Posted on November 30, 2009
Dulu saya sering mengatakan bahwa Google ibarat malaikat pencatat amal baik dan buruk perusahaan. Reaksi konsumen, baik yang suka maupun tidak, jika diungkapkan di blog, forum, maupun surat media online, akan tertangkap oleh mesin penca`rian terbesar di dunia tersebut. Jika “amal baik” perusahaan banyak, maka akan banyaklah tulisan positif yang terindeks oleh Google. Sebaliknya, begitu sebuah perusahaan berbuat “dosa”, maka tulisan negatif akan bertebaran di hasil pencarian Google. Nah, di era social media ini, malaikat pencatat amal baik dan buruk ini bertambah dua, yakni Facebook dan Twitter. Dua malaikat baru online ini sekarang gandrung mencatat amal perorangan yang jumlahnya lebih dari 300 juta pengguna Facebook dan 45 jutaan pengguna Twitter.
Sekali kita menulis status di Facebook misalnya, saat itu juga seluruh teman kita berpeluang membacanya. Jika status kita bagus dan menginspirasi teman, maka teman tersebut akan merespon dengan baik, bahkan menulis status kita di halaman Facebooknya. Status itu akan tertulis selamanya di Facebook, sepanjang kita tidak menghapusnya.

Sebaliknya, jika status kita dianggap negatif, menimbulkan rasa marah, maka respon negatiflah yang akan kita dapatkan. Bisa saja, mereka yang tidak suka kemudian menyebarkan “kesan negatif” kita (meski belum tentu status kita negatif menurut kita sendiri) ke teman-teman yang lain. Kalau pun status itu kita hapus, karena kita merasa bersalah misalnya, tetap saja tidak terhapus secara permanen. Dan, celakanya, kita tidak dapat menghapus status teman lain yang menyebarkan “kesan negatif” tadi.
Hal yang sama berlaku di Twitter. Apapun yang kita tulis di Twitter, berpotensi dibaca oleh siapapun juga, bukan hanya follower kita jika status Twitter kita terbuka. Kita bisa saja menghapus apa pun yang kita tulis, namun sekali ada pihak lain yang menyebarkan status kita, maka kita tidak memiliki daya untuk menghapusnya.
Dengan daya catatnya yang luar biasa itulah Facebook dan Twitter kini menjadi wajah kita sesungguhnya di online. Apapun yang kita goreskan di Facebook (entah itu status update, foto, maupun notes) dan Twitter secara bertahap akan membangun sebuah bentuk sesungguhnya siapa kita. Jika banyak amal baik kita tebarkan di kedua jejaring itu, maka akan menjadi lautan catatan amal baik kita. Sebaliknya, jika amal negatif yang kita torehkan, kedua jejaring itu juga tak segan membangun sosok kita yang negatif.
Meski berada di wilayah online, bukan berarti itu dunia bebas berekspresi sepenuhnya dan kita dapat berbuat semau gue. Saya malah cenderung menyarankan untuk lebih hati-hati dan bijaksana. Sekali kita menyinggung perasaan teman di dunia nyata, dan kemudian kita minta maaf, maka persoalan akan selesai dengan cepat. Hanya kita, malaikat pencatat amal baik dan buruk (Raqib dan Atid) dan Tuhan yang tahu. Namun sekali kita berbuat buruk di online, dan dicatat “malaikat digital” bernama Facebook dan Twitter, catatan itu bersifat terbuka, siapa saja dapat melihatnya.
Saat ini perusahaan sudah mulai melihat Facebook untuk menilai calon karyawan dan calon mitra bisnisnya. Bukan tidak mungkin suatu ketika apapun yang akan menjadi bagian penting kehidupan kita, termasuk calon mertua misalnya, meneropong kita dari akun social media kita.
Maka, hiduplah di Facebook dan Twitter seolah-olah kita hidup di dunia nyata. Etika-etika yang kita pegang teguh di dunia nyata, juga dipraktikkan di Facebook dan Twitter.
Twitter Nukman Luthfie: http://twitter.com/nukman
Facebook Nukman Luthfie: http://www.facebook.com/nukmanluthfie
Wowww, nggak nyangka masih banyak aja yg salah kaprah soal homeschooling. Padahal kalo mau googling...
FB merupakan sarana promosi termurah dan terukur untuk produk-produk UKM seperti http://taskertas.com dengan...
pilih sekolah formal, setuju dengan comment di atas..
orang yang bijaksana mengerti apa yang akan dilakukan dan akibatnya nanti.
saya juga termasuk korban facebook, akun saya ada yang ngebajak dan bikin status yang nggak sopan...
