Posted on March 26, 2008
Beruntung saya mengundang Jamil Azzaini, penulis best seller Kubik Leadership, untuk memberikan siraman rohani ketika kami, Virtual Consulting, syukuran pindahan kantor hari ini. Inspirator sukses mulia yang sekarang menjadi motivator kondang hingga diundang ke manca negara itu antara lain memberikan kisah mengenai hiu-hiu kecil. Ia menceritakan bagaimana nelayan Jepang harus berinovasi agar ikan-ikan tangkapannya tetap segar dan berharga mahal.
Di saat ikan mudah ditangkap di pinggir pantai Jepang, ikan-ikan itu bisa dijual di pasaran Jepang dalam kondisi segar bugar sehingga harganya pun mahal. Sebagai pecinta ikan mentah, rakyat Jepang amat menghargai kesegaran ikan. Namun, lama kelamaan, ikan makin sulit di dapat di pinggiran, sehingga nelayan mesti ke tengah laut untuk mendapatkannya. Sayang, makin jauh ke laut, makin jauh pula jarak pulang, sehingga ikan sudah tidak segar lagi ketika sampai ke pasar. Harga ikan pun jatuh.
Para nelayan mesti putar otak untuk menyiasatinya. Maka dilengkapilah kapal dengan pendingin agar ikan tetap segar. Tapi ternyata orang Jepang tak suka ikan beku. Harga jual tetap jatuh. Tak kehabisan akal, kapal mereka dilengkapi dengan tangki besar agar ikan tetap hidup sampai di pasar. Namun, karena tangkapan yang dimasukkan ke tangki banyak, ikan berdesak-desakan sehingga kurang gerak. Ternyata, daging ikan yang kurang gerak tidak seenak daging ikan lincah yang hidup di alam bebas. Maka, meski harga lebih bagus ketimbang ikan beku, tetaplah tidak semahal ikan tangkapan di tepi pantai.
Setelah putar otak, bingo! mereka dapat ide: Masukkan hiu-hiu kecil ke dalam tangki tersebut. Memang, hiu kecil itu akan memakan sebagian ikan. Namun, kehadiran ikan pemakan ikan itu menimbulkan kekalutan di dalam tangki, ikan-ikan berlarian sekuat tenaga menghindari sergapan hiu kecil. Akibatnya, sesampai di pantai, ikan dalam kondisi segar, karena mereka terus bergerak lincah sepanjang perjalanan. Harga jual ikan pun kembali semahal harga ikan yang ditangkap di pinggir pantai.
Moral ceritanya adalah, tanpa ada faktor pendorong yang kuat, kita akan mudah terlena. Hidup menjadi hampa. Kreativitas mandul. Kerja pas-pasan. Pencapaian kita rendah. Kita menjadi tak bisa meski sebenarnya bisa. Tubuh kita beku. Otak kita macet. “Harga” kita rendah.
Maka , kata Jamil, undanglah hiu-hiu kecil dalam hidup kita. Merekalah yang akan memaksa kita untuk bergerak lincah. Peliharalah mereka agar hidup kita lebih hidup dan bergairah.
Hiu-hiu kecil itu bisa berupa apa saja. Bisa berupa tantangan-tantangan positif — misalnya bagaimana agar kinerja kita meningkat di atas rata-rata, bagaimana kita bisa menjadi direktur utama dalam tempo lima tahun, atau bagaimana agar bisa berubah dari kondisi “menerima” menjadi “memberi”.

Bisa pula berupa ketakutan-ketakutan, seperti takut kalah bersaing, takut tersingkir dari kursi manajemen, takut tidak naik gaji, bahkan takut dipecat.
Sudahkah anda memelihara hiu-hiu kecil dalam diri anda?
NB:
Semua tamu yang hadir pada acara syukuran pindahan kantor hari ini saya hadiahi buku terbaru Jamil Azzaini yang berjudul Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia. Tentu, saya juga membeli beberapa buku tersebut untuk Virtualers — panggilan sayang saya kepada seluruh tim Virtual Consulting. Di buku yang sudah dicetak ulang beberapa kali itu juga ada kisah mengenai hiu-hiu kecil.
