Posted on October 26, 2009
Saya mendapat pertanyaan pamungkas yang sangat menarik tatkala mengisi breakout session mengenai Blogpreneurship di Pesta Blogger 2009, kemarin, Minggu 25 Oktober 2009. Pertanyaan datang dari seorang blogger yang masih berstatus karyawan sebuah perusahaan, namun pada saat yang sama juga merintis usaha sendiri. “Sebaiknya apa yang saya lakukan, saya bingung diantara dua hal ini: bekerja sebagai karyawan atau usaha sendiri?”.
Bukan sekali dua kali saya menerima pertanyaan seperti ini. Puluhan, mungkin lebih dari seratus kali. Yang tidak bertanya mungkin lebih banyak. Kalau saya amati di sekitar saya sendiri saja, tak sedikit yang hidup di dua dunia seperti itu: mereka tetap bekerja dari jam 08:00 hingga 17:00 sebagai karyawan, dan selepas itu mereka berjibaku sebagai pengusaha (biasanya kecil-kecilan). Inilah yang oleh keluarga Tangan Di Atas (TDA) disebut sebagai pengusaha amfibi: waktunya dibagi sebagai karyawan dan pengusaha. Bukan pengusaha tulen. Bukan pula 100% karyawan.

Pertanyaan seperti di atas, biasanya muncul pada anak-anak muda yang masih sangat tergantung pada gaji untuk menopang hidupnya sehari-hari namun memiliki semangat wirausaha. Usianya yang muda membuatnya mampu bekerja siang malam nyaris tanpa lelah. Atau bisa juga pertanyaan itu muncul dari karyawan senior yang ingin berwirausaha, sudah mencoba, namun ketergantungannya pada gaji membuatnya takut melangkah penuh menjadi pengusaha.
Jawaban saya terhadap pertanyaan tersebut seperti ini:
Pertama: Hidup sebagai amfibi itu kurang optimal dan menarik.
Bagaimana pun, waktu itu hanya 24 jam sehari. Seorang karyawan yang baik, sedikitnya mencurahkan delapan jam sehari demi kemajuan perusahaan yang memberinya lapangan kerja dan menggajinya dengan baik. Mereka yang bekerja dengan baik, biasanya cukup lelah selama kerja, sehingga waktu di luar jam kerja dimanfaatkan betul untuk istirahat, menikmati hiburan dan bersosialisasi.
Karyawan yang baik tidak akan mencuri waktu kerjanya untuk hal-hal di luar kebutuhan kerja, baik untuk mengurusi bisnisnya sendiri atau mengerjakan pekerjaan lain yang biasanya disebut sebagai moonlighting.
Sebaliknya, pengusaha menghabiskan 24 jam sehari untuk membangun dan membesarkan usahanya. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur, nafasnya adalah mengembangan usaha.
Maka mereka yang hidup di dua dunia ini akhirnya akan lelah sendiri dengan dua risiko: prestasinya sebagai pekerja tidak akan istimewa dan bisnisnya pun sulit berkembang.
Kedua: Sulit mencari amfibi yang sukses
Sampai hari ini saya kesulitan menemukan sosok sukses seorang amfibi. Jauh lebih mudah menemukan pengusaha yang berhasil atau karyawan yang berprestasi hebat. Alasan pertama di atas menjadi penyebab utamanya. Mustahil berprestasi hebat di dua dunia dalam kungkungan waktu 24 jam sehari.

Oleh karena itu, kepada para karyawan/pengusaha amfibi, saya menyarankan:
Satu: Kalau bisa, keluarlah dari status amfibi dan menjadi karyawan/pengusaha tulen.
Dengan menjadi yang tulen, potensi kita untuk menjadi karyawan hebat dan berprestasi akan jauh lebih besar. Banyak contoh karyawan hebat berprestasi yang bisa kaya raya mengalahkan pengusaha. Lihat saja para manager, GM, direksi perusahaan-perusahaan mapan.
