p>
<div><strong>Sumber: majalah FEMINA no 15/XXXVII 11-17 April 2009</strong></div>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudutpandang.com/2009/04/iim-fahima-berjaya-di-dunia-online/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Memutar Krisis Ekonomi Menjadi Titik Tinggal Landas</title>
		<link>http://sudutpandang.com/2009/03/memutar-krisis-ekonomi-menjadi-titik-tinggal-landas/</link>
		<comments>http://sudutpandang.com/2009/03/memutar-krisis-ekonomi-menjadi-titik-tinggal-landas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 12:17:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[ 
oleh: Taufiqur Rahman, CEO Dot System Indonesia.
Ini habis baca-baca tentang krisis ekonomi, yang mengatakan krisis ekonomi saat ini lebih parah daripada Great Depression 1930-an.Tiba-tiba aku teringat, bahwa setiap grafik penurunan, selalu ada titik balik. Krisis ekonomi di Indonesia tahun 1997 ada titik baliknya. Great Depression pun juga ada titik baliknya. So, krisis ekonomi global ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p>oleh: Taufiqur Rahman, CEO Dot System Indonesia.</p>
<p>Ini habis baca-baca tentang krisis ekonomi, yang mengatakan krisis ekonomi saat ini lebih parah daripada Great Depression 1930-an.Tiba-tiba aku teringat, bahwa setiap grafik penurunan, selalu ada titik balik. Krisis ekonomi di Indonesia tahun 1997 ada titik baliknya. Great Depression pun juga ada titik baliknya. So, krisis ekonomi global ini pun aku yakin akan ada titik baliknya juga.</p>
<p>Mungkin aku tidak bisa menjelaskan seperti apa titik balik itu (kapan dan bagaimana situasinya). Hanya satu hal yang jelas, sekiranya kita bisa memanfaatkan, seiring dengan titik balik dunia itu, kita juga bisa memanfaatkannya.</p>
<p>Secara mikro, untuk diterapkan di diri masing-masing, yang paling mendasar adalah: JAGA KEYAKINAN. Selalu yakin lah bahwa krisis akan ada titik balik.</p>
<p>Kedua, baru kita membuka mata, mempertajam analisa untuk melihat peluang apa yang bisa dilakukan.</p>
<p>Ketiga, bertahanlah hingga titik balik itu muncul. Bertahan artinya: bertahan hidup dan terus mengasah kemampuan untuk full push pada saat yang tepat.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-152" title="peluang" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/03/peluang.jpg" alt="" width="429" height="300" /></p>
<p>Itu adalah point-point sederhana yang bisa aku sarikan. Pada prakteknya, tergantung dimana teman-teman sekarang beraktifitas, baik yang bergerak di IT, advertising, manufaktur, dan lainnya.</p>
<p>Secara umum, ekonomi Indonesia selama ini mengandalkan buruh dan hasil alam. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa ekonomi yang menggerakkan bangsa ini adalah mesin ekonomi dengan margin rendah. Saat krisis seperti sekarang ini, saat dimana pertumbuhan ekonomi negara-negara maju mengkerut, adalah saat dimana orang-orang Indonesia mengupayakan menggeser dari margin rendah ke margin lebih tinggi.</p>
<p>Secara sederhana, ketika orang-orang di negara maju mengurangi pembelian barang-barang branded yang berharga mahal, itulah saatnya para designer-designer kita meluncurkan produk dengan harga lebih murah namun dengan selera desain yang setara dengan barang-barang bermerek. Ini bagi Indonesia tetaplah suatu peningkatan, dari sebelumnya hanya sebagai kuli, meningkat sedikit masuk ke pasar designer. Wajarlah kalau pada saat awal belum bisa sekelas dengan papan atas dunia. Tapi, inilah saat memulai!</p>
<p>Designer diatas adalah suatu permisalan untuk berbagai bidang. Bisa designer baju, mebel, IT, maupun produk-produk lain. Intinya: shifting dari level operator ke level supervisor, planner ataupun designer. Itu adalah shifting dari jenis pekerjaan.</p>
