Posted on August 3, 2008
Setiap kali saya keluar Jakarta, biasanya yang terpikir pertama kali adalah kuliner. Masakan apa yang enak di daerah yang akan saya tuju. Saya berusaha mencicipi berbagai masakan tradisional yang menjadi andalan daerah. Demikian juga ketika saya diundang panitia Pinasthika Award 2008 untuk menjadi salah satu pembicara di ajang orang kreatif iklan itu di Jogjakarta, pekan lalu. Saya sudah membayangkan akan mencicipi sate klatak, gudeg Yujem, dan lainnya selama tiga hari di Kota Gudeg itu. Namun padatnya dan menariknya acara Pinasthika Award 2008 membuat rencana saya gagal total. Sebagai gantinya, saya malah kuliner usaha — mencicipi, mengamati, dan berbaur dengan para pengusaha kreatif (creativepreneur) yang sedang tumpah di Jogja.
Pada sesi pertama di hari pertama, Kamis 31 Juli 2008, saya mendengarkan dengan serius bagaimana Lulut Asmoro, Presdir JDWT Adverting dan Andi S. Boediman, Direktur Digital Studio, mengupas industri iklan. Salah satu point penting yang saya catat adalah pendapat Lulut, yang memandang iklan bagus sebagai iklan yang memenangkan award. Meski iklan yang memenangkan award belum tentu lebih berhasil ketimbang iklan yang tidak memenangkan award, namun meraih award sangat bermanfaat untuk meningkatkan/menjaga reputasi perusahaan iklan. Itulah hukum persepsi.
Pada sesi kedua, saya sepanggung dengan Erik Rivai Ridzal. Pertemuan dengan , CEO Jatis Mobile itu mengingatkan masa lalu, ketika saya masih menjadi Direktur Marketing dan IT Detikcom dan Erik di Bank Bali yang bertanggungjawab di Online Banking. Kami juga sepanggung waktu itu untuk sebuah acara. Kini, kami berdua berbicara mengenai tren di online marketing communications. Bedanya, dulu seminarnya ditata gaya korporat. Kali ini beda banget: suasana tinju. Jadi dua pembicara seolah di adu di atas panggung tinju, ketika masuk dilengkapi sarung tinju dan ketika bicara masih harus pakai jubah tinju. “Gila banget” pokoknya.

Saya membahas tren online marketing communications di Internet, terutama yang terjadi di Indonesia dan bagaimana memanfaatkannya. Sedangkan Erik mengupas kecenderungan pemasaran melalui media mobile. Apa yang disampaikan Erik saya rekam betul di benak saya karena itu memperkaya khasanah saya mengenai mobile marketing.
Kuliner usaha kreatif saya lanjutkan di hari kedua dan ketiga. Banyak pendekar bisnis dan kreatif yang berbagi ilmu di sana. Namun saya amat terkesan dengan dua pembicara. Pertama, Hanung Bramantyo. Begitu selesai memberi pemaparan selama 45 menit, saya baru sadar, sutradara Ayat-Ayat Cinta itu bukanlah sekadar seorang sutradara film. Ia adalah seorang sutradara yang memiliki kemampuan lengkap — termasuk menulis cript. Lebih dari itu, ia adalah seorang yang memiliki mindset pengusaha. Bagaimana caranya melawan kecenderungan pasar (yang lebih senang mistik, komedi, dan lainnya) ketika membuat film Ayat-Ayat Cinta, bagaimana taktiknya ketika menghadapi banyak keterbatasan ketika membuat film (termasuk keterbatasa budget), menunjukkan otak pengusaha. Buat dia, kreatif tanpa batas itu bukan kreatif. “Yang namanya kreatif adalah bagaimana kita tetap bisa menghasilkan krearivitas optimal dengan batas-batas yang ada,” begitu pendapatnya.
