Posted on July 27, 2009
Desi Anwar punya kesibukan baru. Setiap makan, entah pagi, siang, atau malam, dengan cermat ia akan mencatat setiap item menu yang dipesannya untuk dikabarkan lewat situs jejaring sosial di internet, Twitter. Suatu kali ia melaporkan begini: nasi merah, tahu & tempe, tumis toge & kacang panjang dipotong pendek, telor ceplok pake kecap, goreng udang.
Sekilas, apa yang dilakukan Desi bikin kita tergeli-geli. Apa sih pentingnya mengatakan kepada dunia apa yang dia makan? Siapa yang pengen tahu? Tapi, jangan salah. Presenter kondang yang kini kita kenal sebagai salah satu eksekutif di MetroTV itu sebenarnya sedang melakukan sebuah hajat besar. Ini terbaca dari bagian akhir pernyataannya yang selalu diembel-embeli dengan semacam label “#Indonesiaunite”.

#Indonesiaunite adalah payung yang diciptakan untuk menaungi kemarahan dan keprihatinan kolektif sekelompok orang yang punya ikatan di social media atas peristiwa peledakan bom di Hotel JW Mariott dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009. Gerakan ini awalnya muncul di Twitter dan belakangan merambah juga ke Facebook. Di Twitter, #Indonesiaunite sempat menduduki ranking pertama dalam list trending topics, yakni topik yang paling banyak dibicarakan oleh pengguna Twitter di seluruh dunia. Tapi, apa ini maknanya? Sekedar kehebohan segelintir orang yang melek internet dan ke mana-mana menggenggam Blackberry?
Saya sendiri tak mampu menahan diri untuk tak ikut larut dalam eforia ini. Kebetulan, berdekatan dengan hari pengeboman itu, saya baru saja jalan-jalan ke sejumlah lokasi wisata di Indonesia (Bali dan Pangandaran), dan #iIndonesiaunite menyadarkan saya bahwa ada Indonesia di sana. Bahwa pantai-pantai yang indah itu adalah Indonesia. Pertanyaannya, selama ini kita ke mana saja? Mengapa harus ada bom dulu baru kita ingat dan sadar bahwa Indonesia adalah bagian dari diri kita, merupakan faktor penting yang mesti senantiasa dipertimbangkan terus-menerus, dicintai tak henti-henti?
Nasionalisme kita ternyata baru sebatas nasionalisme reaktif. Malaysia mengklaim bahwa batik adalah miliknya, dan kita marah, lalu beramai-ramai memakai batik setiap hari Jumat. Selama ini kita ke mana saja? Bangkitnya nasionalisme di Twitter, yang demikian mengharukan, adalah sebuah pertunjukan nasionalisme melodramatik yang sebenarnya masih bersifat permukaan. Ini bukan kritik, melainkan justru kesadaran untuk tak terlena, karena sedikit-banyak saya adalah bagian darinya, ada di dalamnya, ikut larut dalam gegap-gempita dadakan yang penuh emosi itu.

Nasionalisme tahu-tempe kita, adalah bagian dari apa yang dikonsepsikan oleh Michael Billig sebagai nasionalisme banal. Meskipun muncul secara “lembut” di permukaan, namun nasionalisme banal bisa dimobilisasi menjadi sebuah nasionalisme yang hiruk-pikuk. Gerakan #Indonesiaunite berhasil membuat para pengguna Twitter di Indonesia beramai-ramai mengubah foto profil mereka dengan bendera merah putih sebagai background, atau sebagai “insert” kecil di sudut bawah. Bendera merah-putih yang biasanya hanya kita ingat pada 17 Agustus, tiba-tiba menjadi atribut yang bergengsi, seksi, memberi kebanggaan. Makan tahu-tempe tiba-tiba menjadi bagian dari apa yang disebut Stuart Hall sebagai “narrative of nation, yakni serangkain cerita, citra, lanskap, skenario, peristiwa historis, simbol dan ritual yang merepresentasikan pengalaman bersama yang memberi makna bagi bangsa. Indonesia sebagai sebuah “imagine community” mendapatkan konstruksi baru dan peran perekonstruksi itu bukan lagi media massa (seperti pernah dirumuskan oleh Ben Anderson) melainkan media sosial seperti Twitter.
