home
Entrepreneurship, Inspirasi

Berwirausaha Sejak Dini

Posted on May 18, 2009

commentsComment: 40 Comments

“Ayah saya dulu (akhir 60an - awal 70an) sebagai Kepala Sekolah SD di kampung meminta semua siswa setiap berangkat sekolah memungut sebuah cumplung — kelapa berlubang dimakan tupai. Setelah cukup terkumpul dijual untuk bahan bakar pembuatan genteng,” kenang Rahmat Samsurizal, mengenai bagaimana inisiatif guru mendidik muridnya agar bisa bermental pengusaha.  Inisiatif-inisiatif lain yang mudah dikerjakan, yang nyaris tanpa modal uang, juga dilakukan. “Tidak heran jika SD kami kemudian punya kolam ikan, ternak kambing, ternak ayam, kebun bengkoang dan kebun sayuran,” kata jebolan Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada. “SD kami pun akhirnya menjadi percontohan untuk daerah Kedu Selatan,” lanjutnya.  Tidak heran pula jika teman kuliah saya dulu itu kini juga memilih jalan hidup sebabagai pengusaha. 

Ini adalah salah contoh pendidikan wirausaha sejak dini.

Saya pun jadi teringat jaman kecil dulu. Sejak SD saya dan adik-adik sudah biasa mendapat tugas untuk belanja kebutuhan keluarga. Mereka yang sekolah siang mendapat tugas belanja ke pasar, membeli kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli sayur, beras, ikan dan tetek bengeknya. Tanpa sadar, dari situlah kami mengenal namanya pasar dan dunia tawar menawar. Kami bisa pula belajar bagaimana memahami produk yang bagus atau jelek. Cara memilih ikan bandeng misalnya, dengan membuka insangnya, jika masih merah menyala itu tandanya masih segar. Dan jangan lupa dibaui dulu, apakah tercium aroma lumpur atau tidak.

Kami juga dibiasakan untuk membuka etalase toko “taylor” — penjahit — di pagi hari sebelum penjahit khusus kami berdatangan. Ayah memang dulu pengusaha “taylor” yang punya spesialisasi di jas. Upacara pagi kami selanjutnya adalah membersihkan kaca etalase, menyapu lantai agar sisa-sisa potongan kain tidak berserakan di lantai. Ketika SMP kebetulan saya masuk siang, sehingga paginya betul-betul dimanfaatkan untuk bekerja (yang buat saya sesungguhnya bersenang-senang). Saya belajar mulai dari yang paling sederhana: menyeterika baju. Kemudian naik pangkat memasang kancing. Saya ingat betul bagaiman jari manis saya mesti dibungkus kain atau dikubahi logam untuk mendorong jarum ke sela-sela kancing baju. Dari situlah kemudian meningkat menjadi pengukur baju.

Salah satu yang tidak akan saya lupakan adalah hari Jumat. Itulah hari gajian para penjahit kami. Gaji mereka memang mingguan, dan dihitung berdasarkan kemampuan produksi masing-masing. Yang rajin dan pintar dapat banyak. Yang biasa saja ya dapat sesuai dengan kemampuannya. Saya pun begitu, dapat honor dari berapa baju yang saya seterika dan saya pasangi kancing. Dari honor itulah saya bisa bermain ke sana kemari dan mentraktir teman-teman SMP nonton bioskop. 

Dari hal-hal sederhana seperti itulah orang tua saya mendidik anaknya. Ibu “memaksa” anak-anaknya belanja ke pasar, tidak peduli lelaki maupun perempuan. Sementara ayah “memaksa” anaknya membantu bisnisnya.  Tidak mengherankan kalau hampir semua anak-anak tersebut memiliki jiwa kewirausahaan yang lumayan tinggi.

Pengalaman masa kecil saya jelas beda dengan Rahmat Samsurizal. Saya mendapat pendidikan kewirausahaan sejak kecil di keluarga. Sementara Rahmat menyaksikan bagaimana ayahnya yang seorang pendidik menerapkan gagasan-gagasan wirausaha di sekolah.

Namun keduanya memiliki ciri yang sama: memulai dari yang sederhana. Hanya memungut cemplung, hanya belanja di pasar, hanya menyeterika baju, dan hanya hanya lainnya.

Persamaan lainnya adalah: memulai sejak dini. Kami berdua sudah mendapatkannya sejak SD.

