Posted on December 17, 2009
Dua hari terakhir ini, yang sedang marak dibahas oleh social media, media online, dan infotainment adalah teks Luna Maya di Twitter. Bunyinya sebenarnya biasa saja, setidaknya buat saya. “Infoteinment derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!…” Namun tanggapan publik sangat beragam, dari yang biasa saja hingga yang ekstrem. Detik.com misalnya, membuat berita berjudul “Luna Maya Ngamuk di Twitter“. Masyarakat pun mencerca Luna, mengapa seorang seleb semacam dia berkata kotor di ruang publik. Ya, Twitter dianggap ruang publik. Bahkan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang juga menaungi para wartawan infotainment, mungkin saja bakal menuntut seleb cantik ini. Namun, ada juga yang membelanya, dengan alasan bahwa Luna Maya sedang dalam kondisi emosional karena ruang privasinya diganggu oleh wartawan infotainment dengan cara yang arogan.
Dari sudut pandang saya, semua ini terjadi semata-mata karena ada jarak yang sangat panjang antara teks dengan konteks di dunia social media yang maya. Mengapa seperti itu?
Akan saya mulai dulu dengan menjelaskan seperti apa sih makluk yang disebut sebagai Twitter memusingkan Luna Maya ini. Twitter memang sedang fenomenal saat ini, digandrungi insan seleb dan non seleb di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Twitter adalah sebuah medium online berjejaring, yang hanya mengijinkan pemilik akunnya menulis apapun maksimal 140 karakter. Apapun yang ditulis oleh pemilik akun Twitter, seketika itu juga berpotensi dibaca oleh seluruh follower-nya. Ibaratnya, kita mengetik 160 karakter SMS dan seketika tersebar ke semua orang yang menjadi fans kita.
140 karakter adalah jebakan konteks. Sangat sulit menyelipkan konteks di dalam teks yang dibatasi oleh 140 karakter itu. Celakanya, teks Luna Maya yang berbunyi “Infotemnt derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!…” adalah teks tanpa konteks. Tanpa ada pengantar apapun, teks itu muncul begitu saja di halaman Twitter follower Luna Maya.

Mereka yang tidak faham konteks dari teks Luna Maya tersebut berhak membangun konteks di kepala masing-masing sesuai dengan latar belakang, kehendak dan kedewasaan mereka sendiri.
Maka, terjadilah potensi keliaran konteks di mana-mana. Para pelacur dan pembunuh bisa jadi merasa bangga, karena di mata Luna Maya, status mereka kini lebih tinggi ketimbang wartawan infotainment. Atau bisa jadi juga sebaliknya, para pelacur dan pembunuh justru marah karena stratanya dianggap rendah, dan menjadi benchmark untuk tingkat kehinadinaan.
Sebagai pihak yang tersengat, sebagian dari insan media merespon dengan sengatan balik, yang tidak kalah pedasnya, dengan menuduh Luna lupa kepada media yang membesarkannya dengan bertindak arogan. Namun, sebagian insan media juga ada yang mengkritisi rekan infotainmentnya dan menyarankan sebaiknya para wartawan infotainment ini segera melakukan introspeksi diri.
Teks tanpa konteks itu berbahaya. Semakin jauh jarak antara teks dengan konteks, semakin liar konteks yang dibangun oleh setiap kepala, yang belum tentu benar. Yang kemudian terjadi adalah penghakiman terhadap teks secara semena-mena.
Saya tidak akan memojokkan atau mendukung Luna Maya maupun PWI serta para para pendukung/penghujatnya. Tulisan ini hanya untuk mengingatkan, ketika kita hidup di social media yang bergemuruh dan ceriwis ini, kita sedang hidup di dunia teks yang serba terbatas. Kita hidup di dunia yang komunikasinya hanya dengan huruf, kata, kalimat yang amat pendek.
Di dunia yang pendek itu, hanya mereka yang cerdas memuat konteks dalam tekslah yang berpontensi terbebas dari keliaran konteks yang dibangun oleh masing-masing kepala pengguna social media.