Lalu, apa yang salah dengan nasionalisme banal? Tidak ada. Justru ada saatnya nasionalisme banal seperti itu memang kita perlukan, setidaknya sebagai pijakan untuk menuju nasionalisme yang “tulus”, bukan nasionalisme “bara api” yang hanya menyala kalau dikipasi. Sebab, bagaimana pun, nasionalisme itu bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit, melainkan konstruk yang (mesti) dibangun dan direproduksi terus-menerus. Nasionalisme adalah proses yang tak henti memperbaruhi diri, yang berlangsung di ruang-ruang social, dari keluarga, sekolah, pemerintah, lembaga agama, dan media massa. Gerakan #Indonesiaunite di Twitter adalah bagian dari proses itu, yang secara masif telah mengingatkan kita bahwa kita bagian dari apa yang disebut “nation”, yakni Indonesia.
Mudah-mudahan, bersamaan dengan itu, kita juga mulai menyadari bahwa ketela, singkong, ganyong, uwi, kimpul, gembili, suweg, dan berbagai umbi-umbian khas nusantara lainnya, yang selama ini hanya kita jadikan bahan tertawaan, ikon sebuah masyarakat udik, desa dan kuno, sebenarnya adalah potensi asli bangsa ini. Mudah-mudahan setelah ini kita ingat lagi bahwa kita punya kebudayaan wayang orang. Mudah-mudahan kita ingat, bahwa kita punya Bahasa Indonesia, yang terbukti telah menyatukan berbagai suku yang berbeda-beda, namun selama ini kita sepelekan, kita rusak dengan sembrono dan tidak pernah kita pedulikan bagaimana cara penggunaannya dengan baik –melainkan justru kita rongrong terus-menerus keindahannya dengan mencampur-campurkannya dengan bahasa asing, kita singkat-singkat dengan sesat dan kita pleset-plesetkan menjadi bahasa gaul.
Awalnya saya berpikir dan berharap begitu. Namun, melihat perkembangannya, saya jadi ragu dengan gerakan #Indonesiaunite. Di Twitter, gerakan ini terus bergulir, dengan pernyataan-pernyataan 140 karakter yang terasa mulai berlebihan, kehilangan spirit awalnya, kurang spontan, agak dibuat-buat, berisik, lips service, sloganistik, genit, dan nyaris kehilangan makna. Sebagian dari pegiat gerakan ini mulai membuat pernyataan-pertanyaan seperti ini: Mending ke Singaparna daripada ke Singapura. Mending mencintai Bandung ketimbang Paris. Lebih berarti ke Bali daripada beli sepatu Bally. Mendingan makan pecel lele dari pada beli produk Elle. Mending makan mie ayam daripada spagetti. Mendingan kuliah di ITB dari pada di MIT. Mendingan lagu “Januari”-nya Glenn Fredly daripada “If ur not the one”-nya Daniel Beddingfield. Dan seterusnya senada dengan itu, sambung-menyambung, bersautan-sautan.
Kalau sudah begini ceritanya, ini sudah bukan nasionalisme banal lagi, melainkan nasionalisme semu. Atau bahkan jangan-jangan ini bukan nasionalisme! Jangan-jangan saya terlalu serius menanggapi #Indonesiaunite yang sebenarnya hanyalah lucu-lucuan dari sekelompok orang yang sedang asik sendiri?
Lagian, kan, mereka yang lebih suka (dan karena memang mampu) berlibur ke luar negeri dan lebih menyukai produk-produk asing itu adalah golongan masyarakat dari kelas sosial yang sama dengan kaum melek internet pengguna Blackberry yang terus-menerus sibuk meng-update status-nya di Twitter itu? Dan, itu artinya kan mereka sendiri! Mending blanggreng ketimbang kentang goreng? Yakin? Bokis, ah!
