home
Inspirasi, Life Style

Bahasa Indonesia, Bahasa Kedua

Posted on October 29, 2009

commentsComment: 40 Comments

Saya menelepon ke ponsel teman. Perusahaan operator telepon itu adalah perusahaan Indonesia. Karena telepon yang saya tuju dalam keadaan tidak aktif, saya menerima pesan sebagai berikut: ”The telephone you are calling is switched off.”

Sudah. Hanya itu. Hanya pesan dalam bahasa Inggris, tidak ada pesan dalam bahasa Indonesia.

Di beberapa bioskop yang pernah saya kunjungi, petunjuk yang ditayangkan di layar sebelum film dimulai, juga ditulis dalam bahasa Inggris. Tidak ada terjemahan bahasa Indonesia sama sekali.

Kalau kita menelpon hotel atau perusahaan besar di Jakarta, penerima telepon biasanya akan menjawab dalam bahasa Inggris. Setelah tahu penelepon berbahasa Indonesia, barulah dia meladeni kita dalam bahasa Indonesia.

bahasa2

Saya teringat perjalanan saya ke berbagai negara. Di Jerman, saat saya berbelanja ke toko, penjaganya selalu menyapa saya dalam bahasa Jerman. Setelah tahu bahwa saya tidak berbahasa Jerman, barulah dia meladeni saya dalam bahasa Inggris. Demikian pula saat saya berkunjung ke Perancis, pertama kali saya akan disapa dalam bahasa Perancis. Hal yang sama saya dapatkan dalam percakapan telepon.

Dengan kata lain, di banyak negara, orang mendahulukan bahasa mereka sendiri. Bahasa kita adalah bahasa pertama dan utama, bahasa Inggris dan bahasa asing lain adalah bahasa ke dua, tiga, dan seterusnya. Sayangnya yang sering terjadi di Indonesia adalah seperti saya ungkapkan dalam ilustrasi di atas. Bahasa Indonesia adalah bahasa ke dua, atau bahkan tidak diperlukan sama sekali.

Parahnya, ini tidak hanya terjadi di dunia usaha. Birokrasi pemerintah, bahkan Kepala Negara terlihat lebih suka mendepankan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Tengoklah bagaimana Presiden merumuskan semboyan kabinetnya. Dalam bahasa Inggris! Bahasa Indonesia ditampilkan sebagai terjemahan belaka.

Kalau Presiden lebih suka mendepankan bahasa Inggris, jangan heran kalau bangsa ini lebih suka memakai produk-produk dari luar, ketimbang produk bangsa sendiri. Karena kepada mereka setiap hari diajarkan bahwa yang berasal dari luar itu lebih baik. Itulah yang sedang dipamerkan para pemimpin, khususnya sang Presiden.

hasanjepangSebagai penutup, saya ajukan pertanyaan untuk Anda renungkan.

“Anda mungkin malu kalau kemampuan berbahasa Inggris Anda jelek. Tapi pernahkah Anda merasa malu kalau kemampuan berbahasa Indonesia Anda jelek?”

Ditulis oleh: Hasanudin Abdurakhman, Direktur PT Osimo Indonesia

Bookmark and Share

40 Responses to “Bahasa Indonesia, Bahasa Kedua”

  1. Sepakat..
    Saya jadi tersindir nih.. Tapi tak apalah.. Bener, kalau ngomong inggris kelihatan lebih keren.. mungkin ga ya Bahasa Indonesia terlihat keren ? Rasanya tergantung persepsi dan ego kita masing2.. :)

  2. Yang lebih menyedihkan adalah banyak yang lebih memilih berbicara dalam bahasa Inggris meski kacau balau atau berbahasa Indonesia bercampur kata-kata Inggris disana sini karena merasa lebih keren dibanding berbicara dalam bahasa Indonesia yang benar.

    Sangat memprihatinkan karena sebenarnya bahasa Indonesialah yang mempersatukan bangsa ini.