Maka, tip sederhana hidup di dunia teks social media ini cukup satu: sisipkan konteks dalam teks. Contohnya, kalimat Luna Maya yang menghebohkan tanpa konteks itu dapat berkonteks bila ditulis menjadi seperti ini:
“Dasar infotainment bedebah, mengapa memaksa interview di saat nonton film sampai melukai anak pacarku? dasar turunan setan!”
Pembaca akan mendapat konteks: Luna Maya ngamuk karena privasinya diganggu insan infotainment bahkan sampai calon anaknya terluka.
Kalimat itu sekaligus tidak melukai pihak lain yang tak berkepentingan, seperti pelacur dan pembunuh. Pihak lain itu diganti dengan sesuatu yang imaginer seperti setan.
Selamat datang di dunia teks kawan.
Well, good luck, Sir… Nice to hear that.. Hope you will be more successful in the...
feed burner sdh dicentang pak
di tunggu artikel kerennya..!
wah sampai ada yang berbentuk surat
tapi yang modusnya seperti ini pasti sudah ada langkah `mempelajari...
Mantaf Bang….
December 17th, 2009 at 5:49 am
Sekarang ini tidak cuma pepatah “Mulutmu harimaumu” yang berlaku, tetapi “Keyboard dan Keypadmu adalah Harimaumu” juga…
December 17th, 2009 at 5:52 am
wow…. tulisan yang sangat bijak. Satu hal, Luna Maya adalah manusia biasa yang juga punya emosi, akal dan jiwa….
December 17th, 2009 at 5:55 am
Social comments and analytics for this post…
This post was mentioned on Twitter by berusaha: Twitter Luna Maya, Jarak Antara Teks dan Konteks: Dua hari terakhir ini, yang sedang marak dibahas oleh social .. http://bit.ly/8ivN9H...
December 17th, 2009 at 6:02 am
dan, baru saja ada berita, bahwa wartawan infotainment akhirnya resmi melaporkan luna ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik. pak nukman siap ya kalau diminta jadi saksi ahli hhehehehehe
December 17th, 2009 at 6:10 am
Saya mendukung Luna Maya, wartawan infotainment memang sedikit kurang ajar dalam meliput cerita..
December 17th, 2009 at 6:11 am
Semua tergantung kedewasaan dalam bersocial media dimanapun tempatnya. Tidak hanya dari yang memiliki social media, tetapi melainkan orang lain yang melihat, membaca, dan memahami bahasa yang digunakan.
Karena disocial media, secara tidak langsung ‘baik dan buruk’ kebiasaan seseorang akan dilihat banyak orang melalui hanya 140 character.
So, be wisely dalam menggunakan social media and i’m agree with om Nukman.
December 17th, 2009 at 6:12 am
hayo pak nukman harus mau loh jadi saksi ahli, mosok bapak itu lagi yang jadi saksi, ntar doi bakal bilang twitter hanya trend sesaat
December 17th, 2009 at 6:16 am
@mumu wartawan infotainment harusnya belajar dari @tifsembiring. Kayak apa dia di maki. Toh yg maki dapat hadiah.
Kalo dikit2 tuntut nggak usah mainan twitter. Saya setuju konteksnya harus difahami. Wong emmahami Al Quran saja harus tahu asbabul nuzulnya (konteks).
December 17th, 2009 at 6:24 am
.
Sungguh mencerahkan, Gan…
December 17th, 2009 at 6:26 am
saya ga pernah lg nonton infotainment indonesia… isinya memang SAMPAH, remeh temeh ga penting, tp pasti disukai pengiklan.
December 17th, 2009 at 6:38 am
Dalam usaha saya mendapatkan konteks dari cerita ini, saya sampai membaca Kode Etik Jurnalistik. Ada yang pernah baca?
December 17th, 2009 at 6:58 am
Sepertinya intinya adalah peta pemikiran kita mas alias sesuai dengan domainnya mas balik lagi ke sudut pandang.
