home
Inspirasi

Sekolah Biasa atau Home Schooling?

Posted on January 24, 2010

commentsComment: 46 Comments

Anak kedua saya, Lala, sekarang berusia lima tahun, sudah berharap masuk kelas 1 Sekolah Dasar pertengahan tahun 2010 ini. Tidak sulit bagi saya dan istri menentukan sekolah formal mana yang harus dipilih. Di sekitar rumah kami di Depok, Jawa Barat, banyak sekolah bagus,  seperti Sekolah Alam, Avicena, maupun sekolah negeri. Namun, kini muncul pilihan home schooling.

Setidaknya ada tiga alasan yang mendasarinya.

Pertama, selama 6 bulan terakhir lala sudah mengikuti beberapa les tambahan atas  kemauan sendiri yang telah diikutinya secara konsisten dan kemajuannya terlihat sangat jelas.

Kedua, motivasi belajar Lala cukup besar. Kemampuan membaca, menulis dan berhitung pada awalnya dipelajarinya sambil bermain atas permintaannya sendiri.

Ketiga, berdasarkan pengalaman dari anak pertama yang belajar di sekolah formal, waktu dan kapasitas anak menjadi kurang optimal untuk dimanfaatkan sesuai dengan minat dan bakat anak.

Dengan tiga  alasan  itu, saya dan istri dengan serius mempertimbangkan home schooling sebagai pilihan yang lebih bagus buat Lala.

lala1

Hambatannya hanya satu saat ini: saya belum sepakat 100 persen karena masih meragukan beberapa hal.

Pertama, berhasil atau tidaknya home schooling tergantung pada kedua orang tua sementara  dari segi waktu kami berdua harus membagi waktu untuk bekerja di luar rumah. Selain itu, masih amat sulit bagi saya sekarang ini untuk terlibat alam pendidikan anak. Saya lebih cenderung berpendapat, serahkan hal-hal tersebut kepada yang profesional.

Kedua, masih ada pendapat bahwa home schooling akan membuat anak kita kurang berinteraksi dengan dunia luar, kehilangan kesempatan bercengkerama dengan teman sekolah, dan cenderung anti sosial.

Ketiga, secara psikologis apakah ada dampak terhadap anak  karena merasa telah melakukan proses belajar yang tidak sama dengan teman-teman sebayanya yang di sekolah formal.

Dengan ketiga hal itu, saya belum mantap 100 persen untuk memilih home schooling untuk Lala.

Sahabat blog Sudutpandang, adakah masukan bagi saya dan istri?

Adakah orang tua yang memiliki pengalaman home schooling buat anaknya mau berbagi di sini?

Bookmark and Share

46 Responses to “Sekolah Biasa atau Home Schooling?”

  1. Sekolah Formal aja, alasannya seperti alasan ke-2 yang diutarakan diatas. Sosial itu penting. Selain itu juga kalau memang anak-nya berpotensi, bukannya ada kelas akselerasi yah?

  2. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by nukman: Sekolah Biasa atau Home Schooling? pls advise di sini ya tweeps: http://bit.ly/5tDKKc...

  3. Saya jelas belum punya anak dan istri, tapi berdasarkan pengalaman teman2 yg sudah punya anak, kok saya juga concern kalau saya punya anak, saya memasukkannya ke pendidikan formal. Kalau memasukkannya ke sekolah yang apik, concern lainnya, biayanya yang pasti jauh lebih mahal.

    Seorang teman lain pernah cerita ttg konsep home schooling yg sedikit berbeda. Guru bukan datang ke rumah, dan yang datang bukan hanya satu anak. Jadi, bekerja sama dengan banyak keluarga, kelas berpindah dari rumah ke rumah, atau dari lokasi ke lokasi. Yang hadir pun banyak anak, dari banyak keluarga yang ikut berpartisipasi. Di sini, sosialisasi anak bisa ikut berkembang, karena banyak teman bermain.

    Pengajar bisa dari orang tua itu sendiri atau dari guru luar. Kalau ada ortu yang piawai musik, ya mengajari musik. Kalau perlu ada guru tambahan, ya secara patungan semua ortu yg ingin anaknya mengenal ttg hal itu membayar guru tersebut.

    Terus terang saya masih kurang paham dengan konsep ini, lalu dampaknya seperti apa terhadap anak. Hehe, jadi kalau ada alternatif lain saya juga ingin tahu.

  4. Pak homeschooling bagus banget
    Kalo kita sudah menemukan
    Bakat dan minat sianak tersebut.
    Untuk mengetahui itu ada 2macam:
    1.Analisa multiple inteligennya melalui
    Pengamatan sehari-hari
    2.Dengan fingerprint test(hub saya utk ket lebih
    Lanjaut. Disekolah ayah edy bagus pak cek
    Di http://www.ayahkita.blogspot.com
    Basic pendidikannya berdasarkan multiple
    Inteligenya howard gardner.

  5. Mas Nukman,

    Pengalaman dengan orang tua rekan dan rekan-rekan saya sendiri yang menerapkan ini, pada umumnya orang tua mereka bukan pekerja profesional-formal dalam arti mempunyai waktu mendampingi anaknya pada jam-jam di mana seharusnya dia belajar. Sangat sulit misalnya kita hanya punya waktu di malam hari untuk melakukan home schooling ini.