  3. artikel tersebut sangat menggelitik saya dan mendorong untuk sedikit komentar, masalah yang tertulis diatas pernah saya alami pada akhir tahun 2006 waktu mendapat tugas ke china dalam rangka tugas kantor , disetiap bandara saya selalu sempatkan mampir ke book store untuk melihat dan kalau cocok dibeli, alangkah terkejutnya karena semua berbahasa cina hanya judul saja yang bahasa Inggris tapi isinya bahasa cina, karena saya tidak menguasai bahasa cina maka saya tidak jadi beli.
    Masalahnya bangsa kita gagah kalau bisa ngomong bahasa asing dan kelihatan pede,sebetulnya mulai sekarang mulai dari Presdiden sampai tingkat gubernur harus memberi contoh untuk menggunakan bahasa Indonesia,kalau perlu satpol pp disuruh merasia fasilitas2 umum yang menggunakan bahasa asing .

  4. samuel ratifil Says:

    Seharusnya bangsa ini berbangga krn dgn humblenya lebih mendahulukan bahasa internasional dªripªdª bahasa kebangsaannya. Sebagai contoh, lihat saja phrase kata “aku dan kau” vs “you and I”. Tidak dipungkiri, ada frase2 dlm bahasa int’l (English) yang MEMANG lebih baik digunakan, dlm contoh diatas adalah mengutamakan orang lain dªripªdª diri sendiri. Being not selfish, memang harusnya citra dr negara ini. Sama dengan mendahulukan penggunaan bhs Int’l, memang tindakan yang ‘humble’, dengan telpon di beberapa kantor/hotel yang disambut dgn greeting dlm bahasa Inggris, bukan merupakan sikap skeptic atau malu karena bahasa kita jelek, namun sikap besar hati dengan mendahulukan orang lain.

    semuanya bergantung dari sudut pandang kita saja.

  5. mas, ini nih ada artikel oleh Felix, berjudul : Aku Cinta Bahasa Indonesia. saya turut mendukung. gitu deh..

    http://www.twentea.com/2009/03/19/aku-cinta-bahasa-indonesia/

  6. eh, bentar-bentar mas Nukman dan teman-teman komentator. memang tergantung dari sisi mana hal ini menjadi problem dan masalah.
    tulisan ini menampilkan penggunaan Bahasa Inggris yang tak perlu. jika kalian-kalian orang-orang teknologi, saya yakin tak masalah bercampuradukria dengan Inggris-inggrisan itu.

    kecuali, jurnalis media massa. sebab, kata mengunduh dan menggunggah sudah menjadi padanan kata download dan upload.

    ada kok, di kompas. cerita tentang Presiden kita yang berpidato menggunakan Bahasa Inggris dulu, baru Bahasa Indonesia. mm,, pembukaan acara olahraga apa tuh, lupa. sedangkan di Beijing saja Presiden berpidato menggunakan Bahasa Cina dulu lalu Bahasa Inggris!

  7. betul sekali…dan ini harus dirubah…

  8. Cara pandang masyarakat Indonesia emang rada beda, kebanyakan ya seperti yang Pak Luthfie uraikan diatas. Pake budaya barat itu akan terlihat lebih keren dan eksklusif. Tetapi tidak semuanya begitu, masih banyak juga yang cinta dengan budaya indonesia.

    Menurut saya, seharusnya pemerintah bisa lebih berperan aktif, ya…bisa dengan memberi peraturan2 agar penggunaan bahasa Indonesia bisa lebih diutamakan.

  9. Lucu. Komentar-komentar di sini pun tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

    Dirubah atau diubah?
    Emang rada atau Memang agak?

    Akuilah, menulis dalam Bahasa Indonesia yang baku itu jauh lebih sulit dari apa yang kita kira.

    Salam
    ~bukanpolisieyd~

  10. anakindonesia Says:

    Adalah suatu kebodohan kalau kita menganggap menggunakan hanya satu bahasa bisa mendorong atau memberikan sinyal bahwa kita “bersatu” dan memperkecil kemungkinan orang Indonesia memilih produk asing daripada Indonesia.