Terima kasih atas pencerahan sudut pandangnya
December 17th, 2009 at 9:38 am
atau mungkinkah bola liar itu memang agak “sengaja” digulir2kan dan “dikemas” oleh infotainment supaya menjadi produk baru yang siap mendongkrak rating? mungkin saja sebetulnya teman2 infotainment tidak lah setersinggung yang digambarkan atau sebetulnya mereka sadar itu sangat sepele, hanya saja mereka memilih utk memanfaatkan situasi (kesulitan) seseorang utk mengambil keuntungan darinya?
ain’t that typical?
December 17th, 2009 at 11:02 am
ehmmm….keren bahasannya…..sekaligus pencerahannya….yup…paling tidak keduanya bisa saling memahami profesinya masing2….cape deh klo udah saling tuntut menuntut…, yang pasti berdamai akan lebih baik….
December 17th, 2009 at 11:51 am
Saya setuju dengan bapak…
kasihan luna maya.. dia waktu itu emosi saja.
wartawan juga yang selalu memuat berita kian memojokkan. infotainment murahan.
memutar balikkan fakta.
December 17th, 2009 at 1:45 pm
Tulisan ini mengingatkan saya waktu mata kuliah Ilmu komunikasi dulu. Memang terkadang dalam bentuk komunikasi teks, konteks sering menjadi kabur hingga menjadi kesalahpahaman. Belum lama ini, di milis yang saya ikuti juga begitu. Kekaburan konteks.
December 17th, 2009 at 1:48 pm
Seandainya dia nulis “Infotainment derajatnya lebh HINA dr pd MIYABI!!! may you burn in compact disk!”
Pasti lain ceritanya
December 17th, 2009 at 1:58 pm
bahasan yang menarik pak krn seringkali yang kita ya semau gue. asal ngetik aza
December 17th, 2009 at 2:06 pm
mangkanya saya tiada pernah puas hanya dengan 140 karakter saja. saya butuh berpanjang2 kata untuk menjelaskan emosi saya. mangkanya saya tetap lebih milih buat nulis di blog
December 17th, 2009 at 8:07 pm
Tadinya mau ikutan serius komentar eh malah baca yang ini
“Dasar infotainment bedebah, mengapa memaksa interview di saat nonton film sampai melukai anak pacarku? dasar turunan setan!”
Jadi ngakak.. Jadi biar ngga bingung nanti saya usulkan biar twitter support 1400 karakter atau kalau perlu 14000 karakter sekalian.
December 17th, 2009 at 10:01 pm
Manusia punya batas kesabaran
seperti mbak luna dia hanya manusia biasa yg sewaktu2 emosinya meledak hanya karena gosip yg memojokkan dia ya kalau gosip itu benar tapi kalau gosip itu salah akan menimbulkan fitnah seperti pepetah mengatakan ” Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan”
December 17th, 2009 at 10:27 pm
mungkin luna maya sekedar kesel aja, di tumpahin di twitter. sayang keselnya luna maya mah beda sama keselnya orang biasa.. urusan bisa panjang..
December 17th, 2009 at 10:38 pm
kok bisa lho ya ngomong gitu…
ga punya kaca kali ya…
December 18th, 2009 at 10:38 am
k’luna yg sbr ya,..mg mslhnya cpt selesai nh hanya cobaan dr Allh,..n saran q lakukn klarifikasi aj,….q ngefans bgt am kak luna,….byk yg msh syg am k’Luna kok…..
December 18th, 2009 at 11:04 am
Emg bener yah infotainment tuh busuk..hal yg ga penting mereka kasih tau ke org2
December 18th, 2009 at 11:22 am
sayang, undang-undang kebebasan bagi jurnalis,tidak berlaku bagi orang lain.
December 18th, 2009 at 11:43 am
Pisahkan saja wartawan Infotainment dengan Wartawan Professional [Non Infotainment]
Bisa buka organisasi sendiri. Karena yang diperjuangkan sangat beda dengan perjuangan teman-teman wartawan yang sebenarnya.
December 18th, 2009 at 12:07 pm
setuju banget… namanya manusia, kalo diganggu terus kan bisa marah juga…. wartawan juga manusia toh…? coba deh banyangin kalo kalian para wartawan jadi luna maya ato seleb laen yang sering kalian kejar2 untuk dapat berita….. kumaha?