    Kedua, sebagian besar dari anak-anak itu mempunyai kebutuhan khusus, seperti misalnya seorang anak rekan yang sangat berminat di bidang musik, maka oleh ayahnya yang juga komposer, dia mendapat pelajaran dan praktek yang intens soal musik, dari ibu dan tantenya mendapatkan pelajaran “formal” seperti matematika, pengetahuan alam dan sosial.

    Mungkin kita bisa mendapatkan opinion dari yang lain di sini: http://tentukan.com/debat/setujukah_anda_dengan_home_schooling

  6. ndoro kakung Says:

    Diknas belum mengakui pendidikan di rumah. Ini bisa merepotkan masa depan lala.

  7. sayang, ga ada pengalaman nih.. selain itu, kebetulan minat psikologi yg diambil adl industri. selama ini hanya berdasar referensi bacaan, tp sepengetahuan saya, home schooling tdk berarti minim sosialisasi sih. tetap si anak bersosialisasi, tp ya gitu, orang tua dituntut penuh terlibat dlm pendidikan anak.

  8. @ndoro
    setau saya dr yg pernah dibaca, ada kok ujian persamaan.
    pernah baca, kl ga salah, anaknya sofyan djalil ambil home schooling.

  9. Setau saya pak sekolah alam adalah konsep yang memadukan home schooling dengan pendidikan formal . Bahkan enaknya si anak akan belajar berdasarkan pengalaman yang mereka dapat ketika berinteraksi dengan alam, kreatifitas anak tidak dibatasi, dan perlakuan terhadap anak berbeda antara satu anak dengan yang lain.
    Jadi bakat dan minatnya berkembang, secara sosial dia matang, dan secara formal dia tidak akan masalah seperti tanggapan dr ndorokakung di atas.

  10. Sekolah formal saja Mas, biar bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman-teman sebayanya dan berasal dari berbagai latar belakang.

  11. kalo saya bisa sarankan carilah sekolah,yang memiliki kurikulum yang lengkap mengenai, ketramilan berpikir, komunikasi, membangun karakter,ketrampilan hidup, ketrampilan kebiasaan sehari2 dan mengembangkan multiple intelejensianya dan pastikan sekolah itu dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan buat siswanya.

  12. Saya sempat lama mempertimbangkan HS dg istri. Kesimpulannya: kami belum mampu mendidik mrk scr HS krn keterbatasan kami. Selain itu, mslh sosial, sulit dibayangkan nantinya mrk tdk punya banyak teman dan bahkan tdk punya memori dgn kawan2 lama, misalnya bereuni. Kami pernah mendatangi pameran HS dan melihat anak2 itu spt kurang bersosialisasi, meskipun diakui mrk pintar2.

  13. meski blm ngrasain nyekolahin anak, kok saya lebih milih skolah biasa, alasan sederhana dr saya, karena anak anakpun butuh kehidupan sosial cmiiw

  14. Yang saya dengar, anaknya Kak Seto juga homeschooling. Mungkin bisa jadi bahan pertimbangan juga bahwa seorang yang concern terhadap dunia anak memilih homeschooling untuk anaknya sendiri.

  15. salam kenal, pak nukman. saya ibu 2 anak dan saat ini sedang menimbang-nimbang untuk menerapkan homeschooling untuk kedua anak saya. saat ini sudah banyak komunitas homeschooling. biasanya mereka mengadakan pertemuan rutin. mungkin ada baiknya bapak bergabung dengan salah satu komunitas homeschooling yang ada di depok atau sekitar rumah bapak. karena homeschooling itu tidak berarti kegiatan belajar hanya melulu di rumah. justru pilihan media dan cara belajar menjadi lebih luas bagi si anak. dan anak yang homeschooling tidak terus jadi kuper dan antisosial. soal aspek legalitas pun sudah ada ujian kesetaraan mulai tingkat SD sampai SMA dan bisa dipakai untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. tapi keputusan untuk homeschooling atau formal school harus dikembalikan kepada si anak, karena yang akan menjalani adalah si anak sendiri. orangtua dan guru hanya berperan sebagai pendamping dan fasilitator. contoh website komunitas homeschooling yang pernah saya kunjungi:

    http://homeschoolingkaksetobandung.com/

  16. @ndoro: sudah ndoro.. sudah diakui… walau tidak semua lembaga pengajar home schooling. soalnya anak2 yang home schooling juga menempuh ujian kenaikan kelas sebagai evaluasi pembelajaran setiap tahun, dan semacam ujian nasional ketika telah selesai menempuh pendidikan SD, SMP dan SMA.

    Secara garis besar, saya sendiri kelak kalau mempunyai anak, lebih suka kalau mereka menempuh pendidikan home schooling, tapi bukan yang tipe privat (guru datang kerumah dan si anak cuman belajar aja dirumah setiap harinya)

    Home schooling itu sendiri sebenernya lebih ke sekolah yang memiliki kurikulum pendidikan yang berbeda dari yang disediakan sekolah-sekolah pada umumnya. Dengan home schooling, bakat dan minat yang ada pada diri masing-masing anak, bisa di kembangkan sedari dini, karena setiap individu manusia tidak ada yang sama satu dengan yang lain nya.

