home
Entrepreneurship, Inspirasi

Tersesat di Jalan yang Benar

Posted on July 7, 2009

commentsComment: 25 Comments

Itulah jawaban yang seringkali saya utarakan ketika ditanya banyak orang kenapa saya,  sarjana Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada Jogjakarta, kemudian malah terjun di dunia online dan merintis jalan pengusaha.  Jawaban serupa saya sampaikan ke tim Inspirasi Pagi MetroTV yang ditayangkan Minggu pagi, 5 Juli 2009. “Saya tersesat di jalan yang benar,” kata saya sambil tersenyum. Tentu ini jawaban paradox:  mana ada tersesat kok di jalan yang benar.

tersesatdijalanyangbenar

Tapi itulah yang sesungguhnya terjadi. Dulu, setelah lulus Sekolah Menengah Atas, saya tidak punya cita-cita yang jelas. Barangkali, kebanyakan lulusan SMA seperti itu. Namun sebagaimana layaknya anak sekolahan, dan sebagaimana yang diinginkan kebanyakan orang tua, Perguruan Tinggi (PT) adalah persinggahan berikutnya setelah SMA. Maka saya pun mendaftarkan diri ke PT yang saya anggap paling top pada tahun 1983, dan jurusan yang paling pas dengan jurusan IPA di SMA. Plus, biar kelihatan keren, saya memilih Teknik Nuklir UGM, yang waktu itu masih terdengar aneh, tanpa tahu kelak jadi apa. Saya diterima bersama sekitar 40-an lulusan SMA dari berbagai kota di negeri ini.

Sesungguhnya saya tidak bodoh. Namun fakta menunjukkan, bahwa saya lulus Teknik Nuklir dengan IP saya amat rendah: hanya 2,19 (ya, dua koma sembilan belas). Itu pun setelah menghabiskan waktu tujuh tahun, selisih 2,5 tahun dari waktu normal. Tidak perlu saya cari berbagai alasan, termasuk harus membiayai sendiri kuliah dan mencari sesuap nasi untuk kehidupan sehari-hari.

Tentu saja, dengan nilai akademis serendah itu, bekerja di Batan (Badan Tenaga Atom Nasional) atau lembaga sejenis, adalah sesuatu yang mustahil. Maka terjunlah saya ke dunia tulis menulis, sesuatu yang amat saya sukai sejak kuliah.  Sepekan sekali, seusai kuliah, saya coba menulis artikel ilmiah populer.  Meski nilai akademis rendah, saya bisa menulis ilmiah populer materi-materi kuliah mengenai ketekniknukliran yang tanpa edit ulang dimuat di berbagai media cetak. Antara lain, dari aktivitas menulis itulah saya membiayai hidup dan kuliah di Jogjakarta.

Dengan bakat itulah saya mudah beradaptasi di dunia jurnalistik, mulai dari Bisnis Indonesia, Prospek dan terakhir di majalah SWA sebagai redaktur senior. Menjadi wartawan dan penulis bisnis di tiga media itu membuka banyak cakrawala. Bukan hanya ilmu tentang ekonomi dan bisnis, tetapi mendapat banyak insight dan semangat dari para pelaku bisnis bagaimana mereka membangun bisnisnya, masalah apa yang mereka hadapi, bagaimana mereka berjibaku mengatasi masalah, bagaimana membangun leadership dan sejenisnya. Maka ketika saya dipinang oleg Agrakom pada 1995, yang kemudian menelorkan portal paling hebat saat ini, Detik.com, untuk bergabung, saya langsung mengiyakan. Ilmu-ilmu yang saya dapat susah memberontak untuk dipraktikkan.

Di Agrakom, semula saya hanya dibutuhan untuk mempelajari hal-hal baru di Internet, kemudian saya tulis di situs webnya, agar dipahami oleh karyawan Agrakom lain dan kliennya. Harap diingat, saat ini Internet masih mahluk aneh dan tak banyak yang paham apa dan bagaimana memanfaatkannya. Dengan latar belakang pendidikan Teknik Nuklir, saya relatif mudah memahami hal-hal baru di Internet, dan dengan kemampuan menulis ilmiah populer mempermudah saya menuliskannya secara sederhana di situs web Agrakom.