December 18th, 2009 at 12:21 pm
No comment
Cuma yg saya tau infotainment acara tak bermutu lg menjijikan.
December 18th, 2009 at 12:23 pm
mengutip kata2 salah satu tokoh negeri ini, ‘gitu aja koq repot?’, infotainment and artis saling membutuhkan.. harus saling pengertian dunk.. yang damai gt..
December 18th, 2009 at 3:37 pm
Kata-kata pembunuh kepada infotainment mungkin bisa diartikan “pembunuh karakter” karena memang infotainment sering membunuh karakter sumber beritanya. Kata-kata pelacur bisa diartikan melakukan apa saja demi uang. Wartawan infotainment memang akan melakukan apa saja termasuk memberitakan aib orang agar beritanya laku dijual. Jadi bisa disebut pelacur juga dalam konteks yang lain.
December 18th, 2009 at 7:49 pm
yhhh,,kita hidup sama2 butuh makan…sama2 ingin di hargai…jangan jadi pelacur melaukukan sesuatu hanya untuk uang…jangn jadi pembunuh yang membunuh langkah..dan keinginan seseorang
December 18th, 2009 at 8:02 pm
Mas, sampeyan gak takut dituntut setan ya nyama2in setan dgn infotainment ?!
December 18th, 2009 at 10:34 pm
wow kk wow kata2nya sangat menarik banget tuh..menurut saya sih mba luna munking marah karena anak pacar mba luna kena kamera jd wajar2 aja sih klo kata saya mah.saya juga kalo di posisi mba luna munkin akan begitu,nanti klo anak itu kenapa2 gmn ayo nanti malah di putusin kan ga mau tuh…yang sabar aja mba luna nama nya juga cobaan munkin ya….
December 18th, 2009 at 10:38 pm
Semestinya wartawan lebih arif, kalo dalam kemarahan luna bisa berkata begitu bercermin dong, gimana SOP yang wartawan pake. Bener ga?
December 18th, 2009 at 11:39 pm
Nice Posting…
saya sendiri sih menilai kedua pihak salah, dan saya tidak membela pihak manapun..
Luna maya tidak belajar dari kasus prita yang terjebak oleh sesuatu yang bernama internet dan UU ITE, internet seharusnya dimanfaatkan untuk yang berguna bukan untuk yang aneh-aneh.
Wartawan Infotaintment juga tidak bisa melihat situasi, waktu dan kondisi dengan baik pada awal (penyebab) mula kasus ini.
saya sendiri melihat kasus ini sebagai pembelajaran untuk menggunakan media internet dengan benar dan tidak gegabah, juga lebih memperhatikan logika daripada perasaan.
thanks atas pencerahannya. saya simpan ya, sebagai referensi dan dokumentasi..salam..
again, great posting..
December 19th, 2009 at 1:21 am
terimakasih Om Nukman,
saya belajar lagi.
December 19th, 2009 at 1:56 am
Low menurut q ci Luna Maya jg ga spenuhnya bisa disalahin dunkz…….
Coz emang kadang yg nama na Paparazzi tu bikin stres…..
Kita gak boleh men-judge Luna Maya gt ja dunkz….
truz harus na tu para wartawan sadar diri…..
ga sah bwat gosip yg aneh2…..
Low dah gini bsa na cuma nyalahin orang….
“Maling teriak maling….”
December 19th, 2009 at 6:17 am
DASAR!!! NGOMONG TUH DIJAGA DONK……..JGN ASAL NGOMONG AJAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
December 19th, 2009 at 10:20 am
Brovo Boz Nukman.Ulasan yg sangat tepat dan bisa memberi inspirasi bagi para tweep agar bisa selalu berhati-hati ngetwet. Salam
December 19th, 2009 at 10:52 am
saya mendukung luna…
jgn trlalu gegabah lah…pikirkan knp artis bisa bilang gt?apa sebabnya?
luna jg manusia biasa,yang ga jauh dr khilaf…punya bts kesabaran…N klo mau meliput brita yg sabar,liat kondisi artisnya..
