Posted on July 13, 2009
Itu pertanyaan yang sering saya dapatkan setiap ketemu mereka yang ingin jadi pengusaha. Pertanyaan itu kian deras mengalir dua tahun belakangan ini, tanpa saya ketahui apa penyebabnya. Bisa jadi, pengusaha kini menjadi salah satu cita-cita yang mulai banyak dilirik. Sangat berbeda dengan jaman saya masih kecil dulu, kebanyakan orang tua masih mendorong anaknnya menjadi pegawai ketimbang juragan, akibatnya mindset anaknya pun terpola untuk menjadi karyawan.
Saya kesulitan menjawab pertanyaan itu secara akademis. Saya akan mencoba menjawab berdasarkan pengalaman saya sendiri, pengusaha-pengusaha muda yang saya kenal langsung, maupun dari kisah para pengusaha sukses.

kredit gambar: socksoff.co.uk
Pertama: Mulailah dari Satu.
Beberapa kali saya bertemu dengan calon pengusaha yang begitu bernafsu membuka beberapa bisnis sekaligus. Idenya terlalu banyak. Satu ide bisnis belum terwujud, sudah muncul ide lain. Ide lain belum dijalankan dengan benar, muncul lagi gagasan lainnya. Begitu seterusnya. Akibatnya, tidak ada satu pun ide bisnis yang dapat dieksekusi dengan baik. Semuanya terlantar, dan layu sebelum berkembang.
Enam tahun lalu saya hanya punya satu ide bisnis, ingin membangun perusahaan konsultan online terpandang di Indonesia. Tidak ada ide bisnis lain yang terlintas saat ini. Kalau pun ada yang muncul di awal perjalanan, saya bunuh sendiri atau saya tunda. Hasilnya, pada tahun keempat Virtual Consulting diakui sebagai konsultan online terpandang yang melayani perusahaan-perusahaan besar nasional maupun multinasional. Perusahaan juga memiliki fondasi yang kuat untuk berkembang di masa depan.
Hampir semua pengusaha menengah ke bawah yang saya kenal pun memiliki catatan yang sama. Roni Yuzirman misalnya, hanya membangun bisnis busana muslim melalui Manet Vision. Hampir semua pengusaha Tangan Di Atas yang berhasil bisa dipastikan hanya memulai dan fokus pada satu bisnis.
Jangan berkaca kepada anak-anak konglomerat yang uangnya banyak dan jaringan bisnisnya luar biasa. Sejak lahir mereka sudah memiliki aset yang tidak dipunyai oleh calon-calon pengusaha lain yang relatif terbatas modal dan jaringannya. Saya dan juga pengusaha UKM lainnya, apa boleh buat, harus berjibaku, mencurahkan 100 persen tenaga dan pikiran untuk mensukseskan bisnis kita sendiri tanpa mengandalkan modal kekayaan dan jaringan yang sudah dibangun orang tua. Oleh karena itu, pilihan paling masuk akal untuk memulai adalah fokus pada satu bisnis.
Kedua, Risetlah Terlebih Dahulu.
Jangan termakan oleh semangat para pengusaha senior yang mengatakan: kalau mau bisnis ya mulai segera, nekat saja! Jangan. Di masa lalu, semangat semacam itu masih sah mengingat kompetisi bisnis masih relatif rendah. Saat ini kompetisi kian keras karena pemain semakin banyak. Untuk memperkecil risiko, lakukanlah riset terlebih dulu, seberapa besar potensi kita untuk berhasil dengan memperhatikan berbagai faktor seperti peluang pasar, dukungan sumber daya manusia, teknologi, dan modal.
Saya pun dulu melakukan riset kecil sebelum memulai. Saya membuka jasa konsultasi online untuk korporat tepat pada saat hancurnya bisnis dotcom dan hilangnya kepercayaan para investor dan perusahaan terhadap bisnis Internet pada tahun 2003. Saya tahu betul, banyak investor yang gagal di dunia maya, dan banyak perusahaan gagal mengadopsi Internet, sehingga membutuhkan konsultan yang dapat mengarahkan dan mendampinginya.