<p>Yang kedua adalah dari kualitas. Untuk produk-produk kualitas rendah, inilah saatnya untuk mengasah diri, shifting ke produk berkualitas tinggi. Peningkatan kualitas ini cenderung akan meningkatkan margin. Ini berlaku tidak hanya untuk yang bermain di pasar ekspor saja, tetapi juga yang bermain di pasar lokal. Hilangkan pikiran, bahwa lokal hanya mampu membayar kualitas rendah. Sekiranya ada kualitas yang lebih tinggi dengan harga yang sedikit lebih mahal (syukur2 tetap), aku yakin pasar akan mau membayar harga yang layak.</p>
<p>Yang ketiga, dari sisi jenis produk. Ketika selama ini mengandalkan hasil alam, sudah saatnya kita menggeser untuk memberi nilai tambah. Jangan menjual hasil alam begitu saja. Tambahkan sedikit proses lah pada produk itu.</p>
<p>Ini adalah analisa umum. Aku yakin temen-temen bisa memanfaatkan ini di bidang dimanapun bergerak, baik yang dalam posisi berbisnis ataupun sebagai karyawan. Akhirnya kembali pada kita semua, mau memandang krisis sebagai ancaman atau peluang? Saya memilih berdiri di kata peluang </p>
<p><em>Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan </em><strong>(Q.S 94, ayat 5-6)</strong></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-153" title="tara" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/03/tara.jpg" alt="" width="250" height="284" /><strong>note:</strong></p>
<p>Taufiqur Rahman, yang biasa dipanggil Tara, adalah seorang pengusaha tulen, yang begitu lulus dari Teknik Industri ITB langsung membangun usaha sendiri di bidang Information Technology. Berkantor di Bandung, <a href="http://www.dotindo.com/" target="_blank">Dot System Indonesia</a> yang dibangunnya delapan tahun lalu merintis usaha dengan membangun aplikasi ERP untuk industri tekstil kemudian melebar ke perangkat keras pendukung efisiensi di industri tekstil. Di bawah komandonya Dotindo kini melakukan banyak riset untuk chip.</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudutpandang.com/2009/03/memutar-krisis-ekonomi-menjadi-titik-tinggal-landas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Riset Sebagai Ladang Bisnis</title>
		<link>http://sudutpandang.com/2009/02/riset-sebagai-ladang-bisnis/</link>
		<comments>http://sudutpandang.com/2009/02/riset-sebagai-ladang-bisnis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 13:08:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nukman Luthfie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sudutpandang.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Hasanudin Abdurakhman, Direktur PT Osimo Indonesia
Ada satu kesamaan antara pekerjaan saya sebagai peneliti di Jepang dulu dengan pekerjaan sebagai pengelola perusahaan saat ini, yaitu bahwa saya selalu berhubungan dengan pemasok (supplier). Interaksi saat itu bila saya pandang dari sudut pandang saya saat ini sebagai seorang pengelola bisnis membawa saya pada kesimpulan bahwa dunia riset [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Hasanudin Abdurakhman, Direktur PT Osimo Indonesia</p>
<p>Ada satu kesamaan antara pekerjaan saya sebagai peneliti di Jepang dulu dengan pekerjaan sebagai pengelola perusahaan saat ini, yaitu bahwa saya selalu berhubungan dengan pemasok (supplier). Interaksi saat itu bila saya pandang dari sudut pandang saya saat ini sebagai seorang pengelola bisnis membawa saya pada kesimpulan bahwa dunia riset adalah pasar yang cukup menggiurkan bagi beberapa bisnis.</p>
<p>Pasokan bagi dunia riset cukup beragam. Yang umum adalah alat tulis kantor, komputer dan produk yang berhubungan dengannya, jasa (perjalanan, medical, dan lain-lain). Sedangkan kebutuhan khususnya meliputi berbagai jenis instrumen dan bahan baku penelitian. Dua hal terakhir ini mendominasi alokasi belanja di dunia riset.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-149" title="risetbisnis" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/02/risetbisnis.jpg" alt="" width="440" height="300" /></p>