December 19th, 2009 at 11:38 am
oh ada konteksnya to……. kirain :-D…
nice post…memandang suatu masalah dengan sudut pandang yang lain
December 19th, 2009 at 12:45 pm
wah parah bgt tuh lunmay,
udah kyk jalang aj omongannya,
dasar ga taw dri,
ntar di kutuk jd batu baru taw rsa,
utk org yg ngebela lunmay tlong periksa otak lo smwa..
December 20th, 2009 at 3:20 am
sebagian besar dari kita masih belajar mengemukakan pendapat dan perasaan secara terbuka, jadi kurang dewasa ketika disodorkan ‘data’ di twitter lunmay.
ironisnya, ini justru terjadi pada wartawan infotainment yang merupakan pekerja informasi.
December 20th, 2009 at 7:22 am
Waduh, susah juga menyelipkan suatu konteks pada ‘lahan sempit 140 karakter’ pada saat emosi sedang menguasai diri ^_^. Mungkin kalo dikasih 1000 karakter masih bisa sedikit dipikir konteksnya hehehe.
December 20th, 2009 at 9:51 am
Yay, intinya sih jangan diartikan secara harafiah aja semuanya. Seperti kata Oom tadi, harus liat konteksnya juga lah yaw.
Akan tetapi saya fikir ini kan masalah oknum tertentu dengan Luna Maya. Jadi gak bisa juga digeneralisasikan ke semua Jurnalis. Kasihan yang memang bener2 memegang prinsip dan kode etik jurnalistik.
Intinya sih,artis / public figure saling membutuhkan atau simbiosis mutualisme. Jadi gak perlu juga saling ungkat-ungkit jasa di sini. Kerja sama yang baik, harmonis dan tentunya mendidik publik dunkz..
Ya gak,ya gak….???
December 20th, 2009 at 6:39 pm
saya prihatin, masalah kecil kok dibesar2in. damai sudah.
December 21st, 2009 at 12:07 am
Tulisan saya ini membahas text dan konteks, mohon kalau berkenan, komentar mendukung/menghujat LunaMaya, PWI maupun pekerja infotainment sebaiknya tidak perlu disampaikan di sini.
Akan lebih berharga jika membahas soal teks dan konteks ini.
Terima kasih
December 21st, 2009 at 10:50 am
sekedar sharing,
Prita Mulyasari dan Luna Maya: Opera van Internet Khas Indonesia
http://ictwatch.com/internetsehat/2009/12/21/prita-mulyasari-dan-luna-maya-opera-van-internet-khas-indonesia/
mudah2an bermanfaat.
-dbu-
December 22nd, 2009 at 2:21 am
Sesuai dengan judul tulisan sebelumnya,”Facebook dan Twitter Menjadi Pencatat Amal Baik dan Buruk”
apa yang telah dituliskan oleh Luna Maya akan tercatat, dan terserah pembaca menilainya.
apakah itu baik atau buruk?
terserah mereka menilai dari “sudutpandang” yang mana?