Saya yakin, banyak pengusaha yang memiliki latarbelakang dua hal tersebut: memulai dari yang sederhana dan sejak dini.

Tadi pagi, Senin, 18 Mei 2009, saya membaca koran Kompas yang menulis bahwa di dalam UU Badan Hukum Pendidikan disebutkan, Universitas harus mendorong kewirausahaan.  Lalu saya membuat diskusi melalui status di Facebook saya dengan mempertanyakan bagaimana cara Universitas memenuhi amanat Undang-Undang tersebut. Terjadi diskusi yang menarik. Namun, setelah  Rahmat Samsurizal menceritakan masa kecil di sekolahnya dalam diskusi di Facebook tersebut, saya mengambil kesimpulan, berwirausaha sejak dini jauh lebih manjur ketimbang mulai dari Universitas. Sementara Universitas mencari jalan mendorong kewirausahaan, para orang tua (juga guru sekolah) sebaiknya memberikan suasana kewirausahaan sejak dini.

Bookmark and Share

40 Responses to “Berwirausaha Sejak Dini”

  1. saya pernah jualan buah di plastik dan mercon pas sd. namabh uang jajan:D

  2. sederhana…tapi benar2 berbobot..Thanks Pak !

  3. jadi inget dulu banyak barang yang saya bisa jual ketemen - temen padahal bisa saja gratis. kaya kerang yang ditemukan dipantai.

    Sebenernya kampus kalau menurut saya lebih ke hal membuka jaringan. Pendidikannya jauh - jauh hari sebelumnya.

    Kalau melihat dari teman - teman saya dan cerita diatas saya pikir hampir setiap orang sudah dibekali kewirausahaan secara tidak sengaja pada waktu kecilnya. hanya butuh stimulus saja untuk meyakinkan bahwa dia bisa berwirausaha

  4. yah, memang membuat anak belajar wirausaha adalah dengan cara membuatnya mandiri. karena dengan mandiri lah, seorang anak akan menjadi lebih baik dan terpacu untuk dapat melakukan sendiri semua yang ia mampu.

  5. Terima kasih pak cerita yang sangat memberi inspirasi untuk mendidik putri kecil saya kelak:)

  6. Very inspiring pak tulisannya. Pengalaman pak nukman mirip dengan pengalaman masa kecil saya yang memiliki ayah seorang pengusaha konfeksi. Saya pernah menuliskannya di blog saya dan menjadikannya inspirasi buat saya sendiri. Belajar berbisnis sejak kecil….

    http://visimandiri.blogspot.com/2008/08/selamat-ulang-tahun-mr-warren-buffet.html

    salam sukses
    Ardian

  7. Pak Nukman,ceritanya menginspirasi saya. ayah saya jg belajar berbisnis dari masa kecilnya. dan kebetulan saya akan memulai usaha fashion boutique di rumah,sedangkan saya ttp berkarir di jakarta.biarlah mama n adek yg mengelolanya. saya yakin saya bisa mengelolanya walaupun saya pantau dari jauh,keyakinan klo saya bs memulai bisnis ini mengalahkan ketakutan saya akan kegagalan2 yg mgkin jd resikonya. saya percaya,saat ini lah merupakan moment tepat utk memberanikan melangkah,dan memujudkan mimpi saya yg sudah di pending lama.saya mao belajar dan berusaha berbisnis dengan benar mulai sekarang.

  8. Senang membaca pengalaman masa lalu seseorang yang sudah ‘jadi’ dan flash back, bahwa kesuksesan memang tidak jatuh dari langit. Ayah saya dosen (makanya nurun nih), tapi ibu saya yang pengusaha kecil2an.. apa yang tidak dibawa ke arisan. Mulai dari peralatan rumah tangga hingga baju2. Kayanya saya menimba ilmu pemasaran secara nggak langsung dari ibuku.
    Walaupun ‘terlambat’ tetapi hari ini adalah hari pertama saya resmi jadi entrepreneur Pak Nukman. Wish me luck ya.

