home
Entrepreneurship, Inspirasi

Riset Sebagai Ladang Bisnis

Posted on February 1, 2009

commentsComment: 14 Comments

Oleh: Hasanudin Abdurakhman, Direktur PT Osimo Indonesia

Ada satu kesamaan antara pekerjaan saya sebagai peneliti di Jepang dulu dengan pekerjaan sebagai pengelola perusahaan saat ini, yaitu bahwa saya selalu berhubungan dengan pemasok (supplier). Interaksi saat itu bila saya pandang dari sudut pandang saya saat ini sebagai seorang pengelola bisnis membawa saya pada kesimpulan bahwa dunia riset adalah pasar yang cukup menggiurkan bagi beberapa bisnis.

Pasokan bagi dunia riset cukup beragam. Yang umum adalah alat tulis kantor, komputer dan produk yang berhubungan dengannya, jasa (perjalanan, medical, dan lain-lain). Sedangkan kebutuhan khususnya meliputi berbagai jenis instrumen dan bahan baku penelitian. Dua hal terakhir ini mendominasi alokasi belanja di dunia riset.

Barang-barang untuk kebutuhan riset umumnya mahal. Saya pernah belanja aksesori untuk eksperimen optik berupa lensa, filter, dan barang-barang sejenis itu. Dengan dana JPY 500.000 (sekitar 50 juta rupiah dengan kurs sekarang) saya hanya mendapat satu karton (sebesar karton Indomie) peralatan. Itu belum seberapa. Ketika melakukan riset tentang struktur DNA saya membeli sampel DNA alami seharga JPY 10.000 (1 juta rupiah) per gram. Sedangkan untuk sampel DNA sintetik harganya adalah JPY 10.000 per milligram, atau JPY 10 juta (1 milyar rupiah) per gram! Sampel ini diproduksi oleh Amersham Bioscience sebuah perusahaan yang sekarang sudah diakuisisi oleh General Electric. 

Ada setidaknya dua alasan kenapa produk-produk saintifik berharga mahal. Pertama, produk-produk ini dibuat dengan teknologi tinggi dan teknik yang sangat spesifik. Kedua, pangsa pasarnya sangat sempit dibandingkan misalnya consumers good, sehingga tidak bisa diproduksi secara sangat missal. 

Tapi dua hal itu bagi saya sudah menjadi semacam mitos. Tidak semua produk saintifik itu demikian spesifik teknik pembuatannya, sangat tinggi teknologinya. Ada sebuah gelas dewar, semacam termos untuk menyimpan nitrogen cair untuk mendinginkan sampel pada saat pengukuran dalam eksperimen saya dulu yang harganya sangat mahal. Padahal strukturnya tidak berbeda dengan gelas sejenis yang dibuat di workshop di kampus. Gelas ini mahal karena ia adalah aksesori dari sebuah alat ukur yang memang spesifik teknik pembuatannya.

Sementara itu, pangsa pasar untuk produk saintifik memang terbatas. Namun pada saat yang sama, produsen yang bermain di dunia ini juga sedikit. Artinya rasio antara permintaan dan penawaran tidak sangat jauh berbeda dengan produk-produk lain.

Selain soal mitos tadi, perngguna produk saintifik khususnya untuk keperluan riset tidak terlalu cerewet soal harga. Ini tentu sangat berbeda dengan pengguna di kalangan industri. Di industri kita terbiasa ditekan untuk cost down. Sementara di riset, tekanan itu tidak ada. Kita nyaris tidak pernah ditanya, berapa ongkos yang dihabiskan untuk menghasilkan produk berupa data eksperimen atau prototype. Atmosfer psikologisnya adalah “getting something at whatever cost”. 

Selain itu, proyek-proyek penelitian adalah proyek untuk menghabiskan anggaran, bukan proyek untuk menghasilkan profit. Di ujung tahun anggaran biasanya peneliti berlomba menghabiskan dana, agar dana yang sudah diterima habis terpakai. Kalau tidak, nanti akan ada pemotongan anggaran pada tahun berikutnya. Karena itu pada masa ini mereka belanja tanpa terlalu hirau dengan soal harga. 

Semua yang saya tulis di atas berdasar atas pengalaman saya sebagai peneliti di Jepang, sebuah negara maju dengan aktivitas penelitian berintensitas tinggi. Saya tidak begitu mengenal dunia riset di Indonesia, sehingga tidak bisa menjamin apakah situasi, dan tentu saja peluangnya, persis sama. Namun secara alami seharusnya ada beberapa kesamaan yang bisa dijadikan titik pangkal untuk memicu sebuah bisnis baru.