Dengan menjadi tulen pula, potensi dan peluang kita membesarkan usaha terbuka semakin luas. Iim Fahima, Aulia Halimatussadiah yang biasa dipanggil Ollie, Mohammad Rosihan, Hadi Kuntoro adalah sebagian contoh yang memutuskan sepenuhnya menjadi pengusaha dan kini menuai sukses.
Dua: tetapkan waktu kapan menjadi karyawan/pengusaha tulen.
Bagi yang sudah bertahun-tahun menjadi amfibi, memang sulit untuk memutuskan menjadi tulen. Untuk mempermudahnya, tetapkan waktu kapan untuk menjadi tulen, misalnya paling lama setahun dari sekarang. Dengan demikian kita dapat membuat perencanaan matang keluar dari kungkungan amfibi.
Well, good luck, Sir… Nice to hear that.. Hope you will be more successful in the...
feed burner sdh dicentang pak
di tunggu artikel kerennya..!
wah sampai ada yang berbentuk surat
tapi yang modusnya seperti ini pasti sudah ada langkah `mempelajari...
Mantaf Bang….
October 26th, 2009 at 12:20 am
[...] This post was mentioned on Twitter by nukman luthfie, Anang Pradipta. Anang Pradipta said: ini mantap RT @nukman: mengapa harus hidup di 2 dunia: pengusaha/karyawan? jawaban blogprenership di pestablogger http://bit.ly/1R7df [...]
October 26th, 2009 at 12:27 am
Pak nukman, maaf saya bertanya disini, bagaimana jika memiliki beberapa usaha sekaligus ?
Apakah sama sama kurang optimal atau malah jadi semakin kreatif karena ditempa dengan banyaknya masalah yang harus diselesaikan ?
October 26th, 2009 at 12:30 am
Nice article pak, untuk mencapai suatu hal yang optimal seseorang itu harus benar-benar menekunin bidangnya. Tapi masalah yang terbesar itu berani tidak untuk memilih salah satu sisi.
October 26th, 2009 at 12:32 am
jbleb… kena telak saya
tapi saya udah pasang target kok, kapan saya akan mengakhiri jadi ampibi ini.
yang pasti keputusan itu tidak boleh didasari oleh emosi sesaat atau karena gengsi saja kan…
October 26th, 2009 at 12:33 am
ada benarnya juga………tapi ada koq pak yg jadi amfibi dan sukses.
October 26th, 2009 at 1:19 am
pokoknya, harus FOKUS yah pak…
makasi dah mengingatkan
semakin menginspirasi
October 26th, 2009 at 1:35 am
hiyaa.. padahal kemaren pas di sesi blogpreneur, udah ‘kena’ karena jawaban ituh, eh.. di sini ‘kena’ lagi.
iya nih, saya juga pengennya jadi yang tulen. tapi yaa.. gimana ya? masing2 masih seru buat dijalanin dan juga saya belum ngeliat jaminan di salah satunya.. jadi ya, amfibi dulu deh.. maksimal untuk beberapa tahun lagi sesuai dengan target hidup. tapi bisa jadi lebih cepet koq
thanks ya pak nukman, saya tunggu kesempatan jawaban dari pertanyaan saya yang dijawab di sini
October 26th, 2009 at 1:55 am
Thanks for share Pak Nukman
October 26th, 2009 at 2:33 am
Om Nukman selalu punya jawaban yang enak didengar/dibaca.
Tapi komentar mas Febri ada juga benarnya mas. Ada juga kawanku yang sukses sebagai amfibi. Memang ini kasus langka, artiny atidak banyak kasus seperti ini.
Dia memakai baju sebagai karyawan untuk mendapatkan jaringan pelanggannya, sehingga dia bisa hidup di keduanya.
Kerjaan kantornya dia laksanakan dengan santai, demikian juga bisnisnya di luar kantor.
Ini memang kasus, jadi tidak banyak terjadi. Yang sering terjadi ya seperti yang Om Nukman bilang.