  9. Selain itu juga Mbah, mau enggak berproses. Kalau dosen yang ngajar juga enggak berwirausaha (omdo) kan yo samimawon. Apa yang mau ditiru. Trus kalau dosennya pada wirausaha, trus apa yang mau diajar? Tong kosong semua jadinya.
    Meminjam istilahnya Bob Sadino, ada 4 kuadran (proses). Tahu–>Bisa–>Mahir–>Ahli. Belajar/kuliah itu usaha untuk menjadi tahu, dari tahu kemudian dipraktekkan maka menjadi bisa. jika gak bisa ya cari tahu lagi begitu seterusnya sampai benar2 tahu. Karena sering diulang-ulang maka menjadi mahir. Karena mahir banyak dibutuhkan orang, maka orang menyebutnya ahli, kayak simbah Nukman. Kata Bob Sadino, dibutuhkan 20 sampai 30 tahun untuk menjadi mahir. Jadi saya setuju jika dimulai sejak dini.

    Tapi bagaimana pun juga “kepepet” itu prasyarat yang penting juga. Teman saya karena kelaparan dibatam, terpaksa mendorong gerobak mie ayam, sekarang jadi juragan mie ayam. Temen saya yang lain lagi karena kepepet jadi juragan bakso, tp sekarang dah bangkrut, krn salah mengelola uang. Jadi, sejak dini pun juga bukan faktor yg menentukan.

  10. bukan berarti program di universitas gak perlu dijalankan pak. justru harus ikut mendorong karena gak semua orang tua punya wawasan bisnis. masih banyak yang memuja-muja ketika anaknya menjadi pegawai negeri yang kerjaannya nganggur sambil baca koran atau main game di kantor

  11. Saya mungkin agak telat, dulu waktu SMP saya bikin usaha sendiri perakitan & reparasi tape deck, radio, pemancar FM bahkan TV. Lumayanlah buat nambah-nambah uang jajan & nyenengin tetangga yang nggak mampu beli home theater yang mahal2 itu :D

  12. Jadi ingat pengalaman “wirausaha” pertama kali saya pas SD. Saya mengajak adik2 saya utk menyewakan buku komik, yg memang kita miliki banyak. Satu bundel komik disewa Rp. 250 (jaman dulu teh botol masih Rp. 150). Ada yg satuan disewakan Rp 50 - 100. Hihi, lumayan utk ditabung dan beli komik baru.
    Saat itu pun sudah mengalami “kesukaran” karena kesannya gampang, jalaninnya libet. Apalagi kalau buku yg dikembalikan dalam keadaan rusak, atau tiba2 banyak coret2an, yg bikin kesal. :D
    Disewakan di depan rumah, n dibawa ke sekolah. Jadi teman2 bisa rikues, lalu saya bawakan. Hihi, kenangan masa lalu.

  13. wah setelah membaca posting tulisan ini seperti membawa saya ke masa2 saya SD. di SD saya di kota kecil di Jember, pada saat saya kelas 5 SD wali kelas saya mengharuskan kita menjual segala bentuk hasil karya kita baik itu berupa kerajinan, makanan ataupun minuman tiap harinya. dan pada waktu itu saya menjual emping dan rengginang (semacam keripik dari beras) hasil buatan saya dan Ibu untuk di jual di kelas kami. awalnya yang membeli hanya teman2 sekelas tapi lama kelamaan siswa dari kelas lainpun ikutan membeli. wahh pelajaran menjadi seorang entrepreneur sudah saya dapatkan sejak saya dari SD. senangnya dan rasa terimakasih saya pada Bu Bintari guru SD saya yang punya ide seperti itu. Thx Bu Bin…

  14. cihuii..kampus ledok memang asyik coy!

  15. Nurhidayat Says:

    Sayangnya Pak Nukman, kehidupan anak-anak sekarang berbeda dengan jaman kita dahulu. anak-anak sekarang jarang yang punya jiwa entrepreneur. Gaya hidup sekarang sangat konsumtif. Semua siap tersedia, dipicu iklan di media elektronik yang begitu glamor. Dipicu oleh orang tua yang terlalu memanjakana anak-anaknya karena khawatir anak-anaknya di-cap anak ‘ndeso’. Dalam situasi seperti sekarang ini, orang tua harus mulai kembali melakukan seperti kisah yang ditulis Pak Nukman di atas. Kedepan, kehidupan akan semakin penuh dengan persaingan yang sangat ketat. Perlu diciptakan entrepreneur handal yang mampu berkompetisi di era yang serba bebas.

  16. Waktu SMA saya jualan sketch desain baju pesta buat temen, krn suka gambar mode baju, 1000 perak per lembar. Juga cari duit dari hobi modern dance, choreographer, sampe tur ke luar kota segala, lumayan bgt jadi anak sekolahan nggak minta duit ortu buat jajan.

