Posted on June 3, 2009
Rabu, 27 Mei 2009, pagi saya menghadap Dr. Mohammad Tasrif, dosen sistem dinamik untuk melakukan ujian akhir semester secara lisan. Di awal, beliau meminta saya menerangkan makalah yang saya ulas, An Attempt to Operationalize The Recommendation of The ‘Limits to Growth’ Study to Sustain The Future of Mankind oleh Surya Raj Acharya dan Khalid Saeed. Singkatnya, makalah tersebut berupaya mengupas kebijakan yang memungkinkan untuk menunjang kesinambungan (sustainability) bumi dalam jangka panjang.
Makalah tersebut merupakan upaya koreksi Khalid Saeed terhadap tulisan Meadows, Limits to Growth, yang memprediksikan kehancuran bumi akibat eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Saeed menganggap rekomendasi yang dibuat Meadows untuk mencegah kehancuran tidak dapat diterapkan dalam kondisi riil.
Setelah itu, beliau menanyakan apakah saya bisa menirukan model yang dibangun dalam makalah tersebut. Saya katakan sejujurnya, bahwa saya tidak sanggup menirukan persis simulasi model tersebut. Kemudian beliau menanyakan lagi, apakah saya membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelesaikan model tersebut, saya pun mengiyakan. Beliau kemudian kembali bertanya, jika saya diminta menyusun rekomendasi kebijakan baru di luar yang telah dibuat modelnya oleh Saeed, apakah saya sanggup melakukannya sendiri. Saya katakan bahwa saya tidak akan sanggup.
Pertanyaan selanjutnya cukup mengagetkan saya, karena apa yang beliau tanyakan tidak langsung terkait dengan makalah yang saya bahas.
“Menurut anda, mengapa wacana neoliberal hanya menjadi diskursus antara para ekonom?” Saya katakan bahwa selama ini muncul fenomena yang mengkotakkan isu neoliberal sebagai wacana ekonomi.
Beliau balik mengatakan kepada saya keheranannya, ”Bagaimana bisa ekonom mengatakan pentingnya neoliberal tanpa melihat sektor lain? Padahal inti neoliberal kan pengurangan peran pemerintah. Yang jadi pertanyaan, sektor mana yang akan dikurangi peranannya dan apakah sektor tersebut siap jika diserahkan ke non pemerintah. Apakah pertanyaan-pertanyaan ini bisa dijawab hanya oleh ekonom?”

Dalam berpikir sistem, kita dihadapkan pada sebuah paradigma bahwa antara satu dan lain hal di dunia ini selalu mempunyai hubungan, baik langsung maupun tidak langsung. Hubungan-hubungan inilah yang selalu diteliti, baik perilaku maupun strukturnya agar kita bisa merumuskan sebuah sistem yang baru.
Ekonomi sendiri merupakan sebuah sistem yang rumit. Ekonomi juga menyangkut masalah populasi, kualitas hidup, daya dukung lingkungan dan lain sebagainya. Untuk menjelaskan ekonomi, kita sesungguhnya membutuhkan dokter, para pakar lingkungan, insyinyur, pengusaha, bahkan pakar pertahanan.
Ironis, terkadang saya mendapati banyak yang mengagungkan pandangan ahli ekonomi dan merendahkan pandangan pihak lain. Ah, si anu kan tidak bergelar doktor ekonomi, si anu hanya pengusaha, si anu seorang teknolog, si anu cuma mantan jenderal, dan sebagai dan sebagainya. Apakah para ahli ekonomi memang memiliki keahlian yang memadai untuk menyelesaikan sebuah masalah ekonomi? Kalau benar, berarti yang kita butuhkan adalah sekolah jurusan ekonomi sebanyak-banyaknya, dan tidak perlu jurusan lain. Karena masalah ekonomi sendiri sebenarnya masalah mendasar dalam seluruh aspek kehidupan kita. Dan hanya satu tempat yang tidak memiliki masalah ekonomi, yaitu di Surga :-).

—————————————-
Ditulis oleh Jalu P. Priambodo, Direktur SAKLIK! Solution, Bandung, yang saat ini sedang mengikuti program S2, Magister Studi Pembangunan di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung.
Pandangan ini dipersembahkan khusus kepada Sudutpandang.com
Wowww, nggak nyangka masih banyak aja yg salah kaprah soal homeschooling. Padahal kalo mau googling...
FB merupakan sarana promosi termurah dan terukur untuk produk-produk UKM seperti http://taskertas.com dengan...
pilih sekolah formal, setuju dengan comment di atas..
orang yang bijaksana mengerti apa yang akan dilakukan dan akibatnya nanti.
saya juga termasuk korban facebook, akun saya ada yang ngebajak dan bikin status yang nggak sopan...
Facebook di Tangan Para Pendekar
Jejaring Sosial Bukan Untuk Anak-anak!
Sekolah Biasa atau Home Schooling?
Twitter Luna Maya, Jarak Antara Teks dan Konteks
Facebook dan Twitter Menjadi Pencatat Amal Baik dan Buruk
Jidoushi, Tadoushi, dan Cinta itu Kata Kerja
Bahasa Indonesia, Bahasa Kedua
June 3rd, 2009 at 4:09 am
Hmm.. komentar pertama saya, ternyata di ITB ada Magister Studi Pembangunan
Kalau di kampus Bulaksumur, tempatnya Pak Boed yang konon neolib itu mengajar, isu seperti ini malah jarang dibahas di kelas, maksimal cuma jadi bumbu saja di perkuliahan. Yang getol justru dari fakultas tetangga seperti Fisipol, Ilmu Budaya, atau Filsafat.