Di luar soal potensi bisnis yang menarik itu, kejelian melihat dunia riset sebagai ladang bisnis perlu kita cermati dalam konteks enterpremeurship. Dunia riset bukanlah dunia yang mudah dilihat oleh orang awam. Hanya orang-orang yang bersinggungan dengan dunia inilah yang bisa melihat kebutuhannya. Selain itu, produksi barang-barang kebutuhan dunia ini memerlukan know how yang sangat spesifik. Coba bayangkan. Berapa dari kita yang punya akses ke informasi mengenai berapa besar kebutuhan nitrogen cair di Indonesia, dan berapa yang tahu seluk beluk teknis serta biaya produksinya? Kebanyakan dari kita malah mungkin belum pernah mendengar istilah nitrogen cair.

Salah satu yang punya akses ke informasi tersebut adalah para peneliti sendiri. Sayangnya secara umum para peneliti tidak punya bakat bisnis atau tidak berminat pada dunia ini. Penemu produk-produk sains banyak yang puas dengan hidup dari royalty atas temuannya. Jarang ada peneliti yang mampu mengantarkan sendiri  temuannya hingga menjadi produk bisnis. Salah satu contoh suksesnya adalah Stephen Wolfram

Salah satu perusahaan Jepang terkemuka yang inti bisnisnya adalah produk-produk untuk keperluan riset adalah Shimazu Corporation. Seorang karyawannya, yaitu Koichi Tanaka (kebetulan lulusan Tohoku University, almamater saya) mendapat hadiah Nobel Kimia tahun 2002 atas jasanya mengembangkan sistem spektroskopi massa.

Perusahaan ini didirikan tahun 1875 oleh Genzo Shimadzu. Ia berasal dari keluarga bisnis yang memproduksi alat-alat untuk keperluan sembahyang agama Budha. Ia memulai bisnis dengan membuat alat-alat peraga mata pelajaran sains bagi sekolah-sekolah. Sebelum mulai bisnis ini ada semacam regulasi pemerintah yang mengharuskan penggunaan alat peraga serta praktikum di laboratorium dalam pelajaran sains. Namun pada praktiknya hal itu tidak terlaksana di sekolah-sekolah, sehingga bisnis Shimadzu pada awalnya bukanlah bisnis yang cerah. Tapi dia percaya pada satu hal, bahwa Jepang yang miskin sumber daya alam harus mampu mengembangkan sains dan teknologi untuk bisa bertahan di masa depan. Kepercayaan itu yang membuat ia bertahan pada masa-masa sulit.

Dalam masa sulit itu ia mendapat pekerjaan tambahan dari Kyoto Prefectural Physics and Chemistry Research Institute untuk memperbaiki alat-alat eksperimen yang ketika itu adalah barang impor. Kesempatan ini justru membuka peluang bagi Shimadzu untuk bersinggungan lebih jauh dengan dunia riset berikut know how dalam memperoduksi alatnya. Ini kemudian mengantarkannya untuk terlibat pada pengudaraan balon berawak pertama di tahun 1877. Kisah lengkap mengenai Genzo Shimadzu beserta Shimadzu Corporation dapat disimak di sini

Kisah sukses Genzo Shimadzu ini memberi saya (mudah-mudahan para pembaca juga) beberapa pelajaran. Pertama, tidak perlu terjebak pada problem 9 titik bahwa hanya saintis yang mampu memahami kebutuhan dunia riset. Kedua, Indonesia saat ini memang bukan negara maju dalam riset. Namun ini tidak berarti peluang untuk menjadikan dunia riset sebagai lahan bisnis lantas sama sekali nol. Shimadzu memulai usahanya saat dunia riset Jepang jauh di bawah level Indonesia saat ini. Ketiga, Shimadzu berbisnis dengan sebuah kepercayaan akan masa depan. Ia tak hanya mengikuti perkembangan trend. Tapi ia turut merekayasa trend masa depan menuju situasi yang menguntungkan bagi bisnisnya.

 
Catatan: 

Hasanudin Abdurakhman adalah mantan peneliti yang mengaku baru belajar di dunia bisnis, dan belum mampu pindah kuadran menjadi pengusaha.

Tulisan ini dipersembahkan khusus untuk Sudutpandang.com

 

Tulisan terkait:

Bisnis Berbasis Research and Development

Bookmark and Share

14 Responses to “Riset Sebagai Ladang Bisnis”

  1. pipin kuresmiati Says:

    membaca tulisan ini saya ersenyum…

    kenapa angaran penelitin di kita kok terbuang bgt saja ..sdh mulai jaman orba Pelita I s/d VI sampai tumbang rezimnya..tetep saja tidak ada perubahan hanya menghabiskan anggaran dg makan enak tidur nyenyak di hotel berbintang kalo gak ke luar daerah/LN..sisanya masuk kantong..sudah itu selesai..
    masalahnya yang utama klo saya liat tdk punya jiwa intrepreuneur,bisanya mengahibiskan..tapi tdk bisa menjual hasil penelitianya..tidak bisa kerjasama dg perusahaan yg membutuhkan hasil penelitian itu..dan tidak jeli apa yg harus di jual hanya ikut trand aja..angaran yg di gunakan pun malah di potong sana sini..jadi hasil penelitiannya gak optimal…