    Mengapa? Karena bahasa Inggris MEMANG merupakan bahasa yang SAAT ini lebih unggul dari bahasa Indonesia. Mari kita melihat segala sesuatu dengan objektif, bukan dengan nasionalisme emosional semata. Kenyataannya tidak berbahasa inggris ditengah pergaulan global hanya akan menghasilkan perkucilan.

    Lihat Prancis, yang terkenal dengan budayanya tidak mau berbahasa Inggris. Mereka dihormati, tapi tetap dikenal sebagai bangsa yang egois. Ok, kalau kita berbicara dengan warga sebangsa memang sebaiknya menggunakan bahasa lokal. Tapi saat kita sudah berbicara dengan penonton atau lawan di tingkat dunia, haruslah berbicara bahasa standar Internasional.

    Pejabat eksekutif tingkat tinggi adalah wajah Indonesia di dunia, maka itu wajar kalau mereka berbahasa Inggris.

    Sekarang saya tanya, koruptor, seluruh isi penjara di seluruh Indonesia memang bicara bahasa Rusia? Mereka bicara BAHASA INDONESIA. Sehingga BOHONG kalau berbicara bahasa INdonesia setiap waktu saja cukup untuk memajukan bangsa. Yang dibutuhkan adalah KREASI, INOVASI dan KARYA.

    Mari kita berpikiran terbuka. Kita sedang di masa transisi dari zaman Orba yang menggunakan lensa melihat segala sesuatu dari dalam ke keluar, sehingga cenderung tertutup dan protektif, jadi dari luar ke dalam, sehingga terbuka dan reflektif.

    Protektif itu boleh, tapi kita harus ingat bahwa Indonesia bukan negara mono-kultural. Islam di awal sejarah Indonesia datang dari pengaruh asing, begitu juga kemerdekaan kita yang datang dari keberhasilan AS mengebom Hiroshima. Karena itu jangan selalu melihat pengaruh asing secara negatif. Ada positifnya.

    Kalau memang mau Bahasa Indonesia jadi bahasa dunia, stop mengeluh, stop defensif, mulai berKREASI, berINOVASI, dan berKARYA.

  11. orang prancis emang terkenal dengan kongototannya make bahasa sendiri, paman.

    keknya orang-orang yang menghuni nusantara sekarang lagi keranjingan enggrisss.. sampe2 lebih mengedepankan bahasa enggrisss daripada Indonesia. :(

  12. Kita lihat secara positif saja, ini sebagai cara untuk meningkatkan kemampuan bahasa inggris kita. Karena terbiasa dan semakin banyaknya orang yang menggunakan bahasa inggris, orang lain yg bahasa inggrisnya kurang akan berusaha untuk belajar.

  13. Ironis banget, pak. Ada kawan saya yang fasih bahasa Inggris tapi bahasa Indonesia justru ga fasih. :(

  14. Saya malu kalau bahasa Indonesia saya belepotan, Mas. Bahasa Inggris belepotan, wajar. Lha wong bukan londo :D

  15. Menginspirasi banget mas nukman..:-),,tp sepertinya paradigma itu sudah mendarah daging di bangsa kita ini. Kalo pemimpin kita sendiri aja ndak mencontohkan dan berusaha untuk merubah paradigma itu (yang membutuhkan usaha dan proses yang lama) sepertinya akan susah untuk menjadikan ‘adat bahasa’ kita seperti di prancis sana (iri mode on)…:-)..
    Tp apapun itu,tetap bangga jadi anak indonesia..:-)

  16. itulah pak kalo perbuatan tidak sesuai dengan ucapan, katanya cintai produk Indonesia, nyatanya pakai bahasa Indonesia aja tidak mau, parahnya lagi itu juga dilakukan pemimpin bangsa, jadi kelihatan munafiknya, makanya tidak heran bangsa ini ditimpa musibah terus menerus

  17. Berbahasa Inggris awut-awutan, berbahasa Indonesia juga tidak kalah mengerikan. Tanpa kita sadari kita juga membiarkan kemerosotan berbahasa di antara kita. Simak saja penulisan pesan singkat (SMS) telepon genggam (HP)yang katanya untuk menghemat karakter tapi justru menghancurkan bahasa Indonesia.
    Mari kita mulai dari diri sendiri menghargai bahasa negeri kita dengan membiasakan menulis dengan kaidah penulisan yang benar.
    Bahasa tulis atau bahasa tutur yang kita pergunakan menunjukkan watak dan kepribadian kita (katanya…..)