Mantap deh ulasannya, saya sampai senyum2 sendiri melihat “audience” Om Nukman yang sampai terlongong-longong mendengarkan ceramah Om Nukman.
Salam Kompak Selalu.
October 26th, 2009 at 2:50 am
hmmm.. terus kapan momen yang tepat untuk memutuskan untuk melepas status amfibi? selain faktor keyakinan dari diri sendiri, menurut pak nukman ada faktor-faktor lain ga yang bisa meyakinkan bahwa sudah saatnya fokus pada satu status saja?
October 26th, 2009 at 3:08 am
Ah, saya juga merasa kena nih Pak, ternyata saya amfibi.
October 26th, 2009 at 3:12 am
Mencerahkan… awal 2009 kemaren saya juga RELA melepaskan ERA AMPIBI dan FOKUS di SISI KEMENANGAN
October 26th, 2009 at 3:28 am
Hihi namaku disebut-sebut… tenkiu Pak Nukman… yak… mari kita semua berbisnis full time! :p
October 26th, 2009 at 3:39 am
Semakin menyelami dunia blogging ini, saia banyak sekali mendapatkan panggilan untuk berani keluar dari perangkap “ampibi” seperti ini.. Semoga bisa mewujudkan “ketulenan” itu secepatnya.
Nice advice, pak
October 26th, 2009 at 3:40 am
Sharing yang menarik sekali, sebaiknya kalau yang masih muda (saya juga masih muda) jangan langsung lepas kendali dari jadi karyawan. Kalau usahanya gagal/seret akan kepaksa ngelamar lagi.
Pengalaman sebabnya pak
October 26th, 2009 at 3:51 am
saya mulai ambil ancang-ancang untuk segera meninggalkan dunia amphibi dan menetapkan pilihan sebagai enterpreneur. Tapi kok ada rasanya takut untuk memulai jadi enterpreneur sejati ya…? Utamanya, saya takut gak berhasil…. Piye, jal?
October 26th, 2009 at 4:50 am
saya bukan amfibi, alias 85% waktu untuk bekerja sebagai karyawan. selebihnya ngeblog untuk mengasah kemampuan menulis.
October 26th, 2009 at 7:52 am
apakah pelajar yang coba-coba bisnis online juga jadi amfibi?
October 26th, 2009 at 9:00 am
saya ingin jadi pengusaha. tapi, sebelum bikin usaha sendiri, saya nyari elmu dulu di tempat orang. hehe..
October 26th, 2009 at 9:12 am
wah, bagi saya yang masih kuliah sampai saat ini masih bingung juga antara menjadi profesional atau enterpreneur..
October 26th, 2009 at 5:03 pm
[...] 26, 2009 in My Life Satu lagi posting menggelitik dari Pak Nukman, tentang pilihan hidup antara menjadi karyawan dan menjadi pengusaha. Sebenarnya sih, secara teknis saya bisa resign hari ini juga, karena diatas kertas side income [...]
October 27th, 2009 at 12:45 am
Nice artikel Pak… Pola hidup seperti katak itu memang tak enak… Tapi begitulah anak muda (seperti saya), kalau pekerjaan tidak paralel dan tidak mencobanya maka dibuat penasaran…
Perlahan saya akan tentukan akan hidup di air atau darat… atau mungkin ada kehidupan baru di angkasa sana…
Salam
October 27th, 2009 at 2:11 am
amphibi…
sedang ancang2 full karena sudah setengah tua
cuma ada yang menggelitik dari salah satu narasumber bahwa untuk full keluar harus mempunyai penghasilan pasif 2 kali dari gaji…
untuk mencapai itu gimana? masing-masing punya target…
thanks artikelnya
October 27th, 2009 at 10:17 pm
Saya tidak pernah masuk ke dunia amfibi, tapi TERKONDISIKAN untuk langsung terjun menjadi entrepreneur tulen. Jadi seringkali kesulitan menjawab pertanyaan teman2 : KAPAN DAN BAGAIMANA KITA TAHU WAKTU YANG TEPAT untuk berhenti menjadi amfibi?