    Dengan bersekolah di sekolah umum yang memakai sistem penilaian seperti sekarang ini, tidak adil untuk setiap individu. Anak dipaksa untuk belajar dan mendapatkan nilai tinggi (walau mungkin ada tipe orang tua yang membebaskan anaknya dan tidak terlalu membebankan nya agar belajar terlalu serius tetap saja, gaya pengajaran yang diadakan disekolah ikut membantu pola pemikiran si anak kelak. Belum lagi orang-tua atau guru-guru yang menganjurkan anak-anak didiknya mengikuti banyak les ini itu, sehingga waktu bermain si anak jadi kurang. Sedang masa kecil ndak bisa diulang. Pengalaman bermain dan belajar itu sangat penting dan bukan hanya belajar belajar belajar.

    Lalu misalnya si A jago matematik, tapi ndak pinter hapalan, trus nilai pancasila atau bahasanya 5, dia jadi tidak naik kelas, atau sebaliknya, ada yg pinter ilmu bumi tapi tidak pintar dibidang lainnya, di sekolah umum, mereka dipaksa untuk bisa semua nya tanpa pandang bulu, dan tidak memiliki kebebasan untuk mengembangkan kemampuan dasar nya sendiri.

    Home schooling yang saya maksud tepat itu yang tetap berinteraksi dengan orang lain termasuk teman sebaya, seperti yang telah ditulis oleh pitra di atas. Saya pernah membaca dan mencari tahu. Ada home schooling yang didirikan oleh sepasang suami istri yang merasa anaknya jadi pendiam dan pemurung setelah masuk sekkolah umum (SD) padahal sebelumnya mereka sangat pintar, senang bertanya, dan aktif. Ternyata dikarenakan di sekolah, setiap kali mereka bertanya, ditepis oleh gurunya bahwa “guru itu benar dan tahu segalanya, sedang mereka cuman anak kecil, dsb” jadi perlahan2 mereka jadi enggan bertanya, sedangkan di rumah mereka diberi kebebasan untuk belajar dan mengeksplor segala sesuatunya. Sehingga akhirnya kedua orang tuanya tersebut memilih untuk mengajari sendiri anak mereka.

    Dengan pola belajar yang menarik dan atraktif. lama-kelamaan, para orang tua anak2 sebaya yang tinggal di dekat mereka malah memberikan kepercayaan bagi mereka untuk mengajar anak mereka juga. Mereka bilang, untuk lokasi di komplek di rumah masing2 siswa komplek itu (karena kebetulan murid2 nya ya tetangga komplek itu semua). Lalu kalau belajar IPA, mereka belajar ditaman, mereka pergi kepasar, kalau belajar agama, di mesjid, ketika jam-jam yang tidak dipakai sholat wajib. Dan begitu seterusnya. Anak-anak diajarkan pengetahuan dasar yang juga di dapat di sekolah umum, tapi juga dibimbing ke bakatnya masing.

    Setahu saya, selain suami-istri tersebut juga mulai banyak home schooling yang sejenis. Jadi saya bukan ngiklanin sekolah mereka maksudnya, tapi terus terang saya sengat terinspirasi untuk menghome schoolingkan anak saya kelak karena membaca artikel tentang keluarga tersebut. Jadi jatuhnya semi home schooling. Anak-anak tetap berinteraksi dengan orang lain (biar gak jadi antisosial) dan mendapatkan pendidikan yang jauh lebih tepat untuk masing-masing pribadi.

  17. tetap pilih sekolah terbaik, sedangkan sedangkan di rumah, menambah yang dirasa kurang saja.

  18. kak seto, kalau gak salah (dengar) juga melakukan home schooling. kalau orang tua tak sanggup, kasihan masa depan anak (bisa kena pasal penelantaran UUPA :p)

    mungkin dikombinasi saja… begitu SMP/SMA, dilepas tak masuk sekolah formal. selama si anak kelihatan bakatnya dan bisa mandiri, ijazah dan sebagainya tak diperlukan lagi.

    saya termasuk yang menolak formalisme sekolah/tempat belajar, berikut gelar-gelar. nyatanya, sejak dulu sampai sekarang, saya masih bisa hidup (walah pas-pasan) tanpa terbelenggu status dan ijazah. malah, belum pernah saya bekerja dengan modal melamar secara formal, namun dengan modal kepercayaan…

  19. meskipun sy udah baca berbagai pendapat positif ttg home schooling, juga model2 home schooling yg bisa beramai2 itu -di komentar2 di atas,
    kalo punya anak sy lebih pilih memasukkannya ke sekolah formal atau sekolah alam.

    karena selain utk bersosialiasi, anak juga perlu belajar bekerjasama dalam kelompok, menyelesaikan permasalahan bersama2, menghadapi teman2 yang mungkin kurang bersahabat, berempati terhadap org lain (kl di home schooling rata2 satu kelompok tingkat sosial-ekonominya pasti sama kan), dsb.

    kalo terbiasa menyenangkan di homeschooling, takutnya saat nanti dia besar dan berhadapan dengan dunia nyata yg sekarang kejam ini *lebay*, dia gak bisa gampang beradaptasi atau malah kaget.