<p>Barang-barang untuk kebutuhan riset umumnya mahal. Saya pernah belanja aksesori untuk eksperimen optik berupa lensa, filter, dan barang-barang sejenis itu. Dengan dana JPY 500.000 (sekitar 50 juta rupiah dengan kurs sekarang) saya hanya mendapat satu karton (sebesar karton Indomie) peralatan. Itu belum seberapa. Ketika melakukan riset tentang struktur DNA saya membeli sampel DNA alami seharga JPY 10.000 (1 juta rupiah) per gram. Sedangkan untuk sampel DNA sintetik harganya adalah JPY 10.000 per milligram, atau JPY 10 juta (1 milyar rupiah) per gram! Sampel ini diproduksi oleh Amersham Bioscience sebuah perusahaan yang sekarang sudah diakuisisi oleh General Electric. </p>
<p>Ada setidaknya dua alasan kenapa produk-produk saintifik berharga mahal. Pertama, produk-produk ini dibuat dengan teknologi tinggi dan teknik yang sangat spesifik. Kedua, pangsa pasarnya sangat sempit dibandingkan misalnya consumers good, sehingga tidak bisa diproduksi secara sangat missal. </p>
<p>Tapi dua hal itu bagi saya sudah menjadi semacam mitos. Tidak semua produk saintifik itu demikian spesifik teknik pembuatannya, sangat tinggi teknologinya. Ada sebuah gelas dewar, semacam termos untuk menyimpan nitrogen cair untuk mendinginkan sampel pada saat pengukuran dalam eksperimen saya dulu yang harganya sangat mahal. Padahal strukturnya tidak berbeda dengan gelas sejenis yang dibuat di workshop di kampus. Gelas ini mahal karena ia adalah aksesori dari sebuah alat ukur yang memang spesifik teknik pembuatannya.</p>
<p>Sementara itu, pangsa pasar untuk produk saintifik memang terbatas. Namun pada saat yang sama, produsen yang bermain di dunia ini juga sedikit. Artinya rasio antara permintaan dan penawaran tidak sangat jauh berbeda dengan produk-produk lain.</p>
<p>Selain soal mitos tadi, perngguna produk saintifik khususnya untuk keperluan riset tidak terlalu cerewet soal harga. Ini tentu sangat berbeda dengan pengguna di kalangan industri. Di industri kita terbiasa ditekan untuk cost down. Sementara di riset, tekanan itu tidak ada. Kita nyaris tidak pernah ditanya, berapa ongkos yang dihabiskan untuk menghasilkan produk berupa data eksperimen atau prototype. Atmosfer psikologisnya adalah “getting something at whatever cost”. </p>
<p>Selain itu, proyek-proyek penelitian adalah proyek untuk menghabiskan anggaran, bukan proyek untuk menghasilkan profit. Di ujung tahun anggaran biasanya peneliti berlomba menghabiskan dana, agar dana yang sudah diterima habis terpakai. Kalau tidak, nanti akan ada pemotongan anggaran pada tahun berikutnya. Karena itu pada masa ini mereka belanja tanpa terlalu hirau dengan soal harga. </p>
<p>Semua yang saya tulis di atas berdasar atas pengalaman saya sebagai peneliti di Jepang, sebuah negara maju dengan aktivitas penelitian berintensitas tinggi. Saya tidak begitu mengenal dunia riset di Indonesia, sehingga tidak bisa menjamin apakah situasi, dan tentu saja peluangnya, persis sama. Namun secara alami seharusnya ada beberapa kesamaan yang bisa dijadikan titik pangkal untuk memicu sebuah bisnis baru.</p>
<p>Di luar soal potensi bisnis yang menarik itu, kejelian melihat dunia riset sebagai ladang bisnis perlu kita cermati dalam konteks enterpremeurship. Dunia riset bukanlah dunia yang mudah dilihat oleh orang awam. Hanya orang-orang yang bersinggungan dengan dunia inilah yang bisa melihat kebutuhannya. Selain itu, produksi barang-barang kebutuhan dunia ini memerlukan know how yang sangat spesifik. Coba bayangkan. Berapa dari kita yang punya akses ke informasi mengenai berapa besar kebutuhan nitrogen cair di Indonesia, dan berapa yang tahu seluk beluk teknis serta biaya produksinya? Kebanyakan dari kita malah mungkin belum pernah mendengar istilah nitrogen cair.</p>