Semoga artikel dari mas Nukman dapat mewakili saya menjawab pertanyaan itu! Mohon ijin copas ya mas, terima kasih
October 27th, 2009 at 11:56 pm
Iya nih pak, artikel Bpk sangat bagus dan menginspirasikan banyak orang, tapi alangkah lebih bagus lagi jika dilanjutkan dng artikel “langkah-langkah berpindah dari amfibi ke pengusaha tulen” … hehehe
soalnya banyak temen2 disini yg masih ragu2 untuk menjadi yg tulen
mohon pencerahannya. makasih
October 28th, 2009 at 8:46 pm
Saya setuju. Dari pengalaman bergaul dengan teman2 TDA, tidak gampang utk sukses di dua kuadran itu. Tapi pilihan menjadi amphibi adalah yg paling memungkinkan, asal jangan terlalu lama.
October 29th, 2009 at 5:26 am
Pastikan ,… Bawa hidup harus memilih…
amphibi adalah proses… untuk tujuan akhir…
October 29th, 2009 at 6:44 am
Benar sekali pak,
Kalo jadi amphibi pasti pikiran bercabang - cabang, tidak fokus sehingga tidak optimal dalam melakukan kegiatan.
Tapi memang dasarnya sifat manusia secara umum itu harus ‘cari aman’ terlebih dahulu kali ya sehingga harus berdiri diatas dua perahu. Kalo misalkan salah satu perahu tenggelam ya masih ada perahu yang satu lagi hehehe.
November 1st, 2009 at 11:30 am
Wempi punya keinginan kuat untuk berwirausaha, namun adanya bisikan dari keluarga dan teman ‘pikir-pikir lagi cari kerja skarang susah, memulai wirausaha itupun tidak gampang.’ akhirnya sampai skarang impian tersebut blon terwujud.
November 1st, 2009 at 12:18 pm
Menjadi amphibi adalah pilihan yg aman dan konservatif, tapi jangan kelamaan, harus punya target / sampai kapan/ dirasa cukup untuk benar-benar pindah quadrant. Artikel yang menarik pak.
November 3rd, 2009 at 10:10 pm
kadang keberanian untuk menjadi orang tulen memang sulit, satu sisi jadi karyawan dirasa kurang dalam hal gaji, tapi mau fokus dengan usaha sendiri takut pendapatannya ga pasti….
semua kembali ke individu dimana ada keyakinan dan usaha maka Allah akan menunjukan jalannya…
semoga para amphibi berevolusi menjadi makluk sejati yang tak mendua
November 11th, 2009 at 5:45 am
Memang jadi amphibi tidak bisa fokus secara maksimal. Disatu sisi tuntukan bekerja sebagai karyawan disisi lain bekerja sebagai owner.
Bagi saya selama masih bisa ngatur waktu dan kondisinya,ya ga apa2.Ibarat orang kata sudah punya 1 keranjang telur, punya kesempatan untuk memeiliki 1 keranjang lagi walau ga penuh, khan lumayan.
November 21st, 2009 at 1:15 pm
terimakasih pak artikel yang sangat membantu…
menghadapi sebuah dilema kehidupan memang sulit.. apalagi klo kita selalu merasa kurang…
December 10th, 2009 at 3:50 am
Ya utunglah aku sudah mengakhiri masa ampibiku dulu saat berusia 26 tahun.. Sekarang lagi merintis usaha sendiri dan terfokus ke usaha dan berjalan 3 tahun kurang… Memang kalo fokus kita menemukan banyak hal yang menarik dan menantang dan sesuatu yang tidak kita duga sebagai seorang karyawan… Sukses.. Tulisannya banyak yang menggugah
December 11th, 2009 at 12:57 am
wah.. saya jadi semakin ragu neh,,
saya belakangan ini pengen mencoba jadi ampibi..
tapi nice artikel. mungkin ini bs jadi bahan pertimbangan saya jg buat kedepannya..
