Posted on May 28, 2009
Beberapa bulan lalu Merry Magdalena, menghubungi saya untuk wawancara penulisan bukunya mengenai situs gaul seperti Facebook, Twitter, Plurk, Multiply, Friendster, dan sejenisnya. Akhirnya saya bertemu juga di sebuah kedai kopi di Citos, Jakarta Selatan untuk berbincang lebih dalam dengan pendiri portal edukasi Netsains tersebut. Akhir Mei 2009 ini, bukunya diterbitkan oleh Gramedia, dengan judul Situs Gaul, Gak Cuma buat Ngibul.
Buku itu ditulis dengan gaya bahasa yang enak dibaca dan mengalir. Berbeda dengan buku-buku lain yang hanya berisi “How To”, buku ini dilengkapi dengan strategi dan praktik dari beberapa orang yang dianggap menggunakan situs gaul itu dengan baik. Mewkili sosok pengusaha, saya termasuk salah satu yang ditulis tersendiri di situ, di samping tokoh-tokoh lain seperti Wimar Witoelar, penulis novel Zara Zettira, politikus Fadjroel Rachman, jurnalis Deriz Syarief, dan mantan Direktur Cisco Indonesia, Irfan Setiaputra, yang kini menjadi Direktur Utama PT Inti.
Atas ijin penulisnya, bagian mengenai saya, ditampilkan di Sudutpandang.com ini.
Nukman Luthfie, CEO Virtual.co.id
“Tiap Situs Gaul, Beda Karakter, Dong”
Ini dia pengusaha Indonesia yang bisa dibilang paling tidak gaptek. Bukan melarang karyawannya bermain situs jejaring sosial, Nukman justru menyuruh semua anakbuahnya bergaul di Internet selama jam kerja. Apa pasal?
“Beda lho, antara mengakses Facebook di kantor dengan di rumah. Kalau di kantor, atmosfernya atmosfer kerja, jadi mereka akan memosting hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, termotivasi untuk membicarakan masalah kerja. Akhirnya situs jejaring sosial itu bisa memberi efek yang bagus bagi pekerjaan mereka,” jelas lelaki yang memiliki akun di nyaris semua situs jejaring sosial ini. “Sedangkan kalau mengakses Facebook di rumah, isu yang dibahas pasti seputar hal-hal santai, becanda, tebar pesona, dan akhirnya tidak berguna banyak,” imbuhnya. Maka Nukman sangat menyayangkan jika ada perusahaan yang melarang penggunaan Facebook atau situs jejaring sosial di kantornya. Itu sama saja dengan membuat perusahaan itu sendiri tidak memanfaatkan semua potensi yang ada pada diri karyawan dalam mendukung kelangsungan usahanya di dunia maya.
Setelah mencoba semua situs jejaring sosial yang ada, akhirnya kini Nukman cukup puas diri dengan tiga jenis situs gaul saja, yakni Facebook, Plurk, dan LinkedIn. Ia merasa paling klop dengan ketiga situs tersebut, sebab satu sama lain mewakili bagaimana ia ingin dikenal. Di Facebook, Nukman menampilkan citra dirinya sebagai orang yang serius, profesional, namun juga bisa bergaul dengan beragam kalangan, mulai dari pebisnis, jurnalis, sampai ke anak muda atau sesama profesional. Sedangkan di LinkedIn, Nukman memosisikan dirinya sebagai seorang CEO dengan branding korporat yang resmi, kompeten, siap berbisnis dengan sesama CEO mana saja di muka bumi. “Foto saya di LinkedIn resmi pakai dasi , lho. Beda dengan di Facebook yang lebih kasual namun tetap profesional,” ujarnya. Kesan lain lagi ia ciptakan di Plurk. Di layanan mikrobloging ini, Nukman tampil sebagai profesional muda yang gaul abis, santai, penuh canda, banyak curhat dan berbagi soal kesehariannya. Di Plurk, Nukman adalah sosok yang sangat personal, akrab, kebapakan, jauh berbeda dengan yang ia tampilkan di dua situs gaul tadi.

Mengapa lelaki yang berdomisili di Depok dan berkantor di Durentiga, Jakarta Selatan, ini menampilkan karakter berbeda di tiap situs gaulnya? “Sebab memang audiensnya berbeda. Tiap situs jejaring sosial memiliki ciri khasnya masing-masing, dan kita harus bisa menyesuaikannya. Ciri khas di situs tersebut juga menyebabkan penghuninya berbeda pula, jadi kita juga harus menampilkan kesan berbeda pula,” jelas Nukman. Betul juga, di situs khusus bisnis seperti LindedIn, kita tidak bisa tampil kasual dan bebas seperti layaknya di Facebook. Sebab memang situs tersebut terfokus pada dunia bisnis serta pengembangan karir. Mustahil orang dengan kepribadian kasual, terkesan tidak serius, bisa sukses gaul di dalamnya, sebab memang situs itu dirancang dengan gaya formal, penggunaan bahasa yang formal pula. Anggota di situs tersebut juga lebih tersegmen khusus kalangan pebisnis saja, bukan anak ABG gaul atau seniman cuek.