Ketiga, Kelilingi Diri Dengan Orang-orang Hebat.
Saya pernah mendengan kisah Mochtar Riyadi langsung dari mulut sang konglomerat yang membangun Lippo Group tersebut di sebuah acara. Ia menggunakan strategi, yang ia sebut sebagai startegi menunggang kuda. Kalau kita belum hebat, carilah kuda hebat untuk tunggangan. Sebelum sukses membangun kerajaan bisnis Lippo, Mochtar Riyadi terlebih dulu banting tulang membesarkan Bank BCA dengan dukungan Liem Sioe Liong, konglomerat nomor satu Indonesia di jaman Orde Baru. Dengan mendapat dukungan orang sekaliber itu, Bank BCA meraksasa. Ketika Mochtar Riady memutuskan membangun konglomerasi sendiri melalui Lippo Group, ia sudah tidak butuh kuda lagi, dan bisa membangun kerajaan bisnisnya merajalela dalam waktu cepat.
Ketika membangun Virtual Consulting, saya pun berusaha mendapatkan dukungan dari orang yang saya segani, sebagai pendorong dan penunjuk arah ketika saya kehilangan orientasi.
Selain itu, saya membangun tim yang saya anggap hebat, baik dari segi ilmu dan pengalamannya mupun dari daya tempurnya. Ada Meisia Chandra yang membantu melahirkan PortalHR.com yang kini menjadi Executive Director portal manajemen sumber daya manusia pertama di Indonesia tersebut. Ada Mohamad Rizza yang menguasai ilmu dan bisnis Direct Marketing. Ada Erick Wellem yang ahli di bidang IT. Ada Imam Suyono yang kemudian bergabung, bersama-sama membangun portal ekonomi bisnis syariah pertama di Indonesia: Niriah.com, dan melahirkan bisnis online lainnya. Ada Iim Fahima dan Adhitya yang membangun perusahaan konsultan online marketing communications, Virus Communications, yang kini sudah bergabung ke Virtual Consulting. Ada Valent Mustamin, sang Wordpress antusiast. Masih ada lain lainnya yang tidak bisa saya sebut satu per satu.
Dengan tiga resep dasar itulah saya memulai bisnis enam tahun lalu. Resep pertama dan kedua saya lakukan sekaligus. Sedangkan resep ketiga dilakukan secara bertahap. Karena keterbatasan modal, saya mulai sendiri, bekerja sendiri, kemudian membangun sebuah tim. Seiring dengan itu, terus menerus berusaha mencari dan bertemu dengan orang-orang yang hebat yang satu visi dan satu jiwa untuk memperkokoh jalannya perusahaan.
Masih ada resep-resep lain. Tapi saya rasa tiga yang saya sebut tadi, berdasarkan pengalaman pribadi, amat penting untuk memulai sebuah bisnis.
Wowww, nggak nyangka masih banyak aja yg salah kaprah soal homeschooling. Padahal kalo mau googling...
FB merupakan sarana promosi termurah dan terukur untuk produk-produk UKM seperti http://taskertas.com dengan...
pilih sekolah formal, setuju dengan comment di atas..
orang yang bijaksana mengerti apa yang akan dilakukan dan akibatnya nanti.
saya juga termasuk korban facebook, akun saya ada yang ngebajak dan bikin status yang nggak sopan...
Facebook di Tangan Para Pendekar
Jejaring Sosial Bukan Untuk Anak-anak!
Sekolah Biasa atau Home Schooling?
