Posted on June 25, 2009
“Jika saya sudah memilih menjadi pengusaha, dan saya memang betul-betul punya passion di situ, apa yang harus saya lakukan jika suatu suatu ketika saya patah semangat?” tanya salah satu peserta pada sebuah talkshow bertema “Entrepreneur vs. Public Relations” di STIKOM London School of Public Relations di Jakarta, Kamis 25 Juli 2009. Talkshow ini menjadi menarik bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi tersebut karena bukan hanya membahas bagaimana posisi enterpreneur terhadap Public Relations dan sebaliknya, namun juga mengupas masa depan mereka kelak, apakah lebih memilih menjadi pengusaha atau praktisi PR.
Buat saya, pertanyaan itu mengandung kontradiksi. Jika sudah memiliki hasrat menggebu-nggebu alias passion, semestinya tidak akan pernah patah semangat. “Orang yang memiliki passion terhadap sesuatu itu ibarat bercinta setiap hari,” jawab saya yang saat itu menjadi salah satu pembicara, bersama narasumber lain termasuk Donny Pramono, founder dan CEO Sour Sally, merek yogurt yang lagi naik daun saat ini. “Orang yang punya passion tidak akan ada waktu untuk patah semangat karena setiap hari selalu bercinta dengan apapun yang ia hasrati,” lanjut saya. Bahkan jika tidak bergelut dengan yang dihasrati, ia akan “sakit kepala”.

Saya mencontohkan diri saya sendiri. Begitu membangun Virtual Consulting awal Januari 2003 lalu, nyaris tidak pernah patah semangat, bosan, jenuh atau patah arang terhadap apa yang saya jalani. Bahkan di saat-saat sulit pun, tatkala perusahaan menghadapi tantangan berat di tengah jalan, semangat untuk membangunn bisnis di bidang Internet ini nyaris tak pernah pudar.
Saya betul-betul merasa jatuh cinta dengan perusahaan yang saya bangun ini. Saya merasa “bercinta” setiap saat, baik di saat perusahaan dalam posisi bagus maupun kurang bagus. Saya jadi ingat moto Maylaffayza, pemain biola yang sudah menelorkan dua album. “I play my violin like I make love,” katanya. Ia menggesek biolanya sedemikian menghayatinya sehingga serasa sedang bercinta. Kini wanita cantik itu menjadi salah satu ikon violis di Indonesia.

Mereka yang punya passion akan jauh dari bosan, jenuh, atau patah semangat.” Punya passion itu, ibaratnya, punya hasrat bercinta yang tak pernah padam, alias keranjingan bercinta,” kata saya lagi. Atau, kalau pun sempat patah semangat, itu hanya sesaat, dan dengan mudahnya pulih seketika.
Maka menjawab pertanyaan peserta tadi, saya mengatakan: “Jika kita mengaku punya passion, namun masih ada kesempatan untuk patah semangat, maka ada kemungkinan yang kita sebut sebagai passion itu sesungguhnya bukan passion kita.” Bisa jadi kita punya passion yang lain.
Namun memang tidak mudah menemukan passion kita dan menjaga api semangat terus menyala. Kenyataan hidup sering memaksa nyala semangat kita meredup. Nah jika itu yang terjadi, dekat-dekatlah dengan mereka yang memiliki nyala semangat tinggi. Jangan terpuruk dalam kesendirian, karena nyala yang tinggal sedikit itu bisa padam. Mendekatlah kepada mereka yang bernyala terang agar lilin semangat kita hidup semakin terang. Semangat dan passion orang akan menyebar ke mereka yang berada di dekatnya.
Itu sebabnya, dalam perjalanan membangun usaha, saya seringkali mendekat kepada mereka yang jauh lebih sukses baik secara fisik (bertemu muka, mendengarkan langsung, berdiskusi) atau secara tidak langsung dengan membaca kisah-kisah mereka, mendengarkan melalui media tv dan radio. Saya serap semangat mereka sebanyak mungkin sehingga nyala api semangat saya pun tak pernah memudar.