December 28th, 2009 at 10:23 pm
opini penulis terlalu mengagungkan salah satu dari dua posisi diatas, harus menjadi salah satu, padahal kita bisa menjadi salah banyak, menjadi investor, pengusaha dan karyawan dalam waktu yang bersamaan, ukuran kesuksesan khan diukur oleh yang bersangkutan bukan oleh orang lain, jadi jangan memaksa orang keluar dari AMFIBI, bagaimana jika mereka ternyata karyawan kontrak yang jika keluar dari perusahaan harus membayar biaya tertentu…memaksimalkan penghasilan tidak murni harus jadi pengusaha…
January 11th, 2010 at 2:05 pm
Saya setuju pak, karenanya saya memilih keluar dari pekerjaan untuk berwirausaha. Alasan dan catatan perjalanan saya rekam di blog saya. Silakan berkunjung.
January 18th, 2010 at 9:53 am
sipp
January 23rd, 2010 at 1:08 pm
Benar, menjadi peng-usaha memang membutuhkan fokus jika setengah-setengah bakal kacau keduanya
January 29th, 2010 at 5:00 am
menjadi pengusaha atau karyawan sama-sama mempunyai resiko, selama pilihan itu enjoy dilakukan, kenapa tidak?
karena parameter sukses atau tidak sukses itu kita yang punya….
January 29th, 2010 at 11:10 pm
sebaiknya harus segera fokus mas supaya hasilnya optimal
March 21st, 2010 at 3:54 am
vote: pengusaha… oke! kayaknya mas nukman setuju sama saya… he.. he…
May 19th, 2010 at 5:12 pm
hehehe nice artikel:),, sama seperti yang saya alami,, tapi saya bersyukur sekarang udah tidak hidup di dua dunia lagi,, plus bersyukur masih bujang jadi masi bisa berpindah-pindah alam^^ meskipun masih harus mulai lg dri nol n dibutuhkan perjuangan panjang,,
oia monggo pinarak ke lapak saya
http://www.solorasaangkringan.blogspot.com
matur nuwon
July 22nd, 2010 at 6:52 am
waaah Pak Nukman menohok ulu dada
hehehe
betul sekali pak
saya adalah amfibi tulen
hehehe
di darat, saya suka pekerjaannya tetapi banyak penghuni darat yang gak pas
di air, segar dan menyenangkan tetapi seringkali kepepet waktu
semoga bisa cepat memilih
August 28th, 2010 at 5:13 am
saat ini sudah ada fasilitas internet, dimana orang2x yang bekerja dapat sekalian juga berjualan.. itu bisa dimanfaatkan bagi mereka yang amfibi.
selain itu, tidak semua pekerjaan selalu menyita waktu anda, saya berprofesi sebagai dosen ternyata memiliki waktu yang cukup luang untuk membangun dan mengembangkan usaha..disamping tugas mengajar juga bisa berjalan dengan baik
August 28th, 2010 at 8:21 pm
tfs pak Nukman. ketendang banget nih ^_^
status saya sekarang ini juga amfibi, saya seorang guru dan baru coba2 jualan di tahun pertama. Yang saya sesalkan adalah saya jadi merasa banyak korupsi waktu. Waktu di sekolah yang seharusnya saya dedikasikan untuk pengembangan diri dan metode pendidikan, terkadang saya habiskan untuk menjawab sms, nerima order, dst. Waktu di rumah yang seharusnya didedikasikan untuk anak dan suami juga kadang terbengkalai… mungkin memang ada titik dimana kita harus memilih, tapi saya masih terikat kontrak sampai akhir tahun ajaran pak… saya targetkan tahun depan saya harus pilih salah satu… sekali lagi, thanks for sharing
yentri - member TDA
August 29th, 2010 at 4:03 am
Saat kita berhadapan dengan persaingan global, dengan cuman punya 1 masa muda, kita dipaksa untuk mematangkan kemampuan kita dalam bekerja dan berbisnis. Bekerja untuk masa muda, berbisnis untuk mengisi hari tua.