  18. Menginspirasi banget mas nukman..:-)

    >> lah sing nulis ki jenenge dudu mas Nukman je
    >> tapi Hasanudin Abdurakhman
    >> yang diterima kasihi malah mas Nukman

    >> rejekine mas Nukman deh
    >> sebagai penyedia tempat menulis

    salam Indonesia bagian nJowo

  19. Mungkin gejala inferior masih ada di bangsa ini, Om? *berkaca pada diri sendiri*

  20. Menggunakan bahasa Indonesia itu tidak perlu harus baku dan benar. Tergantung situasi dan kondisi saja.

    Yang juga penting ditanyakan: selain bahasa Inggris dan Indonesia ini, adakah kita juga sudah menguasai satu saja bahasa daerah di Indonesia?

  21. Kami putra-putri Indonesia
    mengaku berbahasa satu
    Bahasa Inggris

    *LOH ???*

  22. Wempi lebih mahir berbahasa minang, hehe… :lol:

  23. sepertinya sekarang ini serba terbolak balik
    orang asing pengen belajar bahasa Indonesia, ee orang Indonesia malah sok sokan pake bahasa Inggris………hmm padahal kita dilahirkan di Indonesia, dan hidup makan disini juga..

  24. menurut saya, bahasa Inggris atau bahasa Indonesia yang menjadi nomor satu hanyalah sebuah pencerminan dari apa yang sudah dilakukan bangsa ini.

    Kalau memang ingin memajukan bahasa Indonesia, dan menginginkan kebanggaan untuk menggunakan bahasa Indonesia. sebaiknya kita juga harus akui, banyak istilah dalam bahasa Inggris yang tidak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia.

    Banyak ekspresi yang tak terwakili oleh bahasa Indonesia.

    Bahasa berkembang dari budaya, masyarakatlah yang memilih.

    350 tahun dijajah itu cukup lama, mengandalkan kemampuan bangsa untuk merdeka itu tidak mudah. Mengandalkan kekuatan bahasa sebagai salah satu bahasa pemersatu harus dijunjung tinggi.

    Bagaimana mengatakan pada dunia bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan?…kalau ingin mereka tahu ya dengan bahasa inggris…lha wong orang luar Indonesia ngertinya bahasa Inggris :)

  25. ah …kalau saya prakris-praktis saja, kalau ketemu sesuatu berbahasa inggris (tulisan maupun ucapan) kalau saya tidak mengerti ya …buka kamus atau tanya teman …biar kemampuan bhs inggris saya yang jeblok bisa dikit-dikit nambah ..

  26. Kalaupun kita bangga menggunakan bhs indonesia dengan baik dan benar…dampak untuk diri kita sendiri apa? karir akan naik? dapat pekerjaan yang baik?

    jujur sajalah kalau ingin maju belajarlah bahasa inggris.

    minimal, jika kita belum dapat pekerjaan yang bagus kita bisa memberi les/sebagai pengajar privat, coba jika hanya bisa bahasa indonesia, siapa yang mau minta?

    memang kalau bisa dua-duanya harus bagus.

    kalau cuman sebagai kebanggaan berbahasa indonesia dengan baik, tetapi tanpa ada keuntungan dan manfaat yang bisa kita peroleh untuk diri kita, keluarga dan lingkungan, untuk apa?

    ini kenyataan…

  27. kalo di dalam negeri, emang seharusnya bahasa indonesia yg dikedepankan. bukan bahasa lainnya.

