Posted on August 6, 2009

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh.
Hidup adalah untuk mengolah hidup.
Bekerja membalik tanah.
Memasuki rahasia langit dan samodra.
Serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas.
Karena tugas adalah tugas.
Bukan demi sorga atau neraka.
Tapi demi kehormatan manusia.
Karena sesungguhnyalah kita bukan debu.
Meski kita sudah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian.
Dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang.
Ke masa silam yang tak seorang pun kuasa menghapusnya
sajak oleh WS Rendra.
catatan:
WS Rendra meninggal dunia Kamis, 8 Agustus 2009. Sang burung merak Indonesia itu terbang selamanya pada malam hari pukul 20.30 WIB.
“Hidup Tidaklah untuk Mengeluh dan Mengaduh” adalah sajak yang baru saya baca saat Rendra meninggal. Meski baru sekali membaca, sajak ini langsung menyentuh saya. Sangat menginspirasi saya. Mohon izin bang Rendra untuk saya bagi di sini, barangkali dapat menginspirasi ke pembaca Sudutpandang.com.
Well, good luck, Sir… Nice to hear that.. Hope you will be more successful in the...
feed burner sdh dicentang pak
di tunggu artikel kerennya..!
wah sampai ada yang berbentuk surat
tapi yang modusnya seperti ini pasti sudah ada langkah `mempelajari...
Mantaf Bang….
August 6th, 2009 at 10:53 pm
benar-benar puisi yang dahsyat..
August 7th, 2009 at 12:11 am
[...] dari Sudut Pandang, dan kemudian tersentil oleh isi puisi Sang Burung Merak ini (setelah jutaan keluhan dan makian [...]
August 7th, 2009 at 12:13 am
Saya termasuk orang yang tidak terlalu kenal Rendra secara pribadi. Tapi saya ikut kehilangan salah seorang tokoh sastra Indonesia yang terkemuka. Innalillahi wa inna ilaiho rojiun.
August 7th, 2009 at 10:07 pm
Dulu saya merasakan puisi2 Rendra aneh, setelah diresapi ternyata menggetarkan.
Favorit saya (waktu SMP): Balada Terbunuhnya Atmo Karpo.
August 8th, 2009 at 1:04 pm
Ini puisi yang dikutip koran Kompas kemaren, menakjubkan dan harus saya akui meski saya nggak suka puisi, pak
August 9th, 2009 at 9:40 pm
selamat jalan Bung Rendra.
August 12th, 2009 at 10:02 pm
sajaknya bagus dan dalem..
pas kebetulan kemarin sempat down, habis baca ini jadi sedikit terangkat lagi..
selamat jalan, ws rendra..
August 18th, 2009 at 1:44 am
Karya sastra yang indah dan bagus,
Selamat jalan bung Rendra, karyamu akan kami ingat selalu.
September 14th, 2009 at 7:01 am
karya yg baguss…..
slmt jalan bwt rendra
October 9th, 2009 at 4:28 am
Wahhhhhh KEREN2,
October 12th, 2009 at 4:47 pm
Dia adalah seorang Maestro yang sangat aku cintai. Dia adalah guruku dalam hdiup, sehingga aku mempunyai daya hidup. Selamat jalan Mas Wily, selamat jalan Sang Guru. Semoga Allah menerima amal baktimu. aamiin.
October 29th, 2009 at 6:09 am
ga pernah kenal Rendra sebelumnya, tapi dia memang fenomenal sebab rajin menggugat hal yang secara humanisme tidak pada tempatya. tapi siapa yang tahu thoh?
setidaknya, karya-karya Rendra mengajak orang-orang untuk tetap bertahan hidup, apa pun keadaannya..
November 4th, 2009 at 12:47 am
percuma mengeluh dan mengadu karena tak akan membawa perubahan apa apa, yang diperlukan adalah tindakan dan perjuangan…..
tetap semangaddd
http://edelweisbox.com/
November 14th, 2009 at 1:04 am
Saya sudah lama membacanya, bahkan mendengarkan kaset kumpulan puisi yang ia bacakan. Terus terang puisi dahsyat ini masih selalu jadi pergumulan pemikiran sehari-hari buat saya. Penyemangat juga.
November 26th, 2009 at 6:02 am
S’lmt jalan Sang Burung Merak Indonesia…..
January 28th, 2010 at 9:38 am
luar biasa ya puisinya,
semoga amal ibadahnya diterima disisiNya..
amiin
August 10th, 2010 at 5:22 am
barangkali ada buku yg berisi kumpulan puisi ws rendra. minta judulnya dan dimana bisa membelinya. saya kagum dg bebrapa puisi yg pernah saya baca…