December 22nd, 2009 at 9:52 pm
Ulasan yang cukup bagus dari sudut pandang yang lain……namun kalu Saya melihat ini dari sudut pandang saya pula bahwa ini adalah sebuah TREND dari fenomena yang timbul dimasyarakat kita saat ini, dimana begitu gampang nya menuntut secara hukum sebuah “uneg-uneg” (entah itu 140 karakter atau 14 juta karakter, atau berkonteks maupun tanpa konteks) yang disampaikan seseorang melalui ketikan kalimat disebuah alat canggih yang namanya komputer yang terintegrasi dengan suatu jaringan masa depan yang disebut internet — yang nota bene uneg2 itu sebenarnya bersumber dari hasil interaksi antara 2 pihak ini, yang satu pihak mungkin mengalami kekesalan yang memuncak yang tidak dapat disalurkan ketika mereka masih berhadapan,dan akibatnya untuk
menumpahkan akumulasi kekesalan tersebut, konon terdapatlah benda ajaib ini (komputer),untuk menampung semua kalimat yang disalurkan melalui jari-jari lentik (tak ada mulut yang berperan disini—sehingga pepatah “mulutmu harimau mu”, sudah mulai bergeser monopoli makna nya). Kalaulah si Lunayan atau si Pittauli menumpahkan kekesalannya kepada batu, tentu dia tak akan dituntut batu tersebut, karena batu akan diam seribu bahasa. Separah apapun ungkapan kekesalan yang ditumpahkan ke batu, batu tak akan membalasnya. Namun realitanya masyarakat kita sekarang tidak lagi hidup di ZAMAN BATU…namun sudah hidup di ZAMAN CYBER yang tentu pula dengan segala konsekwensi nya harus kita hadapi. Entah itu latah atau apalah namanya itu….hal ini memang sedang zaman nya atau bahasa gaul nya TREND. Kadang jadi kepingin hidup ini kembali ke zaman batu…..hi..hi….hi…
December 22nd, 2009 at 11:03 pm
ya…marah lah para awak media di katain si luna gitu apa lagi sumpah serapah ibu-ibu yang melahirkan anak yang sekarang bekerja jadi awak media..ya walau aku penyiar biasa belum jadi artis…tapi kalau baca posting si luna, agak ketar-ketir juga aku….satu kata aku
“dah nggak beres lagi cewek satu ne”….
December 22nd, 2009 at 11:08 pm
masih belum puas ne….buat luna maya dan rekan se profesinya kalau mau curhat mending buat account jejaring yang sesama artis aja…jangan yang untuk fans atau apalah, mungkin mereka lebih ngerti masalah cerita,coz nggak ada satu kerjaan pun yang nggak membo0sankan. president sekalipun….one more..agak iklan
add ya…ndynata ega/facebook.buat orang medan yang punya event dan cari MC murah….gw siap.
December 22nd, 2009 at 11:50 pm
hehehe, komentarnya ada yang lucu ^_^.
Menyambung comment saya sebelumnya, terkadang sulit memang menuliskan sesuatu dengan space yang sekecil itu dan harus menggambarkan sebagian besar konteks atau problem domainnya. Mungkin kalo nulisnya dengan kondisi pikiran jernih, dan emosi stabil seharusnya bisa ya
December 23rd, 2009 at 2:24 am
[...] takut dengan tren yang ada sekarang ini. Mulai dari kasusnya Prita Mulyasari sampai dengan kasusnya Luna Maya, semuanya bikin aku mikir, sebuah akun personal di Internet tidaklah lagi bisa dihormati dengan [...]
December 23rd, 2009 at 4:15 pm
ya seharusnya luna maya menjaga emosi.. klo emg mulis di twitter spt itu berarti da maksud br diketahui orang bnyk. kasian wartwn kn jg nyari uang, skg cr kerja susah !! pa lagi pelacur tu kan himpitan jaman. sgt disayangkan !!
December 23rd, 2009 at 11:21 pm
analisa yang menarik,
xaman sudah banyak berubah. seseorang bisa menjadi apasaja hanya dengan internet dan imajinasi. hhe
December 25th, 2009 at 3:36 am
Ide dengan memberi Kontek Twitter yang Tepat ke Mbak Lunanya cukup mantap mas
December 25th, 2009 at 8:22 am
Ada Kasus Pritha…?
ada Kasus Luna MAya….?
Gi mn Klo Aq bikin Kasus Biar Tren Gitu…???
SEmua-Nya Bodoh….
Bodoh Amat ……? Aq lebih suka Nonton TV Luar Dari Pada TV LOKAL…?
Kecuali TVRI
Semua Tidak Mendidik……………………?
Persis Yang Katakan Luna Mayang
December 25th, 2009 at 2:36 pm
Menurut saya, kejadian ini membuat dua-duanya bakal lebih laris, minimal dua hari (berapa karakter ini?, dan beruntunglah yang membaca postingan pak Nukman ini
December 26th, 2009 at 6:32 am
ya maklum kan yang bikin sensasi cakep and lagi booming jadi digede gedein.coba kalau yg nulis seleb jaman dulu. ga bakalan di gubris…
cuek aja lun…!