Kedua, A Noor Arif, Presdir Dagadu, yang membawa tema “Berbisnis Kreatif Sejak Dini”. Ia menceritakan bagaimana membangun Dagadu sejak 14 tahun lalu bersama teman-temannya ketika masih kuliah dengan modal “bantingan”, dari sekadar kaos unik kini menjadi “oleh-oleh khas Jogjakarta”. Meski Arif mengakui materinya lebih cocok untuk mahasiswa agar memotivasi mereka menjadi pengusaha, saya tetap mendengarkan dengan serius. Perjalanan bisnis seseorang, buat saya, selalu mengasyikkan, unik, dan pasti ada nilai-nilai penting yang bisa saya terapkan.
Tentu saja, habis itu saya lanjutkan perbincangan dengan Arif mengenai Jogja — sambil diskusi soal kangen-kangenan karena kami sama-sama dari Universitas Gadjah Mada. Bedanya: Arif dari Teknik Arsitektur. Saya dari Teknik Nuklir.
Saya juga menghadiri acara peluncuran buku “Jualan Ide Segar” yang ditulis oleh M. Arief Budiman, S.Sn, salah satu founder dan direktur PetakUmpet, biro iklan berbasis di Jogja namun sudah merambah ke Jakarta. Sehari sebelumnya, saya mendapatkan buku itu langsung dari Arief. Saking asyiknya membaca, buku setebal 200-an halaman tersebut saya lahap dalam tempo sehari. Satu bab yang paling saya senangi adalah Bab IV. Jatuh Bangung Mengejar Mimpi yang dibuka dengan kutipan kalimat pebasket legendaris Michael Jordan: Jika saya kalah, saya akan kalah sambil menembak.
Tentu, saya tidak hanya kuliner usaha kreatif di ajang Pinasthika Award. Saya juga bertemu pengusaha muda, ekportir firniture berbasis di Solo, Wahyu Hanggono dan diajak makan ke rumah makannya yang artistik seluas satu hektar di dekat Hyatt Hotel, Jogkakarta: dengan sajian khas Pecel Solo. Well…. saya tiba-tiba seperti orang yang tidak makan sebulan dan maunya menyantap semua masakan yang tersaji di meja. Saya mencicipi nasi pecel Solo, dengan menu empal goreng dan kering tempe. Masih kurang puas, saya memesang bebek goreng. Eh, karena lidah belum terpuaskan, saya memesang pecel tanpa nasi. Minumannya? Tentu saja yang tradisional: kunir asem! Dan yang penting, sambil makan saya diskusi banyak dengan Wahyu mengenai bisnis furniturnya, ditemani dengan secangkir jahe panas!.

Saya puas betul dengan kuliner usaha kreatif selama tiga hari tersebut. Benar-benar dapat mencicipi racikan bisnis dari orang-orang pertama.
Untuk memuaskan kuliner yang beneran, malamnya saya ajak anak istri lesehan di emperan Maliboro. Menyantap burung dara goreng yang gurih dan empuk — dengan nasi liwet dan sambal segar yang bikin ngiler. Selama dua jam nongkrong di jalan bersejarah itu, saya “nanggap” grup pengamen yang melantunkan lebih dari sepuluh lagu-lagu yang pernah populer di Joggja pada awal tahun 1980-an, seperti lagi-lagunya Beatles, Ebiet G Ade. Sementara itu anak saya asyik digambar oleh seniman gambar.
Kecuali itu, saya juga sempat makan malam di Gajah Wong dengan menu Eropa. Bahkan pada saat pengumumam pemenang, pembicara dan panitia diudang dinner di Benteng Vanderberg Vredeburg, titik nol Jogjakarta.
Hm.. rasanya, inilah kuliner terhebat saya selama ini: uliner usaha kreatif yang memuaskan otak dan spiritual, sekaligus kuliner makanan enak yang memuaskan lidah ( yang informasi enaknya sesungguhnya juga diolah oleh otak).
So, saya ucapkan terima kasih kepada panitia Festival Iklan Pinasthika, khususnya kepada Taufik Ridwan, Andika Dwijatmiko, Pungkas Riandika dan Fajar L Ujiantoro.
Well, good luck, Sir… Nice to hear that.. Hope you will be more successful in the...
feed burner sdh dicentang pak
di tunggu artikel kerennya..!
wah sampai ada yang berbentuk surat
tapi yang modusnya seperti ini pasti sudah ada langkah `mempelajari...