  28. sebenarnya ini ada teorinya, sudah lama sekali..
    kalo gak salah nama pemikirnya: campbell, doughty & carson..
    kalo sesuai analisisnya, tidak salah org2 kemudian mengaitkan pemerintah dgn liberalisme.. ada pendudukan ide keliatan dari bahasanya.. orang2 sekitarnya juga ikut2an..

    gw si mencoba netral aja.. tapi aneh juga kalo tiba2 sby make judul, National Summit (rembuk national) jadi bahasa spanyol….cumbre nacional de..hahahaha

  29. menanggapi komen pak Wadiyo

    sesungguhnya Anda setiap hari sudah menuai keuntungan dengan berbahasa Indonesia, coba jika tidak ada bahasa Indonesia, bagaimana Anda akan berkomunikasi dengan orang2 dari suku lain di Nusantara ini? org2 dari suku2 di pedalaman Papua yg bhsnya berbeda2 saat ini justru lebih senang berkomunikasi antar mereka dgn bhs Indonesia dibanding pakai bhs Inggris yg susah mereka ucapkan

    sekarang ini makin banyak orang asing yg ingin belajar bhs Indonesia, dan seorg ahli bhs Indonesia bisa memberi les privat belajar bhs Indonesia kpd org asing itu, dan tentunya bayarannya lebih besar kan?

    tentang bhs sebagai penunjang karir, justru anda harus bisa berbicara dgn bahasa Indonesia yg baik (sopan) jika berkomunikasi dgn atasan anda, jika tidak tentunya anda akan dipecat, atau kecuali jika atasan anda adalah org asing, hehehe…

    segala sesuatu pasti ada manfaatnya pak, sekali pun mungkin hal itu tidak kita sadari

    dengan berbahasa Inggris di acara resmi negara sesungguhnya Presiden SBY telah melanggar UU no.24 thn 2009, silakan baca artikelnya di sini: http://benwal.blogdetik.com/2009/10/26/presiden-ri-melanggar-uu-no-24-tahun-2009/

    tapi sayang tidak ada sanksi hukumnya…

  30. Bahasa Indonesia, Bahasa Kedua : Sudut Pandang - Nukman Luthfie…

    Saya menelepon ke ponsel teman. Perusahaan operator telepon itu adalah perusahaan Indonesia. Karena telepon yang saya tuju dalam keadaan tidak aktif, saya menerima pesan sebagai berikut: ”The telephone you are calling is switched off.”

  31. Berbahasa inggris yang benar akan sama nilainya bila kita juga dapat berbahasa indonesia yang benar. Karena keduanya sangatlah diperlukan, bagaimana tidak ….dijaman globalisasi modern ini bahasa inggris merupakan salah satu kunci agar dapat berkompetisi untuk dapat memenangkan tujuan/cita-cita. Dan yang harus diingat, kuasai dulu bahasa Indonesia dengan baik baru selanjutnya terserah anda…. Namun bila kemampuan berbahasa kita baik indonesia or english sama2 jeblok, bagaimana kita bisa hidup dalam strata sosial yang lebih baik??? karena bahasa tubuh dan bahasa tarzan tidak semuanya dapat mengartikan nya..iya…kan??? Jadi pupuklah kemampuan berbahasa anda english dan bahasa indonesia sama baiknya.

    Saya sering bangga dengan anak2 saya, yang kemampuan bahasa englishnya sangat baik, (kelas 5 dan kelas 2 sd - mereka bersekolah di international school, dan komunitasnya mayoritas anak ekspatriat Eropah). Bahasa yang mereka kuasai dengan baik : indonesia-english-toba (yang terakhir adalah bahasa daerah suku batak toba) sehingga mereka bisa “auto switch” antara english-bahasa-toba. Bila sedang berada dilingkungan publik misal hotel,bandara,mall dll keduanya bisa “berkicau” pakai english dengan lancarnya, dan sesekali menyelipkan bahasa atau toba-(namun disini bukan berarti bahasa menjadi yang kedua,karena dasar mereka untuk dapat menguasai english dan bahkan toba adalah bersumber dari bahasa indonesia)- diantara percakapan mereka sehingga sering membuat orang terkesima dan akhirnya mereka akan jadi pusat perhatian. Betapa bangganya saya ketika orang2 berujar : “pintar sekali anak2 bapak ini, bisa menguasai bahasa yang diperlukan dengan baik nya”.
    ‘Tiket’ sudah mereka miliki, tinggal bagaimana saya mempersiapkan ‘akomodasi’ mereka untuk menempuh ‘perjalanan studi’ mereka kedepannya.