Facebook di Tangan Para Pendekar
Jejaring Sosial Bukan Untuk Anak-anak!
Sekolah Biasa atau Home Schooling?
Twitter Luna Maya, Jarak Antara Teks dan Konteks
Facebook dan Twitter Menjadi Pencatat Amal Baik dan Buruk
Jidoushi, Tadoushi, dan Cinta itu Kata Kerja
Bahasa Indonesia, Bahasa Kedua
November 30th, 2009 at 4:51 am
Ya benar. Selain itu, ada juga complaints board yang bakal jadi bumerang bagi pelaku online business yang nakal.
November 30th, 2009 at 4:57 am
“malaikat”?…..
November 30th, 2009 at 5:27 am
bener banget nih ulasan pak Nukman.. FB dan Twitter sudah menjadi fenomena baru yang sedang rising lately… namun seiring dengan berkembangnya social media ini diharapkan juga masyarakat online menjadi lebih mawas diri dan lebih menyaring kembali kabar yang beredar di internet, jadi tidak mudah termakan isu dan hasutan-hasutan negatif yang belum tentu terbukti kebenarannya. Hal ini juga menjadi pelajaran bagi para oknum yang tidak bertanggung jawab yang menyebarkan isu-isu negatif dengan motif-motif tertentu ataupun black campaign, balik kembali kepada moral dan etika masing-masing.
sebaliknya kepada produsen dan manufaktur, dengan adanya kebebasan social media ini, bisa digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan target konsumennya dan juga merespon feedback customer service yang terjadi apabila ada informasi ataupun masukan serta keluhan dari konsumen. Produsen yang baik akan cepat tanggap dan menyelesaikan problem yang dihadapi konsumen dengan memberikan solusi real yang mampu menjawab masalah si konsumen itu.
semoga bisa menambahkan informasi dari pak Nukman ni…
sukses terus bos….
Salam…
Derrick Surya
November 30th, 2009 at 7:45 am
Tidak perlu risau jika kita memang orang baik..
November 30th, 2009 at 7:56 am
yah mereka semua bagai sebuah cermin akan memberikan bayangan sesuai dengan kenyataannya .
nice post
November 30th, 2009 at 9:12 am
bener juga ya om nukman, untung saya ngga asal celotehhhh di internet
November 30th, 2009 at 12:45 pm
Iya, terkadang teman-teman saya senang melakukan analisa terhadap history status dari temannya. Untuk mengetahui behaviour dan ‘kondisi’ dari orang tersebut.
November 30th, 2009 at 8:42 pm
saya setuju facebook dan twitter bisa menjadi cermin kepribadian kita..dan tentunya kita tetap berpegang pada etika-etika pergaulan sehari-hari
November 30th, 2009 at 10:12 pm
Wah Wah..ijin mas copas ( copypaste ), very inspire ! Insya Allah menjadi ladang amal buat kita semua yang terlibat. Dulu ada kata-kata jika ingin mengenal seseorang lihatlah siapa temannya, sekarang bisa diganti lihatlah twitter or Facebooknya.
December 1st, 2009 at 2:37 am
Hadiah bagi mereka yang berbuat kebaikan adalah ” kebaikan”.
December 1st, 2009 at 3:21 am
pak, kalau yg satu ini kayaknya saya kurang setuju, jika twitter dan facebook sebagai bahan acuan dan sudut pandang seseorang itu sebuah perbuatan bodoh, karena karakteristik orang bisa di buat sebaliknya untuk menutupi hal2 yang sebenarnya….
seperti halnya bapak selalu memberikan hal2 yang serius dan bermanfaat, tetapi ada juga yang lucu2an atau sedih2an akan tetapi sebenarnya mereka inginkan sebuah interaksi dan tidak terjadi dalam keadaan sebenarnya…
jika seperti anda bilang, jika sebuah perusahaan melihat calon karyawannya dari social network menurut saya itu hal yang sangatlah bodoh karena banyak sekali karyawan, pekerja, profesional yang menggunakan media ini hanya sebagai mencari teman lama dan mempermudah komunikasi dan media interaksi yang bukan sebagai acuan…
jadi menurut saya lebih tepat facebook dan twitter sebuah sudut pandang masa depan baru..
December 1st, 2009 at 6:30 am
Betul juga, Pak. Sebelumnya, di pikiran saya, saya harus ‘hati-hati’ menggunakan social media karena saya seorang newbie freelance writer berharap bisa memperlihatkan image baik di hadapan prospective clients, tapi baru sekarang setelah baca postingan Bapak, saya jadi kepikiran bahwa ‘gaya’ hidup’ kita di social media sebenarnya beyond that.