Mantaf Bang….
August 3rd, 2008 at 1:52 pm
presentasi di atas ring tinju, idenya kreatif banget!
August 3rd, 2008 at 2:07 pm
Buku “Jualan Ide Segar”…layak di-review segera. Cover-nya sudah amat mengundang.
August 3rd, 2008 at 3:53 pm
saya melihat presentasi dan akting pak nukman di ajang pinasthika 2008, top abis. energik dan paparannya memunculkan ide segar bagi saya pribadi, top bgt pak..
August 3rd, 2008 at 4:14 pm
Puas sekali sewaktu kuliner diajak oleh Pak Nukman untuk memperkaya ilmu pada seminar Pinasthika kemarin. Terima kasih banyak atas kesempatan yang diberikan pak.
Semoga semakin sukses!
August 3rd, 2008 at 5:25 pm
Terima Kasih Pak atas kedatangannya… kehadiran Pak Nukman sekeluarga membuat suasana Pinasthika 2008 jadi lebih asoy… untuk kemajuan industri kreatif Indonesia khususnya Jogja.
August 3rd, 2008 at 11:50 pm
Akhirnya ditulis juga..
Kok tidak “menyentil” tentang Yahoo nya Pak?
Memang mantap acaranya, mulai dari seminarnya, makanannya, obrolannya.. kumplit..
NL:
Kalau ditulis semua nanti yang baca bosen karena kepanjangan tulisannya.
Yang saya tulis hanya hari pertama dan materi yang saya perkirakan bisa memberi semangat pengunjung blog ini
August 4th, 2008 at 1:29 am
Alhamdulillah, kendati gak ngeliat langsung presentasi om Nukman, tapi liwat postingan ini pun serasa ikut merasakan nikmatnya sajian ‘kuliner usaha’. Apalagi saat ngebaca barisan kata-kata penyemangat dari Michael Jordan sama Hanung Bramantyo. Wuaahh…jadi on fire! Semangadh! Makasih banyak atas ’suguhannya’,Om
August 4th, 2008 at 9:27 am
Hahahaha… idenya ada2 ajah… di atas ring… Pak Nukman jg bergaya petinju….. keren loh pak..
August 4th, 2008 at 12:52 pm
Wah, tanggal 31 Juli kemaren itu bener2 The Nukman Show!! Pak Nukman sukses mencuri perhatian semua hadirin di seminar dengan gaya asiknya…hehehehehe
August 4th, 2008 at 1:03 pm
Sebenarnya orang Indonesia pada dasarnya kreatif. Terbukti banyak sekali hasil kreasi bangsa kita yang secara turun-temurun menjadi bagian dari budaya kita, baik sebagai komoditas ekonomi maupun gaya hidup. Ukiran, batik, keris, makanan tradisional, aneka kerajinan tangan, dll yang kita hasilkan banyak dikagumi orang luar.
Seorang bule teman saya berkata bahwa dalam hal kerajinan ukir, keindahan dan variasi ukiran kita tidak ada duanya. Keris bahkan telah menjadi salah satu dari warisan dunia (world heritage) yang dilindungi PBB.
Dalam ranah modern, industri kreatif kita tidak kalah semarak. Perusahaan dan orang-orang yang pak Nukman sampaikan di atas dapat menjadi contoh.
Permasalahan kita adalah selama ini kebijakan ekonomi dan apresiasi masyarakat cenderung kurang berpihak pada mereka. Industri yang mengejar rente ekonomi dan barang-barang merek luar lebih dihargai daripada industri kreatif ril yang menghasilkan karya unik dari anak bangsa.
August 4th, 2008 at 3:42 pm
Matur nuwun sanget mas Nukman, atas sharring tips dan semangat kreatifnya. KAPAN KE JOGJA LAGI?