Well, good luck, Sir… Nice to hear that.. Hope you will be more successful in the...
feed burner sdh dicentang pak
di tunggu artikel kerennya..!
wah sampai ada yang berbentuk surat
tapi yang modusnya seperti ini pasti sudah ada langkah `mempelajari...
Mantaf Bang….
March 26th, 2008 at 7:37 pm
Om Nukman, kalau hiu yang dihadirkan terlalu besar bisa bahaya juga ya….
Iya, jangan kegedean, nanti malah nerkam kita sendiri.
March 26th, 2008 at 7:41 pm
[...] pengarang buku ini pada Syukuran Pindahan Kantor Virtual Consulting hari ini. Nukman Lutfie dalam SudutPandang.com mengulas lebih lengkap petuah dari Jamil [...]
March 26th, 2008 at 10:17 pm
Pak Nukman…
Bos di (mantan) kantor saya pernah berkata, “Kemapanan adalah sesuatu yang sangat berbahaya, karena bisa membuat kita terlena”. Sepertinya ini sesuai dengan filosofi pada tulisan di atas.
Dengan menjadi entrepreneur, kita seperti hidup dengan hiu-hiu kecil yang selalu siap untuk memangsa kita. Kondisi ini akan menyebabkan kita selalu siaga dan terus termotivasi untuk memperbaiki diri.
Tulisannya bagus sekali, Pak. Saya benar-benar terinspirasi
March 26th, 2008 at 11:07 pm
Pak Nukman, selamat atas pindahan kantornya dan terima kasih atas undangannya.
Alhamdulillah saya bisa hadir di acara syukuran tersebut dan mendapatkan pencerahan dari Ustadz Jamil serta bukunya dari Pak Nukman.
Kantor barunya sangat luas dan lebih seperti berada di rumah sendiri, saya merasakan aura kekeluargaan yang baik di kantor barunya, pasti akan menghasilkan produktifitas perusahaan yang lebih tinggi.
Sukses terus untuk Virtual…
Terima kasih mas Iim.:)
March 27th, 2008 at 12:04 pm
Sorry pak, saya ndak bisa hadir pas acara pindahan Virtual.
Kantor baru, semangat baru, tantangan baru !!
Bravo Virtual!!
berarti kapan-kapan mesti nengok ke sini
March 27th, 2008 at 1:11 pm
Pinter juga ya nelayannya. rugi jadi nelayan… mending jadi blogger
March 27th, 2008 at 3:31 pm
tanpa ada faktor pendorong yang kuat, kita akan mudah terlena. Hidup menjadi hampa. Kreativitas mandul. Kerja pas-pasan. Pencapaian kita rendah. Kita menjadi tak bisa meski sebenarnya bisa. Tubuh kita beku. Otak kita macet. “Harga” kita rendah.
———-
setuju banget pak…dengan faktor pendukung itulah kita menjadi lebih berarti dan menciptakan sesuatu yang lebih baik untuk diri kita pada khususnya dan orang lain pada umumnya.
artikel yang menarik pak.
March 28th, 2008 at 6:48 am
New office…New challenge…Fresh Fish…Best Price… Viva mr. Nukman. Kami mau tanya Alamat blog Ustadz Jamil ‘the motivator’.. Bravo mr. Jamil..
Blog Jamil bisa dilihat di: http://jamil.niriah.com/
March 28th, 2008 at 9:53 am
“undanglah hiu-hiu kecil dalam hidup kita. Merekalah yang akan memaksa kita untuk bergerak lincah. Peliharalah mereka agar hidup kita lebih hidup dan bergairah”
sepakat om…
tapi kriteria hiunya seperti apa ya om nukman ?!
asal bisa membuat kita bergerak lincah, sehat, dan “berharga tinggi”
March 28th, 2008 at 10:38 am
intinya “nekad”, habis-habisan?
March 28th, 2008 at 11:03 am
Selamat ya Pak Nukman. Semoga selalu sukses dan mulia. Saya senang sekali telah diundang dan mendengarkan pencerahan yang amat berharga dari Pak Jamil.
Terima kasih mas Roni. Hadiah bajunya juga sudah sampai
March 28th, 2008 at 1:35 pm
Selamat & sukses di kantor baru ya sahabat ku, dimas Nukman.