Bagaimanapun, #Indonesiaunite telah berhasil “mengundang” kembali Indonesia ke dalam diri kita. Pernahkah Anda melihat bendera merah-putih yang berkibar sepanjang hari sepanjang tahun di halaman gedung-gedung pemerintah? Selama ini Indonesia adalah bendera-merah putih itu: tinggi, kesepian, tak diperhatikan, terlupakan. Andai saja semangat awal gerakan #Indonesiaunite ini bisa terus dipertahankan, tak ada alasan bagi kita untuk pesimis bahwa Indonesia akan senantiasa dan terus-menerus menjadi bagian dari keseharian kita. Semoga.
Ditulis oleh Mumu Aloha, dipersembahkan untuk Sudutpandang.com
Well, good luck, Sir… Nice to hear that.. Hope you will be more successful in the...
feed burner sdh dicentang pak
di tunggu artikel kerennya..!
wah sampai ada yang berbentuk surat
tapi yang modusnya seperti ini pasti sudah ada langkah `mempelajari...
Mantaf Bang….
July 27th, 2009 at 10:14 pm
Bahasa bagian dari sosial kita untuk ber sosialisasi, beruba???. karena ada sosialisasi. saya rasa itu adalah kebutuhan sosial itu sendiri. BOM, adalah mungkin salah satu efek dari sosialisasi. maaf bila komentar saya berlebihan
July 27th, 2009 at 10:16 pm
Yuk, mari sama-sama kita gali potensi asli bangsa ini.
July 27th, 2009 at 10:19 pm
1. Kemana saja kita selama ini kok masih pakai Google.Com untuk searching, pakai Gondez.Com Dong!
2. Kemana saja kita selama ini kok masih nongkrongi Facebook melulu, sekali-kali nongkrong di Bambuzz.Com dong!
Mungkin itu yang ada di benak saya pak, tapi sayangnya memang masyarakat kita sudah jauh dari semangat nasionalisme.
Katanya kalau nga bikinan luar yang nga afdol lah! nga keren lah! Gengsi lah! Ndeso lah!
Coba boleh di survei, masyarakat kita yang sudah pernah visit ke Singapura hampir 90% belum pernah ke Danau Toba, atau Pantai Senggigi, atau Pulau Komodo, dll.
karena menurut orang kita nga keren kalau update statusnya di Facebook “Sedang nyantai di pulau Komodo” mereka lebih comfort kalau update status dengan “Enjoy Coffee in the Road Orchad”
tapi ini tidak serta merta kesalahan masyarakat kita menurut saya, sejarah pemerintah kita juga berperan penting dengan nasionalisme, upsss.. tapi udah ah pak nga mau ngomongin politik.
Nice Post!
July 27th, 2009 at 10:48 pm
Ketika mulai ramai teman-teman di Twitter mengajak untuk mendukung #indonesiaunite (support #indonesiaunite, fight against terrorism), jujur saya (yang lugu) tidak mengerti bagaimana menyampaikan pesan-pesan seperti “kami tidak takut” bisa menghentikan teroris-teroris itu menghentikan serangannya. Ketika #indonesiaunite muncul di salah satu stasiun tv, saya baru sadar betapa ‘besar’nya, #indonesiaunite ini. #indonesiaunite berhasil mengembalikan nasionalisme menjadi sebuah isu hangat (apakah para teroris itu akan berhenti melancarkan aksinya?). Saya berharap nasionalisme ini bukan hanya sebuah ‘trend’. Ingat ketika beberapa tahun lalu, semua orang pakai baju batik hampir setiap hari? Sekarang pemakai batik ya tinggal mereka yang memang benar-benar cinta batik.
Saya cinta Indonesia, semoga nasionalisme memang benar-benar ada di hati rakyat Indonesia, setiap saat, bukan hanya ketika ada terapi syok (shock itu bahasa Indonesia-nya yang benar apa? ternyata kemampuan bahasa Indonesia saya juga masih kurang hehe) seperti sekarang ini.