    Dari cerita2/hal2 yg dihadapi di sekolah itu, si anak bisa cerita ke ortu, dan ortu bisa membantu mengarahkan si anak harus bagaimana. Makanya ortu harus tetep deket sama anak :)

    soal kemampuan atau bakatnya, itu juga tanggungjawab ortu di luar jam formal sekolahnya..entah dididik sendiri atau diikutkan kursus..

  20. Halo pak Nukman,

    Saya sangat senang melihat ada orang tua yang sangat peduli dengan minat dan bakat anak dan tidak hanya “fokus” ke “masa depan” anak: “Mana bisa dapat duit di bidang seperti itu? Apalagi di Indonesia..” dan sebagainya.

    Kalau motivasi pak Nukman adalah untuk mengoptimalkan alur pendidikan Lala agar sesuai dengan bakat dan minatnya, saya sangat menyarankan agar Lala dimasukkan ke sekolah formal terlebih dahulu.

    Pada umur segitu, anak biasanya mulai menjadi sangat tertarik dan ingin tahu dengan beberapa hal-hal yang baru dan alasan-alasan di balik fenomena yang ada; asking “why” and “how”, instead of just “what” (Theory of Cognitive Development, Jean Piaget). Dari cerita pak Nukman, potensi dan kemauan Lala untuk belajar sangat ada, tapi kita juga tidak mau untuk tidak membiarkan dia (secara natural) melihat apa yang ada di luar sana. Hal-hal keseharian yang dilihat Lala bisa menjadi faktor pendukung rasa keingintahuannya (yang sedang besar-besarnya) untuk menggali lebih dalam bakat dan minatnya. Saya rasa ada baiknya dia menemukan sendiri apa yang dia benar-benar mau dan inginkan.

    Kalau dibilang takut cenderung anti-social memang masuk akal, tapi saya lebih melihat ke arah “nature vs nurture”nya. Saya yakin Lala terlahir dengan “nature” yang sangat baik, dan sebaiknya juga difasilitasi dengan nurture yang tidak kalah baik. Dengan home-schooling, jelas faktor nurture untuk Lala akan jauh lebih ter-constraint dibandingkan bila dia masuk ke sekolah formal. Lala seakan-akan dimasukan ke dalam sebuah laboratorium di mana semua kondisi dan variable dikontrol sedemikian rupa. Bukankah lebih baik jika Lala dilepas ke “alam bebas” agar bisa bertumbuh-kembang dengan natural? Constraint juga bisa ditetapkan oleh pak Nukman dalam skala dan konteks yang lebih luas (konteks sekolah secara keseluruhan dan bukan hanya pendidikan) dan alami sebagaimana mustinya.

    Jadi saran saya sebaiknya Lala dimasukan ke sekolah formal sambil terus dituntun oleh Bapak dan Ibunya dan dilihat terus perkembangannya. Jika nanti ada saatnya dia terlihat memiliki bakat yang jelas di area tertentu, coba diklarifikasi dan kemudian diberikan opsi untuk lebih konsentrasi ke bidang yang dia sukai tersebut. Pada saat itu, Lala sudah lebih ternurture secara alami melalui interaksi kesehariannya, sudah lebih berkembang juga kemampuan kognitifnya (yang tentunya juga dibantu dengan interaksi sosialnya) sehingga sudah mulai bisa mengkaji secara subjektif pilihan yang diberikan oleh Bapak dan Ibunya nanti.

    Penting juga agar urutannya tidak dibalik: jangan homeschooling dulu baru formal schooling. Di masa kecil seperti ini, neural formation masih berlangsung secara terus menerus dan aktif bagi Lala. Jangan sampai stimulus yang crucial bagi central nervous system yang sedang berkembang yang hanya bisa datang dari natural dan proper nurture (didapat pada konteks formal schooling) tidak diperoleh ketika masih kecil.

    Semoga membantu

  21. mas nukman..

    iyen sependapat dengan bpk/ibu dita.gigi

    homeschooling memiliki berbagai tipe mas.
    antara lain: ada yang memindahkan sekolah ke rumah, jadi semua pelajaran sekolah dipelajari di rumah dengan bimbingan guru. ada pula sebagai sebuah komunitas seperti komentar bpk/ibu pitra. ada pula semacam sekolah alam. sekolah yang tidak sama dengan sekolah formal dan tidak mengikuti kurikulum pemerintah.

    tapi sesungguhnya, kemunculan HS merupakan terobosan dari sistem pendidikan yang ada yang ingin mengoptimalkan anak pada kemampuannya dan tidak melakukan penyeragaman seperti yang dilakukan sekolah formal. yang hasilnya adalah anak dengan kemampuan setengah2 :)

    kita ketahui bahwa pendidikan formal kita yang ada selama ini tidak mampu memberi ruang pada tumbuh kembangnya kemampuan anak yang berbeda-beda, karena dibatasi oleh kurikulum dan silabus. padahal, kita ketahui kemampuan dan minat setiap orang/anak tidaklah sama.