December 27th, 2009 at 7:01 am
eehh…
jan salah…yang ribet sok buat ruwet yang gak seharusnya diadain kog diada adain tuh siApaaa?????
kita bebas ngomong mas
December 28th, 2009 at 2:09 am
ya, begitulah kalau jadi orang tenar, ngomong apapun bisa jadi bahan untuk dijual.
infotainment bisa laris, ada bahan buat ngisi blog, ada pemikiran baru, akan lahir tatanan bahasa di jejaring sosial.
December 28th, 2009 at 2:10 am
Makin heboh aja nih kasus Luna..
Memang bener deh kata pepatah
Mulutmu harimaumu
Ya harus lebih berhati2 aja..
Semua ada hikmahnya koq (H)
December 28th, 2009 at 5:01 am
Infotainment disukai ibu-ibu sampai remaja, bahkan jadi trend-setter… Padahal kadang2 informasinya ditambah dan dikurangi supaya makin laku, makin naik rating dsb..
Kalau ingin tayangan yg mengumbar ‘aurat’ semua selebriti ini berenti maka, cegahlah anak, ibu dan saudara2 kalian untuk menonton tayangan infotainment ini di televisi..
Yakin, tayangan infotainment-nya bakalan brenti!!
January 1st, 2010 at 3:04 am
kasus ini kalau menimpa orang biasa, maka pasti gak akan terjadi apa-apa,
untuk itu bagi yang merasa bukan orang biasa, perlu hati-hati memijat keyboard
berbahagialah orang biasa
mau ngapain aja gak ada yang peduli
kawin cerainya orang biasa banyak banget tuh, kasusnyapun kadang aneh-aneh, tetapi ya nggak ada yang mempermasalahkannya, wongmereka hanya orang biasa
salam dari orang biasa-biasa saja
salam
January 5th, 2010 at 2:43 am
sharusnya para artiz bza memberi contoh xg baek bgi WNI karna pra artiz adalah sumber contoh bagi org bysa.n shrznya infotaiment jg nayangin hal2 xg pzitif.n gk perlu lah nayangin hal xg bwt org tersinggung,gk prlu jg lah trllu mngobrak ngabrik khidupan pribadi para artiz.krna it akn mnimbulkan konflik bgi pra artis n media infotaiment xg sharusnya bza krja sama dg baik
January 10th, 2010 at 2:44 pm
peace.. aja deehh…Orang khilaf kali ya.
January 19th, 2010 at 6:48 am
sebenarnya kan dengan kasus ini infotainment juga kebanjiran rejeki kan?
January 28th, 2010 at 12:41 pm
Maaf baru liat postingannya Pak Nukman. Komen bapak teridentifikasi sebagai spam di tempat saya. Entah kenapa.
Tipsnya jitu sekali pak. Menyelipkan konteks. Memang orang lain tidak mungkin mengetahui konteks pemikiran kita kecuali yang kebetulan berada di sekitar kita saat itu. Jadi, kitalah yang mesti memberitahukan konteksnya.
February 3rd, 2010 at 12:13 am
Zaman skrg sudah gila, kehidupan sudah bisa diibaratkan seperti kehidupan Rimba. siapa yang kuat dia yg berkuasa…, siapa yang lemah dia akan dirugikan
Menurut saya undang-undang seperti pencemaran nama baik sering sekali disalah gunakan oleh pihak2 yg ingin meraih keuntungan…
Saya gak pernah setuju dengan UU yang satu ini. krn sangat rentan.
coba diPikir2…, apa bagusnya Infotaiment itu? bukannya itu GHIBAH, Penyebar AIB manusia. memang pantas untuk di hapuskan.. Jadi jaman skrg sudah susah untuk membuktikan mana yang benar mana yang salah.. !
February 14th, 2010 at 8:48 am
jangan keterlaluan kalo nggomong kalo g ada infotaiment g mngkn bs kyk skrng…
February 25th, 2010 at 2:31 am
jadilah orang yang sabar….krn jadi orang besar banyak gangguannya….