Paragraf terakhir saya rasa terlalu menggeneralisir. Meski sempat kencang beredar isu ‘economic imperialism’, tapi ekonomika tak bisa berdiri sendiri dengan mengabaikan disiplin ilmu lain, apalagi jika telah menyangkut kebijakan.
June 3rd, 2009 at 9:33 am
yang harus dikawal dengan bentuk sistem ekonomi apapun adalah Bumi, air dan isinya harus dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyatnya sendiri dulu.
Ini yang kurang kongkrit dilaksanakan oleh Pemerintah.
Neolib ato ekokera smuanya perlu pengawasan.Wewenang penentuan sistem tetap ada ditangan Pemerintah, namun demikian Pemerintah juga harus menjamin adanya sistem kesejahteraan sosial dan kesempatan yg sama bagi setiap warga negara untuk mengembangkan diri.
June 4th, 2009 at 5:54 am
Farid Gaban bilang, “Ekonomi terlalu penting untuk diserahkan hanya kepada para ekonom”.
June 9th, 2009 at 6:28 am
berkaitan dengan neolib dan politik. tampaknya apapun judulnya dan pembahasannya neolib ya tetep aj di pandang buruk.. bagus atau enggak , ngak maslah yang jelas lebih banyak bilang yang buruk… bukan maksud membenarkan yang salah / sebaliknya tapi memang hukum itu yang banyak berlaku di sini… insight lokal..
just my two cents
June 11th, 2009 at 8:08 am
Neolib………….
Mengurangi peran negara………
Kekhawatiran tentang liberalisme terutama ekonomi dengan mengurangi peran negara, tetapi peran tersebut diambil oleh sekelompok orang apalagi asing……inilah yang akan memperbudak rakyat dan terlahirlah penjajahan gaya baru…..
Dari ujung rambut sampai ujung kaki rakyat Indonesia telah dikuasai Asing….
Dari pesawat tempur sampe bumbu dapur……..
Negara tetap menguasai dan mengatur untuk hal2 kepentingan atau sumber alam…..untuk kesejahteraan rakyat…….
masa untuk sekedar air kita harus mengemis kepada danone atau themes…….
Wassalam
June 12th, 2009 at 4:53 pm
Saya percaya satu hal bahwa untuk nation state kayak Indonesia grandesign ekonomi paling pas adalah ekonomi kerakyatan.Itu saja!!!
June 16th, 2009 at 4:54 pm
Jika boleh sedikit keluar dari topik, Indonesia Lebih Neoliberal Dibandingkan AS. Pembangunan ekonomi Indonesia selama ini bukan saja bercorak neoliberalisme, tetapi justru malah lebih neoliberal dibandingkan dengan Amerika Serikat sendiri sebagai negara pengusung neoliberal.
Bandingkan dengan kebijakan ekonomi Indonesia, yang sangat berani dan begitu mudah menjual BUMN-BUMN strategis kepada asing seperti Indosat. Begitu mudahnya pemerintah menyerahkan Blok Cepu kepada Exxon Mobile. Padahal, Pertamina sebagai BUMN mampu mengelola tambang minyak, yang memiliki cadangan sangat besar tersebut. Untuk melegalkan liberalisasi perekonomian Indonesia, DPR telah mengesahkan berbagai undang-undang seperti UU SDA, UU Migas, dan UU Penanaman Modal sangat liberal yang isinya antara lain: disamakannya kedudukan investor lokal dengan investor asing dalam seluruh bidang usaha, tidak ada pembedaan bidang usaha, melarang negara melakukan nasionalisasi, serta penyelesaian sengketa dengan investor asing dilakukan di arbitrase internasional bukan di pengadilan Indonesia.
Dan sekarang mau dibawa kemanakah negeri kita yang tercinta ini, sistem apakah yang ingin kita terapkan lagi. Sistem kerakyatan yang semu tanpa konsep yang jelas ataukah sistem “jalan tengah” yang memang jalan tengah untuk sengsara atau melarat. Akankah kita pura2 buta atau terlalu bodoh untuk memekai sistem2 yg gak jelas.
Yang pasti hanya ada satu sistem yang telah terbukti mensejahterakan rakyat, yaitu khilafah (sistem Islam).
Dari hati kecil saya hanya ingin berbagi kepada temen2 om, saya tunggu komentar temen2 yang lain juga, hmm
June 20th, 2009 at 12:44 am
Marilah semua…sekarang waktunya kita berfikir dan bertindak kolaboratif! sudah tidak jamannya lagi mengkotak-kotakkan masalah dalam displin ilmu.
Sekarang eranya berfikir dan bertindak secara komprehensif, lintas ilmu dan lintas generasi..
June 24th, 2009 at 3:11 am
Bagi saya semua model ekonomi ekonomi yang ditawarkan semua kontestan baik, cuma yang jadi masalah prinsip bangsa kita adalah tidak disiplin, potong kompas, cari untung sendiri, suka mengorbankan orang lain dan lain2. Jadi yang perlu dibenahi adalah benahi dulu keluarga dulu dari sisi kedisiplinan, pengorbanan untuk agama dan bangsa, saling tolong menolong, jika sudah Insya Alloh dipimpin siapapun negeri ini akan beres, gitu