    kalau iyen sendiri lebih memilih homeschooling sebagai sebuah lompatan cara belajar dan sebagai sebuah alternatif menghadapi sistem pendidikan yang tidak adil dan tidak memberi ruang anak tumbuh secara optimal.

    terlalu banyak beban dan penyeragaman yang terjadi.

    mungkin kita tahu ada sekolah-sekolah yang bagus dan memang bertujuan mengoptimalkan potensi anak. namun, sekolah2 seperti itu sangatlah mahal. dan iyen tidak sanggup.

    karena itu, bagi kami (iyen dan k’unu), inti dari sekolah adalah belajar, yang tidak harus dibingkai dengan keharusan ada dalam ruang sekolah, maka kami memilih HS.

    kami memilihkan sendiri potensi2 anak yang ingin dikembangkan. karena kita tahu, bahwa tidak mungkin orang mampu mempelajari semua hal. maka lebih baik ia berkembang sesuai dengan potensinya, dan optimal.

    mengenai kesempatan sosialisasi, –karena kami menjalani juga, maka tidak ada masalah dengan hal itu. anak2 bisa bersosialisasi di komunitas di mana dia sedang mempelajari suatu hal. misalnya di sekolah renang, ada teman2 yang –bahkan, memiliki minat yang sama. di tempat catur, mereka membangun pertemanan juga. begitu juga di musik. (ini hanya contoh pada minat yang kami kembangkan pada anak2). jadi untuk masalah sosialisasi tidaklah menjadi masalah.

    sekarang tinggal menimbang2 yang terbaik dari kedua konsep itu.

    rafi dan rayhan, 2 anak iyen mengikuti konsep ini dan di depok kebetulan ada sebuah lembaga pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan kami akan pendidikan untuk anak2. yang memadukan sekolah alam dan madrasah. mas mungkin bisa juga survey dulu dan menggali lebih dalam.

    tapi apapun pilihan mas nukman, sesungguhnya adalah yang terbaik.

    salam

  22. Pendapat yg mengatakan bahwa homeschooling belum diakui Pemerintah, adalah salah besar. Krn HS sudah terdaftar dan sudah masuk ke dalam pola pendidikan di Indonesia. UU No. 20/2003 Pasal 27 ayat (1) dan ayat (2).

  23. [...] This post was mentioned on Twitter by Nukman Luthfie, Nukman Luthfie, Nukman Luthfie, Nukman Luthfie, Nukman Luthfie and others. Nukman Luthfie said: @rusabawean Sekolah Biasa atau Home Schooling? pls advise di sini ya: http://bit.ly/5tDKKc [...]

  24. dengarkan kata hati anda. anak2 kita titipan Allah swt. kita yang sehari2 bertemu dan mengenal karakteristik anak kita. jadi kitalah yang tau apa yang terbaik untuk anak kita. oke,bosss…Selamat memilih.

  25. Saya setuju dengan pendapat pakde blonthank. Untuk pondasi dasar saya tetap menyutujui untuk sekolah umum/swasta.
    Interaksi dengan teman dimasa kecil menurut saya juga memperkaya perkembangan sang anak itu sendiri.

  26. Salam kenal :)

  27. Semua pendapat diatas adalah bagus. Tapi keputusan ada di tangan Bapak/Ibu. Apabila anak Anda dianggap mampu untuk bersekolah di sekolah formal, mengapa tidak. Bisa disekolahkan di sekolah yang juga mengajarkan pengetahuan agama sebagai tambahannya. Namun umumnya terlalu padat pelajarannya. Anak usia 7-12 tahun sebaiknya lebih memiliki kesempatan bermain sambil belajar bersama teman sebayanya. Jadi di sekolah umum biasa atau negeri mungkin lebih baik karena lebih mengajarkan bagaimana bersosialisasi denga kawan sebayanya dengan berbagai kalangan. Juga boleh juga disekolahkan di sekolah berstandar Internasional namun harus mengukur minat dan kemampuan anak. Janganlah anak kita yang berusia 10 tahun harus belajar semua pelajaran plus bahasa inggris dan bahasa jerman, sedangkan kemampuan dalam penguasaan bahasa asing amat lemah.
    Homeschooling untuk usia 7-12 tahun sebaiknya hanya dilakukan bagi anak2 yang memiliki kendala khusus seperti ADHD, dimana konsentrasinya terputus-putus dan adanya aktivitas yang berlebihan yang diluar kontrolnya. Hal ini untuk menjaga agar si anak tidak menjadi sedih karena menjadi bulan-bulanan temannya yang menganggapnya aneh. Akhirnya malah si anak tidak mau datang ke sekolah lagi. Atau bagi mereka yang sudah memiliki bakat yang sudah menonjol seperti bakat melukis, atau bermain musik, boleh saja bergabung dengan homeschooling. Menurut saya, sebaiknya di usia 14 tahun ke atas dimana si anak sudah memunculkan bakat terpendamnya dan termotivasi untuk mengasah dan terkonsentrasi di pengembangan bakatnya. Lebih lanjut tentang homeschooling, Bapak/ibu bisa melihat di situs Http://homeschoolingjakarta.wordpress.com
    Terima kasih, semoga berguna.