March 1st, 2010 at 12:04 am
orang yang bijaksana mengerti apa yang akan dilakukan dan akibatnya nanti.
March 11th, 2010 at 11:37 pm
no Comment …
March 18th, 2010 at 11:48 am
saya suka teks berkonteks versi pak Nukman
mungkin nanti perlu diadakan ada kursus ber-tweet yang baik
March 22nd, 2010 at 4:10 am
Tetep q suka luna,hebat sich..
April 6th, 2010 at 3:01 am
aq sie kalau ada luna ama ariel di rcti dll baru nonton infotaiment, kalau tidak ada berita tentang luna maya ya… mendingan nonton metro tv aja. karena gosip artis2 yang lain enggak sreg (alias gosip murahan)
April 6th, 2010 at 3:04 am
luna…, kami tetap sayang ama kamu…
April 10th, 2010 at 3:39 pm
aku sayang kamu luna meski kamu jelek……
aku cinta sama kamu luna……………
May 25th, 2010 at 12:54 pm
i love you luna,,,pertahankan,,,?
June 10th, 2010 at 10:00 pm
luna maya tersandung dunia maya lagi … .
June 15th, 2010 at 8:11 pm
Cuma mau sumbang pemikiran utk. mengkritisi tulisan yg sudah dituangkan didalam “Twitter Luna Maya, Jarak Antara Teks dan Konteks”.
Walaupun saya tidak setuju dgn pendapat bahwa kedua profesi ini adalah lebih rendah dari profesi lainnya, namun apakah mayoritas masyarakat Indonesia bisa berpendapat demikian. Adalah “Hipokrit” kalau dibilang “Para pelacur dan pembunuh bisa jadi merasa bangga, karena di mata Luna Maya, status mereka kini lebih tinggi ketimbang wartawan infotainment. Atau bisa jadi juga sebaliknya, para pelacur dan pembunuh justru marah karena stratanya dianggap rendah, dan menjadi benchmark untuk tingkat kehinadinaan” Cara pandang orang Indonesia-lah yg justru menempatkan kedua profesi ini ditempat yg paling rendah derajatnya, Jadi pandangan Luna Maya tidak lah salah kalau menurut konteks pandangan orang Indonesia, malah saya beranggapan pihak infotainmentlah yg justru berupaya ingin menarik posisi Luna Maya ini untuk dimasukkan kestrata yg paling hinadina itu tadi.
June 18th, 2010 at 3:19 pm
sekarang terbukti siapa yang palacur kan luna???
July 5th, 2010 at 8:21 pm
Yang sabar ya Luna.. wa ga salahin kata2 itu, seorang publik figur bukan hanya artis juga bisa mengungkap itu kalau mereka merasa tertekan..
Namanya artis juga manusia pasti punya batasan..
Tapi Buat para pemburu berita kadang batasan itu di buang..coba kalo kalau di balik jadi artis..
Kalau semua menghujat Luna karena tulisannya..
Kalau Luna Mau lepasin unek2 kemana..
mau teriak entar di bilang Luna dah gila..
mau nangis.. mungkin ga ada lagi air mata..
sementara pancingan emosi terus berdatangan..
orang nyetir mobil lagi nyantai aja kalau di potong orang kita bisa berbuat pidana ko..
sekarang pertanyaannya:
pencari berita itu sama enggak ya sama paparazi..?
July 7th, 2010 at 9:09 am
hah lebay bgt si orang2* tapi tetap semangat ya… luna aku selalu memberi dukungan pd mw yang sabar pasti gosip ny nanti juga ilang sendiri
CUEXS AJA ….
August 15th, 2010 at 3:56 am
no comment aja lah
August 29th, 2010 at 6:02 am
Setiap Musibah Pasti Ada Jalan KeluarNya,
Buat Luna Maya Yang Kuat Untuk Menghadapi segala cobaan………….
August 29th, 2010 at 6:05 am
Ingat Jasa Luna Jangan Mengingat Hal yang Tak Perlu Diingat…(Hal Nagatif)