Posted on March 5, 2008
Semalam saya ada business meeting di Hotel Mulia Jakarta dengan sobat lama yang sudah menjadi pengusaha sukses. Karena masih menunggu satu tamu penting lainnya, kami ngalor ngidul ngobrol hal remeh temeh sambil menikmati sajian musik klasik live yang dimainkan oleh empat dara bule. Sesekali sahabat saya itu menyempatkan diri mengangkat panggilan yang masuk ke hape-nya. Saya sempat mendengarkan beberapa penggalan pembicaraannya yang menyebut-nyebut mahluk yang sudah lama tidak saya lihat: kerbau!

“Ada apa sih dengan kerbau mas?” tanya saya dengan rasa ingin tahu.
“Buat hiburan saja mas,” kata sahabat saya dengan mata berbinar.
Hiburan?
“Ya, hiburan. Sudah capek dengan yang beginian,” tuturnya sambil menunjukkan body language bahwa yang dimaksud beginian adalah segala tetek bengek yang berkaitan dengan kekayaan, harta, bisnis dan sejenisnya .
“Barusan saya dapat kerbau hamil yang diinseminasi dengan kerbau belang,” lanjutnya dengan mata berbinar.
“Memang mau ditaruh di mana kerbaunya?” tanya saya penasaran. Setahu saya, kerbau lebih suka dataran luas berumput, dengan kubangan lumpur yang adem. Ini Jakarta lho! Bukan kawasan pedesaan yang penuh dengan sawah seperti yang biasa saya lihat ketika masih kecil di daerah Kendal (Jawa Tengah), Wates (DIY), atau disepanjang jalan ketika saya melakukan perjalanan darat di Sumatera.
“Ditaruh di rumah saja mas, biar bisa dipandang dan buat main anak-anak,” jawab sahabat saya itu dengan ringan.
Rumah?
“Rumah saya tanahnya 1,7 hektar mas,” lanjutnya. Itu artinya 17.000 m2!
“Jadi saya pelihara banyak binatang untuk hiburan”.
Ada kambing, sapi, burung onta, bebek peking, bahkan ada 900-an burung merpati yang bebas beterbangan.
Kini ditambah kerbau.
Ah… akhirnya semua kembali ke masa lalu. Ketika segalanya berlimpah, kita jadi ingin kembali ke masa kecil, saat kita bisa bermain dengan begitu riangnya dengan segala hal yang ada di sekitar kita. Ada kerbau, kita naik kerbau dan bermandi lumpur dengannya. Ada ranting pohon, kita buat mainan untuk plentheng, benthik dan sejenisnya. Mengisap sari tebu langsung dari kebun tebu. Ikut memanen padi, bahkan ikut nampi (memisahkan padi yang sudah ditumbuk dengan kulitnya memakai tampah).
Jakarta memang kota keras. Persaingan bisnis begitu ketat. Mereka yang sampai di puncak biasanya adalah mereka-mereka yang bertarung begitu gigih, lupa waktu, bahkan tak sedikit diantaranya yang lupa keluarga. Sangat bisa dipahami jika bisnis hiburan yang berterbaran di kota metropolitan ini selalu mendapatkan pasar.
Sahabat saya ini memilih hiburan yang lain: kembali ke masa kecil bersama keluarga.
Well, good luck, Sir… Nice to hear that.. Hope you will be more successful in the...
feed burner sdh dicentang pak
di tunggu artikel kerennya..!
wah sampai ada yang berbentuk surat
tapi yang modusnya seperti ini pasti sudah ada langkah `mempelajari...
Mantaf Bang….
March 5th, 2008 at 7:32 am
saya kalo ke jogja malah suka ngangkring… mengenang masa lalu:)
March 5th, 2008 at 7:41 am
wah…kerbau jadi binatang favorit kaum konglomerat neh…
lahan bisnis baru neh..kerbau!