  28. Yang mau sekolah kan anaknya? Tanya aja sama anaknya, minatnya dia bagaimana? Saya kira umur 5 tahun sudah bisa diajak bicara dari hati ke hati.

    Tapi yang lebih penting lagi, tanya juga sama Sang Maha Pemilik yang sudah menitipkan Lala kepada Pak Nukman & Istri.

  29. yg penting Lala jadi anak cerdas :D

  30. tidak semua home scholing bagus, juga tidak semua sekolah formal bagus, lihat aja dua-duanya. apakah punya prestasi yang bagus, oya lihat juga apakah guru-gurunya juga berkualitas. semoga bermanfaat

  31. Saya lebih setuju sekolah formal. kemampuan sosial bahkan lebih penting daripada sekedar ilmu pasti.

  32. pilih sekolah formal, setuju dengan comment di atas..

  33. Wowww, nggak nyangka masih banyak aja yg salah kaprah soal homeschooling. Padahal kalo mau googling dikit aja (keyword: Homeschooling Myths), dah banyak yang tunjukkan dan buktikan secara riset ilmiah sekalipun kalau yang berikut2 ini hanyalah mitos: anak sekolah formal lebih baik sosialisasinya drpd anak HS (benar2 terbalik!), anak HS gak punya teman, HS pasti mahal, orang tua hrs berbakat jd guru, HS hanya belajar di rumah, sekolah formal = “alam bebas” (pdhl dikungkung di kelas terus), pendidikan dikelompokkan berdasarkan usia adalah tepat, HS tidak diakui pemerintah (pdhl sangat didukung, bs keluar masuk sekolah formal dgn model multiple entry and exit, dan bisa paruh waktu di sekolah formal dgn model sekolah partner), rumah harus memiliki fasilitas pembelajaran lengkap, orang tua harus full time jd guru buat anak (pdhl bnyk single parent yg pilih HS utk anaknya), HS hny utk anak berkebutuhan khusus (yg ini malah lebih butuh penanganan profesional), dll. Faktanya? Silahkan pernyataan2 di atas dibalik. Kalau mau sosialisasi bagus, jgn ke sekolah formal! Here’s my blog post on this Homeschooling Myths issue: http://wajibbelajar.com/?p=62

  34. Sudut pandang anda gak salah, topik memilih home schooling atau sekolah konvensional memang jadi thread di kalangan orangtua modern.

    Saya pernah siswa kursus, jadi dia bilang kalau dia ikut program home schooling namun dari cara dia paparkan ini sama saja dia membeli ijazah sekolah. Orangtuanya kebetulan kaya jadi mampu untuk membayar guru untuk mengajar anaknya di rumah. Untuk masalah jadwal belajar si anak tinggal mengatur kapan dia sedang mood untuk belajar atau tidak.

    Efek sampingnya, attitude anak ini kurang. Dia juga kurang bisa bergaul akibat dia sudah terlalu dimanjakan sama fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh orangtuanya. Apalagi kalau orangtuanya sibuk dan sulit untuk mengontrol perkembangan si anak.

    Saya sendiri lebih setuju untuk tetap sekolah konvensional, sekolah konvensial juga gak buruk-buruk amat. Disamping siswa akan dilatih, bertumbuh, dan berkembang. Bagaimana menemukan talenta-talenta mereka.

  35. yup saya rasa yg tidak kalah penting dari keputusan home-schooling adalah - bukan cuma kedisiplinan dan konsistensi anak dalam belajar - tapi juga kedisiplinan dan konsistensi orang tua.

    Sayang saya belum mendengar konsep sekolah ala buku Totto Chan dimana anak lebih dibiarkan berkembang dan memilih peminatannya dalam belajar, tapi dari yg saya baca rasanya Sekolah Alam sudah cukup mendekati.

    Saya lebih berpihak bahwa anak-anak -terutama di usia belia seperti Lala- butuh sosialisasi yg lebih banyak utk pengembangan karakternya juga… belajar berempati dan memiliki jiwa sosial yang tinggi… karena pada akhirnya kita sering melihat bahwa mereka yg “sukses” bukan semata-mata karena nilai akademik yg tinggi, tapi terutama karena nilai-nilai yg sifatnya lebih ke personality.

    Mungkin ayah dan bunda butuh lebih banyak skrining lagi utk masalah sekolah Lala supaya tidak terbatasi ‘gerak’nya seperti sang Kakak. Go Lala ;-)

  36. walaupun saya belum punya anak, tp saya lebih memilih kelak anak saya ikut program homeschooling aja.. mengapa? karena saya ingin ank2 saya nanti biar saya yg membentuk, bukan org lain. krna saya orang tua nya, brrti saya yang jelas lebih tau apa kebutuhan dan kemampuan mereka adalah saya sbg org tua. masalah sosialisasi seharusnya ank homeschooling punya kesempatan yang lebih luas dibanding anak di sekolah formal, alasannya, waktu bebas anak homeschooling lebih banyak dibanding anak sekolah formal yang terkungkung di ruang kelas, dan terbatas melakukan interaksi dengan teman sebaya, dan tdk bnyk melakukan interaksi dengan orang yang lebih tua atau lebih muda.. padahal di dunia nyata, anak akan berhadapan dengan jenis manusia yang lebih kompleks dari pada teman sebayanya.