  2. info yg menarik dan memberi inspirasi… sebenarnya putra-i bangsa indonesia sudah banyak yang mampu menciptakan produk dari riset namun sayangnya sepertinya itu semua mentok di penghargaan saja alias tidak ada follow up lebih lanjut untuk penerapannya, lihat saja beberapa tahun terakhir ini semakin banyak perusahaan2 besar (dari perusahaan telekomunikasi sampai perusahaan rokok) yang membuat ajang perlombaan inovasi produk bagi masyarakat terutama untuk kalangan pelajar & mahasiswa (tentunya mungkin dengan harapan bahwa produk si perusahaan yang men-sponsori tsb juga bakalan menjadi meledak di pasaran).

    Dari tahun ke tahun sudah terjaring pemenang2 dengan produk2 inovasinya, mereka yang menang diberi hadiah bahkan ada yang di-wisatakan ke luar negeri. Namun yang menjadi pertanyaan adalah dari sekian produk inovasi yang menjadi jawara atau nominasi, adakah produk tsb yang memang sudah di aplikasikan ke kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan fungsi dari produk inovasi tersebut (setahu saya kok belum ada ya… atau saya yang belum tau??? )atau hanya sebatas di umumkan saja bahwa Si A menjadi Jawara dalam ajang Inovasi Produk dengan produknya yaitu Mobil Terbang misalnya ?

    Mungkin jika Si A yang menjadi jawara tsb mempunyai kapital yang besar, bisa saja dia sendiri benar-benar menerapkan produk inovasi yang dibuatnya dan kemudian bisa di aplikasika ke kehidupan sehari-hari, namun sebaliknya jika tidak ada dukungan dari orang yang mempunyai kapital besar mustahil bagi Si jawara (yang tak mempunyai kapital)untuk bisa mengaplikasikan produk ciptaannya tesebut… (maaf jika agak OOT)

  3. Aku setuju sekali dgn pendapat Pipin, anggaran apapun juga (anggaran negara) tetap potong sana potong sini, habis dah…
    Untuk lomba dan penghargaan untuk penelitian melalui berbagai event yang diselenggarakan perusahaan merupakan hal yang positif, minimal ada niat untuk lebih maju meskipun hasilnya belum diaplikasikan semua

  4. Riset, bisnis, kemaslahatan umat. Point manakah yang harus kita tonjolkan terlebih dahulu? Riset merupakan upaya untuk berinovasi dan jika berhasil si penemu akan mendapatkan keuntungan berupa kepuasan dan juga mungkin royalti. Bisnis tentu saja berkaitan dengan keuntungan, dan kita tidak memungkiri itu bahwa keuntungan memang kita perlukan.

    Kemaslahatan umat, ini mungkin faktor yang perlu dikaji dan lebih diperhatikan. Jika gambarkan dengan ekstrem apakah dengan penemuan itu.. (misal dibidang alat-alat di bidang medis) masyarakat yang miskin bisa menikmatinya?

    Bagaimana seharusnya menyikap hal ini, ideal atau tidaknya sebuah riset?

  5. .
    Lantas, apa gunanya ada LIPI yah ???

    Apa gunanya mentri Ristek ???

    Ngrokok-ngrokok, ngopi, mbaca koran dan nge Blog ???

    :roll:

  6. Salam.

    Aku OOT banget ya Mas NL

    Aku kangen karo mas Hasan iki je…
    alhamdulillah, mundak bagus lan mundak pinter

    Semoga makin jernih memandang hidup dan kehidupan ini dan tetap menjadi Kang Hasan yang mau mengantarku ikut MUNAS.

    Salam

  7. kang Hasan

    Kalau aku baca, tulisan kang Hasan merujuk pada penelitian2 tingkat tinggi, berharga mahal,membutuhkan ilmu tingkat tinggi, level doktoral gitu deh. Sementara, kalau saya baca koran, kan ada juga tuh kang, orang-orang sederhana yang menemukan atau menciptakan benda-benda tepat guna. Kayak briket batu bara..atau dosen di purwokerto yang menggunakan sedotan buat simpan sperma (?).Lupa-lupa ingat makanya pakai tanda tanya.Belum lagi orang2 dari dunia hiburan yang menciptakan dan kemudian menjual karyanya? Dan kalau liat di Malioboro-Jogja, tiap minggu pasti ada karya souvenir baru dan laris kang…Itu kan sama aja dgn kegiatan kang Hasan meneliti nitrogen? maksudnya, meneliti lalu menjual hasilnya kan? Jadi, menurut aku, penelitian sih banyak kang, tepat guna dan bermanfaat buat banyak orang, hanya saja tidak mengikuti kaidah penelitian ala akademia.