August 5th, 2008 at 1:57 am
maturtengkyu buat apresiasi atas konsep ring tinjunya yg sebetulnya merepresentasikan gimana seseorang harus bisa survive walo sendiri. Dan ini berbeda dgn konsep malam awarding dimana dekorasi lapangan bola yag butuh teamwork yg bagus…
Regards
Affi-Festival Director Pinasthika 2008
August 5th, 2008 at 9:10 am
Pinasthika 2008, ajang belajar dan silaturahmi
semoga bisa berjumpa lagi di tahun-tahun mendatang, amin
August 7th, 2008 at 9:25 am
ralat Pak Nukman, benteng di Jogja namanya Vredeburg, bukan Vanderberg

NL: Terima kasih mas. Sudah saya ralat
August 7th, 2008 at 11:36 pm
Pak Nukman,,
kami sangat senang ketika Bapak membawakan euforia tinju,,membuat penonton tidak berhenti berdecak kagum -sampai beli training di Jogja sehari sebelum acara hehew-.
kereeennnn buanget,,saya sendiri ngefans bangeett sama penampilan Bapak -meski kalau ketemu sering ketok kepala saya hehehe-
TetaP seManGaT buaT PaK Nukman
Regards
,,n_n,,
cipud
August 8th, 2008 at 7:24 am
Thanks Pak Nukman sharingnya, inspirasi baru lagi nih. Dan menarik berbicara diatas ring tanpa ada pukulan
Insya Allah saya ke Yogya lagi tgl 20-22 Agustus ini untuk pembukaan cabang bisnis saya (http:/dokterkomputer.com). Akan saya sambangi tempat2 kuliner favorite Pak Nukman disana.
August 8th, 2008 at 5:44 pm
Pak Nukman,,,,WOW.selain oke dalam berpresentasi live, tulisannya membuat mata-mata kita semua terbelalak. Muackasih buat ucapan terima kasihnya. Buat kaos Pinasthika sabar ya….gak janji juga…
Mpe ketemu di Jakarta Pak,,,,
salam buat putri-putrinya.
Salam juga dari Bohlam dan Bohlamers.
August 8th, 2008 at 6:51 pm
pak Nukman,,,
makasi obrolannya di lobby waktu itu ya,pak,inspiring..hehe.
jadi harus selalu bjuang plus mandiri.
pembicara paling asik gaya tinjunya,,salut,,
-utie-
anak nakal yang minta poto di booth printworld
August 18th, 2008 at 7:43 pm
waah… bner ya pakdhe,, kalo mau jadi pengusaha,, harus kreatiif…,
August 19th, 2008 at 5:21 pm
wah asik juga ya pak kalo kemana-mana bisa menikmati kuliner …
pengen rasanya
August 22nd, 2008 at 3:20 pm
[...] Ya, meski kadang di cap bandel karena sering membolos, saya memiliki kepercayaan dan mimpi yang tinggi (untuk ukuran anak dari kota kecil seperti Lamongan). Namun, saya percaya, jika kita mau mencari maka selalu ada jalan untuk masalah yang ada. Dan yang saya butuhkan adalah kreativitas mencari jalan itu. “Yang namanya kreatif adalah bagaimana kita tetap bisa menghasilkan kreativitas optimal dengan batas-batas yang ada,” begitu kata Hanung Bramantyo di sini. [...]
September 21st, 2008 at 11:11 am
wuueeeh..pak persentasinya kuereeen bgd..menggugah ide..
November 21st, 2008 at 8:33 am
huebat…. Inspiring banget!! Thanks Om.
February 16th, 2009 at 3:47 pm
Wah…harusnya mas jgn hanya mencicipi makanan di daerah malioboro doang. Masih banyak tempat kuliner dijogja yang enak2 dengan views yang menakjubkan. Emang djogja itu terkenal dengan kulinernya. Mulai dari yg termurah ampe yang termahal. Harusnya djogja tidak hanya menjual souvenir,batik,dll. tetapi jg bs menjual kulinernya ke wisatawan. Mesti TOP deh. Tp salut deh buat panitianya yg menyajikan suatu ide kreatif. ide kreatif tidak akan mati dimakan jaman.
April 20th, 2009 at 10:34 pm
wah dekat dengan rumah dan lokasi usaha kami tuh pak nukman … pecel solo nya