Twitter Luna Maya, Jarak Antara Teks dan Konteks
Facebook dan Twitter Menjadi Pencatat Amal Baik dan Buruk
Jidoushi, Tadoushi, dan Cinta itu Kata Kerja
Bahasa Indonesia, Bahasa Kedua
July 13th, 2009 at 11:12 pm
manteb banged nih tulisan…
makasi pak
oiya… skalian nanya dah…
skrg saya udah punya satu bisnis di bidang web, passion saya disini udah besar banget. Saya pengin ini jadi bisnis utama syaa. Tapi, puteran uang disini skrg masih lambat, sementara saya butuh uang dengan puteran cpet. utk itu, saya kpikiran ngjalanin bisnis lain yg kecil2an yg puterannya cepet sebagai backup. itu termasuk gak fokus bukan?
July 13th, 2009 at 11:19 pm
Kalau boleh menambahkan:
Keempat: Orientasi Hasil Yang Proporsional
Peluang profit merupakan salah satu motivasi terbesar bagi pengusaha baru. Namun sebaiknya tidak selalu berkutat pada hasil. Karena sebagai manusia kita cuma bisa berusaha dan Tuhanlah yang menentukan.
Dengan begitu, kita perlu terlalu pusing dengan bagaimana nantinya, karena itu bukanlah departemen kita.
Departemen kita adalah “berusaha” sedangkan “Hasil” adalah departemen Tuhan di mana Dia punya kekuasaan mutlak di situ.
Kelima: Siap untuk merubah gaya hidup
Memutuskan untuk jadi pengusaha secara otomatis akan menuntut kita untuk mau merubah gaya hidup. Misalnya, yang sebelumnya tidak perlu pusing soal pendapatan (karena ada gaji), sekarang berubah menjadi, kalau tidak usaha ya tidak ada pemasukan.
Selain itu juga pengusaha baru akan dituntut untuk mau mengorbankan berbagai kemewahan hidup supaya dana yang ada bisa dialokasikan ke bisnisnya. Misalnya, menahan untuk tidak membeli hal-hal yang biasanya digunakan untuk kesenangan semata.
Keenam: Ikhlas terhadap Rejeki
Sebagai pengusaha kita sebaiknya bisa ikhlas terhadap rejeki. Kalau kita dapat bersyukur kalau belum bersabar. Dengan demikian kita akan terlatih untuk positive thinking (optimis). Positive thinking merupakan aset yang sangat mahal karena dia akan membuka pikiran dan mata kita kepada peluang dan harapan yang mungkin tidak terlihat sebelumnya.
July 13th, 2009 at 11:45 pm
Terima kasih ilmunya pak… saya jadi “tersinggung” nih.. maklum selama ini saya gak fokus dalam bisnis.
July 13th, 2009 at 11:52 pm
Hehe seperti biasa, postingan pak Nukman emang bagus dan inspiratif, saya Bookmark ya pak
July 14th, 2009 at 12:10 am
inspiratif !!!…thanks pak !!
July 14th, 2009 at 12:23 am
wahhh… inspiratif +1
boleh save as, pak?
*dan juga prakteknya, tidak cuma dihapalkan*
July 14th, 2009 at 7:54 am
wah inspiratif sekali pak nukman…mm selama ini kelemahan saya adalah..saya kurang fokus pada satu bidang..jadi mungkin karena itu tidak bisa berkembang..dg membaca tulisan pak nukman ini..saya jadi dapet pencerahan nih…thanks
July 14th, 2009 at 11:15 am
Luar biasa Pak Nukman. Seperti di tapuki membaca artikel ini.
Nuwun
July 14th, 2009 at 11:20 am
Top MArkotop !!
July 15th, 2009 at 1:01 am
yah mas dulu aku juga berfikiran seperti itu….tapi lama kelamaan sadar juga….
July 15th, 2009 at 2:08 am
kebanyakan bagi yang ingin terjun ke dunia bisnis
hal yang cukup sulit adalah memulai.
baca literatur sudah,
ikut seminar & pelatihan sudah,
giliran ingin memulai…?
July 15th, 2009 at 4:21 am
Salam Kenal,
Pak Nukman, senang sekali saya bisa menemukan situs yang penuh aura profesional ini, baik dari isi penulisan dan cara penyampaian.