Mengaku sangat rajin mengakses tiga situs gaul di atas tadi, Nukman menganggap bahwa inti utama dari situs jejaring sosial adalah meningkatkan kehidupan sosial manusia. Orang di kota besar yang dianggap sibuk cenderung dianggap individualis karena tidak punya banyak waktu untuk bersosialisasi. Berkat adanya situs jejaring sosial, mereka mampu kembali bersilaturahmi dengan teman-teman lama, kerabat, saudara, rekan bisnis, dan seterusnya. Jadi inilah guna utama dari situs gaul semacam Facebook. Sedangkan mengenai penciptaan branding, ia menganggap itu akan terbentuk dengan sendirinya, bukan sebuah tujuan utama.
Nukman yang banyak diundang menjadi trainer dan pembicara seminar ini juga memanfaatkan situs gaul sebagai tindak lanjut perkenalan yang sudah dimula sebelumnya di dunia nyata. Misalnya saat ia menjadi pembicara di suatu seminar, tidak banyak waktu yang tersedia untuk berdiskusi dengan pesertanya. Di Facebook atau blog pribadinya, Nukman bisa menindaklanjuti diskusi yang sudah dirintis di dunia nyata tersebut. Bahkan tidak jarang juga yang berujung pada kerjasama bisnis dan sejenisnya.
Mengaku meninggalkan Friendster karena kelamaan situs itu sudah tidak menarik lagi dan banyak dihuni ABG, Nukman menganggap setiap situs jejaring sosial memiliki segmen dan ciri khas masing-masing. “Mereka akan sulit berkolaborasi, sebab satu sama lain mempunyai segmen pasar dan ciri khas yang berbeda.
Wowww, nggak nyangka masih banyak aja yg salah kaprah soal homeschooling. Padahal kalo mau googling...
FB merupakan sarana promosi termurah dan terukur untuk produk-produk UKM seperti http://taskertas.com dengan...
pilih sekolah formal, setuju dengan comment di atas..
orang yang bijaksana mengerti apa yang akan dilakukan dan akibatnya nanti.
saya juga termasuk korban facebook, akun saya ada yang ngebajak dan bikin status yang nggak sopan...
Facebook di Tangan Para Pendekar
Jejaring Sosial Bukan Untuk Anak-anak!
Sekolah Biasa atau Home Schooling?
Twitter Luna Maya, Jarak Antara Teks dan Konteks
Facebook dan Twitter Menjadi Pencatat Amal Baik dan Buruk
Jidoushi, Tadoushi, dan Cinta itu Kata Kerja
Bahasa Indonesia, Bahasa Kedua
May 28th, 2009 at 4:01 am
Thanks berat Mas Nukman yag baik hati dan tidak sombong…gaul lagipula cool..hehehe.
May 28th, 2009 at 4:08 am
Wah sy ga sadar kl tiap situs jejaring sosial itu segmennya berbeda. Terima kasih pak Nukman atas pencerahannya. Jadi pengen beli buku ini..
May 28th, 2009 at 4:40 am
asyik, buku social media Indonesia makin banyak..
tunggu 2 buku lagi Pak. Insya Allah bisa ditemukan di toko2 buku dalam 2 minggu mendatang.
May 28th, 2009 at 4:44 am
Nice…
Artikel yg bagus untuk merubah pandangan beberapa person yg menganggap bahwa social networking adalah social not-working. Tinggal tergantung pada pribadi masing-masing bagaimana menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
Siippp… Two thumbs up.
May 28th, 2009 at 4:54 am
selama ini saya agak tidak peduli dengan penampilan,, yg penting kemampuan saya… saatnya saya pun harus merubah penampilan… (evilsmirk)
May 28th, 2009 at 5:17 am
“Maka Nukman sangat menyayangkan jika ada perusahaan yang melarang penggunaan Facebook atau situs jejaring sosial di kantornya.”
Sudut pandang yang sangat menarik. Tapi tentunya pandangan ini tidak bisa diterapkan ke semua perusahaan dan agak cenderung naif mengingat semua publikasi yang menggambarkan sebuah perusahaan akan menentukan branding perusahaan itu sendiri.