March 5th, 2008 at 7:46 am
Ah… akhirnya semua kembali ke masa lalu. Ketika segalanya berlimpah, kita jadi ingin kembali ke masa kecil, saat kita bisa
……
betul sekali pak! masalahnya, mencapai situasi dimana segalanya bisa berlimpah tidak mudah. apalagi buat pekerja.
March 5th, 2008 at 9:46 am
Ke rumah saya aja masih di desa - blitar. Di kaki gunung kelud yang alhamdulillah gak jadi mbledos.
March 6th, 2008 at 10:11 am
iya nih…jakarta kota yang keras….enak kali yah kalau bisa kerja dari tempat yang nyaman seperti kota Bandung tapi mendapatkan penghasilan setara dengan kota Jakarta
March 6th, 2008 at 12:48 pm
he he he ….
urep pancen sak madyo wae …
pak nukman
kulo nyuwun dungo lan pangestunipun
18 maret 2008 kulo dipindah ke pekanbaru
mugo iso nyawang kebo meneh neng kono
March 7th, 2008 at 4:43 pm
Kenapa mesti kerbau…
Kalau hanya kerbau aja, aku ga perlu sampai berdarah-darah di jakarta.
Cukup pulang ke dusun….udah bisa nikmati aroma kerbau, kambing dan sapi…he he he
March 11th, 2008 at 11:47 am
pak kapan lagi ke jurusan, mengenang masa-masa menjadi kerbau nuklir???
April 21st, 2008 at 10:38 pm
orang2 jakarta cape nih kali yaa..?? lari2 dari kenyataan!!!! hehehe, liat kerbau bisa berhenti sejenak kali, abis itu lari lagi (dari kenyataan/.. crapps)
May 24th, 2008 at 8:50 am
ha…ha…ha…
inget waktu kecil jg nie pak, kalo sore suka nemenin “angon kebo” tetangga saya di Klaten…
May 24th, 2008 at 8:28 pm
…jangan2 kebo-nya bisa bisa di kumpuli alias Kumpul Kebo.
May 31st, 2008 at 2:36 am
Sudah ada koleksi dombanya belum?:-)
Hatur Nuhun
Agus Ramada S
October 24th, 2008 at 8:48 am
naik kerbau dan bermandi lumpur?? kayaknya anak2 sekarang (terutama di kota besar) udah gak ngalamin masa-masa kaya gitu.. skrg jamannya playstation, PSP ma Nintendo DS (salah satu faktor kenapa anak sekarang kecil2 matanya udah pada minus semua)
October 26th, 2008 at 5:44 am
Hidup kerbau^.^
November 10th, 2008 at 5:12 pm
Konon waktu kecil Helmy Yahya tak diberi waktu banyak untuk bermain oleh orang tuanya. Belajar dan terus belajar. Masa kecil kurang bahagia.(Sayang waktu itu belum ada yayasan kak Seto yang membela hak main anak-anak). Namun setelah tua dia bikin acara reality show “ngejailin” orang. Hm.. masa kecil kurang bahagia.
Tapi anda mau pilih apa dari 2 hal ini?, masa kecil kurang bahagia atau masa tua kurang bahagia?
November 22nd, 2008 at 12:59 pm
wah pengen juga, tapi rumah 1,7 hektar itu yang nggak kuku…
January 11th, 2009 at 10:06 am
kebo kebo..
(iklan axis agus agus)..
asal jangan kumpul kebo aza..
February 26th, 2009 at 12:04 pm
Yah… memang segala hingar-bingar kota ditambah polusi nya, jadi pengen keluar kota yg masih asri, banyak daun2 hijau, sawah dan tentu saja… kerbau
February 27th, 2009 at 9:51 pm
Wah, bisa dibuka tempat persewaan menunggang kerbau nih…..
September 30th, 2009 at 4:03 am
Kasihan kerbau-nya,nanti kalau dipindah kejakarta bisa stress.