July 27th, 2009 at 10:57 pm
mendingan Aura Kasih daripada Megan Fox.. halahhh.. ;D
July 27th, 2009 at 11:27 pm
Marah, generasi gue disebut BlackBerry generation. Tersinggung BERAAAAAATT!!
July 27th, 2009 at 11:31 pm
Mungkin kita nggak butuh deklarasi atau gerakan atau konsep, atau apapun itu. Kesannya jadi hanya jargon dan pemasaran belaka.
Mulai dari diri sendiri dulu, keluarga sendiri. Dan ingat, harus jujur. Nggak perlu mengingkari kalau kita takut, atau kita lebih suka produk luar. Mulai dengan menilai diri sendiri, mengakui, baru dari situ diperbaiki. Jujur.
July 27th, 2009 at 11:35 pm
Wow nice post!!
merah putih memang sedang berkibar di twitter.
dan mudah-mudahan ini bukan bersifat reaktif aja.
Tapi at least ada sikap dan aksi untuk menanggapi pelecehan terhadap harga diri bangsa, dari pada kita tidak bersikap sama sekali.
*ijin untuk saya share di blog saya juga ya..
July 27th, 2009 at 11:45 pm
menurut gwe, gerakan #indonesiaunite sangat bagus. setidaknya menyentuh kita sebagai org Indonesia yg gak pernah sadar kalo kita adalah bagian dari Indonesia itu sendiri.
seneng dengan product import, bangga pake branded ternama dari paris or milan. itu menurut gwe adalah pilihan mereka. skrg, gak usah saling ngejelekin. tapi,berkaca dulu dengan diri kita sendiri. apa sih yg sudah kita buat untuk negara ini? dan sadarkah kita bahwa kita adalah bagian dari negara ini?
gwe berharap, dengan twiters2 yg heboh ikutan #indonesiaunite gak cuma anget2 tai ayam doang. semangat skrg, heboh skrg.. tapi ntar kendor…
hayuuu kita support terus lah negara ini. jangan tunggu di boom baru rasa nasionalis keluar… ^^
July 27th, 2009 at 11:58 pm
Humm… Setuju… Saya yang sesaat setelah tragedi pengeboman ikut larut dengan pergerakan jempol #indonesiaunite skrg mulai jarang memasukkan hashtag itu… Bukan karena lelah, bosan atau tidak setuju dengan pergerakan itu… Saya setuju, mendukung dan siap untuk ikut berperan serta… Dengan mengurangi ‘gerakan online’ dan beralih ke gerakan offline…
Apalagi untuk urusan lebih baik ketemu Mpok Nori daripada Angelina Jolie.. Halaakh… Terlalu berlebihan… Sekedar kata2, PIN, Kaos dan benda-benda lainnya saya rasa belum cukup membantu, tetapi lumayan untuk awal mengajak masyarakat bergerak dan menyatukan kekuatan untuk Indonesia tercinta… Ketika sebuah lagu di download bebas tanpa biaya, apa untungnya bagi negara? Selusin kaos dibagikan kepada yang sebenarnya mampu membelinya, apa baiknya?
Semangat yang berlebihan dengan pemikiran yang kurang panjang…
Mari.. Satukan kekuatan, gabungkan pikiran dan berjalan beriringan, memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara…
Bersatu Indonesiaku…
#indonesiaunite
July 28th, 2009 at 12:00 am
Ok, ini cerita pribadi gw, mungkin akan terdengar agak angkuh, gw nggak peduli. Sejak kecil gw selalu bangga dengan Indonesia. Gw besar di Lombok, NTB, di mana masa kecil gw dihabiskan cukup banyak bertemu bule-bule yang mengagumi keindahan pulau tersebut. Kini setelah tinggal di Bandung, Lombok tak pernah lepas dari promosi gw kepada siapapun, gw juga mempromosikan pulau-pulau lain di Indonesia yg pernah gw kunjungi. Kecintaan gw terhadap Indonesia bertambah setelah mengenal keanekaragaman kebudayaan yang kita miliki. Kecintaan itu semakin dan semakin bertambah lagi ketika gw mengetahui dan mempelajari sejarah berdirinya bangsa ini.