  37. Saya sih lbh cenderung hs.anak saya umur 4 thn dah mulai bs baca dikit,brhitung dan b.ing.sama seperti lala dia suka belajar dan atas keinginan sendiri les b.ing,dan bimbel gt.anak hs lbh pintar dr anak formal krn sbg ortu kita lbh tau mana kelemahan anak dan mana kelebihannya.jd ngajar sesuai anak.klo formal kan disamaratakan,mau anak bodoh pintar kurikulum jalan terus.masalah sosialisasi kan bs lewat kursus,atau ikut grup anak anak gt.apalg di jakarta hs dah brkmbg gak sprti di medan.pasti lbh mudah.ini sih hanya pendapat.saya sbnrnya pengennya gak usah ribet ya masukin sekolah formal serahkan ama gurunya,tp saya blum nemu sekolah yg cocok untuk anak saya.ada sekolah bagus tp mahal,ada sekolah disiplin banget,ada sekolah yg pake anaknya dihukum dicubit dijewer pdhl msh sekolah tk.jd ya akhirnya saya ambil keputusan hs aja untuk anak saya

  38. aduh pliss deh..home schooling tu buat anak kuper…kena hujan dikit sakit..kerja berat dikit capek……klo saya punya anak nanti..ndak bgt deh dia home schooling…sebisa mungkin dia harus sekolah di sekolah kebanyakan orang…biar dia jadi mahluk sosial yang benar n beradab…..

  39. Jadinya homeschooling atau pendidikan formal, Pak?

    Saya rasa keduanya memiliki plus dan minus masing-masing.

    Awalnya saya juga ingin anak homeschooling saja. Tapi, akhirnya menyerah karena kemampuan saya belum maksimal untuk homeschooling. Walau begitu, saya menambahkan acara belajar sambil bermain di rumah dengan anak saya.

  40. Pak,
    Saya mendukung Lala untuk sekolah di rumah. Anak saya pun yang lulus SD, kelas 7-8-9 nya sudah 100 % saya Home schooling-kan;. Beberapa alasan saya untuk mengajar anak di rumah adalah:

    1. Undang-undang pendidikan kita sudah mengakomodasi home schooling. Paket A-B- dan C setara SD-SMP dan SMA sudah di akui. bahkan paket C dapat menjadi PNS /TNI/POLRI serta semua perguruan tinggi wajib menerima.

    2. Kita tidak perlu repot memilih sekolah unggulan, menghabiskan uang bangku sampai puluhan juta sementara toh pada akhir kelas, ujiannya ya NASIONAL juga. Sehebat apa pun sekolah unggulan, mereka harus lulus ujian Nasional.

    3. Anak belajar lebih fokus. Berhadapan langsung “face to face” dengan guru yang databng ke rumah. Serapan ilmunya 100 % di bandingkan dengan guru di kelas formal. 1 guru untuk 30 murid.

    4. Akhlak anak dapat lebih mudah kita arahkan. Tidak terkontaminasi dengan pengaruh buruk siswa “nakal” yang banyak mengajari hal-hal negatif, seperti merokok, bulying, pornografi, narkoba, dll.

    5. Anak lebih sehat. Tidak jajan di luar, tidak tertular penyakit dari kawan-kawannya. Dengan demikian kita menghemat biaya pengobatan yang makin hari makin mahal.

    6.
    Bagi saya sosialisasi tidak ada halangan. Anak saya lebih baik rendah ber sosialisasi tapi akhlak terselamatkan. Namun mengenai anak bersosialisasi banyak jalan keluar yang dapat kita ambil dengan mendorong minat anak seperti masuk klub Olahraga, musik, pecinta alam. Pergaulannya lebih fokus.

    7.
    Jangan lupa, bahwa anak-anak memerlukan aktivitas fisik, bermain, mengembangkan kreativitas. Orangtua seringkali mencita-citakan anaknya sempurna sehingga menjejali banyak giat. Anak-anak jadi stress. memasukkan sekolah formal bergengsi.

    Mari kita lihat / teropong betapa luar biasanya anak kita menjadi “terhukum” dengan giat belajar yang tidak masuk diakal:

    jam 04:30 SUDAH DIBANGUNKAN.
    jAM 05:30 Berangkat sekolah - jam 14:00
    Jam 15:00 Les sekolah, musik dll s/d 18:00
    Jam 18:00 mengerjakan PR - 20:00
    Jam 20:00 menyiapkan buku & keperluan untuk esok pagi.
    Jam : 20:30 tidur

    Kita sebagai orang dewasa saja tidak sanggup untuk melaksanakan kegiatan rutin. Akhirnya anak bosan. Yang terjadi kucing-kucingan dengan orang tua.

    Jika orangtua melihat anak akan pura-pura belajar.
    Jika orangtua tidak melihat anak santai, melamun, melihat TV.

    Gejala anak stress jika di perintah belajar, mereka memiliki banyak cara untuk mencuri waktu seperti misalnya, Bisa berkali-kali ke WC, Minta makan karena lapar, berulah negatif.