Mohon izin untuk menimba ilmunya.
Hormat saya…
July 16th, 2009 at 5:19 am
Minta izin untuk copy ke Blog..pak
Terima Kasih
July 16th, 2009 at 5:25 am
[...] Ditulis oleh mbramantya di/pada Juli 16, 2009 http://sudutpandang.com/2009/07/bagaimana-memulai-sebuah-bisnis/ [...]
July 16th, 2009 at 7:39 am
Klo boleh tahu
usaha mas konsultasi online itu melayani jasa apa aja…
Apakah bisnis online yg skrg udah menyebar begitu luas….
Atau jasa web untuk perusahaan…
July 18th, 2009 at 6:43 am
Benar Pak Nukman, dulu bisnis saya juga tidak fokus. Sampai akhirnya saya fokus dengan satu bidang, walaupun keluarga dan teman dekat banyak yang pesimis dengan pilihan bisnis saya ketika itu. Karena bidang yang saya geluti bergerak dibidang produksi software dan distribusinya. Kita tahu sendiri, di Indonesia ini angka pembajakan software sangat tinggi sekali.
Namun Alhamdulillah keyakinan saya akan pilihan tersebut masih terbuki hingga saat ini. Dalam 4 tahun terakhir bisnis itu yang masih menjadi pintu rejeki saya dan para karyawan. Mudah-mudahan setiap tahun selalu naik pertumbuhannya.
Kalau boleh dibagi, bagaimana cara Pak Nukman agar orang-orang hebat itu bisa loyal dengan kita? Kalau memberikan kompensasi gaji yang tinggi, tentu belum bisa kita lakukan ketika modal kita terbatas. Saya tunggu responnya. Terima kasih, semoga sukses selalu.
July 19th, 2009 at 7:05 pm
Dunia entrepreneur memang jagat yang sungguh indah (tentu kalau bisnis kita profit ya…hehehe).
Financial freedom; autonomy; and we create our own destiny.
July 21st, 2009 at 8:52 am
#16 mas IGN:
kesamaan visilah yang sebenarnya membuat orang hebat bisa loyal. Kompensasi gaji memang penting. Tapi kalau itu saja akan sangat mudah untuk pindah ke tempat lain hanya dengan perbedaan benefit yang tipis.
kalau visinya sudah sama, dan gajinya bagus, tapi masih kurang kuat untuk mengikat mereka, cara paling jitu adalah memberi mereka kesempatan yang lebih luas untuk memiliki share perusahaan melalui mekanisme stock options atau dibuatkan wadah baru untuk menyalurkan jiwa intrapreneurship mereka. Itu yang saya lakukan selama ini.
#17. mas Yodhia:
profit itu hasil, dan itulah yang diinginkan oleh pengusaha mana pun, tapi proses menuju profit juga perjalanan yang tidak kalah indahnya.
July 24th, 2009 at 12:19 am
Point 1 dan 2 sudah saya jalani, dan lumayan sudah terlihat hasilnya, tinggal point ke 3 yang masih belum, karena keterbatasan dan ketakutan
July 25th, 2009 at 1:22 am
[...] juga tulisan mas Nukman Luthfie tentang bagaimana-memulai-sebuah-bisnis, dapat ditampilkan menjadi sebagai berikut [...]
July 25th, 2009 at 10:17 am
Bagaimana ya biar orang kaliber mau berdekatan dengan kita yang sdg mau belajar?????
July 26th, 2009 at 9:34 pm
Wah idenya mencerahkan.
Beberapa waktu yang lalu saya dapat informasi kalau ingin menjadi pengusaha wajib “nyemplung” dan menyelami di lapangan tapi artikel ini memberikan sundut pandang lain.
Naik kuda itu merupakan metapor yang bangus …
July 27th, 2009 at 11:49 am
Posting bagus, Aku nambahin point ya dan yang ke-4 : Bagi-bagi ilmu alias nularin ilmu biar newbie2 pada sukses juga
July 29th, 2009 at 9:47 am
Hehehe… kayak isinya bukuku “Start Up Business Wizards” aja Mas Nukman..