    Bravo bahasa indonesia…!!!

  32. Hmmm…
    Sepertinya, urusan berbahasa bakal menjadi keprihatinan kita sepanjang jaman:-)

    Terlepas dari rasa (malu atau tidak), sepertinya Bahasa Indonesia memiliki kelemahan yang bahkan tulisan lulusan S2 pun bisa membuat frustrasi berkelanjutan.

    Menurut saya, kelemahan utama Bahasa Indonesia terletak pada struktur bahasa yang sangat longgar. Sehingga, bagi yang cukup mahir bahasa Inggris, pemilihan bahasa Inggris kadang lebih karena lugas dan mengena sasaran komunikasinya.

    Kelemahan lainnya yang memperparah adalah kurangnya upaya memperbaiki Bahasa Indonesia sebagai bahasa berbangsa dan bernegara:-)
    - Kapan terakhir kali ada pertemuan nasional membahas Bahasa Indonesia?
    - Berapa banyak buku mengulas cara berbahasa Indonesia? Sejak 20 tahun lalu, saya hanya tahu ada satu penulis bermutu mengenai penggunaan Bahasa Indonesia ini. Bukunya sudah tidak lagi terbit atau susah dicari sejak 10 tahun terakhir. Ada yang tahu Gorys Keraf?
    - Siapa penerus Yus Badudu dan Anton Mulyono?

    Walah. Frustrasi saya!

  33. sangat setuju dengan argumen Anda

  34. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by NcusVeilady: @edittag jadi ingat tulisan ini http://bit.ly/2XWpAY (re: bahasa di ATM)…

  35. artikel yg sangat menarik … selain berbahasa yg paling parah adalah kalo ada anak muda yg menyenangi lagu² budaya sendiri malah dbilang kampungan … ga gaul dll (doh)

    lebih bangga ma budaya luar ketimbang budaya sendiri (tears) sekalinya di klaim ma bangsa ngedadak “sok” blingsatan

  36. Sharing saja. Bagi orang indonesia yang baru bekerja diluar negri akan mengalami apa yg saya alami pertama datang. sudah hampir 4 bulan saya bekerja di bagian IT di UEA yang sudah pasti menggunakan b.ingris.mayoritas disini india,pilipino, egyptian. jujur saja saya kedodoran, kemampuan b.ingris mereka jauh diatas kita. saya pikir tidak ada salahnya dari dini anak2 kita atau mencampurkan b.ingris kedalam keluarga agar suatu saat nanti mereka tidak mengalami kesulitan lagi jike kelak dia harus bekerja diluar negri.

  37. wew…….sukurnya saya masih pake bahasa indonesia dalam kehidupan saya sehari hari, abis bahasa inggris saya emang ndak baek….hehehe…

    klo menurut saya ndak ada salahnya juga klo di tempat tempat umum dah banyak pemberitahuan dalam bahasa inggris, mayan lah nambah nambah kosakata baru…..hemat biaya buat kursus khan…hehehe..

  38. betul,betul, betul, lihat kembali presiden kita yang dulu, selalu ngomong bahasa indonesia, klo ada tamu dari luar negeri, pasti ada penerjemahnya……….(siapakah presiden tsb?)

  39. hahaha.. iya juga ya? bahasa Indonesia kita semakin hari semakin kacau :(

  40. wah menarik sekali…

    saya amat sangat setuju mas.

    salam dari RIAU..

Leave a Reply

Follow   

Twitter FB Email RSS

Search   


Recent Comments   

Rahmat Miftahul Habib:

Well, good luck, Sir… Nice to hear that.. Hope you will be more successful in the...

budi hadmajaya:

feed burner sdh dicentang pak

omagus:

di tunggu artikel kerennya..!

lukman:

wah sampai ada yang berbentuk surat :D tapi yang modusnya seperti ini pasti sudah ada langkah `mempelajari...

greatponco:

Mantaf Bang….