Satu minggu sebelum tragedi bom Ritz Carlton/J.W. Marriot terjadi, rasa cinta gw kepada bangsa ini tiba-tiba muncul dalam bentuk yang gw sendiri nggak sangka (spontan). Gw menegur sambil sedikit memukul dua orang pemuda yang duduk di belakang gw karena mereka tidak berdiri saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan pada pembukaan Semi Final Indonesian Basketball League di Bandung. Gw sendiri heran, mengapa gw berani melakukan itu. Syukurnya, dua orang itu minta maaf dan langsung ikut berdiri..
July 28th, 2009 at 12:01 am
Menanggapi nasionalisme semu melalui ungkapan ‘lawan tanding’ diatas, menurut saya itulah intermezzo dalam sebuah gerakan yang masiv…
Walaupun terlihat seperti ‘dibuat buat’ tapi ada makna khusus yang bisa diambil dengan ungkapan2 seperti itu, yaitu SEMANGAT…
…
Terlepas dari semu atau tidaknya, akhirnya kita kita lah yang menentukan kearah manakah tujuan dari #indonesiaunite ini
Jujur saya juga blm prnh memposting seperti itu, krn ga jago pantun
…
Tapi, biarkan saja semangat mereka tumpah seperti apa adanya, krn dibalik intermezzo itu, tersimpan keteguhan nasionalisme yang murni…
Saya yakin itu
July 28th, 2009 at 12:28 am
saya sendiri kurang paham, kira kira seperti apa bentuk bangun nasionalisme dan keindonesiaan untuk saat ini
terimakasih untuk wacana yang anda tawarkan
July 28th, 2009 at 1:24 am
hemm,,postingan yang ..bener..bener meyentuh .. darah saya sbg orang Indinesia.BOM D JW mariot..menyadarkan bagamana Euforia bangsa yg a punya hajatan besar dengan datangnya Man United di Jakarta..
Indonesia All star Vs Man United…tiketnya sold out… untuk Wayne rooney Dkk atau Boas dkk mereka datang ke Senayan..???
BOM itu seolah menanyakan..Dimana Nasionalisme kamu…???.hay,,Indonesia
Bravo sepak bola Indonesia Indonesia ..!!!
July 28th, 2009 at 1:26 am
Awalnya saya menganggap gerakan #indonesiaunite berlebih-lebihan dalam menghadapi terorisme, kata2 “kami tidak takut” pun saya anggap kurang penting karena saya pikir seperti apapun kita mengucapkan “Kami tidak takut” toh mereka akan tetap melancarkan aksinya, ato seolah olah “Yang Penting meledak”. Saya mulai setuju ketika teman2 twitter mulai mempromosikan hal2 yg baik dari Indonesia ketimbang mengucapkan “Kami tidak takut” yg cenderung berfokus pada hal negatif. btw, #indonesiaunite d twtrpda kmana yah?
July 28th, 2009 at 1:42 am
Emang kalo dipikir-pikir bener juga ya… Gerakan di twitter ini lebih kerasanya buat mereka-mereka yang nenteng BB atau iPhone dan selalu online.
Buat gw yang ke warnet 3-4 kali seminggu dan ngga bisa selalu update twitter kayaknya gerakan ini setengah-setengah gunanya.
July 28th, 2009 at 6:01 am
seperti nya hanya selogan saja,
bangga menjadi orang indonesia
tetapi semua peralatan buatan orang lain.
kita hanya dijadikan pasar bagi orang lain.