  8. Pak Sugeng,
    riset dan bisnis BISA untuk kemaslahatan ummat. mohon melihatnya tidak dengan cara parsial seperti tercermin dalam komentar bapak di atas.
    riset, bisnis, dan kemaslahatan, masing-masing harus dilihat atau didudukkan dengan cara yang tepat, sehingga tidak memberi beban yang berlebih dan tidak pada tempatnya.

    untuk soal ini mungkin tulisan saya di kompas beberapa tahun yang lalu bisa dijadikan acuan tentang bagaimana saya memandang dunia riset, dalam konteks kemaslahatan umat:

    http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0403/09/opini/898464.htm

    hasan

  9. maaf ada yang kelupaan.

    riset, bagi saya, terlalu sederhana bila dipandang untuk menghasilkan royalti bagi penemunya. apa yang kita nikmati saat ini adalah produk-produk riset. komputer, internet, tentu saja tv, hp, mobil, dan lain-lain. semua itu untuk kemaslahatan umat. bukan hanya produk-produk medis, seperti yang anda contohkan.

    pada dasarnya produk riset itu netral. siapa yang diuntungkan, siapa yang mengambil keuntungan, itu sudah bukan wilayah orang riset lagi. itu sudah wilayah policy pengelola negara. internet bisa saja menguntungkan orang-orang desa, kalau pengelola negara mampu memanfaatkannya dengan benar untuk keperluan itu.

    sebaliknya, cangkul bisa saja hanya menguntungkan tengkulak/konglomerat kalau tidak dikelola demi kepentingan yang berpihak pada rakyat.

    hasan

  10. gimana cari orderan bisnis riset mas?

  11. Kalau hasil penelitian di negeri kita ini, cenderung langsung masuk guang perpustakaan aja. ;-) hehehe… sangat jarang banget deh yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan bisnis. :(

    Kalau dilihat dari kaca mata bisnis, yaa mungkin anggaran penelitian itulah obyek bisnisnya…jika kita ajukan proposal penelitian yang dahsyat…dengan biaya milyaran dan disetujui… wah asyik ya.. :D

    Salam Sukses Penuh Berkah dari Surabaya,

    Wuryanano :)
    Motivational Blog - Support Your Success
    Entrepreneur Campus - Support Your Future

  12. Benar sekali mas hasan, menurut saya kalau bangsa ini mau maju. Harus mengembangkan bidang riset, karena riset adalah salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa.

    Bukan bangsa yang hanya bisa menghabiskan SDA yang terbatas, yang suatu saat akan habis. Atau mau dikibulin aja sama bangsa lain yang impor SDA dari kita dengan harga murah dibandingkan setelah diolah dan dijual kembali ke sini dengan harga mahal dan gak tahu kalau itu dari tanahnya yang diwarisin engkong ama babenya.

    Oleh karena itulah untuk mengolahnya dibutuhkan kemampuan dalam bidang teknologi, nah untuk mendapatkan kemampuan itulah kita harus melakukan riset.

    Yang mungkin untuk jangka pendek mungkin terlihat mubazir atau menghabiskan dana tetapi dalam jangka panjang akan menghasilkan value yang sangat besar bagi negara mis: Jepang pada tahun 1945 di Bom dan luluh lantak tapi lihat sekarang sanggup maju dan menjadi kekuatan ekonomi yang sangat besar yang secara langsung berdampak pada kesejahteraan dan kemaslahatan umat

  13. apa sudah ada perusahaan riset yang establish di Indonesia? Saya baru dapat perusahaan riset marketing yang bejibun. Belum ada perusahaan riset saintifik.
    Tx for the information

  14. Listio Wuryanto Says:

    anggaran riset kita sangat rendah, sudah gitu kadang2 risetnya pakai data bohongan, habis dananya kurang heee

Leave a Reply

Follow   

Twitter FB Email RSS

Search   


Recent Comments   

Kreshna Aditya:

Wowww, nggak nyangka masih banyak aja yg salah kaprah soal homeschooling. Padahal kalo mau googling...

Firman:

FB merupakan sarana promosi termurah dan terukur untuk produk-produk UKM seperti http://taskertas.com dengan...

firman:

pilih sekolah formal, setuju dengan comment di atas..

firman:

orang yang bijaksana mengerti apa yang akan dilakukan dan akibatnya nanti.

ikhsan:

saya juga termasuk korban facebook, akun saya ada yang ngebajak dan bikin status yang nggak sopan...