    TAPI!! Begitu masuk dunia kerja, hampir 10 thn, jiwa wirausahan saya MATI habis, lumpuh sama sistem,prosedur, kerja di perusahaan besar yg tinggak ngikutin aja, dan skrg saya nggak tau gimana caranya cari duit tanpa hrs jadi jadi pegawai kantoran….:((

    HELPPP Pak Nukman..

  17. bagaimana kalau orang tua ndak mendukung ? pas kuliah pernah coba2 jadi makelar percetakan, tapi malah dimarahi dan dibilang “nggaya !!” :((

    mohon pencerahannya pak *menjura*

  18. Kalo dikupas lebih dalam, kira-kira proses apa ya pak yg terjadi dalam mind setting seseorang sehingga menumbuhkan jiwa dan action wirausaha ?

  19. Sithik wae: Pokokmen Cool, artikele.

  20. #7 & #8.
    Chinta dan Amalia, tidak ada kata terlambat memulai. Selamat memasuki dunia bisnis. Semoga menikmati prosesnya dan berujung pada kesuksesan

  21. #9. Fatur, tidak ada satu faktor tunggal untuk sukses. Selalu banyak faktor yang jalin menjalin satu sama lain.

    #10. Deteksi, program universitas tetap perlu, terutama untuk melahirkan wirausaha berbasis inovasi dan nilai tambah tinggi.

    #15. Nurhidayat, tantangan mendidik anak-anak sekarang, terutama yang di kota besar, memang jauh lebih besar ketimbang jaman dulu, terutama karena faktor konsumerisme. Namun pelajaran entrepreneurship bisa dilakukan dengan cara sederhana, setiap kali anak menginginkan sesuatu ia harus melakukan sesuatu untuk mendapatkannya

  22. #16. Gaby, coba audit diri sendiri apakah lebih berpotensi sebagai pengusaha atau karyawan. Kalau memang lebih kuat sebagai pengusaha, ya keluar saja dari pekerjaan sekarang, istilahnya bakar kapal. Tetapi kalau lebih berbakat sebagai karyawan ya tetaplah sebagai karyawan yang punya prestasi hebat. Kedua profesi itu, baik pengusaha maupun karyawan, sama-sama mulia dan sama-sama hebatnya. Satu sama lain saling membutuhkan. Pengusaha membutuhkan SDM yang hebat, sebaliknya SDM yang hebat membutuhkan pengusaha yang hebat juga.

    #17. Aad, soal orang tua tidak mendukung, tak usah dipikirkan lagi, itu sudah lewat. Kalau sudah dewasa, kita sendirilah yang menentukan masa depan kita. Kalau mau jadi pengusaha, carilah jalan menuju ke sana.

    #18. barnie, pertanyaan itu bisa jadi topik postingan yang lain. Moga-moga bisa saya tulis lain waktu

  23. Pak Nukman,

    Alhamdulillah anak2 saya sudah mulai merintis jiwa wirausahanya….Anak pertama saya Zahra (7 th) setiap sore menggoreng pisang….kemudian dibantu adeknya Keysha (5th) menjual pisang goreng tersebut ke tetangga dengan harga seribuan…tanpa modal karena mengambil persediaan pisang dan tepung saya :)

    Salam Kenal,
    Menik
    http://blog.keyshasnack.com
    http://www.keyshasnack.com

  24. facebook nya apa mas… add saya yach… saya ingin belajar lebih banyak…
    Rian Setiawan <<< facebook saya

  25. Pendidikan wirausaha sejak dini memang harus dilakukan. Selain passion dr anak, dukungan dari orang tua jg sgt mempengaruhi perkembangan jiwa wirausaha anak. Saya jg memulai usaha sejak SD dengan membuka penyewaan buku di rumah, kl wkt itu orang tua tdk mendukung, mungkin perkembangan jiwa wirausaha sy tdk bs spt skrg.

  26. hem…
    mau nanya juga sih…
    memasarkan produk paling mudah and dicerna masyarakat itu gimana caranya?
    cz saya baru merintis usaha

  27. Baca postingannya jadi teringat masa2 sekolah dasar. Saya buka usaha taman bacaan, rumah hantu, jualan susu murni, susu kedelai, dan banyak lagi yang gagal dan saya sendiri sudah lupa ;p

    Syukur mental wirausaha sejak dini tersebut mengantarkan saya pada kedua toko online saya indoteknik.com dan indoseluler.com

    Posting yang menarik, bravo pak Nukman

  28. yerita fath Says:

    Saya punya usaha bimbel. kepuasaan pelanggan versi bimbel bagaimana.