July 28th, 2009 at 4:00 pm
Itu akibatnya kalau cuma mengandalkan semangat dan ikut-ikutan karena takut dibilang ini dan itu. Sebenarya nggak masalah asal jangan cuma sampai di situ. Maklum, ada beberapa kawan yang menyebut masyarakat cyber adalah kaum jari (hanya bisa berkoar melalui ketikan dan bukan aksi nyata).
July 30th, 2009 at 5:19 am
ayo dong pemerintah dukung habis-habisan ide indonesiaunite ini, mumpung momentnya tepat…
jangan sampai hanya sebatas ramai di online …
(* eh pemerintah masih sibuk ding…
July 30th, 2009 at 10:40 am
Kalau dilihat dari setidaknya .. yeah memang setidaknya menunjukan kalau masyarakat Indonesia masih mempunyai nasionalisme. Hanya jangan sampai keberanian kita / pun semangat IndonesiaUnite hanya sebatas kata kata dan sebatas ‘mengutuk’
Kalau seperti itu, apa mau kita sbgg bangsa besar hanya sebagai bangsa tukang ngutuk
August 3rd, 2009 at 5:09 am
Sebuah tulisan yang sangat menggetarkan.
Kalau saja tulisan sejenis ini yang mendominasi lansekap dunia online kita (via blog, facebook note, dll)…negeri ini bisa terus melesat menjulang.
August 6th, 2009 at 9:07 pm
Jangan sampai hanya uforia sesaat atau sekedar ikut-ikutan saja….jangan menjadi (JASMERAH)
August 7th, 2009 at 5:08 am
hei nice posting,saya harap Indonesia bangkit lagi melalui generasi mudanya yang cinta akan bangsa dan negara Indonesia…
August 18th, 2009 at 4:46 am
Segala hali baiknya dimulai dari diri kita sendiri dulu. Tapi kita juga harus ngingetin para pebisnis dan petinggi negeri ini untuk wajib pakai produk dalam negri, sebagai contoh: puluhan liter susu di Batu Malang terbuang sia-sia di kali karena pabrik susu di negeri ini lebih suka bahan baku impor. Itu baru satu contoh, masih banyak puluhan bahkan ratusan contoh lainnya.
August 18th, 2009 at 7:26 pm
Halo Pak Nukman, tulisan yang amat menarik. Bravo.
Menurut saya, sejatinya gerakan Indonesia Unite itu bagus. Hanya saja belakangan terkesan sekadar hura-hura, sekadar “look, mom, I’m on tv” alias liat-gue-dong-ada-di-Facebook/Twitter-dan-berteriak-bangga-menjadi-orang-Indonesia, berhenti di koridor “pseudo superstar” doang. Seharusnya gerakan ini digiring lebih tajam-tepat guna seperti “Bebaskan Prita Mulyasari” sebab isu yang hendak di-counter adalah isu terorisme (baca: sangat serius, amat berbahaya). Indonesia Unite kok berhenti sedangkal “memerahputihkan Facebook”, segitu saja.
Saya sempat juga menulis tentang ini dan menjadi perdebatan hangat pula di sini:
http://aparatmati.multiply.com/journal/item/119/indonesiaunite_kami_tidak_takut._well_you_should.
*Maaf, Pak Nukman, bukan saya bermaksud apa-apa nge-link tulisan saya, saya pikir jika saya copy-paste seluruh perdebatan tersebut, kolom comment anda akan jadi penuh banget
October 31st, 2009 at 5:09 am
umm,,, apa yah… saya sih ga tau saya ini cinta tidak dengan negara Indonesia. saya, binun merumuskan kata cinta.. jadi, nasionalisme itu masi sesuatu yang absur buat saya..
tapi saya turut memperhatikan ini… (menghela napas, tanda capek sendiri.. mbuh napa..)
April 20th, 2010 at 6:09 am
setelah saya baca perlahan-lahan saya masih bingung dengan maksudnya 3 paragraf pembuka diatas…apa hubungannya mbak desi anwar nulis yogurt - madu n diakhiri dengan kata “indonesia unite”