Selamat yach atas Seminarnya di Jakarta Akhir Juli 2009 ini..
July 30th, 2009 at 10:46 am
Great tips pak Nukman ..
Sblum bisa menghasilkan dalam jumlah besar, bagaimana sebaiknya untuk dapat tetap bertahan hidup ???
August 1st, 2009 at 12:05 am
inspiratif dan sangat logic …
sukses pak.
August 3rd, 2009 at 6:15 pm
betul banget pak Nukman,
kebetulan dulu saya terkena dilema itu, memilih diantara banyak ide.
Dan akhirnya tercetuslah ide tersebut. Alhamdulillah sudah jalan, soal nanti tambah jenis produk? kita lihat saja nanti :)..
sip sip
August 5th, 2009 at 1:51 pm
kalau saya malah kebalikannya… bukan malah susah jadi pengusaha… tapi kalau saya susah mencari pegawai. sejak saya menjadi pengusaha meski UKM saya sangat susah cari pegawai yang loyal bahkan mereka saya kasih gaji yang lumayan tinggi. sungguh dilema hidup ini yang lain susah jadi pengusaha ehhhh … yang satunya susah cari pegawai…. ada yang bisa bantu
August 11th, 2009 at 2:14 am
Pak Nukman Yth :
Saya seorang karyawan perusahaan dan ingin memulai suatu usaha yang akan saya geluti langsung karena saya sudah menginginkan untuk tidak bekerja dengan orang lain lagi.Saya ingin bertanya : apakah sebaiknya kita menjalani suatu usaha yang benar-benar kita senangi atau pahami ataukah kita bisa memulai sesuatu yang berbeda dengan disinplin ilmu atau pengetahuan kita selama ini??
August 11th, 2009 at 7:29 am
sangat sangat inspiratif sekali
semoga berguna dan bisa menjadi motivasi buat saya yg akan memulai sebuah bisnis
August 11th, 2009 at 10:10 pm
bagus banget ,
August 13th, 2009 at 11:55 am
Wah hebat ini bisa jd bahan bacaan yg inspiratif dan memang memulai bisnis harus fokus ya pak? jangan setengah2 harus teliti, matur nuwun.
August 13th, 2009 at 12:10 pm
hebat !! ulas lagi artikel yang lain ya pak
August 14th, 2009 at 12:24 am
Terima Kasih banyak, sangat berguna!
August 17th, 2009 at 9:13 am
thx abis baca wah harus evaluasi nih. giman biar fokus sementara lihat kebutuhan masyarakat macam-macam peluang apa yang hrs ane fokusin ye? sangat ok punya. ane mohon petunjuk bagi temen2 yang dah ato mo sukses biar dikelilingi orang2 semangat meraih surganya dunia akhirat. ditunggu
September 1st, 2009 at 5:04 pm
Mantab
September 14th, 2009 at 6:16 pm
Poin pertama msh kuat godaannya bagi saya. Ide2 bagus bermunculan tanpa bisa dicegah. Sy mulai mencoba utk “menginfakkan” ide2 itu berikut aspek2 teknis yg terpikirkan ke orang lain.
Yg menarik di poin ketiga, saya sering menjumpai pada entrepreneur maupun socialpreneur dan akhirnya menyimpulkan bahwa orang2 hebat berkerumun di sekitar ide hebat. Jd selama kita punya ide (bisnis) yg hebat jgn khawatir mengembangkannya meskipun kita belum menjadi orang hebat. (Lihatlah betapa banyak orang hebat mengerumuni blog ini
September 30th, 2009 at 4:36 am
Matur suwun atas tulisannya.
January 23rd, 2010 at 1:11 pm
yang penting dan utama ialah bagaimana bisnis tersebut menjadi satu dengan jiwa dan raga kita sehingga menjalankannya penuh dengan hasrat yang membara…