Selamat menemukan passion anda dan berharap anda bisa bercinta setiap hari.
Wowww, nggak nyangka masih banyak aja yg salah kaprah soal homeschooling. Padahal kalo mau googling...
FB merupakan sarana promosi termurah dan terukur untuk produk-produk UKM seperti http://taskertas.com dengan...
pilih sekolah formal, setuju dengan comment di atas..
orang yang bijaksana mengerti apa yang akan dilakukan dan akibatnya nanti.
saya juga termasuk korban facebook, akun saya ada yang ngebajak dan bikin status yang nggak sopan...
Facebook di Tangan Para Pendekar
Jejaring Sosial Bukan Untuk Anak-anak!
Sekolah Biasa atau Home Schooling?
Twitter Luna Maya, Jarak Antara Teks dan Konteks
Facebook dan Twitter Menjadi Pencatat Amal Baik dan Buruk
Jidoushi, Tadoushi, dan Cinta itu Kata Kerja
Bahasa Indonesia, Bahasa Kedua
June 25th, 2009 at 6:31 am
.
Tapi kan Too Much Love Will Kill You, gan….
.
***ngeyel…***
June 25th, 2009 at 7:04 am
punya passion but dont know how to do (start) it?
the first one is the most difficult one…
June 25th, 2009 at 8:14 am
@mBelgedez: kan cuma sampai tahap “will”, berarti belum.
@Memeth: “punya passion but dont know how to do (start) it” itu juga kalimat yang mengandung kontradiksi
June 25th, 2009 at 9:15 am
Wow! that’s Cool SIR!…
hmmmm, so simple, but it has deeply meaning…
June 25th, 2009 at 9:25 am
Mas Nukman,
Analoginya tepat, bagus & indah. Judul lagu I Play My Violin Like I Make Love sebetulnya philosophy. Bercinta adalah universal force dari Tuhan kepada manusia, yg merupakan kesatuan jasmani & rohani. Kesatuan/ unity itu menimbulkan totalitas. Dgn kesatuan/unity dan totalitas jasmani & rohani tsb lah aku menjalani kehidupan biolaku. Siapapun tentu saja should live their life with that force, that energy. That fire, that passion. That spirituality.
June 25th, 2009 at 11:34 pm
Betul Om, orang yang betul2 punya passion, tidak sepatutnya patah semangat di tengah jalan. Dia bakal mati2an memperjuangkan ambisinya sampai perjuangannya berhasil. Bahkan saat dia telah mendapatkan apa yang diinginkannya pun, dia tetap mempunyai passion agar apa yang telah diraihnya akan terus ada walaupun dia sudah tiada nanti.
June 26th, 2009 at 1:39 am
Sekarang masalahnya maukah kita memenangkan passion kita , dibanding kebutuhan ?… padahal passion selain bia ngebuat kita happy juga bisa membuat kemandirian, terlebih saat bangsa ini lagi butuh banyak entrepreneur dibanding employee
June 27th, 2009 at 1:34 pm
senada dengan Arham, seperti saya misalnya, pengin berhenti kerja sejak setahun lalu kemudian fokus berbisnis online. Tapi berhubung bisnisnya belum besar, saya kok belum berani keluar ya Pak.
June 27th, 2009 at 3:06 pm
Setuju, begitu kita punya passion sebisa mungkin selalu dekat dengan orang orang yang bisa bikin lilin kita terus menyala.
Mungkin yang punya passion tapi patah semangat itu kurang dibarengi dengan dreams yang kuat
June 28th, 2009 at 6:48 am
pak, bagaimana dengan bisnis turunan yang mau tidak mau keturunannya lah yang harus melanjutkan? padahal anaknya tidak punya passion di bidang tersebut, malah cenderung bosan, karena melihat bisnis orangtuanya itu dari kecil dan pingin mencoba yang lain.
antara ego dan passion.. mau nurut yang mana?