  29. saya pun walau udah gede kayak gini,udah kerja malah,masih juga kok ke pasar tradisional!
    awalnya malu,tapi lama-lama jadi ngerti “trend”
    barang yang paling dicari orang, harga wajar ssebaiknya berapa dll.Jangan malu untuk pergi ke pasar,becek,sesak jadi hal biasa dan menjadi tabungan pengalaman suatu hari nanti!

  30. benar sekali ….saya sejak dibangku SD sudah belajar jualan duwet / jamblang yg dipetik dari pohon dibelakang rumah saya jual ke teman2 disekolah dan hasilnya untuk beli buku dan alat tulis alhamdulillah sampai sekarang saya masih berjualan tapi dibantu oleh team marketing ternyata jiwa enterpreneur itu terdeteksi sejak dini.

  31. salut pak nukman, cerita anda mengingatkan masa kecil saya yang juga tumbuh mandiri bukan karena jiwa enterpreneur tapi lebih kepada “kepepet” karena tidak ada uang jajan. Ketika SD saya suka ngambil”kelaras” (daun pisang yang kering/tua) lalu saya jual ke warung untuk ditukar dengan uang atau jajanan, dan hal-hal lain seperti itu yang bisa menghasilkan uang. tapi sekarang hal seperti itu tdk pernah terpikir kembali mungkin karena saya sudah mengharapkan gaji yang tdk seberapa yang saya terima trus apa dong yang harus saya lakukan agar hal spt masa kecil itu muncul kembali?

  32. wah bagus sekali artikelnya…
    entah kewirausahaan itu bakat ataukah keterampilan (tanpa bakat) yang jelas sedikit banyak pengalaman masa kecil memang mempengaruhi.
    saya dulu juga sempet buka persewaan komik, jualan krupuk di kantin sekolah pada waktu SD. Jualan kartu telepon, tas, kaos waktu SMP-SMA. dan buka agency pengajar private pada waktu kuliah…
    Walau saat ini saya bekerja sebagai PNS akan tetapi dorongan berwirausaha kuat sekali, mungkin kelak saya akan kembali berwirausaha.

  33. Rasullullah sendiri sudah mengenal pasar sejak kecil, ia pun mempelajarinya step by step dari pamannya abdulmutolip. semoga kita bisa membawa anak2 kita menjadi wiraushawan yg mandiri dan jujur :)

  34. tidak ada kata terlambat….memulai dari sekarang kenapa tidak……TX

  35. hem…dulu saya suka membuat “gambar tempeL” bikinan sendiri…trus saya jual ke temen2..he…terharu…
    smangadh berwira usaha mandiri kerta jaya!!!

  36. waktu SD aku juga jualan es lilin,hehehehe..
    sehabis pulang aku bantu bapak ambil air di sumur tetangga,untuk campuran cor beton.

  37. ehhmm…aku anak sekolah SMK jurusan penjualan aku jadi ingin mengikuti jejak2 wirausaha yang terdahulu makasi sudah berbagi dengan saya

  38. Tulisan yg tertuang pada artikel diatas, mengingatkan saya waktu kecil dulu.Profesi Ayahku wirausahawan. Waktu SD dulu aku pernah jualan es termos keliling ingin tahu saja dagang itu seperti apa? lalu masa SMP kebetulan pindah ke kota Palu (Sulteng)sempet dagang pakaian ke pasar2 pelosok desa.

    Saya sangat setuju berwirausaha harus dimulai sejak dini..

  39. Setuju, semangat wirausaha harus ditanam sejak dini.. ibarat bibit unggul, siap tanam bila sudah tersemai dengan baik..

  40. yerita fath Says:

    Just do it, action more and no gengsi and talkless. Bapak contoh pelaku dan guru yang baik bagi mata ajaran kewirausahaan

Leave a Reply

Follow   

Twitter FB Email RSS

Search   


Recent Comments   

Rahmat Miftahul Habib:

Well, good luck, Sir… Nice to hear that.. Hope you will be more successful in the...

budi hadmajaya:

feed burner sdh dicentang pak

omagus:

di tunggu artikel kerennya..!

lukman:

wah sampai ada yang berbentuk surat :D tapi yang modusnya seperti ini pasti sudah ada langkah `mempelajari...

greatponco:

Mantaf Bang….