Bila perusahaan tersebut dinamis untuk merespon semua respon dari publik, tentunya ini akan menjadi positip. Tapi bila perusahaan tsb tidak memiliki agilitas yang cukup tinggi untuk merespon, tentunya akan lebih merusak citra.
May 28th, 2009 at 5:49 am
sayangnya banyak perusahaan yang tidak sependapat dengan pak nukman, dan justru nge-blocka akses facebook buat karyawannya.
May 28th, 2009 at 6:18 am
Great. Success 4 all of you!
May 28th, 2009 at 6:31 am
sama dong ya gan.
ditempat saya dianjurkan akses situs jejaring sosial. kerja gaul, tapi tidak menggauli pekerjaan.
kebetulan aja sama kali :hammer:
May 28th, 2009 at 7:26 am
ada rencana utk nulis buku juga pak?
May 28th, 2009 at 7:38 am
rencana sih sudah sejak tiga tahun lalu, tapi hingga kini belum memulai juga, hiks
May 28th, 2009 at 11:54 am
Mas Nukman
sok akrab gituuu…
di pelbagai situs pertemanan dan jejaring so(k)sial
cocok wat saya yang isi otaknya kurang didefrag 

sama, saya juga nampang abis…
eh, tentang PrenSter bener tuh. basi abis isinya ABG-ABG alay
Mas Nukman, sampai jumpa di PezBuk n Plurk yah
May 29th, 2009 at 2:33 am
artikelnya mantapp mas.
Mas Nukman ini jadi salah satu “panduan” saya dalam Cyber PR untuk di Indonesia, you’re the one!!
Saya kira perkembangan Social media di Indonesia akan semakin tumbuh pesat tahun ini, dan tahun2 berikutnya.
Mantap!!!!!!!
Regards,
Pandu
May 29th, 2009 at 6:29 am
Bener juga ya mas nuk,
Dunia memang masih bulet tapi marketing makin lama makin flat……bener kan mas ?
Dulu di bilang marketing is dead, diganti sama PR, trus sekarang dibilang PR is dead diganti sama eranya word of mouth macam FB dan sohibnya.
Prediksi mas era apalagi yang akan muncul setelah FB ini ?
Ayo dong mas nulis bukunya dicepetin, biar “ilmu”nya cepet nular ke kita-kita. Ntar keburu basi lho…..
May 29th, 2009 at 4:24 pm
Dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak! Ternyata ‘positioning’ pribadi kita di setiap situs ’social media’ menjadi WAJIB diperhatikan yaa.. Dari awal udah kita niatkan berperilaku & berpenampilan positif sesuai jejaring sosial mana yang diikutin. Walhasil muncul ‘pandangan pertama’ yang begitu menggoda. Selanjutnya bangun integritas, komunikasi intensif, dan sgala follow-up yg positif, insyaALLAH rezeki pun berdatangan pada kita.. Amiiiin
May 30th, 2009 at 3:00 am
Selama ini citra negatif pengguna situs jejaring sosial lebih banyak muncul. Mudah-mudahan melalui buku-buku seperti yang disebut di atas, pemanfaatan situs jejaring sosial menjadi lebih bijaksana. Terima kasih.
May 30th, 2009 at 3:56 am
Pak Nukman, kok sudutpandang.com belum ada Fb Connectnya? padahal virtual.co.id udah pake
BTW semoga masyarakat kita bisa lebih cepat belajar bagaimana menggunakan FB secara positif dan produktif ya pak…
Soalnya jangankan masyarakat umum, dunia akademis saja belum recognize potensi social media hingga harus di blok segala.
May 31st, 2009 at 1:17 pm
keren pak ulasannya…online brandingnya ok bangett
June 1st, 2009 at 5:25 pm
fotonya kayak ABG aja nih om..he he
* mudah mudahan Perkumpulan Ulama Jatim membaca tulisan ini..
June 9th, 2009 at 6:19 am
banyak saingan nih
. belum terbit dah bnyk yg mau terbit … hehe..
karna covernya ngak menarik dan judulnya ngak asik saya kira isinya juga ngak seru, kalau tau dibahas seperti ini kan jadi penasaran , apa dalemnya bner seru atau enggak… Cek TKP dulu. kali aja ada buku yang dah dibuka sampulna
June 24th, 2009 at 2:35 am
baguslah boleh dong kasih tips buat calon pembisnis yang memanfaatkan internet sebagai media pemasaran
June 29th, 2009 at 12:38 am
Langsung ke toko buku terdekat buat membelinya….
July 7th, 2009 at 1:30 am
di tempat kuliah saya.. salah satu universitas di Yogyakarta.. mengblock situs FB.. padahal… saya belajar pada bidang manajemen, seharusnya situs jejaring networking sangat banyak manfaatnya…