June 28th, 2009 at 11:55 pm
@Arni: Siapa yang mewajibkan kita meneruskan bisnis ortu kita? rasanya sekarang sudah tidak begitu lagi. Kalau memang kita tidak suka, ya serahkan ke profesional saja yang melanjutkan bisnis ortu kita.
June 29th, 2009 at 12:28 am
Tulisan yang amat memikat.
Komentar Maylaf (# 5) juga sangat menggetarkan.
June 29th, 2009 at 1:22 pm
Saya juga sedang jatuh terjerembab dalam rutinitas yang tampak sepertinya adalah passion saya, akhirnya saya sadari kalau itu cuma sebatas ego, dan yang didapatkan sekarang hanya kekosongan belaka.
Tulisan Mas Nukman bisa menginspirasikan banyak orang(termasuk saya) untuk kembali mencari apa yang disebut-sebut sebagai passion yang abadi (yang sesungguhnya, benar2 sesungguhnya).
Thank’s
July 1st, 2009 at 1:57 am
gak bagus
July 1st, 2009 at 10:39 am
betul pak….passion adalah kekuatan ntk hasrat tanpa batas..
sayang susah menemukan passion …itu sendiri..
karena tututan hidup…
July 2nd, 2009 at 2:57 am
Bagaimana mensingkronkan passion dan tuntutan hidup. Jawabannya terletak di keberanian action dan istiqomah/pantang menyerah
salam action with passion
dewanto
http://www.cookingpreneur.wordpress.com
July 2nd, 2009 at 7:28 pm
COCOK JURAGAN, WORKING IS AS INTERESTING AS MAKING LOVE
July 4th, 2009 at 2:29 am
[...] Pak Nukman cerita di tulisannya, dalam berbisnis atau bekerja atau belajar, kita harus punya passion. Passion [...]
July 5th, 2009 at 1:26 am
betul pak,berkumpulah dengan yang selalu bersemangat dalam hidup, maka kita pun sedikit banyak membaur dengan semangat nya.
July 7th, 2009 at 1:37 am
sukses untuk semua usaha dan proyek serta seminarnya pak..
Amin….
July 7th, 2009 at 9:57 am
saya ga punya passion..mungkin itu yang bikin hidup saya boring yaa?
apakah passion bisa diciptakan pak?
July 9th, 2009 at 11:00 am
passion adalah semangat yg tak terbantahkan, dikala kita lesu atau terpuruk… itu hanya membuat kita lebih berjuang dan tidak pernah merasa sakit. makin semangat dan makin berkobar
July 15th, 2009 at 1:52 am
Mantap, Artikel nya sangat menginspirasi saya.
Yogi
July 21st, 2009 at 10:16 pm
Assalamua’laikum Wr Wb. apa kabar Pak? saya Irfan ingin sekali memulai bisnis pulsa hanya punya modal kurang lebih 15 juta rupiah. tapi jujur terus terang saya ingin modal usaha ini nantinya bisa dikembangkan lagi dari usaha jualan pulsa itu sendiri, tapi saya bingung maklum orang bodoh seperti saya tidak tahu menahu tentang bisnis apa lagi tekhnik marketing yang jitu. yang ingin saya tanyakan bagaimanakah konsep yang terbaik untuk saya jalankan agar saya menjadi orang sukses meski hanya punya modal 15 juta rupiah? sebelum dan sesudah saya ucapkan terima kasih
kirim email ke saya pak :
evannemura@yahoo.com
August 5th, 2009 at 9:40 am
*yaaa yaaa yaaa….
*mau buat perusahaan gak punya uang banyak…
*mau buat perusahaan dengan dikit uang perlu otak yang super smart, itu juga belum punya…
*mau jualan dengan dorong grobak aja, gengsi, sarjana neeeh
*jadi karyawan gaji dikit…
*setelah dikit dikit dikumpulin jadi banyak, nekat keluar and buka usaha sendiri, belum berhasil, rambut rontok semuaaaa neeeeh saking kepala overheat, gimana donk::>>>
October 18th, 2009 at 3:50 pm
bravo!