<p>Salah satu yang punya akses ke informasi tersebut adalah para peneliti sendiri. Sayangnya secara umum para peneliti tidak punya bakat bisnis atau tidak berminat pada dunia ini. Penemu produk-produk sains banyak yang puas dengan hidup dari royalty atas temuannya. Jarang ada peneliti yang mampu mengantarkan sendiri  temuannya hingga menjadi produk bisnis. Salah satu contoh suksesnya adalah <a href="http://www.stephenwolfram.com/" target="_blank">Stephen Wolfram</a>. </p>
<p>Salah satu perusahaan Jepang terkemuka yang inti bisnisnya adalah produk-produk untuk keperluan riset adalah Shimazu Corporation. Seorang karyawannya, yaitu Koichi Tanaka (kebetulan lulusan Tohoku University, almamater saya) mendapat hadiah Nobel Kimia tahun 2002 atas jasanya mengembangkan sistem spektroskopi massa.</p>
<p>Perusahaan ini didirikan tahun 1875 oleh Genzo Shimadzu. Ia berasal dari keluarga bisnis yang memproduksi alat-alat untuk keperluan sembahyang agama Budha. Ia memulai bisnis dengan membuat alat-alat peraga mata pelajaran sains bagi sekolah-sekolah. Sebelum mulai bisnis ini ada semacam regulasi pemerintah yang mengharuskan penggunaan alat peraga serta praktikum di laboratorium dalam pelajaran sains. Namun pada praktiknya hal itu tidak terlaksana di sekolah-sekolah, sehingga bisnis Shimadzu pada awalnya bukanlah bisnis yang cerah. Tapi dia percaya pada satu hal, bahwa Jepang yang miskin sumber daya alam harus mampu mengembangkan sains dan teknologi untuk bisa bertahan di masa depan. Kepercayaan itu yang membuat ia bertahan pada masa-masa sulit.</p>
<p>Dalam masa sulit itu ia mendapat pekerjaan tambahan dari Kyoto Prefectural Physics and Chemistry Research Institute untuk memperbaiki alat-alat eksperimen yang ketika itu adalah barang impor. Kesempatan ini justru membuka peluang bagi Shimadzu untuk bersinggungan lebih jauh dengan dunia riset berikut know how dalam memperoduksi alatnya. Ini kemudian mengantarkannya untuk terlibat pada pengudaraan balon berawak pertama di tahun 1877. Kisah lengkap mengenai Genzo Shimadzu beserta Shimadzu Corporation dapat disimak <a href="http://www.shimadzu.com/about/magazine/oh80jt000000amhz-att/37_4.pdf" target="_blank">di sini</a>. </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-150" title="Hasanudin Abdurakhman" src="http://www.sudutpandang.com/wp-content/uploads/2009/02/hasan_sudutpandang.jpg" alt="" width="254" height="242" />Kisah sukses Genzo Shimadzu ini memberi saya (mudah-mudahan para pembaca juga) beberapa pelajaran. Pertama, tidak perlu terjebak pada problem 9 titik bahwa hanya saintis yang mampu memahami kebutuhan dunia riset. Kedua, Indonesia saat ini memang bukan negara maju dalam riset. Namun ini tidak berarti peluang untuk menjadikan dunia riset sebagai lahan bisnis lantas sama sekali nol. Shimadzu memulai usahanya saat dunia riset Jepang jauh di bawah level Indonesia saat ini. Ketiga, Shimadzu berbisnis dengan sebuah kepercayaan akan masa depan. Ia tak hanya mengikuti perkembangan trend. Tapi ia turut merekayasa trend masa depan menuju situasi yang menguntungkan bagi bisnisnya.</p>
<p> <br />
<strong>Catatan:</strong> </p>
<p><a href="http://www.berbual.com" target="_blank">Hasanudin Abdurakhman</a> adalah mantan peneliti yang mengaku baru belajar di dunia bisnis, dan belum mampu pindah kuadran menjadi pengusaha.</p>
<div>Tulisan ini dipersembahkan khusus untuk Sudutpandang.com</div>
<p> </p>
<p><strong>Tulisan terkait:</strong></p>
<p><a rel="bookmark" href="http://www.sudutpandang.com/inspirasi/bisnis-berbasis-research-and-development/">Bisnis Berbasis Research and Development</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudutpandang.com/2009/02/riset-sebagai-ladang-bisnis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