Terima kasih atas postingan pengingatnya, Pak
December 1st, 2009 at 12:20 pm
ha ha.. inspiring.. betul, sekarang itu udah terbuka banget. ruang ‘isi hati’ seperti ditutupin kerangka transparan yang bisa diketahui oleh orang-orang ‘di sekitaran’ kita. Tapi satu catatan juga nih, gak tau kenapa dengan berbagi (status, bookmark, foto, video) di facebook misalnya, rasanya ada rasa kepuasan tersendiri aja.
Ngomong-ngomong soal jejaring sosial, ada 2 buatan indonesia yang gw tau.. kombes.com untuk umum dan ruangmuslim.com untuk kalangan muslim. Ruangmuslim.com masih baru banget.
December 1st, 2009 at 6:25 pm
Jadi NGERI sekaligus BANGGA… NGERI kalau buruk dan BANGGA kalau bagus
December 1st, 2009 at 10:32 pm
yupp setuju seratus perzen walau tidak semuanya bisa diukur dari dari FB aja, yang san gat disayangnkan adalah kebebeasan yang kadang membongkar aib keluarga bahkan mencoreng muka sendiri, namun tetap tergangtung pribadi masing2 cambuk bagi kita sendri haruslah lebih bijak menn ggunakan teknologi ini, kalau aku tetep berpegang nampakan apa yang seharusnya kalian tunjukan dan sembunyikan apa-apa yang seharusnya orang lain t idak boleh tahu,,
btw ijin kopas tu lisan ini ke blog saya ya pak,
di http://widiy.blogspot.com/
NB: silahkan mas
December 3rd, 2009 at 12:07 am
setuju pakkk
tapi
kalo di facebook dan twitter
jarang post lama akabn terbaca kembali
lain halnya dengn di blog
December 4th, 2009 at 2:11 am
saya setuju jika kita berhati-hati dalam update status, terutama tidak menyinggung perasaan orang lain dan juga kalau bisa menimbulkan ispirasi bagi orang lain.
December 7th, 2009 at 3:47 am
selain sebagai pencatat, facebook dan twitter juga bisa jadi “lie detector” yang handal. bahkan malah bisa jadi “mata-mata.” memang sebaiknya kita berhati-hati memberikan informasi di facebook dan twitter. andaikan orang-orang bisa berbicara sejujur status mereka di facebook.
December 9th, 2009 at 10:03 am
@deriz : setuju banget riz.. klo lagi pengen tau kondisi seseorang kadang saya suka memanfaatkan facebook buat memata-matai..
December 14th, 2009 at 12:44 am
itu aja baru di dunia maya yach, gmn tar yah om pas di akhirat nanti,teknologi FB+Twitternya seperti apa?..akan terlihatlebih lengkap, detail,dan akurat ttg status kita permilidetiknya. Bukan cuma teks,gambar dan cuplikan video aja tapi ucapan dan gerak akan diliat termasuk isi hatipun akan terkuak, udah gt diliat ma semua org lagi dari nabi adam ampe org terakhir…hiiiii
ini teh “sudut pandang”nya selangkah lebih jauuuuuuh kedepan…
December 14th, 2009 at 9:09 pm
Kurang sepakat jika FB dan Twitter dikatakan sebagai pencatat amal baik dan buruk. Namun benar adanya, FB dan Twitter merupakan terjemahan dari karakter seseorang. Our shout is our character.
Btw, salam kenal Pak Nukman, saya ngelirik Blog ini dari account http://www.Koprol.com bapak. Account saya sendiri: http://koprol.com/users/astronotbumi
December 24th, 2009 at 7:04 am
Setuju..!!
izin di share ya pak…
thx,
December 26th, 2009 at 6:49 am
yah kalo saya sih belum tau banyak tentang twiter.saya bingung,makin lama teknologi makin canggih .saya salut dengan indonesia yang cepat merespon perkembangan teknologi.’beravo indonesia>
December 26th, 2009 at 7:02 am
ya saya srankan agar berhati-hati kalau mengungkapkan pendapat agar tidak ada yang di rugikan karena negara ini negara hukum.
January 29th, 2010 at 11:28 pm
Pernakah kau merasa!, hati mu hampaaaaa!!!, pernakah kau merasa!!!, hati mu kosong!!!!
February 12th, 2010 at 7:30 am
setuju, beretika yang baik dan benar tidak hanya berada di kehidupan nyata saja, arus teknologi yang semakin berkembang membuat kita juga harus menerapkan hal tersebut di dunia maya. semoga etika dan sosial kontrol yang kita terapkan bisa menjadi sebuah bentuk berinternet yang sehat secara umum