    Jadi, semangat Pak….saya dukung Lala home schooling…….Mari para orangtua, ubahlah sudut pandang kita menjadi lebih fokus. Mendidik anak bisa di mana saja.
    Pemerintah sudah memfasilitasi. kenapa kita sia-siakan?
    Mari kita tempatkan posisi pola pikir kita sebagaimana anak berpikir.

  41. O, ya, melengkapi tulisan saya di atas,
    Setelah anak selesai pada paket C yakni setara SMA, kita orangtua fight habis memasukkan anak ke Perguruan tinggi bergengsi.

    Anak saya yang pertama Home schooling, lulus SMA diterima di Fak. Kedokteran Universitas Indonesia. Lulus cum laude spesialis Bedah Jantung di Australia. Kini sedang menunggu program Phd nya.

    Terus terang, dengan home schooling anak saya memiliki budi pekerti yang baik. Hormat dabn santun pada orangtua dan sesama.

  42. Kalau menginginkan tumbuh kembang yang optimal dan cukup berani menerima tantangan dan tentangan, homeschooling.

    Kalau sibuk atau lebih sreg dengan metode pendidikan yang dilakukan kebanyakan orang, titipkan ke sekolah sambil kita terus memantau perkembangannya dan apa yang dipelajarinya dari sekolah. Jangan ragu campur tangan kalau ada yang “nggak bener”. Sekolah bukan agama, dan guru tidak selalu benar. Pengaruh teman-teman di sekolah pun perlu diwaspadai.

    Bagaimana pun kunci keberhasilan anak dalam pendidikan, perkembangan karakter, dan kesiapan dia menghadapi dunia nyata, atau dengan kata lain supaya “jadi orang”, adalah keterlibatan orang tua.

  43. Jangan tanyakan tentang homeschooling kepada nonpraktisi dan orang-orang yang buta HS. Informasi yang Anda dapatkan pasti ngaco sekali, seperti komentar-komentar sebelum ini. HS sudah dilindungi UU Sisdiknas sebagai jalur pendidikan informal. Mendapatkan ujian kesetaraan Paket cukup mudah, dan sudah banyak siswa-siswi homeschooling yang masuk ke perguruan tinggi negeri seperti UI, UGM, ITB, UNAIR, dan lain-lainnya. Anak-anak HS juga terbukti lebih unggul di segala bidang dibandingkan anak-anak sekolah biasa, termasuk sosialisasi, penghasilan, tingkat lulus universitas, dan sebagainya menurut semua riset HS di luar negeri.

  44. Pa. sebaiknya bertanya pada praktis hs. Berikut salah satu hp praktisi hs yang telah lama ber-hs. http://www.rumahinspirasi.com Atau ikut milis sekolah rumah, tinggal cari di gooogle.

  45. Pak Nukman,
    Anak saya 3, semuanya normal, bukan jenius juga tidak memiliki kebutuhan khusus. Kami memilih homeschooling sejak awal kami menikah karena kami sangat menyukai gagasannya.

    Kami memilih HS tunggal, tidak berafiliasi dengan lembaga tertentu. Setelah 9 tahun menjalani HS, kami merasa nyaman dan puas dengan perkembangan anak-anak melalui HS.

    Dalam pandangan kami, kekuatan terbesar HS adalah customized education, model pendidikan yang menempatkan anak -bukan kurikulum atau guru- sebagai subyek (children-centered). Setiap keluarga memiliki keleluasaan utk merancang model pendidikan yang sesuai untuk anak.

    Karena itu, model HS sendiri sangat beragam. Ada yang mengambil model sekolah (school-at-home), tapi di luar itu banyak sekali model lain tergantung filosofi keluarga dalam memandang pendidikan. Kami sendiri menggunakan model eclectic, tak terlalu menggunakan model sekolah sebagai model HS kami.

    Kunci keberhasilan HS memang sangat tergantung orangtua. Semakin luas wawasan orangtua, semakin luas dan kaya pula model HS yang diselenggarakan untuk anak-anak. Berbagai concern tentang HS seperti pertemanan sebaya, kompetisi, dan lain-lain dengan mudah dapat dicari solusi alternatifnya.

    Mengenai sosialiasi yang sering dikhawatirkan masyarakat (yang bukan praktisi HS), ada riset menarik tentang apakah anak HS bahagia, bgm mereka kuliah, di dunia kerja, dan sebagai warga negara yang bisa diunduh di sini:
    http://www.hslda.org/research/ray2003/default.asp

    Untuk di Indonesia, ada materi di situs http://sekolahrumah.com yang saya kelola bersama teman-teman praktisi HS yang semoga dapat menambah informasi.

    Mudah-mudahan sharing ini bermanfaat. Mohon maaf jika terlalu panjang. Selamat memilih yang terbaik untuk Lala, apapun itu pilihannya…

Leave a Reply

Follow   

Twitter FB Email RSS

Search   


Recent Comments   

Rahmat Miftahul Habib:

Well, good luck, Sir… Nice to hear that.. Hope you will be more successful in the...

budi hadmajaya:

feed burner sdh dicentang pak

omagus:

di tunggu artikel kerennya..!

lukman:

wah sampai ada yang berbentuk surat :D tapi yang modusnya seperti ini pasti sudah ada langkah `mempelajari...

greatponco:

Mantaf Bang….