Dalam tempo cepat akhirnya saya ditasbihkan menjadi Direktur Internet Service perusahaan pengembang web pertama di Indonesia itu. Tak lama kemudian saya juga dipercaya untuk membidani perusahaan Public Relations yang mengkhususkan diri di bidang IT, bersama Hana Budiono, bernama Agrakom Public Relations. Begitu Detik.com lahir, saya langsung membantu mencarikan iklan, dan akhirnya diangkat sebagai Direktur Marketing Detik.com. Setahun kemudian saya juga merangkap sebagai Direktur IT portal tersebut.

virtual_logo_verrysmallMenulis, Internet, managerialship, memahami bisnis plus jiwa intrapreneurership rupanya merupakan kombinasi dahsyat. Ini yang terasah selama delapan tahun di Agrakom, Agrakom PR dan Detikcom. Lima faktor inilah (menulis, Internet, managerialship, memahami bisnis dan jiwa intrapreneurership) yang mendorong saya untuk terjun sendiri membangun Virtual Consulting pada tahun 2003. Sejak saat itu, faktor kelima berubah dari intrapreneurship menjadi entrepereneurship. Saya membangun bendera saya sendiri dengan segala risikonya. Alhamdulillah, setelah enam tahun, dengan segala suka dukanya, dengan dukungan seluruh tim Virtual Consulting, berdera itu berkibar dengan baik.

Jalan berliku sejak SMA, masuk PT, dan bekerja sebagai jurnalis hingga sekarang ini merupakan proses yang harus dilalui, yang berujung pada sebuah kesimpulan: ya saya sudah berada di jalur yang benar. Bukan berarti jalur yang dulu itu tidak benar.  Tanpa jalur yang dulu, belum tentu saya sampai ke titik sekarang. Itu sebabnya saya sering berkelakar, saya tersesat di jalan yang benar. “Tersesat” dari tidak punya cita-cita sejak SMA dan latar belakang pendidikan yang tidak nyambung dengan bisnis yang digeluti, menuju titik yang sekarang, sebagai pengusaha online dan online srategist.

Apa boleh buat, akhirnya saya menyimpulkan: tidak penting apa latar belakang pendidikanmu, yang jauh lebih penting adalah dapat menjadi apa dirimu dengan segala bakat dan minatmu.

metrotvItulah yang saya sampaikan selama 10 menit pada acara Inspirasi Pagi MetroTV, Minggu 5 Juli 2009.

Bookmark and Share

25 Responses to “Tersesat di Jalan yang Benar”

  1. Pertama…. :D

    Selamat pan Nukman… Saya sedang tersesat sekarang ini, beberapa jalan sudah dilalui, namun masih nabrak2 -halah-. …. masih sedang mencari arah ni pak :) sekali lagi sukses buat pak Nukan :)

  2. Wah enak ni Pak Nukman tersesat tapi ketemu nya Istana Emas hehehe..

  3. pertamaxx nggah yahhhhh ????? (dance)

    *sebelumnya sulit sekali masuk sinih, tp pas pake proxy langsung deh mantabss :D

  4. ya… latar belakang pendidikan bukan menjadi hal yang mutlak harus ada ketika kita ingin menekuni suatu bidang *apalagi internet yang kata om ini masih baru dan mungkin langka bagi sebagian besar masyarakat kita* namun lebih kepada bagaimana kita menekuni *dengan sungguh2* bidang baru tersebut dengan terus belajar memahaminya, optimis, dan semangad tentuna (gym).

    jadi inget tulisan saia yang ini.

    akhirnya bisa masuk juga kesini, ada apa dengan sapidi yah om ? (thinking)

  5. sangat inspiratif….

  6. salutt..

    keep fight Pak..

  7. seringnya seperti itu ya pak..banyak yang bekerja diluar bidang yang mereka geluti di bangku sekolah..
    tapi setuju banget dengan quote bapak di bagian akhir tulisan, yang penting adalah menjadi apa kita sekarang. :)
    salam super! *lho..ko kayak Mario Teguh*

  8. sangat inspiratif.. saya kuliah juga telad lulus om.. ilmu kuliah saya juga ga ke pake sekarang… kerjaan saya sekarang dari 2 hobi saya. satu karena UKM yg saya ikuti, satu lagi karena hobby.

  9. Tidak penting apa latar belakang pendidikanmu, yang jauh lebih penting adalah dapat menjadi apa dirimu dengan segala bakat dan minatmu.

    Pak Nukman, saya kok sangat terinspirasi dg ungkapan Anda diatas. Jadi saya makin sadar minat yg kita miliki jg bisa sbg modal dasar. Yang penting gali potensi diri, kembangkan semangat belajar dan Just Do It.

    TIME TO CHANGE.!!!