Terima kasih mas :). Semoga sukses juga untuk mainan barunya di dagdigdug.com ya
March 28th, 2008 at 8:26 pm
Saya telah dipecat 2 bulan lalu gara2 menulis blog. Namun setelah dipecat justru saya mendapatkan kemampuan utk belajar mengedit buku, mendesain website, mengenal lebih dalam dunia cyber, berkenalan dng orang2 IT, bahkan saya bisa berkenalan dng CEO grup media cetak secara pribadi.
Meski belum dpt sumber penghasilan baru yg tetap (gaji bulanan) lagi, tapi saya mendapat pengalaman yang jauh lbh bernilai daripada uang (setidaknya itu menurut saya), yg mungkin tidak akan saya dapatkan jika masih bekerja di tempat itu.
Tentu semua itu tidak akan terjadi jika saya cuma bisa kesal karena dipecat gara2 hal sepele. Alhamdulillah, dng “menghadirkan hiu2 kecil” saya terhindar dari keterpurukan.
Senang saya mendengar sharing ini. Moga2 lebih jaya setelah dipecat.
March 29th, 2008 at 1:12 am
Pak Nukman…saya suka blognyaa….=))
Btw, bagus sekali nih analogi ikan hiu nya, memang bener kok comfort zone is a dangerous place to be in because at best, we’re just maintaining our life. It’s actually good to be uncomfortable, so we can push ourselves a little harder, stay competitive and stay sharp. Makanya saya mau pulang kampung…mau keluar dari comfort zone..:D
Hayo buruan pulang kandang Hanz. Jadi tahun ini?
March 29th, 2008 at 8:41 am
Ceritanya inspiratif pak, nulisnya juga mengalir dan enak dibaca…
Selamat ya pak atas kantor barunya, juga blog barunya yang segar….
terima kasih mas Aar
March 30th, 2008 at 2:01 pm
Selamat ya Pak Nukman atas kantor barunya. Jangan lupa baca liputannya di blogku ^^
Terima kasih sudah datang ya..
April 1st, 2008 at 7:57 am
selamat atas kantor barunya, saya dapet buku gratisnya juga ga? hehe.. saya jadi tertarik pengen mengundang pak Jamil untuk acara kantor niy.
April 4th, 2008 at 8:57 am
Telat nih baca tulisannya. Sangat menginspirasi. Selamat juga untuk kantor barunya
April 4th, 2008 at 9:52 pm
terimakasih. bagus banget, n inspiratif. salam sukses
April 5th, 2008 at 10:49 am
Om Nukman,
Tulisan anda bagus sekali dan saya mohon izin untuk mengutip tulisan anda dalam blog saya agar menginspirasi rekan-rekan saya yang lain.dengan tidak menghilangkan nara sumber tentunya.
Boleh kan Om?
Salam,
Eka Jo
NL: Mengutip itu maksudnya mengambil sebagian content sebagai kutipan? Silahkan saja mas Eka.
April 22nd, 2008 at 7:06 am
Makasih Om,
Siraman rohaninya
’suntuk’ku ilang nih…
Thank’s
Salam
Adlhan Z
May 7th, 2008 at 3:17 pm
keren
May 7th, 2008 at 6:52 pm
pak ini sangat inspiratif. makasih banyak.
July 21st, 2008 at 10:06 am
Assalamualaykum,,,
boleh nyadur artikelnya khan pak?
thx
Wassalamualaykum,,,
November 24th, 2008 at 8:53 pm
emang susah banget buat memotivasi diri kita sendiri.. tergantung sifat orangnya jg sih..
April 25th, 2010 at 3:35 pm
susahnya cari duit di indonesia, memaksa banyak dari kita menjadi tenaga asing , bahkan ada yang sampai bunuh diri sepulang dari merantau, karena mereka harus membayar hutang dari biaya yang mereka gunakan berangkat keluar negri, sebuah ironis, ada yang bunuh diri karena disiksa, ada yang bunuh diri karena tak sanggup menerima beban sepulang dari luar negri, tapi dari sekian itu, masih banyak yang sukses jadi TKI. terima kasih tki, pahlawan pejuang devisa