  10. “tidak penting apa latar belakang pendidikanmu, yang jauh lebih penting adalah dapat menjadi apa dirimu dengan segala bakat dan minatmu.”

    langsung saya copas di catatan saya pak. fyi, saya juga masih kuliah. tapi saya anggap kuliah saya sebagai sampingan saja :), lebih baik fokus ke passion saya

  11. bener banget om…. saya setuju banget..
    kalau kita terus terusan melihat ke belakang kita tak akan bisa maju….

  12. Yang penting bisa bermanfaat untuk orang lain.

  13. Kisah yang inspiratif Pak. Awal kisah Bapak mirip dengan yang saya alami saat ini. Mudah-mudahan saya dapat menjalani proses, mengambil hikmah, dan mudah-mudahan juga mempunyai akhir yang indah. Terima kasih inspirasinya Pak.

  14. Listyawati Says:

    Congrats pak, saya jg seorang entrepreneurship (maaf kalo salah tulis)tb bidang sy lain yakni penjual kayu dan besi itu lo untuk bangun2 rmh dll. setelah 20 th bergelut sy baru merasa inilah dunia saya, saya amat sangat menikmatinya. Sy berharap anda bs berbagi ilmu dgn saya. Tks dan salam hangat dr Bali.

  15. Tolong pak saya tersesat disini, ini jalan yang benar apa bukan ya…..:) salam kenal dari bogor pak! The woman behind Toko grosir sprei, bed cover, aneka bantal dan selimut no. 1 di kota bogor online. :)

  16. Inspiratif mas artikelnya. Salam Kenal saya abee. Jalan hidup Mas Nukman prestatif. Jadi Pede lg ,saya lulusan Akunting yg gagal jd akuntan malah tertarik jadi marketing.

  17. Kesimpulan yang terakhir itu setuju banget, sayang acara yang di metro tv nggak sempat lihat.

    Dibikin bukunya aja mas…biar bisa menginspirasi orang lebih banyak lagi.

  18. Lho kok mirip-mirip juga ya latar sampeyan dengan saya…..cinta menulis; menulis di koran sejak kuliah untuk tambahan uang kos; kemudian mengasah intrapreneurship sebelum bikin usaha sendiri.

    Sempet juga diterima SWA, namun ndak jadi masuk.

    Menulis, entrepreneurship, membaca, internet….semua adalah dunia yang amat INDAH.

  19. Selamat yah pak Nukman, saya juga sekrang lagi mencoba ikutan menyesatkan diri (mudah - mudahan) dijalan yang benar juga hehhehehe

  20. salam sesat pak,he…he…he…he…
    saya sering mendengar nama anda mupun sering juga membacanya, tapi setelah googling
    ooooooo…. ternyata……

    wes pokoke tok markotop pak, salam sukses ya !

  21. [...] Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta. Sekitar tahun 1990-an menyelesaikan kuliah dalam waktu tujuh tahun dengan IPK 2,19 (dua koma sembilan belas). Memulai karirnya dengan aktif menulis artikel ilmiah [...]

  22. kok mirip slogan kami ya… Tersesat Masuk Surga
    tersesat yang disadari memang TOP

  23. salam sukses pak…
    sangat inspiratif jg untuk perjalanan berharga saya.

  24. IP saya juga rendah: 2.76, dibanding teman2 saya yang 3 lebih.. adududuh..

    Saya kuliah jurusan TI. Saya lumayan mengerti pemrograman, tapi ilmu networking saya minim, soalnya ga diajarkan mendalam di kampus (cuma teori, itupun sedikit aja).. Padahal di dunia kerja, keduanya diperlukan.

    Setelah sarjana, menjadi programmer selama 3 bulan. Berhenti karena otak dan tubuh yang tak sanggup (walah heheh3..)

    Sejak itu saya merasa trauma dgn kemampuanku alias rendah diri. Sekarang masih luntang2 lantung mencari pekerjaan yang paling pas sambil menjadi agen asuransi dan mengais recehan dari onlinePTC

  25. Saya pun berjuan di yg mudah2an di jalan yg benar, dengan bekerja sendiri (resign dari kantor). Mudah2 an bisa mengikuti bpk.
    Thx inspirasinya

Leave a Reply

Follow   

Twitter FB Email RSS

Search   


Recent Comments   

Rahmat Miftahul Habib:

Well, good luck, Sir… Nice to hear that.. Hope you will be more successful in the...

budi hadmajaya:

feed burner sdh dicentang pak

omagus:

di tunggu artikel kerennya..!

lukman:

wah sampai ada yang berbentuk surat :D tapi yang modusnya seperti ini pasti sudah ada langkah `mempelajari...

greatponco:

Mantaf Bang….